OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 317 CELAH DI BALIK KESEMPURNAAN



Hari H resepsi pernikahan Li An.


Sebuah ballroom hotel bintang lima mulai dipadati para tamu yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari selebriti, pengusaha, pejabat politik, serta banyak tamu penting yang menjadi relasi bisnis Wen Ting dari luar negeri. Demi masuk ke dalam ruangan yang dihiasi dekorasi mewah itu, para tamu harus melakukan sejumlah pemeriksaan oleh tim keamanan yang disewa Wen Ting. Terlihat barisan panjang tamu mengantri untuk menunjukkan kartu akses


masuk, kendati sedikit merepotkan namun mereka melakukannya dengan suka cita. Demi Wen Ting yang pengaruhnya begitu penting bagi berbagai kalangan, tidak akan ada yang mengeluh hanya untuk prosedur formalitas seperti itu.


Acara yang berlangsung di dalam ballroom masih terfokus pada ritual pengantin yang melibatkan keluarga inti. Sebenarnya adat itu sudah dilakukan saat pernikahan di Hongkong, namun Li An meminta prosesi itu diulang


lagi karena ada Haris. Maknanya akan sangat berbeda dan lebih khusyuk ketika dilakukan dengan kehadiran ayah dan ibunya. Ketiga bersaudara itu sedang makan ronde lalu dilanjutkan dengan penghormatan kepada orangtua serta pemberian


angpao (simbolis).


“Aku tahu kakakku memang cantik, tapi kamu jangan lupa ini masih banyak tamu yang memerhatikanmu.” Bisik Xiao Jun yang sedikit risih melihat cara Wen Ting menatap Li An. Pria sehebat dia rupanya bisa bersikap kekanakan, sejak Li An masuk mengenakan gaun putih dan wajah yang tertutup kain putih transparan, Wen Ting terpukau dengan bola mata yang membesar. Setelah veil dibuka, pria itu semakin tak bisa mengontrol diri dan terus menatap Li An tanpa berkedip, seperti tidak pernah melihat wanita cantik saja.


Wen Ting menyikut lengan Xiao Jun dengan sengaja. Ia tertawa kecil melihat reaksi Xiao Jun yang sigap menghindar. “Kamu jangan meledekku dulu, aku mau lihat nanti kalau kamu jadi pengantin. Aku jamin reaksimu akan sepertiku bahkan mungkin lebih berlebihan ketika melihat wanitamu memakai gaun putih dan menjadi istrimu.”


Xiao Jun terdiam, mungkin reaksi Wen Ting saat ini memang wajar. Perasaan senang bercampur haru dan bangga ketika bisa menggandeng orang yang dicintai duduk bersama di pelaminan. Apalagi jika pernikahan itu terjadi setelah berhasil melewati beragam rintangan dan cobaan, tak terbayangkan bagaimana perasaan yang berkecamuk ketika berhasil melewati itu semua dan melangkah ke jenjang pernikahan.


“Kamu harus segera menjadikan Weini pengantinmu. Biar kamu tahu gimana rasanya jadi aku sekarang.” Lanjut Wen Ting dengan tawa khasnya kemudian melangkah meninggalkan Xiao Jun yang masih terbengong sendiri.


Tatapan Xiao Jun masih fokus pada Wen Ting yang kini berdiri di samping Li An. Jamuan makan akan segera dimulai, dan dua orang host tengah menghidupkan suasana. Senyuman merekah dari bibir Xiao Jun, ia mengalihkan pandangan pada kedua orangtuanya yang duduk bersama di tempat yang disiapkan untuk keluarga, di samping mereka juga ada Li Mei yang tampil cantik dengan gaun kembar bersama putri kecilnya. Kebahagiaan yang begitu menyejukkan hati, membuat setiap mata yang memandang pun tak jemu melihatnya. Xin Er menatap Xiao Jun lalu melambaikan tangan mengajaknya bergabung. Sembari mengangguk patuh, Xiao Jun menghambur mendekati orang-orang  yang ia cintai.


