
Chen Kho berkali-kali menghubungi Grace namun belum ada jawaban sampai sekarang. “Aku tak percaya kamu sudah tidur.” Gumam Chen Kho kesal. Tak berhasil menghubungi via telpon tak lantas membuatnya menyerah, Chen
Kho mengetik pesan singkat untuk menagih kabar dari adiknya.
Dia sudah mati kan?
Pesan itu memang terkirim, namun tidak ada respon dari penerimanya. Chen Kho mengernyit melihat status terakhir aplikasi pesan singkat chat sejak siang jam 11. Tidak biasanya Grace betah tidak mengutak atik ponsel dalam jeda waktu yang lama. Chen Kho mengangkat bahu, tak lagi mengambil pusing dengan Grace. Ia yakin keesokan harinya pesan itu pun pasti akan dibaca. Ada fokus lain yang jauh lebih menarik ketimbang Weini, dan Chen Kho bergegas
menyusul ayahnya yang sudah memulai babak pertama perselisihan dengan Li San.
***
Li San terperanjat mendapati kakaknya berada di ruang paling rahasia dalam rumah mewahnya. “Kakak, bagaimana kamu tahu tempat ini?” Tanya Li San sedikit terguncang kaget.
Kao Jing menatap santai adiknya kemudian tertawa lepas. “Adikku, jangan lupa bahwa ini juga rumah orangtuaku. Bagaimana mungkin aku tidak tahu denah rumahku sendiri? Oh, sekarang sudah jadi rumahmu.” Gumam Kao Jing tersenyum nyinyir.
Li San tepekur, yang disampaikan Kao Jing memang benar bahwa ini merupakan rumah masa kecil hingga remaja mereka, sebelum akhirnya diwariskan sepenuhnya pada Li San.
Sadar bahwa Li San masih terheran dengan kedatangan mendadaknya, Kao Jing pun kembali bersuara. “Ah, tadi aku ke mencarimu ke aula tapi kamu tidak ada di mana-mana. Aku pikir kamu mungkin di ruang bawah tanah
menggelar pertemuan rahasia.” Kao Jing melirik ke pengawal kepercayaan Li San yang langsung menunduk tahu diri karena sedang disorot. Pengawal itu langsung membungkukkan tubuh, tak berani menatap siapapun.
“Tapi sepertinya memang benar.” Lanjut Kao Jing tertawa keras seraya melihat adiknya yang bergeming dan nampak mulai gentar.
Pengawal ini membungkuk hormat kemudian berkata, "Hamba pamit undur diri dulu tuan.” Ia hendak berbalik badan ketika Li San sudah menyetujui lewat anggukan. Namun suara Kao Jing mencegatnya berlalu lebih dari dua langkah dari sana.
“Tunggu dulu, untuk apa terburu-buru? Bukankah kalian belum selesai rapat rahasia? Aku sudah terlanjur kemari, jangan sungkan padaku, silahkan dilanjutkan karena aku pun sudah tahu apa yang kalian bahas.” Gumam
Kao Jing dengan nada sombong.
Li San tersentak kaget, ia tak mengerti apa yang dibicarakan kakaknya, atau lebih tepatnya ia tak yakin bahwa Kao Jing tahu rencana penyelundupan mata-mata di pesta Wen Tin yang diprakarsai oleh Li San. “Apa maksud kakak?”
“Ha ha ha … Adik, jangan berlagak polos lagi. Aku tahu usahamu mengawasi pengawal pengkhianatmu itu kan? Tapi sayangnya, ada yang tidak kamu ketahui lebih dari itu.” Kao Jing menunjukkan foto dari ponselnya yang disodorkan pada Li San.
Li San terkejut bukan main hingga ponsel itu terjatuh dari genggamannya. Foto mengerikan itu adalah nasib pengawal kirimannya yang berakhir naas, dengan mata berbuka dan wajah penuh darah yang terlihat tak lagi bernyawa. “Kau?” Tanya Li San hendak menuduh kakaknya sebagai otak pembunuhan namun kata-katanya justru tersendat.
“Ya, aku yang menyuruh membunuh orangmu lalu orangku yang menggantikan tugas di pesta itu. Ah, bukan … Misi kita tidaklah sama, kamu hanya mencari kebenaran dari Wei yang datang ke sana. Tetapi aku … Misiku mengirim mata-mata ke sana untuk menghabisi putra angkatmu. Ha ha ha ….” Tawa keras lagi-lagi terdengar dari Kao Jing, ia betul-betul puas melihat raut wajah Li San yang shock dan sangat terguncang.
“Kakak … Kenapa kau sekejam itu?” Lirih Li San, tenaga kakinya tak sanggup menopang berat badannya lagi, lututnya lemas hingga ia terduduk. Membayangkan kematian Xiao Jun yang sangat ia sayangi membuat hatinya hancur tercabik-cabik.
“Kejam? Kau sebut itu kejam? Lebih kejam mana membunuh anak kandung sendiri dengan membunuh keponakan yang tak sedarah?” Sindir Kao Jing, tatapannya tajam menghunus hati Li San.
