OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 463 TEKAD



Xiao Jun baru saja menancapkan dupa pada hiolo sembahyang Li San, seorang pengawal yang baru saja mengunjungi penjara menunggu di belakangnya. Xiao Jun menyudahi penghormatan kepada ayah angkat sekaligus mendiang calon mertuanya. Ia tahu pengawal di belakang itu ingin menyampaikan sesuatu, kemudian ia membalikkan badan dan menatap serius padanya.


"Hormat kepada tuan muda." Ucap pengawal itu seraya membungkuk.


Xiao Jun mengangguk, "Ada apa? Langsung saja sampaikan." Perintah Xiao Jun.


Pengawal itu mendekat lalu bicara dengan suara yang pelan namun bisa jelas didengar oleh Xiao Jun. Bos muda itu meresponnya dengan anggukan.


"Baik, aku mengerti. Kau boleh pergi." Ucap Xiao Jun pelan.


Pengawal itu mengundurkan diri dari hadapan tuannya, namun Haris justru datang menghampiri putranya itu.


"Ayah...." Xiao Jun hendak menyampaikan tapi Haris sudah tahu lebih dulu.


"Iya, ayah sudah dengar. Kita tidak bisa mengambil keputusan ini, status tuan Kao Jing memang tahanan tapi di sisi lain dia juga keluarga inti tuaj besar. Satu satunya keluarga yang tuan besar miliki." Ujar Haris.


Xiao Jun juga sepaham dengan ayahnya, "Jadi kita harus bagaimana ayah?"


"Beritahu nyonya besar dan Weini, mereka berdua yang bisa memutuskan." Jawab Haris tegas.


"Baik ayah." Jawab Xiao Jun, kemudian ia berjalan mendekati Liang Jia yang sedang mengobrol dengan tamu.


Masa berkabung ini membuat keluarga terutama Liang Jia merasa lelah berkali-kali lipat lantaran harus membagi waktu antara menjalankan ritual penghormatan serta melayani tamu penting yang datang mengucapkan bela sungkawa. Wanita tua itu sedang bicara dengan diploma dari luar negeri, sudah cukup lama mereka berbincang hingga Liang Jia menemukan alasan untuk menyudahinya karena kehadiran Xiao Jun.


"Ibu, Maaf mengganggu waktumu." Ucap Xiao Jun pelan.


"Tidak masalah, ibu juga sudah terlalu lama basa basi dengan dia. Apa kau dan keluarga mu sudah makan?" Tanya Liang Jia perhatian.


"Kami sudah makan, ibu jangan cemaskan kami. Ibu lebih baik perhatikan kesehatan ibu. Hmm... ada yang ingin Jun sampaikan pada ibu dan Yue Hwa. Bisakah kita ke dalam sebentar?" Pinta Xiao Jun lembut.


Liang Jia terdiam sejenak menatap raut wajah Xiao Jun yang seperti menyimpan sesuatu. Ia pun mengangguk lalu meninggalkan aula utama yang masih sangat ramai tamu yang datang melayat. Weini masih di dalam bersama kedua kakaknya, hingga Liang Jia dan Xiao Jun bergabung dan menyatakan ingin bicara sejenak, barulah kedua kakaknya mengundurkan diri dari sana.


Weini menatap Liang Jia dan Xiao Jun bergantian, tampak jelas ada sesuatu yang mereka ingin katakan. "Ada apa ibu? Ada masalah apa?" Tanya Weini sambil menatap kekasihnya juga.


"Hwa, pengawal yang mengurus penjara mengabarkan kalau paman Kao Jing meminta kesempatan untuk memberi hormat pada ayah. Bagaimana menurut mu, nak?" Tanya Liang Jia penuh perhatian.


Weini terdiam berpikir sejenak, Kao Jing yang disebut pamannya itu berarti ayah dari Chen Kho dan Grace. "Dia di penjara?"


Xiao Jun mengangguk, "Ya, aku yang menjebloskan dia ke sana karena percobaan merebut kekuasaan dan hampir mencelakakan ayahmu."


Weini paham betul apa yang dilakukan Chen Kho dan ayahnya memang salah, tetapi ia juga tahu apa yang menyebabkan mereka seperti itu.


"Aku mau bertemu dengannya, bawa aku ke sana Jun." Pinta Weini.


Liang Jia menggeleng, menolak apa yang Weini inginkan. "Jangan, Hwa. Dia sangat berbahaya, dia bisa saja menyakiti mu." Cemas Liang Jia.