“Lai Gan Bei …. (Mari bersulang) pekik dua orang host yang mengajak seluruh tamu undangan untuk bersulang demi kebahagiaan sepasang pengantin baru itu, diiringi dengan penampilan live musik oriental yang secara khusus dipilih Li An sebagai hiburan dalam pestanya. Demi sang ayah yang akhirnya kembali berkumpul, Li An begitu mengerti selera jadul orangtuanya dan memilih hiburan yang sesuai minat Haris agar terhibur. Ia tidak peduli


pestanya yang menelan dana besar dan dihias dengan modern nan mewah justru diselipkan musik oriental lawas, tujuannya merayakan resepsi ini dengan meriah adalah untuk mempersatukan keluarganya. Memberikan mereka kesenangan dan kenangan yang tidak akan terlupakan seumur hidup.


Li An menyetujui, ia bersyukur atas perhatian Wen Ting pada keluarganya. Kini mereka berkumpul di atas panggung, siap berpose mengikuti arahan fotografer handal dalam berbagai gaya.


“Tiga dua satu, senyum ….” Dan sebuah potret yang bagus dihasilkan.


Di sela tawa bahagia Haris sekeluarga, ada sepasang mata yang tajam menyoroti mereka. Mata milik seorang pria berpostur tinggi tegap dalam balutan jas hitam, pria itu menyunggingkan senyum licik sembari tak henti menatap sasarannya. Tak ada yang berhasil menyadari penyamarannya, meskipun pengawasan dan pemeriksaan ketat tetap berhasil ia lewati. Pria itu berjalan mendekati panggung bersamaan Haris dan Xiao Jun yang berjalan turun dari sana.


Haris merasakan keanehan itu, firasatnya yang tajam seketika mampu menangkap maksud pria suruhan yang hendak melakukan misinya pada saat itu juga. Xin Er, Li Mei bahkan Xiao Jun belum menyadari ancaman di depan


mata, namun Haris dengan pembawaan diri yang tenang merangkul pundak Xin Er dan membisikkan sesuatu tepat di daun telinga wanita itu.


“Ajak Li Mei dan anaknya pergi dari sini sekarang. Jangan tanya kenapa, aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang lakukanlah!” Bisik Haris serius, namun ekspresi wajahnya jika dilihat dari depan terlihat seolah tengah santai dan mesra bersama istrinya.


Xin Er mulai cemas, ia paham maksud suaminya dan tetap diam menuruti perintahnya. Tetapi yang tidak bisa dibohongi adalah kegusaran hatinya yang sudah menjalar hingga pikirannya. Haris kembali menghampiri lalu menepuk pundak Xin Er pelan, “Jangan cemas, bersikap santai saja agar tidak menarik perhatian. Selebihnya percayakan padaku.” Bisik Haris.


Xin Er mengangguk, ia pun menarik tangan Li Mei dan mengajaknya keluar dari sana. “Mei, temani ibu ke kamar kecil sebentar.” Pinta Xin Er yang hanya sebuah alasan saja. Li Mei menurutinya, dan Haris menatap kepergian dua wanita itu penuh perhatian.


Indera pendengaran Haris yang tajam semakin dipusatkan untuk mendengar gerak-gerik pria misterius itu. Musuh itu mengintai dalam penyamaran yang nyaris sempurna, kini ia dengan tenang minum segelas minuman beralkohol dengan mata yang terus menatap Xiao Jun. Tanpa perlu menatap langsung, Haris mengikuti gerakan pria itu dengan konsentrasi tinggi. Xiao Jun belum menyadari bahaya yang mengancamnya, ia terlihat senang dan sibuk berbincang dengan relasi Wen Ting. Dan ketika pria misterius itu meletakkan gelas di tangannya lalu berjalan pelan mendekati Xiao Jun, di saat itupula Haris mendapati trik apa yang dimainkan pria itu.


Suara tawa Xiao Jun terdengar kontras dengan ketegangan Haris yang berusaha melindunginya. Langkah pria itu semakin mendekat, seiring dengan langkah Haris yang juga menghampiri dari arah berlawanan. Mata Haris dengan jeli melirik senjata yang diselipkan dari ujung lengan jas pria itu, kini Haris dan pria itu adu cepat untuk sampai ke tempat Xiao Jun.


***