
Sekumpulan pers masih terlihat bertahan di depan rumah Weini meskipun malam nyaris menuju subuh. Ada
beberapa yang nekad menyiarkan secara langsung kondisi rumah Weini dan mengaitkannya dengan hal-hal tak masuk akal tanpa klarifikasi dari pihak yang bertanggung jawab. Mereka membuat rumor dan berasumsi sendiri demi kepentingan pribadi. Terlebih belum ada satupun dari pihak Weini yang bisa dimintai keterangan, managernya
yang berhak angkat bicarapun hilang bak ditelan bumi.
Fang Fang dan Stevan masih mengintip dari dalam mobil mereka yang terparkir agak jauh dari rumah Weini saking padatnya jalanan di sana gara-gara mobil pers. Stevan terus memantau perkembangan berita lewat ponselnya, ia menggertakkan gigi menahan geram.
“Sial... Kalau dibiarin terus makin ngaco beritanya. Masa disebut Weini itu komplotan mafia lah, terlibat kriminal internasional lah, yang lebih parah lagi bilang dia melarikan diri dengan menimbulkan ledakan.” Kesal Stevan, tangannya mengepal tak terima sahabatnya mendapatkan fitnah keji.
“Tapi kamu tetap duduk diam di sini, apa gunanya juga protes kalau tidak bisa berbuat banyak.” Cibir Fang Fang yang duduk di samping kursi kemudi Stevan.
Stevan terpaku, sindiran Fang Fang memang benar dan ia terlalu pengecut untuk keluar sebagai pahlawan. “Masalahnya yang berhak bicara mewakili dia itu managernya, si Dina juga nggak tahu ke mana. Apa ikutan hilang sama Weini? Gue nggak mungkin tiba-tiba nongol membantah tudingan mereka tanpa bukti yang kuat. Yang ada
Weini bakal semakin dicecar, kasian loh ini bakal pengaruh sama film baru kami. Kecuali....”
Fang Fang yang sedari tadi pasang telinga dengan sigap langsung melirik Stevan ketika pria itu berhenti bicara dan tampak serius berpikir. “Kecuali apa?” Tanya Fang Fang serius.
Stevan melirik Fang Fang juga, agak ragu ia menyuarakan pendapatnya. “Kecuali ada bukti lain yang menguatkan Weini, yang mereka tidak tahu. Ah... Sudahlah, bahkan Xiao Jun saja tidak ada di sini. Pria itu apa benar bisa diandalkan? Lama-lama aku sebel lagi sama dia.” Kesal Stevan yang sudah mulai pasrah lantaran susah menghubungi semua sahabatnya termasuk Xiao Jun dan Bams.
Fang Fang terlihat serius berpikir, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dan ia merasa harus mengingat sesuatu yang penting. “Tunggu dulu... Siang itu nona Weini datang kepadaku menanyakan tentang nona Grace. Dia menyebutkan nama tuan Li... Ah, coba kamu cari dari berita luar negri, ketikkan di pencarian nama Li Yue Hwa.” Pinta Fang Fang seraya menatap tak sabaran pada Stevan.
Stevan mengangkat satu alis, nama yang disebutkan Fang Fang terdengar sangat asing di pendengarannya.
“Maksudnya? Gue nggak ngerti itu nama aneh banget, susah sebutinnya apalagi nulisnya.” Protes Stevan namun ia tetap mengeluarkan ponselnya.
Mendengar jawaban Stevan membuat Fang Fang nyengir, ia kian tak sabaran melihat Stevan yang lamban mengetikkan sesuai permintaannya, kemudian Fang Fang merebut ponsel itu dari tangan Stevan. “Sini, biar aku saja!” Jawabnya saat Stevan hendak buka suara menyatakan protes.
Stevan pasrah membiarkan Fang Fang memonopoli ponselnya, ia pun turut mengintip apa yang dicari gadis itu dari internet. Fang Fang mengetik dengan tulisan mandarin 李 月 花 (Li Yue Hwa) lalu melakukan penulusuran di internet. Dalam waktu singkat berderet berita terkini yang memuat tentang nama Yue Hwa dan membuat Fang Fang gemetaran membacanya saking terkejut.
“Ada apa? Apa isi beritanya? Bukannya itu foto Weini?” Tanya Stevan terheran melihat sebuah berita yang memuat foto Weini dan disandingkan dengan foto gadis kecil. Jika bukan karena tak mengerti bahasa mandarin, Stevan tentu tak akan kebingungan hingga harus mengandalkan Fang Fang untuk mengartikannya. Namun gadis itu masih
tercengang, saking fokusnya membaca bahkan ia terkesan mengabaikan Stevan.
“Fang... Ada apa? Ceritakan padaku isi beritakan!” Desak Stevan sampai terpaksa mengguncang tangan Fang Fang agar menggubrisnya.
Stevan mengerutkan dahi, sederet berita dalam tulisan mandarin membuat otaknya kusut seketika. “Fang, gue mana ngerti, lu jelasin aja apanya yang gawat? Grace kenapa sampai masuk berita? Eh, di berita bukan Grace tapi Weini, kenapa berita Weini di sini bisa sampai ke luar negeri?”
