OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 197 KEBETULAN ATAU KESENGAJAAN?



“Paman, aku mohon percayalah pada keponakanmu! Dia merayuku, dia kekasihku jadi apa salahnya kami


melakukan itu? Xiao Jun yang terlalu berlebihan, ia datang langsung memukulku. Pria itu saksinya paman!” Chen Kho menunjuk Wen Ting yang sedari tadi berdiri diam.


Wen Ting sadar sedang ditunjuk, ia bertanya sekali lagi memastikan apa benar Chen Kho memintanya berpihak padanya. “Aku?”


Li San memandangi Wen Ting, dari penampilan luarnya saja Li San tahu bahwa dia adalah pengusaha yang diceritakan Xiao Jun. Ia baru sampai dan harus menyaksikan masalah internal keluarganya, sungguh memalukan bagi Li San.


“Sebelumnya aku ucapkan salam hormatku untuk tuan Li San. Senang bertemu anda di kesempatan ini, aku baru saja tiba disambut tuan Xiao Jun dan akan dijamu makan di kediamannya. Di tengah perjalanan, dia mendengar sesuatu lalu pergi mencari tahu. Aku melihat gadis ini dalam kondisi shock dan menenangkannya sementara


mereka sedang berkelahi. Hanya itu yang bisa kujelaskan.” Wen Ting menyampaikannya dengan penuh wibawa yang meyakinkan.


Kesaksian Wen Ting yang jujur tentu membuat Li An dan Xiao Jun lega, pria itu bisa diandalkan meskipun belum 24 jam mengenalnya, ia dapat dipercaya.


Li San manggut-manggut, ia tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. “Anak muda, terima kasih atas kesaksianmu. Kesan pertama perkenalan kita justru kurang bagus, aku harap tidak mempengaruhi penilaianmu terhadap rencana bisnis kita.”


“Tenang saja tuan, aku bisa bedakan mana urusan bisnis dan pribadi. Maaf aku tidak tertarik campur tangan dalam masalah ini, silahkan tuan selesaikan dulu.” Wen Ting minta ijin untuk diam sebagai penonton, sungguh bukan pilihan bagus terjebak dalam masalah keluarga orang besar. Di balik itu semua, ia cukup bersyukur setidaknya masih ada hikmah di balik itu semua. Ia mengenal seorang gadis yang lumayan menarik dan membuatnya tak henti curi pandang kepada gadis itu.


“Aku tidak mengerti, kenapa kakak melecehkannya? Kenapa Xiao Jun membelanya? Sebenarnya siapa gadis itu?” pekik Grace, ia mulai tidak tahan dengan segala pertanyaan yang nyaris meledak di pikirannya.


“Dia kakakku, apa masalah buatmu nona Grace?” sindir Xiao Jun.


Grace terperanjat kaget, dalam satu hari ia mendapati kenyataan baru sekaligus bertemu orang penting bagi Xiao Jun tetapi di mana letak kesopanannya? Ia malah menaruh curiga dan cemburu pada gadis yang keliru. “Oh, tidak... tidak ada.”


Li San mulai jengah, ia mengetuk mejanya berulang kali seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis. “Cukup! Chen Kho, sejak kemarin kamu terus berulah. Hari ini juga mencoba mengelabuiku juga mempermalukan keluarga di hadapan tamu. Pengawal, bawa dia ke kamarnya dan beri hukuman kurungan selama satu bulan biar dia


renungkan kesalahan.”


Xiao Jun mengernyit, hati kecilnya ingin protes atas kesenjangan yang diberikan Li San. Ia mengira pria itu akan dikurung di penjara, ternyata dengan kesalahan fatal itu hanya dijadikan tahanan rumah. Chen Kho diseret pergi dengan sikap yang masih tak tahu diri, ia tertawa dan berteriak menyumpahi Xiao Jun.


Tinggallah Grace yang masih berdiri bingung harus bersikap apa saat ini. Kesan pertamanya di hadapan calon kakak ipar begitu buruk, ditambah perlakuan Chen Kho yang memalukan. Grace makin merasa benteng yang membatasi jarak antara ia dan Xiao Jun semakin tinggi.


***


Bams mencoba menerima kenyataan yang baru ia baca dari sebuah email. Satu halaman surat pemberitahuan elektronik dari kliennya berhasil meluluh-lantakkan moodnya. Ia tengah mempersiapkan syuting dan para cast sudah stand by di lokasi, yang ada ia terpaku shock mendapati perubahan mendadak dari isi email.


“WTF, kemana janji bos itu!?” pekik Bams membanting ponselnya. Kemarahan spontan itu mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya, terutama Weini dan Stevan. Mereka saling bertanya dan menghampiri Bams. Bos mana yang dimaksud kak Bams? Gumam Weini dalam hati.


“Ada apa pak sutradara?” tanya Stevan yang mewakili pertanyaan Weini pula.


Ponsel yang jatuh ke lantai itu dipungut Weini lalu diserahkan pada Bams. Sutradara itu membuka kunci ponselnya lalu menyodorkan pada Stevan. “Lu baca aja sendiri.”


Stevan berbagi ponsel dengan Weini, mereka membacanya bersamaan dan terkejut bareng pula. Kemarahan Bams sangat beralasan, setelah mengetahui masalahnya Stevan dan Weini pun turut merasa hal yang sama. Mereka masih bungkam lantaran takut salah bicara dan semakin merunyamkan mood Bams.


“Sekarang lu pada udah tahu, harusnya kita mulai shoot sekarang. Semua udah siap tinggal kerja, trus tiba-tiba gue harus ngubah semua alur ceritanya dan maksa biar itu selesai dalam lima episode terakhir. Are you nuts?” cibiran itu jelas ditujukan pada pihak yang menginginkan penghentian tayangan Bams.


