OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 62 RENCANA TANPA SUARA



Suara petasan membahana di sepanjang koridor aula utama tempat berlangsungnya upacara pernikahan secara tradisi. Ornament oriental yang melambangkan double happiness terukir besar dan megah sebagai dekorasi di dalam ruangan berukuran jumbo itu. Li San terlihat bahagia menyambut sanak saudara yang hadir menyaksikan moment pernikahan pertama dari putrinya. Ia baru menyadari betapa senang memiliki menantu, terlebih lagi


menantu prianya merupakan sosok yang berpengaruh di dunia bisnis. Para pria sudah ramai memadati aula, sementara para wanita masih sebagian disibukkan dengan riasan yang belum paripurna.


“Nyonya anda luar biasa cantik.” Pujian dari Xin Er tidaklah dibuat-buat. Liang Jia dalam balutan dress cheongsam merah maroon memang tampak menawan, aura keibuan yang lembut terpancar lewat riasan flawless di wajahnya.


“Aku sudah tua bagaimana bisa membuatmu terkagum begitu.” Elak Liang Jia dengan begitu rendah hati. Ia melirik penampilan Xin Er yang masih saja mengenakan seragam pelayan tanpa riasan apapun.


“Aku sudah cukup dirias, sekarang tolong buat nyonya ini terlihat cantik dan muda.” Liang Jia mendorong Xin Er duduk di kursi yang baru saja ia tempati.


Wanita tua itu segera berdiri dan menolak. “Jangan Nyonya, Saya tidak perlu…”


“Tidak apa-apa. Hari ini semua wanita di rumah ini wajib cantik untuk menghargai kedua mempelai. Bagaimana bisa kau tampil biasa untuk perayaan istimewa.” Liang Jia meyakinkan Xin Er.


“Saya tidak mau cari masalah dengan tuan.” Xin Er memelankan suaranya, khawatir didengar penata rias yang ramai di ruang make up.


“Jangan cemas selagi ada aku, dia tidak akan bisa menyakitimu! Sebentar lagi kau akan bertemu putramu, anggap saja kau mempercantik diri demi menunjukkan dirimu baik-baik saja. Dia pasti senang.” Liang Jia mengerlipkan mata. Lewat isyarat tangan, ia memerintahkan para penata rias dan busana untuk memermak Xin Er.


***


Nyaris setengah jam sudah Yue Fang sesungukan melihat kakaknya. Ia tak peduli riasannya akan luntur jika ia tidak berhenti menangis, hatinya perih melepas saudara terbaik yang ia miliki.


“Adik berhentilah menangis. Ini upacara pernikahanku, bukan upacara kematian.” Seru Yue Yan yang masih mencoba mengerti perasaan adiknya. Hair do nya belum juga kelar dan tim penata rias masih meminta waktu untuk menyempurnakan sentuhan tangan mereka.


“Aku… aku tidak bisa ketemu kakak lagi habis ini. Kakak sudah jadi istri orang.” Bukan kali pertama Yue Fang mengucapkan itu, Yue Yan bahkan sudah hapal dialog tersebut.


“Jika kau tak segera diam, aku akan bicara dengan ayah dan minta agar kau segera dicarikan pasangan. Punya suami juga ada bagusnya, kau jadi punya teman hidup dan bisa jadi seorang ibu.” ancaman Yue Yan jelas hanya lelucon, ia memang suka menggoda adiknya yang berperasaan halus itu.


“Tidaaak kak jangaaan. Aku belum mau nikah!” Yue Fang menahan isaknya lalu memamerkan senyum paksa.


“Kita bisa berkirim pesan setiap hari, tapi dalam waktu dekat mungkin aku tidak bisa fast respon. Kelak kau harus ingat, ketika kita menikah artinya kita sudah keluar dari keluarga kandung. Di rumah mertua mungkin dianggap orang lain, ketika pulang pun akan dianggap menantu orang. Semua tidak akan lagi sama, tapi seperti itulah kodrat wanita. Ibu kita saja mampu bertahan, mengapa kita yang anaknya tidak?” Yue Yan tersenyum. Nasihatnya


terdengar bagaikan tetesan air di gersangnya gurun pasir.