Fang Fang menghela napas berat sembari menepuk jidatnya, saking panik ia sampai lupa bahwa Stevan tidak mengerti bahasa Mandarin. Gadis itu menatap Stevan sejenak sebelum menceritakan segalanya. “Nona Weini adalah nona keluarga Li yang sejak kecil menghilang dari negaranya, Hongkong. Nona Weini dan nona Grace adalah saudara sepupu. Sekarang di sana rumor tentang nona Weini bahkan lebih heboh daripada di sini. Tapi mereka tidak menuding nona Weini sebagai penjahat, mereka lebih menyudutkan keluarga nona Weini yang tega membuang dan memalsukan kematiannya. Orang-orang di sana percaya bahwa nona Weini sudah meninggal sejak berusia enam tahun lalu sekarang terkuak bahwa dia tidak mati tapi berada di jakarta. Sampai di sini, kamu sudah mengerti?” Jelas Fang Fang serius.
Stevan mengernyitkan dahi, dari tatapannya saja sudah jelas bahwa ia belum mencerna penjelasan Fang Fang. Ia menggelengkan kepala seraya berkata, “Nggak....”
Fang Fang menunduk lemas, percuma menjelaskan pada orang yang enggan sedikit putar otak. Padahal Stevan cukup genius, buktinya ia piawai menghapal script dalam waktu singkat, namun untuk menjalankan nalarnya ternyata “Ya sudahlah, anggap saja nggak penting.” Ketus Fang Fang merasa sia-sia. Ia lebih baik segera menghubungi Grace dan menanyakan kabarnya.
Stevan seperti tercerahkan, ia kembali mengguncang tangan Fang Fang yang sudah memencet ponselnya. “Maksudmu Weini bukan asli orang sini? Jadi maksudmu dia bukan anak om Haris?” Tanya Stevan yang mulai paham maksud cerita Fang Fang.
Fang Fang menatap serius pada Stevan, seserius apa yang disampaikannya lagi. “Om Haris itu pengawalnya. Kebenarannya adalah nona Weini adalah putri bungsu penguasa Hongkong, tuan besar Li San Jing. Lebih baik kamu cari tahu sendiri di internet, aku capek mengulangnya. Dan jangan ganggu aku dulu, aku masih ada urusan dengan nonaku.” Jawab Fang Fang yang kini lebih penting segera menghubungi Grace ketimbang meladeni rasa penasaran Stevan.
Stevan pun tak berdaya, saat ia hendak bertanya lagi pada Fang Fang tetapi gadis itu sudah terhubung dengan Grace. Parahnya lagi ia tak mengerti percakapan mereka yang menggunakan bahasa yang sama sekali tak dimengerti. Stevan tak punya pilihan lain, ia harus mengandalkan kemampuannya untuk mencari tahu dari internet. Dengan mengandalkan ingatannya, ia mencoba mengetik nama Weini dengan nama yang disebutkan Fang Fang tadi.
***
Dina dikawal polisi yang menemukannya di dalam lemari, ia hendak digiring keluar gedung kantor untuk diamankan. Namun Dina terus mencari cara untuk bertahan, hingga ia mendapatkan alasan untuk mengelabui polisi itu. “Pak, aku mau ke ruangan itu dulu. Tasku dan barang-barang berhargaku masih ada di dalam.” Ujar Dina menunjuk ruangan Weini yang sudah dipagari garis kuning.
“Loh, mbak habis dari sana tadi sebelum suara ledakan? Berarti mbak tahu siapa yang ada di dalam sana?” Polisi itu bukannya meladeni permintaan Dina, namun justru bertanya balik dengan curiga.
Dina memucat, ia tidak menyangka bahwa tindak tanduknya harus dijaga jika ia mau selamat. Salah berucap sedikit saja sudah menimbulkan masalah, tapi sekarang ia baru membuat polisi mencurigainya.
“Ng, itu... Aku manager salah satu artis di sini, itu ruangannya dan dia memintaku membeli makan. Aku tidak tahu selanjutnya yang terjadi setelah aku keluar dari sana.” Alibi Dina, kini ia semakin pucat dan merasa tangannya dingin.
Gimana ini? Apa aku akan ditahan? Aku harus ketemu tuan Xiao Jun dulu, aku tidak boleh ditahan. Batin Dina mulai panik, terlebih polisi di samping tampak tidak percaya dengan alibinya.
“Hmm... Sebaiknya anda ikut saya ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Mbak akan jadi salah satu saksi dalam kasus ini, mohon untuk bersikap kooperatif ya Mbak.” Polisi itu serius akan menyeret Dina ke kantor polisi.
Dina ketakutan, ia terjebak masalah karena ketidak-sengajaannya. “Baiklah, tapi aku tetap ingin mengambil barang pribadiku dulu pak.” Ujar Dina mencoba tenang.
Polisi mengangguk setuju lalu mengawal Dina masuk ke ruangan yang beberapa waktu lalu ditinggalkan Dina dengan tergesa-gesa. Dina menatap sedih ketika mengedarkan pandangan, terlihat dua orang petugas berdiri di dalam toilet tempat Weini sekarat tadi. Dina menelan ludah, ia gugup dan terlihat tidak rileks, sehingga terpaksa mengambil tas dengan tangan gemetaran. Ia harus berpikir cepat dan cerdas, bagaimana caranya lolos dari intaian polisi ini?
***