OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 499 HARU



Weini masih menerima panggilan masuk dari Xiao Jun setelah keduanya menyelesaikan rutinitas di masing-masing tempat. Xiao Jun yang agak padat jadwalnya beberapa hari ini hingga Weini yang harus rela menunggu hingga malam. Semua itu terasa ringan dijalani, ketimbang dulu saat mereka LDR dengan setumpuk masalah. Setidaknya saat ini Xiao Jun dan Weini bisa saling percaya dan komunikasi yang terjaga, itu saja sudah cukup bagi mereka.


“Hwa, aku punya kabar baik untukmu.” Seru Xiao Jun di tengah obrolan santai mereka setelah membahas apa saja yang mereka lakukan hari ini.


“Apa? Katakanlah....” Lirih Weini, ia duduk santai menerima telpon Xiao Jun di kamar lain, takut mengganggu Liang Jia yang akan tidur.


Xiao Jun tersenyum, bukan karena permintaan Weini yang tampak antusias, namun karena wajah imut Weini yang menggemaskan saat ia tidak sabaran. “Paman Lau sudah berhasil menemukan gadis yang kau cari, sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu mereka menemukannya. Tapi karena kondisinya yang tampak sangat terguncang, dan juga momen pentingmu waktu itu, aku terpaksa urungkan niat untuk mengabarimu.”


Mata Weini berbinar mendengar itu, “Siu Fong, benarkan itu dia. Jadi bagaimana kondisinya sekarang Jun?”


“Hmm... bisa dibilang agak memprihatinkan tapi sudah mulai membaik, biarkan dia pemulihan dulu. Aku mengutus Su Rong untuk menjaganya, mereka berdua mantan pengikut Chen Kho dan Siu Fong tampak lebih terbuka padanya. Kamu jangan khawatir, begitu dia sudah benar benar membaik, akan aku bawa ia menemuimu.” Gumam Xiao Jun.


Weini mengerutkan dahinya, antara prihatin dan sedih mendengar nasib gadis itu. “Jun, maaf merepotkanmu ya. Aku miris dengan nasib dia, setelah dia sembuh biar dia bisa kembali ke keluarganya saja. Hanya saja aku masih heran, apa yang sebenarnya terjadi pada dia?”


Xiao Jun tertegun sejenak lalu menjelaskan apa yang sudah ia ketahui dari anak buahnya. “Su Rong bilang gadis itu mengakui bahwa ia lah yang membunuh pengawal itu dalam jet. Dan karena itu pula ia sangat tertekan. Kamu jangan cemas, kita beri dia waktu menenangkan diri dan mendapatkan perawatan dari dokter, dia pasti segera pulih.”


Weini terkejut bahkan merasa merinding mendengar penjelasan Xiao Jun, “Aku tak menyangka tugas yang aku berikan padanya malah menyudutkan dia dalam posisi yang sulit. Jun, apa bisa aku melihat kondisinya sekarang?” pinta Weini.


“Hmm... aku aturkan waktu dulu ya Hwa, ini sudah terlalu malam mungkin juga dia sudah tidur. Kamu jangan terlalu kepikiran, yang penting saat ini dia sudah mendapatkan penanganan yang tepat.” Bujuk Xiao Jun meyakinkan Weini.


Weini tak bisa berkutik lagi, apa yang dikatakan Xiao Jun memang masuk akal dan ia tidak bisa memaksakan kondisi yang belum memungkinkan ini. “Iya, aku mengerti.” Lirih Weini. Sejenak mereka hening dan saling bertatapan, hingga Weini tergerak hatinya secara otomatis untuk mengucapkan sesuatu pada kekasihnya.


“Jun, wo hen xiang ni (Jun, aku merindukanmu).” Lirih Weini, tatapannya ikut berperan menyuarakan hatinya.


