OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 66 PERTEMUAN YANG DIHARAPKAN



Dua pasang kaki berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi dan panjang. Mereka sengaja memperlambat gerakan langkah kaki demi menuntaskan kronologi cerita yang menyebabkan Weini berakhir


seperti ini. Dina begitu terbawa perasaan saat menceritakan semua yang terjadi di lokasi syuting termasuk perlakukan Lisa dan Metta terhadap Weini.


“Seperti itu ceritanya, paman.” Dina menghela napas, mengungkit kejadian menegangkan itu sangat menguras tenaganya.


“Terima kasih sudah menjaga anakku.” Ujar Haris, walaupun memang tanggung jawab manager terhadap artisnya, tetapi Dina tampak sangat mengkhawatirkan Weini melebihi hubungan kerja. Haris bisa merasakan ketulusan wanita itu terhadap Weini.


“Itu tugasku. Paman nggak perlu berterima kasih.” Dina mengibas tangannya saking sungkan.


“Jadi gadis yang bernama Metta itu gimana keadaannya sekarang?” tanya Haris serius. Ia perlu mencari tahu seperti apa gadis yang sentiment pada putrinya.


“Oh my God!” Dina menepuk jidat. Sedari tadi perhatian mereka hanya terpusat pada Weini hingga pemberitaan yang beredar di publik pun hanya menyinggung seorang korban saja. Padahal Weini dan Metta dibawa bersamaan


ke rumah sakit ini. Pastinya Metta juga dirawat di sini namun mereka justru belum melihat keadaannya.


“Paman, cewek bernama Metta itu juga dibawa ke sini. Tapi kami malah melupakannya, nggak tahu dia dirawat di kamar mana dan gimana kondisinya?”


Haris mengangguk paham, “Kalau begitu kita kembali lihat Weini dulu baru mencari tahu kondisi dia.”


Dina setuju, mereka mempercepat langkah. Haris jauh lebih tenang karena ia tahu kondisi Weini pasti sudah membaik. Sayangnya ia tidak mampu memprediksi kapan Weini sadarkan diri, itu sudah di luar batas kemampuannya.


***


Bams kelabakan menghadapi kerumunan pers yang mengepung kantor. Setelah bangun dari pingsan, ia tidak sabaran menyusul ke rumah sakit namun masalah internal di kantor pasca kejadian membuatnya tak dapat menarik diri semudah itu. Pihak tertinggi di perusahaannya meminta Bams  mengatasi persoalan itu secara publik, mau tak mau ia harus menggelar konferensi pers mewakili managemen.


“Gimana kondisi Weini?” Bams hanya bisa mengontrol perkembangan kabar Weini lewat Dina. Suara Dina terdengar parau meskipun sudah berhenti menangis beberapa jam lalu.


“Dokter bilang kena gegar otak ringan dan tulang lengan retak.  Oya Kak, aku nggak tahu kondisi cewek yang satunya. Kami terlalu cemas dengan Weini sampe lupa kalo asisten Lisa juga masuk rumah sakit.” Ujar Dina dari seberang telpon.


“Apaaaaa?” Bams terpekik. Ia juga baru sadar masih ada satu orang yang belum disebutkan kepada media. Meskipun hanya pemeran pengganti, namun kevalidan informasi jelas lebih baik.


“Lu tahu siapa namanya? Siapa keluarganya? Aduuuuuuh pening gue!” pekik Bams, mungkin jika ia perempuan air matanya sudah segayung gara-gara masalah ini.


“Namanya sih tahu, Metta. Tapi kalo keluarganya ya coba tanya Lisa deh itu kan asistennya.” Seru Lisa yang ikutan kelabakan.


Bams semakin lemas, berharap semua ini hanya mimpi dan ia segera bangun melanjutkan syuting. Gara-gara kejadian ini, kantor harus membayar ganti rugi pembatalan tayang ke berbagai pihak. Semua ini gara-gara si


pengacau Lisa!


“Gini deh, gue minta tolong kalo Weini udah aman kondisinya, tolong cari dimana cewek yang itu. Tanyain siapa keluarganya, dan siapa yang bisa kita hubungi.” Pinta Bams.


Pembicaraan mereka selesai namun menyisakan banyak PR ke depannya. Bams mengamati sekeliling, seluruh staf kantor dari segala divisi tertahan di kantor meski jam kerja telah usai sejak tadi.


