OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 118 MAAFKAN AKU, LI JUN!



Masih dalam pertanyaan yang sama menantikan jawaban, Xiao Jun masih memikirkan apa yang harus ia katakan. Awal mula tekadnya datang ke Jakarta memang demi menemukan ayahnya, namun seiring waktu berjalan dan lemahnya energi sihirnya membuat ia kehilangan arah dan tujuan untuk mencari sang ayah.


“Aku pikir ayahku ada di Jakarta, tapi mungkin aku salah mengira. Semakin dicari, jejaknya semakin tidak tertebak. Di manapun ayahku sekarang, aku harap dia masih hidup dan menjalani hidupnya dengan baik.” Ujar Xiao Jun sembari menyembunyikan tatapan kesedihan.


Haris mengerti isi hati Xiao Jun, namun mendengar langsung pengakuan itu membuatnya ikut sedih. Ada satu pertanyaan lagi yang ingin Haris dengar jawabannya, mungkin inilah yang paling mendebarkan baginya. “Apa kamu membenci ayahmu?”


Deg! Xiao Jun terkejut, pertanyaan itu sulit untuk dijawab. Ia butuh waktu mencernanya, “Itu… dia… Aku hanya sebentar bersamanya, dia lebih banyak bersama nona muda Li. Bahkan pernah membawanya ke rumah kami di tengah malam. Aku iri dengan nona muda itu, ia lebih banyak bersama ayahku bahkan pergi bersamanya. Saat


pengawal memberitahu kabar kematian ayahku, kami semua tidak percaya, kami tetap yakin ayahku tidak akan mati semudah itu. Di satu sisi aku sangat merindukannya, tapi kalau teringat penderitaan kami sejak dia pergi… aku tidak tahu bagaimana menyikapinya.”


Maafkan aku, nak. Kau, ibumu dan saudarimu sangat menderita. Kelak akan kutebus rasa bersalah ini, tapi bukan sekarang saatnya kamu tahu kenyataan yang sebenarnya. Ungkap Haris dalam batin, ia paham betul perasaan gundah Xiao Jun tetapi apa boleh buat permainan nasib masih harus menggulir mereka pada posisi ini.


“Paman, maaf aku terbawa suasana. Aku terlalu banyak bercerita, maaf jika paman tak nyaman mendengarnya.” Xiao Jun menyeka sedikit genangan air mata di ujung matanya. Ia tidak ingin menangis hanya saja membayangkan kedua orangtuanya tidak mampu membendung rasa sedihnya.


Haris kembali menepuk pundak Xiao Jun dengan lembut, “Sudahlah jangan dibahas lagi. Aku akan tutup mulut untuk rahasiamu.”


Xiao Jun menggeleng, “Tidak masalah paman, bangkai yang ditutupi suatu saat pasti tercium busuknya. Mungkin sudah saatnya juga aku jujur pada Weini, dia akan jadi istriku kelak. Aku tidak ingin ada rahasia di antara kami.”


“Sebaiknya tidak usah ceritakan pada Weini dulu. Tunggu sampai saat kau akan menikahinya, siapa tahu saat itu ayahmu sudah kembali. Ah… maksudku aku hanya tidak ingin kalian terbebani, apalagi Weini. Dia tipe pemikir dan pasti akan terbawa pikiran tentang masalahmu.” Haris mencegah Xiao Jun terbuka pada Weini soal ini, semuanya akan kacau jika kedok mereka terbongkar atau Xiao Jun tersulut emosi lalu menentang Li San. Lebih baik mencegahnya daripada menanggung akibat yang belum sepenuhnya mampu ia tangani.


Penjelasan Haris terdengar masuk akal, ia kenal betul dengan Weini yang mudah cemas. belum saatnya membebaninya dengan hal berat apalagi mereka baru saja bertunangan. “Oke paman, aku mengerti.


Pembahasan mereka selesai tepat waktu, Weini baru saja pulang diantar oleh supir. Syuting yang tidak terlalu padat hari ini membuatnya bisa pulang lebih awal. Pemandangan yang menonjolkan keakraban antara Xiao Jun dan Haris sudah biasa ia simak. Kali ini bahkan terlihat lebih menyenangkan setelah ia sadar bahwa kelak mereka pasti akan menjadi sebuah keluarga. Akan lebih bagus jika antara mertua pria dan menantu pria itu punya kecocokan.