Wajah Xiao Jun seketika bersemu merah menjurus ke merah padam, Weini menyerangnya dengan kata-kata romantis tanpa persiapan. Xiao Jun kelabakan, ungkapan rasa itu terlampau dalam maknanya bagi dirinya. Tak peduli bagi orang lain ia terlihat norak, yang pasti hanya dengan kata rindu yang diakui oleh kekasihnya barusan telah berhasil merontokkan hatinya.


Weini terpaku, wajahnya ikut memerah karena melihat Xiao Jun yang membisu. Keduanya langsung canggung, serba salah hingga Weini berdehem kaku. “Ehem... Jun, kamu sudah ngantuk?” Tanya Weini yang berharap rasa canggung ini segera berlalu, lebih baik membahas sesuatu untuk mengalihkannya dan kemudian mereka bisa mengakhiri pembicaraan yang terlanjur kurang asyik.


“Aku juga sangat merindukanmu... sangat....” Lirih Xiao Jun dengan tatapan yang menggetarkan hati Weini.


Weini terkesiap namun senyumnya mengembang, hanya dengan ungkapan cinta yang sederhana saja sudah terasa sangat bahagia. Dan begitulah mereka saling mengekspresikan kerinduannya, malam yang dingin itu menjadi saksi bahwa masih ada satu tempat yang tidak akan tersentuh dingin. Hati sepasang kekasih yang selalu meletup oleh api asmara, di sanalah kehangatan abadi itu tercipta.


❤️❤️❤️


“Sudahlah Grace, jangan ditangisi lagi. Pokoknya nanti begitu dia nongol, aku hajar dia.” Seru Dina penuh ambisi setelah melihat tangisan dan kesedihan Grace yang meratapi menghilangnya Stevan. Ia bahkan harus menginap di apartemen Grace lantaran tak tega membiarkan gadis itu kesepian dan semakin menjadi-jadi merananya.


“Dina plis....” Rintih Grace di sela isakannya, ancaman Dina terdengar menakutkan dan ia tak tega melihat kekasihnya dihajar.


Dina merengut, “Lah trus gimana? Diomelin nggak boleh, dihajar nggak boleh. Aku belain kamu malah kamu yang ngak tega sama dia. Dia aja tega bikin kamu kebingungan kayak gini. Huh... pokoknya kalau dia muncul aku....”


“Dina plis... jangan....” Lirih Grace sekali lagi, suaranya terdengar menyedihkan. Dina bahkan spontan bungkam dan bengong karena Grace yang memelas.


Pokoknya kalau Stevan udah ketemu, aku hajar dia! Bisanya bikin wanita menangis saja! Dina hanya berani menyimpan ambisinya dalam hati, ia siap menggebuki Stevan andai alasan menghilangnya pria itu tidak masuk akal.


Grace kembali berbaring sembari mendekat ponselnya, berjaga-jaga andai alat komunikasi itu berdering maka ia yang akan segera mengangkatnya. Stevan sempat hilang komunikasi dengannya namun saat itu dia diam-diam ke rumah sakit. Grace hanya cemas jika sesuatu yang buruk terjadi padanya tanpa diketahui orang terdekatnya. Apalagi setelah menyambangi apartemennya, dan Dina menghubungi manajernya, semua itu belum memecahkan teka-teki menghilangnya Stevan.


“Aku takut dia kenapa-napa, sakit atau kenapa dan kita sama sekali nggak tahu.” Lirih Grace yang sudah berhenti menangis.


Dina menghela napasnya, “Ya, aku ngerti sih. Tapi mau gimana, mau lapor ke polisi juga belum bisa. Belum dua puluh empat jam, trus kalau kita laporin dan tiba-tiba dia muncul, lucu juga jadinya. Dia itu aktor yang punya nama besar di sini, harusnya mikir juga tindakannya bisa bikin masalah nggak jadinya. Kayak gini kan jadi serba salah, dilaporin ntar heboh media. Nggak dilaporin, kitanya yang bingung.”