“Yue Fang akan ingat selalu nasehat kakak. Mulai hari ini kita jaga diri masing-masing. Kalau kakak sudah hamil, harus segera kabari aku ya! Cia Yo kak buat malam pertama!” kalimat terakhir diucapkan penuh semangat oleh Yue Fang.


Wajah Yue Yan merona merah saking malunya mendengar pesan si adik. Bisa-bisanya gadis itu melontarkan kata itu tanpa sungkan. “Dasar bocah! Kau tahu apa!” Yue Yan menjitak kepala Yue Fang hingga gadis itu menjerit kesakitan.


***


menantikan kedatangan ayah dan adik perempuannya.


“Brother…” suara manja seorang gadis muda melengking kala melihat sosok yang akrab dengannya berdiri di hadapan. Tanpa segan, ia bergelayut manja pada pria yang dipanggil kakak itu.


Chen Kho memeluk adiknya di depan umum, sebuah pemandangan yang tak lazim di kediaman Li yang sarat tata karma namun sangat lumrah dilakukan oleh Chen Kho yang lahir dan besar di Amerika. “Grace, manjamu tak berkurang rupanya.” Ia menyentil lembut ujung hidung gadis cantik berkulit putih dan berambut pirang itu.


Seorang pria tua melihat sesi temu kangen dua bersaudara yang berdiri persis di hadapannya. Ia mendehem untuk menghentikan tontonan public yang tak layak itu.


“Ayah, senang bertemu lagi. Ayah tampak sehat.” Chen Kho memeluk hangat ayahnya yang dibalas dengan tepukan ringan di punggung.


“Ayah senang dan bangga padamu. Kerja bagus anakku.” Bisik Kao Jing di gendang telinga Chen Kho. Tingkah mereka membuat Grace Li terpaku, ia tak menyangka ayahnya juga merasakan kerinduan sedalam itu.


“Daddy, kakak gimana kalau kita ngobrol di dalam. Aku lelah perjalanan seharian, apa makanannya sudah dihidangkan?” tanya Grace bawel.


“Grace, pergilah dulu ke ruang makan. pengawalku akan mengantar dan menjagamu.” Chen Kho memberi titah pada dua pengawalnya. Ia sengaja memanfaatkan keinginan Grace dan mencari celah bicara empat mata dengan


ayahnya.


“Nanti kalian nyusul ya kak, daddy aku pergi dulu.” Grace melambaikan tangan lari berjalan girang menuju tempat makanan disajikan.


“Jadi apa rencana ayah selanjutnya?” Tanya Chen Kho to the point.


“Pamanmu mulai jenuh melihatmu terlalu lama bersantai di sini apalagi kau mengusik putri Wei yang ia benci. Kita harus merubah strategi sebelum dicurigai, ayah akan minta dia memberimu posisi di perusahaannya.” Kao Jing berbisik di tengah lalu lalang orang-orang. Meskipun pembicaraan mereka mencolok, namun tidak menarik perhatian orang sekitar.


“Kalau dia menolak gimana?” Chen Kho ragu akan usul ayahnya.


“Dia tidak akan berani menolak. Ayah jamin!”


“Anak pungutnya belum muncul juga. Li San dari tadi terus membanggakannya di hadapan relasi. Sepertinya ia mulai berencana pensiun diri dari perusahaan dan menyerahkan tahta pada anak itu.” Chen Kho menceritakan apa yang ia prediksi jika ayahnya tidak lekas melakukan sesuatu untuk mencegah.


“Aku penasaran seperti apa anak itu, apa yang perlu dibanggakan darinya? Tenang saja, tidak mudah baginya mendapatkan apa yang sudah leluhur kita dapatkan turun temurun. Aku akan membereskannya!” Kao Jing


serius dengan ucapannya, mata licik dan sinis itu melirik Chen Kho. Sesuatu yang  jahat mulai mereka rencanakan, meskipun lewat tatapan tapi Chen Kho paham apa yang disampaikan tanpa suara itu.


***