OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 142 TARUHAN SANG NONA PIRANG



Grace mengawasi pelayan yang mengemasi barang-barangnya, ia tak tertarik buka suara ketika para pelayan suruhan Kao Jing dengan sigap memasukkan barang pribadi ke dalam koper besar. Mata besar dan indahnya melotot lantaran seorang pelayan wanita membawa masuk koper besar yang kosong, ia tidak mampu puasa bicara lagi.


“Hei, aku bukan pindahan ngapain bawa barang sebanyak itu! Daddy ini mau mengusirku? Aku hanya tunangan saja, kenapa semua barangku ikut dibawa!” grace menggerutu, ia memerintahkan pelayan membawa pergi koper kosong dari hadapannya. Dua koper besar pakaian dirasa sangat cukup untuk bekal perjalanan besok.


“Putriku, suaramu terlalu nyaring. Kau harus perhatikan nada bicaramu mulai sekarang, jangan sampai terbawa hingga menikah.” Kao Jing mendehem kecil sebagai pemberitahuan bahwa ia mendengar apa yang putrinya keluhkan tadi.


Grace bangun dari tiduran, ia tak menyangka ayahnya berada dalam kamar. “Daddy, sejak kapan berdiri di situ? Ng … daddy dengar semuanya?” tanya Grace ragu-ragu dan setengah merasa bersalah menggunjingkan ayahnya di belakang.


“Semuanya ….” Kao Jing tersenyum mengakui hasil mengupingnya barusan. Ia kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Grace, mengagumi kecantikan putrinya yang sudah beranjak dewasa.


Grace menyembunyikan rasa bersalah, ia tertunduk tak berani menatap ayahnya yang berjarak setengah meter dari posisi duduknya. “Sorry dad.” Ungkapnya pelan.


Tangan Kao Jing lembut membelai rambut pirang Grace, sejak kematian istrinya ia telah terbiasa menjadi single parent bagi Chen Kho dan Grace. Setelah memastikan masa depan yang terjamin bagi kedua anaknya maka ia pun bisa tenang menikmati sisa hidup di usia senja.


“Daddy harus ingat perjanjian kita, jangan mangkir ya! Aku bisa kabur dan batalin perjalanan besok kalau Daddy main politik denganku.” Ancam Grace yang terdengar serius namun telihat imut di hadapan Kao Jing.


Pria tua itu tertawa, betapa imutnya anak gadis itu. Ia yakin siapapun pria yang dijodohkan dengannya, sekuat apapun mentalnya pasti akan luluh oleh sifat dan kecantikan Grace. “Okay, I promise!” ujar Kao Jing mengangkat tangan untuk berjanji.


“Hmm … aku ulangi ya Dad, perjanjian kita tentang syarat perjodohan. Apabila pria itu tidak bisa membuatku jatuh cinta dalam satu tahun maka perjodohan ini harus dibatalkan. Okay?” Grace meminta kepastian ulang dari ayahnya, hingga akhirnya ia bersorak girang mendapati anggukan dari Kao Jing.


“Tapi jika dalam waktu kurang dari satu tahun, kamu sudah jatuh cinta sama dia maka kita langsungkan pernikahan dalam tahun ini. Setuju!” Ujar Kao Jing menyatakan syarat baru.


Grace mengernyit, tambahan perjanjian itu tidak ada dalam pembahasan mereka kemarin. “Buat apa buru-buru menikah? Aku masih muda dad, lima tahun lagi juga belum ketuaan.”


“Karena semakin cepat kau memberikan keturunan semakin bagus. Klan Li harus punya calon penerus selanjutnya. Lahirkan anak laki-laki ya, putri kesayangan daddy.” Kao Jing mengelus lagi kepala Grace, menyemangatinya melakukan hal yang di luar kemampuan putrinya.


Grace menggerutu lantaran permintaan sang ayah yang tidak logis, “Daddy bicara kejauhan, aku mana bisa mengatur keturunan mau laki, mau perempuan bukannya sama-sama pemberian Tuhan?” protes Grace, namun setelah mengungkapkan itu ia baru tersadar telah larut dalam perbincangan konyol.


“Ah sudahlah, Dad. Jangan bahas lagi, aku belum tentu bisa cinta sama dia. Siapa tahu dia pria jelek, gendut, brewokan, pendek, jorok, trus … ng apalagi ya?” Grace membayangkan segala image jelek untuk mendeskripsikan pria yang akan dijodohkan padanya.


Kao Jing tertawa, walaupun ia belum pernah bertemu putra angkat Li San tetapi ia yakin pria itu tidak seburuk bayangan Grace. “Gimana kalau sebaliknya, dia tampan, tinggi berbody kekar, cerdas, idola para gadis, apa kau akan langsung jatuh cinta?” pertanyaan yang mantap mendatangkan kebimbangan dalam hati si rambut pirang. Ia terdiam memikirkan jawaban andai seperti itulah kenyataannya.


Grace menggelengkan kepala dengan mata terpejam, ekspresinya seolah mengejek ayahnya. “No … No … kalau dia memang sehebat itu, nggak mungkin dia bersedia dijodohkan. Dia pasti sudah punya pacar, buat apalagi dibantu cari jodoh?”


