OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 175 MENEGASKAN BATAS



Xiao Jun kembali didatangi suara misterius yang mengaku sebagai ayahnya lewat mimpi. Setelah terjaga dari tidur, suara baritone yang menyampaikan pesan singkat itu masih membekas dalam ingatannya. Yang tak habis dipikir oleh Xiao Jun, bagaimana bisa ayahnya yang keberadaannya entah di mana itu mengetahui apa yang terjadi pada anak-anaknya? Beberapa minggu lalu dia hadir memberi petunjuk pada Xiao Jun tentang masalah perjodohan, lalu sekarang suara itu muncul lagi memintanya bertindak cepat menolong Li An.


“Ayah, kamu di mana sebenarnya? Kenapa tidak kembali melindungi ibu dan kakak?” geram Xiao Jun. Bukan bermaksud membangkang, namun ia terlanjur rindu. Tak ingin sekedar kontak suara tetapi ingin segera bertemu dan berkumpul seperti dulu kala.


Ia merenung sejenak dalam pembaringan, alur hidup yang terasa mempermainkannya. Ia tak keberatan memikul tanggung jawab besar sebagai satu-satunya putra keluarga Wei, namun jika terus hidup di bawah kendali keluarga Li yang tak ada hubungan darah hanya karena perbedaan status kehidupan, Xiao Jun mulai krisis kepercayaan diri sanggup menjalankannya seumur hidup.


Pesan Weini masih ia anggurkan hingga hari berganti. Berat rasanya sekedar membalas ‘aku baik-baik saja’ padanya. Xiao Jun merasa berada di titik keraguan dan tak berani mengungkapkan kenyataan. Ia masih mencintai Weini, justru saking cintanya hingga ia segan melukainya lebih dalam.


Dering panggilan masuk via whatsapp tepat di saat Xiao Jun membuka kolom chat si penelpon. Napasnya tertahan sejenak mendapati panggilan dari gadis yang tengah ia pikirkan. Terus ia pandangi layar ponsel yang bergetaran dalam genggaman, jari telunjuknya mengarah ke tombol angkat. Permintaan telfon itu via video call, begitu ia menerimanya maka mereka akan bertatap wajah.


Keraguan menyelinap lagi hingga membuat darah Xiao Jun mendesir, ia tidak siap saat ini. Telunjuknya beralih pada tombol tolak, dan dengan sadis ia tolak panggilan masuk itu.


Weini, dui bu qi (maaf). Batin Xiao Jun perih, sakit yang tak terungkapkan. Belum satu menit pasca penolakan, permintaan panggilan suara dari Weini masuk lagi di saat Xiao Jun belum menutup kolom chat. Xiao Jun tak habis pikir kemana nyalinya hingga ketakutan mengangkat telpon itu. Ia hanya menatapi dengan gusar dan sedih nama Weini muncul dalam panggilan tersebut sampai terputus sendiri.


“Beri aku waktu.” Gumam Xiao Jun seolah Weini dapat mendengar ucapannya.


Di tengah kesedihan yang belum terkontrol, suara ketukan pintu dari luar membelah konsentrasi Xiao Jun. Ia menggeletakkan ponsel di atas meja lalu mempersilahkan pengawal yang mengetuk itu masuk.


“Morning dear, kamu baru bangun?”


Seketika Xiao Jun menyesal mempersilahkan masuk pada orang yang tak ia harapkan. Xiao Jun mengira ketukan itu berasal dari pengawal yang rutin menyambanginya setiap pagi, rupanya kali ini perkiraannya meleset. Grace datang dengan dandanan yang rapi sepagi ini dan berpenampilan begitu menggoda. Ia mulai berani mengenakan


atasan kemben dipadukan celana skinny jeans yang menonjolkan lekuk tubuhnya.


Nyali Grace cukup berani, ia sengaja memberi tantangan pada seorang pria normal dengan menyodorkan diri dalam ruangan tertutup yang hanya berisi dia dan Xiao Jun. Harus diakui ia memiliki tubuh yang nyaris sempurna bagi seorang wanita, sex appeal yang ia miliki didukung dengan gaya busana yang mengundang decak kagum jelas menjadi cobaan tersulit bagi Xiao Jun menahan hasrat dari godaan di hadapannya.


“Nona, ada perlu apa kemari?” tanya Xiao Jun tanpa banyak menatap Grace. Ia mengalihkan pandangan ke pintu, seolah meminta gadis itu segera keluar dari sini.


