OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 215 BATAS KESABARAN GRACE YANG DIUJI



Grace memilah pakaian yang akan ia bawa ke Jakarta, sesuai rencana yang ia dengar dari ayahnya, ia akan berangkat minggu depan. Ada baiknya juga pergi dari rumah yang serba ketat aturan ini, belum genap sebulan saja di sini terasa bagaikan satu tahun. Pelayannya melipat rapi pakaian dan asesoris yang dipilih Grace lalu memasukkannya dalam koper. Sebenarnya tidak banyak pakaian yang ia bawa, hanya saja ia tetap ingin menyeleksi ulang. Apalagi ada puluhan setel pakaian yang dibelikan Kao Jing dan tidak sesuai selera Grace, melihatnya saja membuat moodnya hilang.


“Sudah cukup.” Seru Grace dan masih menatap isi lemari dan mengibas tangannya.


Pelayannya menatap bingung, “Hanya ini saja nona? Sekoper kecil barang apa cukup?” Ia perlu memastikan sekali lagi, barangkali Grace berubah pikiran. Pakaian yang ia masukkan hanya empat setel, sisanya adalah pakaian dalam, kosmetik dan asesoris.


Grace berbalik menatap pelayannya, “Cukup. Aku mau beli di sana saja, nggak perlu repot bawa barang banyak. Sisanya yang di lemari, buat kamu saja.” Ujar Grace senang.


Pelayannya mendongak kaget, masih belum mencerna ucapan Grace. Dengan mulut tenganga, ia merasa perlu memastikan ulang perkataan majikannya. “Maksud nona … semua pakaian dan perhiasan nona di lemari … buat saya?” tanya pelayan itu terbata-bata.


Grace mengangguk, “Aku nggak tahu sesuai stylemu tidak, bawa saja semuanya asal kau suka.” Seru Grace santai. Tetapi pelayan yang mendengarnya nyaris jatuh pingsan saking bahagia. Gadis muda yang melayani Grace itu segera berlutut berterima kasih hingga Grace menghentikannya.


“Aku hanya memberimu pakaian, kau tidak perlu menyembahku seperti dewa.” Kilah Grace.


Pelayan itu sesengukan dan mengusap air matanya, “Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan nona, kelak di sana jaga diri nona baik-baik. Semoga nona mendapatkan pelayan yang baik dan bisa mengurus nona.” Ujar pelayan itu terisak-isak.


Grace mengernyit, sepertinya ada yang salah dengan pelayannya. “Bukannya kamu ikut denganku ke sana?”


selidik Grace, wajahnya yang semula ceria langsung berubah merengut.


Pelayan yang masih berlutut itu tidak berani menatap Grace, dengan takut-takut ia menjawab nonanya. “Saya dengar katanya tuan Xiao Jun sedang mencarikan pelayan untuk nona. Jadi, saya tidak mungkin ikut dengan anda.”


“Betul yang kamu katakan? Hah! Kenapa aku selalu jadi orang terakhir yang tahu apapun? Kamu dengar


darimana?” Grace mulai geram, ia layaknya boneka yang hanya tahu dimainkan orang, disuruh belajar tapi tidak pernah disayangi siapapun di sini termasuk tunangannya. Bahkan untuk hal yang menyangkut dirinya pun ia harus dengar dari pelayan. Jika memang Xiao Jun peduli dan mengurus segala sesuatu untuknya, kenapa bukan pria itu yang menyampaikan langsung? Bahkan untuk bertemu saja sangat sulit, padahal mereka tinggal di rumah yang sama namun jarak jiwa dan raga terbentang begitu jauh.


“Dari pengawal yang menjaga di kediaman tuan Xiao Jun, ng … nona mohon jangan cari tahu ke tuan Xiao Jun. Kami pasti dihukum kalau ketahuan membocorkan pembicaraan mereka.” sekarang pelayan yang sering keceplosan itu ketakutan, sesetia apapun ia pada Grace, ia tetap saja sulit mengendalikan mulutnya untuk menjaga rahasia.


Grace terlanjur kesal, suasana hatinya yang awalnya bagus akhirnya terkontaminasi kemarahan. Apa daya ia hanya sanggup memendam amarah itu, hendak dilampiaskan ke siapa? Xiao Jun? andai ada kesempatan bersama, ia jelas memilih bermesraan dengan tunangannya ketimbang harus merusak suasana dengan pertengkaran.