Li San bergetar mendengar pertanyaan itu, Kao Jing sedang membandingkan dosa yang ia lakukan di masa lalu dengan apa yang baru saja terjadi pada Xiao Jun. “Aku membunuh dia karena saranmu! Bukankah kamu yang bilang bahwa kelahirannya membawa sial bagi keturunan kita?” Tegas Li San membela diri.
Ejekan Kao Jing semakin memanaskan hati Li San. Ia merasa seperti seorang kerdil yang ditertawakan oleh orang yang lebih dungu darinya. Namun ia mencoba menahan diam sesaat lagi, ia tahu bahwa kakaknya masih ingin mengutarakan uneg unegnya.
“Aku tak menyangka orang yang dipercaya lebih pintar dariku ternyata begitu bodohnya tertipu dengan tahayul. Itu hanya akal-akalanku, karena aku tidak mau putraku jadi korban tradisi kuno keluarga kita yang terobsesi mempertahankan warisan, hingga harus melakukan pernikahan sedarah. Kematian putrimu sepenuhnya karena salahmu, kebodohanmu, jadi jangan kaitkan dengan hasutanku.” Tegas Kao Jing.
Li San memanas hati, ia tak sanggup lagi mendinginkan kepala. Selama ini ia memang bodoh seperti kata Liang Jia dan Kao Jing barusan. Mengapa ia lebih percaya pada kakaknya daripada mempertimbangkan nalurinya sebagai seorang ayah dan suami? Tanpa berpikir panjang Li San langsung membabi buta menyerang Kao Jing, ia tidak mempunyai keahlian bela diri namun insting menyerangnya yang bekerja. Sekuat tenaga ia mencoba mendorong
tubuh kakaknya, dan berhasil menubrukkan tubuh rentanya pada Kao Jing yang tak kalah renta.
“Aku habisi kamu! Aku tak peduli lagi bahwa kamu kakakku!” Gertak Li San, pengawalnya secara reflek mendukung tuannya dengan mengangkat pedang hendak menebas Kao Jing.
Penyerangan sepihak itu tak luput dari pantauan Chen Kho yang datang tepat waktu, dengan gesit ia menepis pedang pengawal Li San hingga terpental membumbung tinggi lalu berpindah pada tangannya. Pedang tajam
dan panjang itu kini mengarah persis di leher Li San, membuat sang penguasa itu nyaris lupa bernapas. Pengawalnya hendak menyerang tanpa senjata namun dengan mudah disingkirkan Chen Kho dalam satu kali tendangan. Kini tiada lagi yang menghalanginya menghabisi nyawa pamannya, jika memang Chen Kho menghendaki itu.
“Adik, aku turut prihatin dengan penyesalanmu yang sangat terlambat. Seharusnya kamu menyesal sepuluh
tahun lalu, tapi sekarang rasa bersalahmu hanya bisa kamu pendam sampai mati.” Sindir Kao Jing. Ia sudah merasa di atas angin sekarang.
Chen Kho menyeringai menatap pamannya, teringat dulu pamannya pernah menghukumnya kurungan kamar,
membuat harga dirinya terinjak. “Sebenarnya, firasat paman memang benar. Wei dan putri bungsu paman berhasil selamat dalam pembantaian brutalmu dulu. Dan orang yang paman curigai sebagai Wei memang benar sedang hadir di pesta pernikahan putrinya. Aku berbaik hati memberitahu paman kebenarannya, bagaimanapun juga
paman tidak akan punya kesempatan minta maaf pada Yue Hwa. Kecuali kalian bertemu di akhirat setelah ini.”
Li San menatap tajam pada keponakannya, “Jangan sentuh putriku! Aku tahu dia masih hidup, kalian tidak berhak menyentuhnya!” Gertak Li San.
Kao Jing tertawa lepas mendengar gertakan kosong Li San, “Siapa yang mau mendengar auman harimau yang
kehilangan taring? Adik, jangan terlalu serakah, kamu sudah menikmati kekayaan hingga saat ini. Sebagai saudara yang baik, tidakkah adik merasa perlu berbagi denganku?” Kao Jing menyentuh dagu Li San dengan ujung belati, membelai rahang tegas Li San dengan sisi belati tajam itu hingga Li San menahan napas saking tegangnya. Lalu tanpa ragu belati itu dihunuskan ke arah pinggangnya, dan Li San nyaris pingsan ketakutan.
“Satu hal lagi yang perlu paman ketahui, Yue Hwa memang bisa menghindari takdir kematiannya waktu kecil. Sayangnya ia tidak punya keberuntungan untuk terhindar dari kematian untuk kali kedua. Mungkin saat ini, ia sudah tidur dengan tenang dijemput malaikat maut. Aku turut berduka untukmu, paman.” Ujar Chen Kho dengan senyum
smirknya.
Bola mata Li San membelalak, “Tidaak!” Pekiknya bercampur tangis penyesalan. Yang lebih menyakitkan, mengapa penyesalan itu datang di penghujung segalanya. Ia tidak diberi kesempatan memperbaiki keadaan, tidak ada lagi kesempatan meminta maaf pada putrinya yang tertindas, dan tidak punya kesempatan lagi untuk bertemu putrinya
yang sudah beranjak dewasa. Tangisan dari seorang penguasa berhati dingin untuk putri bungsunya, memecah keheningan ruangan bawah tanah hingga menimbulkan gema.
***