“Salah kita di mana? Rating dan sharenya tinggi kok, selalu masuk tiga besar malah dipaksa berhenti tanpa alasan.” Timpal Stevan yang juga merasa tak terima dengan keputusan sepihak itu.


“Apa tidak ada cara lain kak? Kita aju banding misalnya? Mereka harus berikan alasan yang jelas untuk pemberhentian ini.” Weini ikut sumbang suara, ia tidak masalah dengan keputusan itu. Efeknya hanya pada pengurangan aktivitasnya sebagai artis, ia masih bisa mengisi kesibukan dengan hal lainnya misalkan menjadi asisten Haris lagi tetapi bagaimana dengan nasib para pekerja harian, kru-kru yang mengandalkan hidup dari profesi ini? Apa mereka punya pilihan yang lebih baik seperti Weini?


Wajah-wajah bersemangat yang siap tempur perlahan surut dan kecewa, dalam hitungan hari mereka akan gulung tikar dan mengais kesempatan lain. Weini tak sanggup menyaksikan raut pesimis dan sedih teman-temannya, ia menundukkan wajah sedalam-dalamnya.


“Non, are you okay?” Dina nongol menepuk pundak Weini, manager itu lebih meresahkan Weini yang secara bertubi-tubi kehilangan job.


Weini mengangguk pelan tanpa suara, sikapnya membuat Stevan ikut gusar.


“Sabar ya, lu kan masih ada pemasukan dari iklan dan job film. Ini bukan akhir karier lu kok, siapa tahu justru jadi batu loncatan.” Stevan menghibur Weini, ia salah kaprah dengan sikap diam yang dikira kesedihan karena kehilangan pekerjaan.


Dina menggelengkan kepala, “No no, dia kemarin habis diputus kontrak iklan secara sepihak tanpa alasan juga. Ngeselinnya lagi tuh, dia nolak kompensasinya! OMG kan itu duit M Man dilepeh kayak nemu duit cepek di jalan.” Ungkap Dina dongkol, sekarang ia ikut galau memikirkan Weini kehilangan pekerjaan bertubi-tubi.


“Benar begitu Weini? Hmm... aneh, kok kebetulan yang rasanya aneh.” Gumam Stevan berspekulasi bahwa ini settingan untuk menjatuhkan karier Weini.


Weini tersenyum manis dan tegar, “Ya kak, tapi nggak masalah sih. Umpama itu memang kebetulan pun, biarlah. Lalu gimana denganmu? Setelah ini apa projek selanjutnya?”


“No planning dalam waktu dekat, lebih baik gue quality time, hidup sehat dan senangin diri sendiri dulu. Gue udah senior, nggak sulit buat gue come back kapanpun. Tapi lu kudu survive, dunia kita kejam.” Stevan menyampaikan pendapatnya, persaingan ketat di industri hiburan memang tak luput dari saling menjatuhkan.


“Lu sih enak bisa santai, lah gue? Makan gaji buta dong?” sanggah Dina sebel dengan kondisi artisnya yang sedang tidak mujur.


“Ng, kak Dina sementara aku belum ada job, kakak boleh cari side job kok. Maaf banget ya membuatmu susah, aku tetap bayarkan gajimu.” Weini prihatin dengan Dina, kenapa ia sempat terlupakan pada managernya yang setia itu.


“Lah, justru aku nggak mau makan gaji buta. Aku bakal giat cari job baru buat non, dan step pertama aku bakal ngelabrak author kita!”


***


Cerita khayalan behind the secene ^^


Dina : “Woi Authorrr! Keluar lu!”


Author : (Berpacu dengan laptop) “Woi Dina, ngapain lu keluar dari alur? Sana balik lagi!”


Dina : “Nggak mau! Sebelum gue tegakkan keadilan buat pemeran utama! Gue ngewakilin sejumlah reader yang juga mau protes! Kenapa sih Author suka banget bikin hidup Weini dan Xiao Jun susah?”


Author : (Menggaruk kepala yang belum keramas saking hecticnya) “Ya, mau gimana? Udah tuntutan targetnya sekian. Author juga punya suka dukanya (**).”


Dina : “Ya, nggak gitu juga kalii ... lama-lama kita bosan mewek mulu, kapan gue senangnya? Kapan gue dapat cowok? Kapan mereka nikah atuh?”


Author : “Ini sih, lu malak spam ya? Author bocorin deh dikit, Weini dan Xiao Jun pasti nikah setelah mereka kembali hidup dengan nama aslinya. Setelah Haris melewati masa kritisnya, setelah Weini menemukan cara membuka topengnya. Dan ketika lu sampai di bagian itu, tandanya author akan segera pamit dari kisah ini (**) ....”


Dina : “OOO begitu *sambil ngupil*\, trus gue kapan dikasih cowok? Gue nggak mau jomblo sampai akhir cerita!”


Author : *Mikir sambil garuk laptop* Hmmm\, siapa yang bersedia jadi cowokmu? Ah\, biar nggak kebanyakan peran gimana kalau dipasangkan dengan pengawal Lau saja? Atau Bams yang lebih mudaan dikit lah.”


Dina : *ngunyah batako* “Thor, lu mau batako ini hancurin laptop lu? Hentikan imajinasi konyolmu, mereka nggak sesuai tipeku! Plis kasih gue cowok yang minimal kayak Park Seo Jun, kalau nggak gue bakal mogok jadi asisten peran utamamu!”


Author : *pasang headset dengerin musik* berisik lu bawel\, sana balik ke novel lagi! *menendang Dina keluar dari *chat**


***