OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 159 PERUBAHAN SIKAP YANG DRASTIS



Liang Jia menemui suaminya di aula demi memenuhi perintah yang ia terima beberapa menit lalu. Suami istri itu terbiasa tinggal terpisah semenjak usia mereka menginjak kepala lima hingga sekarang, meskipun tak ada konflik batin tetapi mereka lebih nyaman untuk tinggal di rumah yang sama namun di atap berbeda.


“Hari yang masih terlalu dini, ada apa memanggilku sepagi ini suamiku?” tanya Liang Jia lembut, ia perlu menjaga intonasi dan kata-katanya agar tidak menyingguh hati ababil Li San.


“Duduklah, sudah hampir seminggu kita tidak minum bersama. Apa kabarmu? Tidurmu nyenyak semalam?” tanya Li San perhatian.


Perhatian dadakan dari seorang suami berhati keras tidak lantas menggugah perasaan Liang Jia, ia kadung ilfeel dengan sifat buruk pria yang menjadi pasangan hidupnya selama berpuluh tahun. Pertanyaan yang baik itu jelas mengandung niat terselubung dan Liang Jia yakin sesaat lagi Li San akan mengutarakan maksudnya.


“Ya begitulah, kabarku seperti yang kau lihat.” Jawab Liang Jia sekenanya.


Li San merasakan ketidak senangan hati Liang Jia dari jawaban ketus itu. Menimbang suasana hatinya yang sedang baik, ia membiarkan begitu saja sikap istrinya dan langsung masuk ke pokok persoalan yang ingin dibahas bersamanya.


“Istriku, bagaimana menurutmu tentang calon menantu kita?” Li San memancing pendapat Liang Jia.


“Apa pendapatku masih dibutuhkan? Seperti apapun penilaianku pasti tidak akan mengubah keputusanmu.” Ujar Liang Jia dingin, ia memilih cuek sembari puas secangkir hangat teh kesehatan di atas meja.


Li San tertawa, setidaknya ia harus berusaha terlihat dengan keputusan yang telah ia tetapkan  apapun kekurangannya. “Kau memang sangat mengenalku. Secara fisik, aku yakin kita sependapat kalau dia sangat cantik dan cocok menjadi nyonya Li. Sayangnya, secara mental ia terlalu liar dan tidak tahu aturan.” Li San mengungkapkan penilaian terjujurnya, memang seperti itulah nilai Grace di mata Li San yang terbiasa dengan pembawaan kuno bahwa seorang gadis harus punya sopan santun dan menjaga sikap meskipun dengan


saudara laki-lakinya.


“Syukurlah kalau kau sadar, lalu kau akan batalkan pertunangan mereka? seorang gadis yang dibesarkan dengan cara bebas tidak akan mampu berubah dalam sekejab. Aku ragu dia bisa menjaga kharisma seorang nyonya besar keluarga Li di masa depan.” Liang Jia pun ikut menyuarakan pendapatnya, ia mulai tidak menyukai gadis pirang


itu sejak disapa dengan sebutan aunty.


“Tidak. Dia tetap kandidat satu-satunya sebagai istri Xiao Jun. Aku akan sedikit merepotkanmu mulai sekarang.” Ujar Li San dengan cepat menjawab Liang Jia yang mulai menghasutnya berubah pikiran.


“Tidak biasanya kau seformal itu, langsung saja sampaikan apa maumu?” jawab Liang Jia, ia tak terbiasa dengan sikap basa basi dari suaminya.


Li San menuang teh ke dalam cangkir kecilnya, ia tak perlu menatap Liang Jia ketika menyodorkan sebuah perintah. “Sebagai nyonya besar Li, aku ingin kau mengajarkan calon penerusmu tentang tata krama dan aturan di keluarga kita. Segala sikap dan perkataan harus sesuai dengan aturan di rumah ini. Aku ingin dia berubah sebelum hari pernikahan di tetapkan pada musim panas tahun depan.”


Liang Jia terkejut mendengar rencana gila Li San, “Kau sudah mencari hari baik pernikahan? Mereka bahkan belum bertunangan tapi kau justru melangkah sangat cepat?” Tak sampai satu tahun lagi jika tidak dihentikan maka Xiao Jun akan sungguh menikahi wanita yang tidak ia cintai. Li San memang tidak bisa disepelekan, ia maha mengatur hidup orang-orang yang terlibat dengannya.


“Apa yang terlalu cepat? Melihat hari baik pertunangan sekaligus pernikahan itu bukan hal tabu. Setiap pasangan yang terikat pertunangan pasti akan menikah, cepat atau lambat hanya persoalan waktu. Apa salahnya dipercepat?” ujar Li San santai.