“Bos, dari tadi kami nggak liat dimana dia. Kayaknya udah pulang duluan.”


“Whaaat? Beraninya dia meninggalkan lokasi di saat kondisi belum stabil. Cari sampe ketemu, hubungi  managernya!”


Bams naik pitam, semestinya dari awal tidak pernah berurusan lagi dengan Lisa. Pikiran yang terlampau berat dan banyak ketimbang kapasitas otaknya membuat Bams tak mampu menegakkan kepala. Ia menyembunyikan sorot frustasi dengan membenamkan wajah dalam lipatan tangan di atas meja. Apa ini yang disebut karma? Andai saja ia tidak dengan angkuh mengganti peran Lisa  dengan Weini, mungkin keburukan ini tidak akan terjadi.


Apalah dikata, menyesali tanpa bertindak pun tidak akan memperbaiki situasi. Bams menegakkan kepala, mengumpulkan sisa tenaga dan optimis. Saatnya menghadapi awak media dengan klarifikasi, setelah itu yang


terjadi biarlah terjadi.


***


“Paman, maaf membuatmu menunggu. Tadi pak sutradara mengecek kondisi Weini.” Dina merasa kikuk melihat Haris memilih menunggunya ketimbang menyuruhnya menyusul.


“Tidak masalah. Lagipula Weini pasti sudah membaik sekarang tidak perlu cemas.” Haris begitu santai seolah sakit Weini hanya penyakit ringan biasa.


Dina tak habis pikir mengapa Haris bisa berpembawaan tenang padahal diagnosa dokter saja menyebut Weini dalam keadaan yang tidak menguntungkan. “Paman, aku nggak ngerti darimana paman mendapat keyakinan itu? Bukannya kita sama-sama dengar yang disampaikan dokter tentang kondisi Weini?”


Lagi-lagi senyum yang teduh dan tenang terlihat dari lengkungan bibir Haris, dengan sangat percaya diri, ia lontarkan jawaban pada Dina. “Karena aku ayahnya.”


Betapa kaku wajah Dina saat mendengar jawaban itu, ayah Weini yang hanya seorang guru les berbicara seakan ia lebih tahu daripada dokter. “Hehe… benar juga ya.” Dina memilih mengakhiri topik ini daripada ia harus berdebat dengan orang yang lebih tua. Toh sesaat lagi mereka akan mendengar kondisi terkini Weini, dokter pasti sudah selesai memeriksanya.


Haris bisa menebak betapa gadis itu meragukannya. Ia tidak ambil pusing dengan pendapat siapapun. Terlahir sebagai keturunan penyihir, perkara digunjing, tidak dipercaya dan dianggap sumber kesialan sudah pernah dialami leluhurnya. Mental baja itupun sudah mendarah daging bagi Haris, bedanya ia lebih menyembunyikan keistimewaannya dan tidak menggunakan kemampuan sihir terang-terangan. Itulah sebabnya ia mampu bertahan menyamar sebagai orang biasa hingga sekarang.


“Eh? Kenapa ada keributan?” Dina menunjuk ke arah dua pria yang ia kenal.


Haris mencegat Dina yang hendak berlari merelai Stevan dan rivalnya. Dengan kode jemari yang menempel di bibir, Dina diminta diam menyaksikan pertikaian yang terjadi di depan mata. Stevan berusaha keras mencegat pria muda itu masuk, namun kekuatan lawan tidak berimbang dengannya hingga ia terlihat seakan terintimidasi. Haris menunggu kesempatan melihat dengan jelas siapa pria yang hanya tampak punggungnya itu, hingga saat Stevan


menarik kerah jas pria itu kemudian si pria menepis dengan membalikkan badan.


“Anak itu…”


Haris terkejut mendapati pria yang datang menjenguk Weini. Dipusatkannya perhatian pada pria muda yang terlihat tampan, gagah dalam setelan formal yang menunjukkan kewibawaan yang besar.


“Dia yang namanya Xiao Jun, paman. Cowok yang disukai ama Weini. Paman belum kenal sama dia?” Ujar Dina blak-blakan tanpa melepas pandangan dari dua pria yang masih bersitegang.


Haris larut dalam keterpesonaan pada anak muda itu sampai-sampai apa yang diucapkan Dina mantul begitu saja. Anak itu…


***