OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 83 SAATNYA MENGHADAPI KENYATAAN



Lisa beradu mulut via telepon dengan seorang pria yang sering berbagi ranjang dengannya. Hubungan yang semula panas membara oleh api asmara, kini justru terancam ludes tersulut api emosi. Semua tidak lagi


sama ketika fakta yang tak sesuai harapan itu terungkap.


“Lalu gue harus ngemis sama putrimu yang manja itu? NO WAY! Mas kenal gue, nggak mungkin banget kan gue merendahkan harga diri buat siapapun. Kalo mas udah nggak sayang, yaudah gue gak bakal beratin.” Bentak


Lisa pada kekasih prianya yang seumuran ayahnya.


“Sayaaang, plisss. Jangan ngambek, mas hanya minta kamu ngalah sebentar ama Metta. Setelah lawannya dipenjara, baru kita urus lagi dia. Kalau kamu bisa bersabar, mas akan berikan apapun yang kamu mau. Oke ya


sayang.” Giliran Anwar yang memelas pada selingkuhannya, ia tidak rela kehilangan artis berbodi semok yang hebat menservisnya itu hilang dari pelukan.


Kesempatan emas yang barusan ditawarkan Anwar langsung membuat mata Lisa hijau. Tawarannya semacam kode yang bisa menggandakan asetnya semudah membalik telapak tangan. “Hmm gue akan mempertimbangkannya kalo mas mau beliin satu unit apartemen elit di kawasan selatan.” Ujar Lisa dengan nada mendesah manja, membuat Anwar tak berdaya selain mengiyakannya segera.


***


Konferensi pers yang diatur sedemikian apik oleh Xiao Jun akhirnya digelar, dengan mengundang berbagai media ternama akhirnya Weini menampakkan diri setelah beberapa hari sulit ditemui. Xiao Jun tak bisa mendampingi, namun ia meminta Dina memantau semuanya secara langsung.  Haris hanya duduk di kursi penonton dan


mempercayakan seluruhnya pada tim kuasa hukum untuk mendampingi Weini.


“Nona Weini bagaimana kabar anda? Benarkah anda mengalami retak lengan dan gegar otak ringan saat kejadian itu?


“Mbak Weini, apa langkah anda selanjutnya? Pihak lawan menuntut dan membeberkan bukti yang dinilai valid oleh polisi. Mbak sudah siap diproses hukum?”


Para wartawan mulai sibuk dengan pertanyaan todongan tanpa mengindahkan aturan dari moderator. Weini hampir saja meraih mik untuk menjawab, namun lebih cepat direbut oleh pengacaranya.


“Kondisi mbak Weini mulai membaik secara fisik maupun mental. Mohon maaf pada rekan pers karena hari ini kami baru siap memberikan keterangan. Mengenai pelaporan dari pihak saudari Metta yang menyatakan diri sebagai korban, ini agak rancu menurut kami. Kami sudah melayangkan gugatan berikut bukti-bukti ke pihak berwajib. Laporan kami telah diproses dan mendapatkan respon positif, dalam waktu dekat kita akan tahu seperti apa sebenarnya kasus ini dan siapa dalang di baliknya.”


Desas-desus dari wartawan yang terlihat bingung, kasus ini terlihat rumit dari sekedar pertengkaran anak SMA yang bermotif dendam. “Jadi maksud anda ada yang mendramatisir kasus ini? Lalu apa dugaan motifnya pak?”


Kondisi langsung menjadi tegang dan kacau, para wartawan banyak yang berspekulasi mengaitkannya dengan setingan menaikkan rating sinetron namun segera dibantah oleh kuasa hukum Weini.


“Apa boleh saya menyampaikan beberapa kata?” Weini tiba-tiba menyerobot mik di saat juru bicaranya lengah.


Semua sorotan kamera langsung mengambil angle penuh pada Weini. Dina membaca situasi yang gawat dan segera melempar pandangan ke Haris. Sayangnya Haris tetap berekspresi datar, ia menunggu apa yang hendak


Weini sampaikan.


“Terima kasih pada rekan media yang menaruh perhatian lebih pada kasus ini. Maaf karena baru sekarang saya bisa berjumpa langsung dengan kalian. Mohon maaf pula pada segenap rekan dalam sinetron yang saya bintangi, dan juga fans yang mengkhawatirkan atau bahkan kecewa pada saya. Saya tegaskan bahwa masalah ini bukan settingan. Walaupun karier saya baru seumur jagung, tapi pantang bagi saya sengaja menciptakan sensasi demi


popularitas. Itu bukan hal yang membanggakan buat saya. Biarkan pihak yang berwajib mengusut tuntas kasus ini, saya percayakan penuh pada mereka. Dan, perlu saya sampaikan pada yang menggugat saya, sebelum kasus ini makin jauh, pikirkan lagi resikonya. Jangan sampai ada penyesalan nanti. Itu saja. Terima kasih!”