“Weini kebetulan kau pulang cepat, sini bantu habisin martabak Bangka yang dibawa Xiao Jun.” Haris langsung menyodorkan kotak kue yang hanya berkurang tiga potong itu.


“Ng… aku mandi dulu deh ayah. Kalian lanjut saja, nanti aku nyusul.” Weini menyunggingkan senyum termanisnya untuk Xiao Jun. Walaupun tanpa kata-kata, tatapan serta saling melempar senyum sudah menjadi bentuk komunikasi mereka.


Xiao Jun tertawa kecil melihat ekspresi kecewa Haris, keakraban ayah dan anak itu membuatnya sedikit iri. Ia juga ingin merasakan kasih sayang itu, “Paman, sebentar lagi kita akan jadi keluarga. Bolehkah… mulai sekarang aku memanggilmu ayah juga?”


Todongan dadakan itu mengejutkan Haris, ia belum siap memberi keputusan. Hal itu mengingatkannya pada Weini yang juga pernah memohon agar bisa memanggilnya ayah. Sekarang putranya sendiri meminta seperti itu, seharusnya tidak ada yang salah memang semestinya begitu namun mengapa masih terasa berat bagi Haris?


“Aku tahu aku lancang, tapi paman… aku tidak tahu kenapa aku begitu cocok denganmu. Hal yang tidak bisa aku rasakan pada ayah angkatku, sesayang apapun dia padaku. Dia hanya kuanggap sebagai orang yang perlu disegani saja.” Xiao Jun memelas, hanya dengan membayangkan bisa memanggil Haris dengan sebutan ayah saja sangat membahagiakannya.


“Apa ini tidak akan menyulitkanmu seumpama keluarga angkatmu mengentahuinya? Ajun, walau kau dibebaskan di sini, tapi kau tetap harus waspada. Orang yang punya kuasa tidak mudah ditipu daya, aku tidak mau membahayakanmu.” Nasehat ini diungkapkan Haris dengan jujur, mewakili suara hatinya sebagai seorang ayah


yang selalu melindungi darah dagingnya.


“Soal itu aku bisa mengatasinya. Paman jangan terlalu cemas, aku kenal betul ayah angkatku. Dia tidak akan berani menghukumku, sejak kecil ia memperlakukanku dengan sangat baik walaupun aku tetap harus terikat aturan ketatnya.” Ujar Xiao Jun, ia yakin seumpama Li San mengetahuinya, ia tetap bisa menenangkan hatinya.


“Hmmm… Aku tidak akan menolaknya jika kau berkeras seperti itu. Panggil aku sesukamu, asal kau bahagia.” Haris menahan air mata harunya, ia tetap harus menjaga kharisma seakan semua memang baik-baik saja.


Xiao Jun tersenyum girang, ia lekas berlutut di hadapan Haris. “Terima kasih ayah. Terima hormatku.” Ia berlutut hormat seperti yang biasanya Lau lakukan padanya.


Haris meraih pundak Xiao Jun, ketahanannya bisa luluh jika Xiao Jun terus-terusan memberi hormat. Kini Xiao Jun berada dalam pelukan Haris, ditepuknya beberapa kali punggung kekar anaknya.


Kau sudah sebesar ini, aku beruntung bisa memelukmu sekarang. Maafkan aku yang membiarkanmu tumbuh dewasa tanpa kehadiranku.  Kau sudah banyak berkorban untuk ibu dan saudaramu, sampai harus mengorbankan kebahagiaanmu sendiri. Seharusnya ayah mengajarkanmu sihir agar kau layak menjadi penerus klan Wei selanjutnya. Tapi  ayah malah mengira tidak akan bertemu kalian lagi, ayah terlalu cepat menyerah. Kemampuanmu bahkan tidak ada apa-apanya dibanding Weini. Maafkan ayah, Wei Li Jun… Maaf untuk semua yang terjadi. Aku berjanji untuk memperbaiki semuanya, menjadikanmu satu-satunya penerus dan layak diakui oleh leluhur kita.


Xiao Jun tidak mampu membaca pikiran Haris, andai ia mampu pasti semua akan terbongkar tanpa perlu pengakuan lisan. Haris hanya berani mengakui segala kesalahannya dalam hati, di tengah eratnya pelukan yang enggan ia lepaskan, setetes bening air mata luruh di kerah kemeja Xiao Jun.


***