Rangkulan itu disingkirkan oleh Xiao Jun, ia mendadak ilfeel dengan sikap agresif seorang gadis. Setertarik apapun ia walau tengah tergoda, ia langsung tak berminat pada gadis itu jika mulai mencoba mendominasi peran.


“Aku belum siap menerima tamu, mendingan kamu kembali ke tempatmu.” Tolak Xiao Jun dan membelakangi Grace.


Bukannya pergi, Grace malah memeluk erat dari belakang. Matanya terpejam mencium aroma maskulin dari tubuh Xiao Jun, aroma yang begitu ia suka dan kian membumbungkan rasa cintanya. “Jun, kita udah terikat, aku milik kamu seutuhnya. Apapun yang kumiliki jadi milikmu juga. Plis, jangan menutup diri lagi.” Desis Grace, semenjak kemarin sah terikat pertunangan ia merasa perlu menjalani pengenalan yang lebih dalam terhadap pasangannya. Sekaligus memberikan keutuhan dirinya sebagai tanda keseriusan. Ia belum pernah secinta ini pada pria manapun, hanya pada Xiao Jun dan hanya untuk dia seorang. Grace sudah bertekad sejak semalam, ia akan menyerahkan diri pada Xiao Jun.


Xiao Jun melepaskan diri dari pelukan, permintaan Grace terdengar memuakkan. Ia berbalik badan menatap tajam pada gadis itu, kemana gadis lugu yang beberapa hari ia kenal? Bahkan ia sempat memikirkan perasaan Grace dan merasa bersalah harus menyakiti gadis sepolos itu. Hanya karena terikat status pertunangan langsung membuat Grace menjadi gadis agresif dan sedang berusaha mengobral harga dirinya.


“Nona Grace, jangan mengancamku dengan ikatan. Ini baru pertunangan, kita masih punya aturan yang harus dihormati di keluarga ini. Sebaiknya kau kembali ke kediamanmu sekarang, bukankah kau masih dilatih tata krama? Apa pantas seorang gadis menyambangi tempat pria dan bersikap tak wajar?”


Grace mengernyit,”Apa yang tak wajar? Aku tunanganmu, hubungan kita resmi dan aku hanya ingin meresmikannya secara pribadi. Di Negaraku semua masih wajar saja, kita sudah dewasa dan tak ada melukai siapapun!” Grace masih keras kepala mempertahankan pendapatnya, tatapan dari sorot mata terlihat sendu. Dan inilah kelebihannya yang mampu melemahkan lawan dengan tatapan iba.


Xiao Jun terpaku diam, sorot mata Grace membuatnya segera memalingkan wajah. Ia takut luluh oleh tatapan menyedihkan itu, Xiao Jun sadar bahwa Grace tak tahu apapun tentang masa lalu dan atas dasar apa hubungan mereka terjalin. Ia pun sangat sadar bahwa sekali ia tergoda hasrat normalnya sebagai seorang pria, maka akan


ada satu hati yang akan terluka dalam. Bila itu terjadi, Xiao Jun merasa tak punya muka lagi menghadapi kekasih hatinya.


“Kau sedang berada di kediaman Li yang penuh aturan, jadi kebebasan apapun di negaramu tak berlaku di sini. Aku masih ada urusan penting bersama ayahku, tunggu lain waktu saja ketika ayahku mengaturkan pertemuan. Selama tinggal di sini, serius lah belajar dari Bibi Gu.” Ujar Xiao Jun yang merupakan penolakan final untuk Grace. Ia bersiap menuju pintu untuk mengantarkan gadis itu keluar.


Grace bisa menebak bahwa Xiao Jun tengah mengusirnya keluar, namun ia tak akan keluar selangkah pun dari sini sebelum keinginannya terpenuhi. Grace sudah mengumpulkan semua keberaniannya untuk melempar umpan, dan ia pun sudah memikirkan strategi lain yang lebih nekad.


“Jangan buka pintunya! Apa kau rela membiarkan aku jadi tontonan pengawalmu?”  pekik Grace.


Gadis itu mulai melucuti pakaian atasnya. Kemben berwarna dusty pink itu mulai Grace angkat dari bawah hingga memamerkan kulit perut putih mulus. Pernyataan yang janggal itu membuat Xiao Jun menoleh, ia terkejut mendapati tontonan yang menjurus vulgar di hadapannya. Gadis itu menatapnya dengan tampilan pakaian dalam bagian atas yang menutupi aurat. Tatapan penuh yang menggoda, membuat hangat wajah Xiao Jun yang menatapnya dan ritme jantung yang berdebar kian kencang dan ia mulai tergoda.


***