Weini menyodorkan kembali mik pada jubirnya dan berbisik bahwa ia tidak mau menerima pertanyaan lagi. Ia yakin Metta pasti mendengar pesannya, walau bisa ia tebak keangkuhan gadis itu tidak akan membuatnya bertekuk lutut minta maaf. Tapi ia sangat kasihan pada masa depan gadis itu yang bisa dipastikan menanggung dampak besar andai ia terbukti bersalah.


“Mohon maaf kami tidak menerima pertanyaan lagi, dengan ini press conference siang ini kami sudahi. Terima kasih atas kehadiran teman-teman.” Juru bicara Weini memotong semua pertanyaan wartawan dengan menutup sesi pertemuan.


Weini dikawal dua body guard dan didorong pergi meninggalkan ruangan dengan kursi roda. Haris dan Dina segera membuntuti di belakangnya meskipun harus menerobos kumpulan wartawan pantang menyerah yang berusaha mencari celah bertanya pada Weini.


“Di dunia ini ada orang yang pantas ditolong dan ada yang tidak. Walau kamu sudah mengulurkan tangan untuk menariknya keluar dari jurang, tapi ia tetap terjatuh karena tidak percaya dan tak bersedia menyambut uluran tanganmu. Jangan dipikirkan lagi, itu memang jatahnya menerima akibat dari apa yang ia perbuat.”


Weini menoleh ke belakang, menatap senyuman Haris yang terlihat menguatkannya. “Kau selalu tahu isi hatiku. Makasih ayah!”


***


Xiao Jun menerima kiriman video dari Dina, ia tersenyum melihat keberanian Weini yang tak diragukan. Walaupun diberi pengawal dan juru bicara, gadis itu tetap mencari celah menyerobot jatah bicara.


“Dia memang gadisku.” Ujar Xiao Jun bangga.


Lau yang tak sengaja menguping akhirnya merasa bersalah, ia mendehem agar Xiao Jun menyadari keberadaannya. “Tuan, semua sudah siap. Apa perlu saya temani anda?”


Xiao Jun menutup aplikasi pesan di ponselnya, disimpannya alat komunikasi itu dalam saku celana lalu memberi sorotan yang serius pada Lau. “Tidak perlu. Paman tolong urus rapat produksi, biar aku benahi masalah itu sendiri.”


***


Stevan dan Lisa baru selesai dengan adegan pertengkaran yang mereka bawakan penuh penghayatan. Stevan sengaja melampiaskan kekesalannya pada Lisa dengan beracting marah penuh totalitas sedangkan Lisa


harus ekstra sabar menahan amarah karena tuntutan perannya yang harus menangis dan mengiba.


Dari luar studio terdengar suara riuh yang bocor sampai ke dalam. Bams yang menyadarinya langsung berteriak kesal, “Siapa yang cari mati ribut-ribut di sono?”


Apesnya bukan jawaban yang ia dengar namun penampakan sekelompok pria berseragam polisi yang muncul. Salah satu dari mereka mendekat dan menunjukkan surat penangkapan. Bams dan seisi ruangan pucat seketika.


“Saudari Lisa, anda kami tahan atas dugaan kasus penganiayaan berencana terhadap Weini.” seorang polisi mendekati Lisa dengan membawa borgol.


Lisa panik, pucat ketakutan tetapi ia masih mengumpulkan tenaga untuk mengelak. “Atas dasar apa bapak menahan saya? Tidak ada bukti apapun, kenapa saya harus ikut?”


Polisi itu diam sejenak kemudian memberi isyarat pada rekan lainnya, “Kami sudah mengamankan seorang rekan anda yang sudah mengakui semua kejahatan tersebut. Anda sebaiknya bersikap kooperatif dan dan jelaskan semua di kantor.”


Seorang pria yang sudah dibekuk polisi dikawal masuk, Lisa ternganga melihat orang yang ia kenal itu. “Siapa dia? Aku tidak kenal! Tidak ada urusan denganku!” Ia tetap konsisten mengelak. Seisi studio dibuat gaduh olehnya, semua kru bahkan Stevan dan Bams hanya menepi sebagai penonton.


“Silahkan jelaskan di kantor.” Polisi meraih tangan Lisa yang terus memberontak saat borgol hendak dipasangkan.


“Shit! Siapa yang ngefitnah gue? Siapa yang panggil mereka ke sini? Mau nantangin gue? Lu nggak tahu siapa Gue?” cecar Lisa dengan nada melengking.


“Aku…”


Lisa menatap pria yang melontarkan kata itu, pria yang ia kagumi serta menjadi cinta pada pandangan pertamanya yang melakukan itu? Dia berjalan melewati sekelompok pria berseragam, kharismanya memabukkan namun ternyata orang yang dikagumi Lisa itu mematikan.


“Lu?”


***