Weini tersenyum meyakinkan ibunya, tatapan Weini yang teduh itu sedikit menenangkan hati Liang Jia. "Ibu, tenang saja tidak ada yang bisa menyakiti aku, termasuk dia. Aku sungguh harus bertemu dengannya, ada yang harus aku sampaikan. Bagaimana pun juga dia harus tahu tentang kabar putranya." Lirih Weini, ekspresi wajahnya mendadak sedih.


Liang Jia mengerutkan dahi, tak mengerti maksud perkataan Weini. "Chen Kho? Kenapa dengan dia?"


Terdengar helaan napas berat dari Weini, mau tidak mau ia harus menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya. Tak ada yang perlu ditutupi lagi, ini jelas jelas adalah musibah bagi klan Li.


"Ibu, waktu aku menghilang, aku sempat pingsan beberapa hari. Setelah tersadar rupanya aku berada dalam sebuah rumah di bawah laut bersama Chen Kho, dia menyekapku di sana tapi ternyata dia tidak tega melukaiku. Aku diperlakukan dengan baik, dia bahkan menceritakan padaku tentang tekanan batinnya. Ia terpaksa melakukan semua itu, ini bukan kehendaknya untuk memberontak. Tapi saat ayah Wei dan Jun datang menyelamatkan ku, kami tidak bisa menolongnya. Dia...." Lirih Weini yang langsung berhenti bicara. Mengingat Chen Kho masih terasa perih baginya.


Liang Jia berdebar saat mendengar pengakuan Weini, tapi ia pun ingin penjelasan detail, apa yang terjadi setelah itu. Tatapan Liang Jia melirik pada Xiao Jun yang berdiri diam sejak tadi. Dan Xiao Jun sadar arti lirikan Liang Jia yang tak lain meminta penjelasan.


"Saat itu sangat rumit kondisinya, ibu. Kami terjebak dalam rumah yang dikelilingi air laut. Aku dan Yue Hwa berhasil sampai di atas permukaan laut, tapi ayah bahkan hampir celaka dan nyaris tenggelam di dalam. Kami tidak sempat menyelamatkan Chen Kho, rumah itu meledak, bahkan jasadnya pun tidak bisa kamu temukan." Ujar Xiao Jun menyampaikan penyesalannya.


Liang Jia merasa tubuhnya lemah seketika, dua berita duka dalam waktu yang tak jauh berbeda dari keluarga Li, sungguh pukulan hebat baginya. Meskipun ia kurang menyukai Chen Kho semasa pria itu hidup, namun bukan ini akhir yang Liang Jia harapkan. Kejadian ini menjadi petaka bagi keluarga Li San.


"Aku turut berduka untuknya, sungguh tak disangka." Lirih Liang Jia sedih.


Weini tersadar dari lamunan sedihnya, ia pun menarik tangan ibunya untuk digenggam. "Ibu, jangan banyak berpikir lagi, ibu harus bahagia menjalani hari-hari, Yue Hwa janji tidak akan meninggalkan ibu lagi. Kita mulai hidup baru ya, ayah pasti bahagia melihat kita dari sana." Gumam Weini lembut.


Liang Jia tersentuh oleh kata-kata Weini yang penuh perhatian, sebuah bonus berharga baginya karena mendapatkan putri yang sangat berbakti walaupun tidak tumbuh besar dalam didikannya.


"Terima kasih putri ku, ibu sangat bahagia mendengarnya." Lirih Liang Jia yang langsung memeluk Weini.


Xiao Jun tersenyum bahagia menyaksikan kasih sayang ibu dan anak itu. Akhirnya Weini kembali ke tempat asalnya, berkumpul dengan keluarga aslinya walaupun harus kehilangan seorang kepala keluarga di saat itu juga. Setidaknya kebahagiaan berkumpul bersama keluarga, bukan hanya dirasakan Xiao Jun. Ia sungguh bersyukur, mungkin inilah akhir yang indah bagi mereka berdua.


"Ibu, aku harus pergi menemui paman dulu. Tenanglah, percaya padaku bahwa semua akan baik-baik saja." Ucap Weini sembari melepaskan pelukan, ia berpamitan pada Liang Jia yang disetujui lewat isyarat anggukan.


❤️❤️❤️


Cepat atau lambat kebenaran pasti terungkap, suka atau tidak yang benar tetaplah benar. Aku tidak akan menyerah, demi memberi keadilan pada kematian mu yang tragis, demi klan Li yang sekarang di serahkan padaku, akan ku temukan pelaku dari petaka di klan kita. Aku Li Yue Hwa bertekad membuat perhitungan pada 'dia'. Di manapun dia berada!


❤️❤️❤️


Guys, kalau Xiao Jun melamar Weini, kira-kira lamaran yang romantis gimana ya adegannya? he he he....