Liang Jia terdiam, semula ia berpikir akan mencari jalan lain untuk membatalkan pertunangan. Ia bahkan berencana meminta Xiao Jun mencari alasan untuk mengulur rencana pernikahan, tanpa ia sangka Li San justru sudah menetapkan hari baik itu.


Li San memikirkan kata-kata Liang Jia, sejenak mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Hingga beberapa menit kemudian akhirnya Li San membuat keputusan, “Baiklah, aku setuju.”


***


Xiao Jun memilih bermeditasi sejak subuh hingga matahari mulai menyengatkan panas di pagi hari. Sisi positif dari keadaan yang ia hadapi sekarang yang terbatas gerak dan kebebasan adalah bisa kembali fokus berlatih sihir. Kemampuannya sedikit lebih meningkat ketika ia berada di Hongkong, kepekaan pun mulai ada progress. Ia


sadar dalam beberapa menit lagi seseorang akan datang mengusik ketenangannya, sebelum itu terjadi ia bergegas menyudahi ritual daripada ketahuan pengawalnya. Seeorang yang tak terhindarkan itu pasti akan kemari.


“Permisi Tuan muda, nona Grace datang mencari anda.” Seorang pengawal masuk setelah mengetuk pintu dan setelah Xiao Jun berhasil berpura-pura sibuk membaca buku.


“Jangan ijinkan dia masuk, suruh tunggu di luar saja. Aku akan keluar menemuinya.” Perintah Xiao Jun, ia enggan membiarkan wanita itu sembarangan masuk ke kamarnya.


Pengawal menerima perintah itu dan meninggalkan Xiao Jun sendirian di kamar. Ia tidak mungkin menemui seorang wanita dengan mengenakan piyama tidur. Wanita itu terlalu berani menemuinya sepagi ini, Xiao Jun mulai berpikir apakah Li San yang mengijinkannya? Mengingat watak Li San yang keras dan serba taat aturan, ia tidak mungkin melonggarkan peraturan pada siapapun, kecuali wanita ini memang sudah mengambil hatinya.


Xiao Jun mematut diri sebentar di depan cermin besar, memastikan penampilannya cukup rapi dan sederhana. Berbeda dengan tampilan kemarin yang begitu berkharisma dalam balutan busana mewah, ia lebih sederhana dan santai untuk menemui wanita tidak penting itu.


Grace celingukan memperhatikan lukisan besar yang terpajang di ruang tamu paviliun. Banyak karya seni yang memukau perhatiannya, sembari menanti sang pangeran muncul maka kegiatan cuci mata dengan sederet lukisan di dinding menjadi sangat menyenangkan. Ia nekad mendesak pelayan pribadinya untuk mengantarnya ke


kediaman Xiao Jun, lebih baik ia sarapan melihat wajah tampan Xiao Jun ketimbang melihat wajah cemberut dua sepupunya. Tanpa setahu dua kakak sepupu jutek itu, Grace berhasil meloloskan diri dari kediaman mereka.


Orang yang ditunggu akhirnya menampakkan diri, Grace menyambut pria yang berjalan semakin dekat menuju tempat berdirinya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. Tatapan lembut yang seakan enggan berkedip hingga pria itu kini berdiri berhadapan dengannya, Grace baru mengedipkan mata untuk kembali fokus.


“Hi, Xiao Jun. Kau baru bangun?” Grace tertawa kecil menggoda Xiao Jun yang masih berpenampilan santai sementara ia sudah tampil cantik paripurna.


Xiao Jun mengalihkan tatapan dari Grace, sikap sok akrab itu membuatnya tidak nyaman. “Nona, ada urusan apa datang sepagi ini?” ujar Xiao Jun datar.


Grace menyipitkan mata, ia merasa sikap Xiao Jun berbeda dengan yang kemarin. Kali ini pria itu terlalu dingin, “Ng, apa harus ada urusan baru boleh ketemu tunanganku?” goda Grace sembari bercanda.


Xiao Jun kian tak senang, sikap macam apa yang diperlihatkan wanita itu seolah mereka sudah mempunyai ikatan perasaan. “Nona, aku masih sibuk. Jika tidak ada yang penting silahkan kembali ke paviliunmu.” Ujar Xiao Jun tanpa bersedia melihat ke arah Grace.


“Hei, kau mengusirku? Aku sengaja datang sepagi ini untuk mengajakmu sarapan tapi kau malah mengusirku?” Grace tak terima dengan kenyataan, perubahan sikap yang frontal dari Xiao Jun jelas tidak ia sangka. Andai ia tahu akan mendapat perlakukan sedingin ini, ia pasti berpikir seribu kali untuk mengejarnya kemari.


***