“Apalagi yang kamu tahu? Katakan semua padaku!” lanjut Grace menggali informasi yang diketahui gadis muda itu.


Pelayan itu menunduk ketakutan serta bimbang, ia jelas tahu banyak namun ragu harus diceritakan semua pada Grace kah? “Tapi nona bisa jaga rahasia? Nyawa kami tidak ada harganya di sini, sedikit kesalahan saja bisa membuat kami dihukum mati.”


Grace terdiam sejenak, ia tahu bahwa kediaman Li San yang dingin ini memang ketat aturan namun sampai


Pelayan itu mengangguk lalu mulai berani menatap Grace, “Aku dengar minggu depan kakak tuan Xiao Jun


akan menikahi pengusaha kaya itu. Aku rasa jadwal keberangkatan nona akan ditunda, tuan Xiao Jun pasti akan menghadiri pernikahan kakaknya.”


Grace menggertakkan gigi, ia benar-benar kesal. Ini sudah kelewatan, bahkan pelayannya lebih tahu kabar baik ini ketimbang dirinya. Kakak Xiao Jun berarti kakak iparnya dan semestinya Grace sudah diberitahu untuk ikut andil dalam persiapan itu.


“Nona mau kemana?” pelayan itu berseru ketakutan, Grace tidak bicara sepatah katapun usai mendengar info yang ia sampaikan. Malahan Grace berbalik badan dan hendak meninggalkan kamar.


“Kau tenang saja, aku tidak akan sembarang bertindak. Aku mau menjenguk kakakku.” Ujar Grace tersenyum tipis, ia perlu seseorang yang bisa dipercaya, seseorang yang sudah mengenalnya dengan baik.


***


Dina menopang dagu dengan dua tangannya di atas meja, menyaksikan betapa lahapnya Weini menghabiskan semangkuk hangat bubur ayam yang ia masak dengan bahan seadanya dari kulkas. Ia juga menjadi pengamat jeli yang memperhatikan perubahan warna wajah Weini yang semula pucat pasi kini mulai merona, menandakan mulai ada tanda kehidupan. “Masih mau nambah non? Ku ambilin yak?”


Weini menggeleng cepat, “Thanks kak, ini udah cukup. Aku mau siap-siap dulu, keburu telat.” Weini hendak beranjak dari kursi, membiarkan Haris yang masih menyantap bubur itu dengan pelan. Weini sebenarnya belum begitu napsu makan, bukan karena bubur masakan Dina terasa enak pula sehingga ia menyantapnya dengan cepat. Ia hanya ingin mengejar waktu, jangan sampai telat di masa akhir syuting yang tinggal tiga episode lagi.


“Yakin bisa kerja? Non nggak perlu paksain diri sih, aku bisa ijin sama kak Bams sekarang. Non pulihkan tenaga dulu deh.” Ujar Dina yang lebih kuatir artis itu memaksakan diri dalam kondisi kurang fit. Dina bahkan bisa melihat Haris yang biasanya kuat dan penuh semangat, kini lebih pendiam dengan muka lesu pucat meskipun perut sudah


terisi.


“Yakin. Jangan repotin orang lain, mereka pasti udah setting lokasi. Aku kuat kok.” Jawab Weini dan langsung berjalan menuju kamar.


Dina bangkit berdiri lalu mengangguk pada Haris, isyarat ia minta ijin berlalu dari hadapan pria itu. Dina menyusul langkah Weini yang gontai, kondisinya sungguh mengkhawatirkan. Ia segera memapah Weini ketika langkahnya goyah sesampai di kamar.


“Udah deh jangan ngeyel, kamu cuti hari ini. Aku bilang ke Bams dulu, lebih baik pending satu hari daripada mengacaukan kerja mereka berhari-hari. Gimana kalau kamu pingsan di lokasi? Apa nggak lebih merepotkan!” Dina yang biasanya penurut sekarang berubah menakutkan bawelnya, ia harus memenangkan adu ngotot ini demi kebaikan Weini. Dina meronggoh ponselnya keluar lalu menghubungi Bams.


“Kak, plis.” Pinta Weini memelas, ia sangat tidak enak harus cuti dan jadi pasien di rumah.


Dina tidak peduli, lebih tepatnya tidak mau tahu. Ia tetap pada prinsipnya dan berhasil terhubung dengan Bams.


***