Kao Jing berdiri hendak menyudahi pembicaraan, “Besok kamu sudah bisa melihat seperti apa dia. Simpan saja pertanyaan itu sekarang, istirahat lebih awal ya. Perjalanan kita pasti melelahkan.”


Grace mengantar ayahnya sampai ke luar kamar, berusaha menjadi gadis penurut bagi ayahnya. Hari ini terakhir ia menghabiskan waktu di rumah, entah kapan baru bisa menginjakkan kaki kemari. “I Will always miss you, my dear room, my home.”


Jika menuruti kata hati, Grace tak sabar menunggu besok untuk melihat seperti apa paras calon suaminya. Senyum liciknya mengembang seketika ketika terbersit ide untuk mengandalkan Chen Kho. Ponselnya segera bekerja menghubungkan komunikasi singkat via Wechat.


Grace : “Brother, besok aku datang.”


Chen Kho : “Yes, welcome my lovely sister.”


Grace : “Hmm … Kau senang bersamaku lagi?”


Chen Kho : “Of course. Tak sabar mengusilimu hehe.”


Grace : “Hmmm …”


Chen Kho : “Why?”


Grace : “Brother, bisakah kau mengirimkan foto pria itu? Aku penasaran dengan tampang jeleknya.”


Grace : “Tidak, aku penasaran sampai nggak bisa tidur. Bisakah kau kirimkan fotonya sekarang?”


Grace gelisah menantikan jawaban Chen Kho, chat mereka tersendat. Ia merasa kakaknya kesulitan dengan permintaan itu.


Chen Kho : “Aku tidak punya. Wait, ku usahakan buat kamu.”


Balasan Chen Kho langsung membangkitkan semangat Grace, ia tertawa girang. “Kita lihat tebakan siapa yang paling tepat, Daddy.”


***


Chen Kho menebar senyum ramah pada Xiao Jun yang sinis memandangnya. Sikap tertutup dan penuh waspada itu begitu kentara di wajah Xiao Jun, ia tidak mengisyaratkan persahabatan.


“Maaf mengusik waktu istirahat tuan muda, aku kemari untuk menjengukmu. Ah … maafkan kelancanganku tempo hari, sungguh tidak bermaksud jahat padamu.” Chen Koh bermulut manis dan penuh basa-basi di hadapan Xiao Jun. Ia kemari mengenakan pakaian tradisional jubah labuh yang terlihat begitu formal seolah hendak menghadiri


acara penting. Sepenting pertemuannya dengan calon adik iparnya kelak.


Xiao Jun melirik gerak gerik tangan Chen Kho yang tersembunyi di sela jubahnya. Ujung ponselnya kelihatan mengarah padanya, ia curiga tamu tak diundang itu punya maksud tersembunyi sengaja memancingnya bicara dan merekam percakapan mereka. Xiao Jun langsung berbalik badan, memberi pemandangan punggung kekarnya saat


bicara.


“Kalaupun aku mempermasalahkannya, ayahku tetap tidak peduli. Kau tidak akan dihukumnya,  sudahi sajalah. Tidak perlu dibahas lagi, jika tidak ada kepentingan lainnya maaf aku ingin istirahat dulu.” Tutur Xiao Jun mengusir Chen Kho dengan sindiran halus.


Chen Kho tidak terima begitu diusir begitu saja, ia menahan diri agar tetap pada jalur rencana. “Adik jangan terlalu frontal, cepat atau lambat kita akan jadi keluarga sungguhan. Sebaiknya kita saling mengakrabkan diri mulai sekarang. Aku siap membantumu, kau tidak percaya? Paman menyita ponselmu kan? Aku akan tebuskan untukmu, paman pasti mendengarkanku.”


Xiao Jun tetap enggan berbalik badan, ia muak melihat wajah munafik di hadapannya. “Kita belum tentu menjadi keluarga, bahkan mungkin tidak akan pernah. Terima kasih atas niat baikmu, tapi aku tidak akan mengandalkan siapapun untuk menyelesaikan masalahku. Aku masih sanggup mengatasinya.” Ujar Xiao Jun mantap dan sukses


menyesakkan dada lawan bicara.


Chen Kho terdiam memikirkan balasan, ia tidak mengira seorang Li Xiao Jun yang diremehkannya ternyata punya kemampuan berdebat yang super menyakitkan.


“Jika tidak adalagi yang perlu dibahas, mohon tinggalkan aku sendiri. Ayah tidak suka aku dibesuk terlalu lama.”


Tidak ada alasan lain untuk bertahan, Chen Kho meremas ponselnya dengan geram. Sia-sia sudah ia bersiasat untuk memotret Xiao Jun diam-diam. Pikiran liciknya mulai mencari akal, bila cara normal tidak bisa diandalkan maka jangan salahkan ia mengambil jalan pintas. Dibiarkannya Xiao Jun yang masih berdiri membelakanginya, dalam hati Chen Kho mencurahkan konsetrasi untuk menghipnotis Xiao Jun.


“Berbaliklah, beri aku senyuman.” Chen Kho merapalkan perintah pada kekuatan sihirnya.


***


Dear pembaca, 


Menurut kalian apakah Xiao Jun berhasil dihipnotis? 


Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya, jangan lupa like dan vote novel OPEN YOUR MASK, PRINCESS! untuk mendukung author. 


Sincerely, Author 


Chantie Lee


^ ^~~~~