Grace terdiam, apalagi Fang Fang yang hanya jadi penonton pasif. Ia tak bisa nimbung berkomentar lantaran tidak tahu apa yang harus diperbuat. Dina mulai tersenyum perhatian pada Grace, perlahan pun menepuk pundak gadis itu. “Kamu tenanglah, jangan negatif thinking dulu. Siapa tahu dia malah baik-baik saja sekarang. Aku akan temani kamu sampai tenang ya, sampai kita menemukan dia.”


Grace terharu dengan perhatian Dina, ia pun memeluk gadis itu tanpa berucap kata-kata lagi. Pelukannya yang mengejutkan Dina namun bisa ia terima dan memberinya balasan yang lebih erat.


❤️❤️❤️


Di waktu yang bersamaan namun berlainan tempat, Stevan duduk ditemani ibunya dan sepanjang hari mereka membahas banyak hal. Perlahan Stevan merasakan kekesalan serta jarak hati yang tercipta antara ia dan ibunya pun perlahan luntur. Berganti kenyamanan dalam bertukar cerita, ibunya benar-benar sudah memperlakukannya sebagai orang dewasa.


“Kalau kamu sudah mantap dan cocok, tidak perlu bawa dia menemui mama lagi. Kita yang langsung ke sana segera.”


Stevan menegakkan posisi duduknya, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Maksud mama? Mama yang ikut Stevan ke Jakarta?” tanya Stevan dengan mata yang menyipit.


Mama Stevan mengangguk seraya tersenyum tipis, “Ng... tidak perlu kenalan lagi, siapapun yang kamu pilih, mama setuju. Kita akan ke sana langsung untuk melamarnya.”


Mata Stevan berkaca-kaca, semua yang dikatakan mamanya sungguh di luar ekspektasinya. Reflek Stevan memperlihatkan kegirangannya dengan memeluk wanita itu, sebuah pelukan yang sejak tadi wanita itu harapkan terjadi saat pertemuan mereka tadi pagi. Sedikit terlambat tidak masalah, nyatanya semua itu terkabulkan sekarang.


Suara bel membuyarkan adegan haru ibu dan anak, seseorang yang berdiri di luar pintu pun perlu diberi sambutan. “Stev, bukakan pintunya plis.” Pinta mamanya lembut.


Stevan mengerutkan dahi, ia hanya tamu di sini namun diminta membukakan pintu. Jelas ia akan kesulitan dan berteriak pada mamanya ketika orang yang datang nyatanya mencari si pemilik rumah. “Baiklah.” Namun akhirnya ia menurut saja dan berlalu mendekati pintu.


Ketika pintu terbuka, wajah santai Stevan berubah tegang, ia terpaku melihat siapa yang berdiri di hadapannya sekarang.


“Putraku... kau sudah sebesar ini sekarang.” Gumam seorang pria paruh baya yang langsung mendekap erat Stevan yang berdiri tercengang.


Stevan belum sanggung membalas pelukan itu, tangannya masih lurus terjuntai tanpa sanggup memeluk balik. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Pria yang ia panggil ‘papa’ itu kini memeluknya erat dan menunjukkan rasa sayangnya? Hal yang tak pernah ia dapatkan di masa lalu selain bentakan dan amukan amarah dari pria itu.


“Stev, papamu kemari untuk mendampingi kita melamar kekasihmu. Seperti yang kau inginkan, untuk menunjukkan contoh yang baik bagi calon istrimu. Papa dan mama sudah memutuskan akan datang bersamamu melamar gadis itu. Kita akan memberikanmu keluarga yang utuh lagi, sebagai contoh baik seperti maumu.” Ucap mama Stevan yang muncul dari belakang.


Stevan menoleh ke belakang dan mendapati senyuman ibunya yang begitu lapang. Ia tak tahan lagi memendam rasa harunya, ego kedua orang tuanya yang teramat tinggi nyatanya bisa melunak karena dirinya. Karena ingin memberikan yang terbaik baginya, dan air mata Stevan luruh. Didekapnya ayah dan ibunya bersamaan, membiarkan sejenak diri mereka larut dalam tangisan haru.


❤️❤️❤️