OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 441 PARAS ASLIMU



Perjalanan di atas udara yang memakan waktu beberapa jam namun terasa seperti menghabiskan waktu berhari-hari. Hening dan tiada kesan lain selain kata itu. Weini masih memojok di sisi jendela, menatap kosong ke luar yang sudah gelap. Xiao Jun yang sudah memendam rindu sekian lama pun hanya bisa pasrah membiarkan Weini menenangkan diri. Kendati sangat ingin mendekatinya, banyak hal yang ingin diutarakan, namun kesedihan tampaknya masih mendominasi perasaan Weini.


Haris menatap Xiao Jun lalu mengangguk, dalam bahasa isyarat itu Haris meminta waktu agar ia bisa mendekati Weini. Bagaimanapun Haris lah yang paling mengerti dan dekat dengan Weini. Xiao Jun paham lalu memberi akses jalan pada ayahnya, ia hanya bisa memandangi dari tempat duduknya. Berharap agar Weini segera kembali ceria atau sekedar buka omongan dengannya.


“Nona, apa kamu sudah lapar? Keberangkatan kami dadakan, sampai tidak persiapan makanan.” Haris memulai percakapannya dengan basa-basi, meskipun ia tahu Weini tidak lapar. Yang Weini perlukan hanyalah orang yang telah mati itu bisa dihidupkan kembali.


Weini menatap lekat pada Haris, wajah yang sangat ia kenali di masa lalu itu kini telah menua. “Ayah, sudah kubilang jangan panggil aku nona.” Lirih Weini datar, ia menghela napasnya lalu membenarkan posisi duduknya agar berhadapan dengan Haris.


Haris tersenyum tipis, “Tapi memang formalitasnya seperti itu.”


Weini ikut menarik seulas senyuman, matanya mulai berkaca-kaca melihat Haris tersenyum dan sangat nyata ada di hadapannya. “Ayah, aku tidak pernah percaya ada mukjijat di dunia ini, sampai aku melihatmu saat ini. Maafkan aku... karena terlalu egois sampai mengesampingkanmu sejak tadi. Ayah... Aku bahagia, akhirnya bisa melihatmu


lagi. Apa ayah masih terluka?”


Haris tersenyum dan mengangguk, “Nona, semua memang sudah diatur. Aku juga sangat berterima kasih padamu, keberanianmu sungguh di luar dugaanku. Andai kau tidak nekad mencabut chipku, mungkin aku masih hidup dengan topeng.” Gumam Haris.


Xiao Jun mendengar semua pembicaraan ayahnya dan Weini, tetapi ia tetap memilih diam sebagai pendengar dari kejauhan. Ia cukup lega melihat Weini yang akhirnya bisa mengalihkan perhatiannya dari kesedihan menjadi momen mengharukan.


“Aku sangat kebingungan ketika ayah tiada, orang yang ada dalam benakku untuk mengurus segalanya adalah


om Felix. Maafkan aku ayah, aku mengira ayah sudah tiada... aku terlalu cepat menguburmu.” Lirih Weini tertunduk menyesal.


Haris menggeleng dengan cepat menepis pikiran bersalah Weini. “Tidak, apa yang kamu lakukan sudah tepat. Tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu sudah lakukan yang terbaik saat itu. Selamat ya nona, akhirnya nona juga hidup dengan wajah asli nona. Anda sungguh sangat memesona, anda bahkan jauh lebih cantik daripada yang


dibayangkan. Xiao Jun sampai terpukau saat pertama melihatmu.” Ujar Haris mulai menggoda Xiao Jun dan Weini.


“Ayaaah!” Protes Xiao Jun yang mendengar semuanya dan merasa malu karena kartunya dibuka secara blak-blakan.


Weini tersenyum, ia pun menatap Xiao Jun yang duduk di belakang. Dua sejoli itu saling bertatapan, Xiao Jun bahkan tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Weini. Semakin dilihat, Weini semakin memikat hatinya.


“Kalian hanya gombal memujiku, nyatanya sampai sekarang aku belum melihat bagaimana rupaku.” Gumam Weini menunduk. Ia sangat penasaran dan sangat ingin melihat seperti apa wajah aslinya, hanya saja belum ada kesempatan sejauh ini.


Xiao Jun terperanjat, ia setengah berdiri dari posisi duduknya setelah mendengar pengakuan Weini yang mengejutkan. Sulit dipercaya bahwa si pemilik wajah itu bahkan belum melihat rupa aslinya. “Kamu belum tahu wajahmu? Kenapa bisa?” Tanya Xiao Jun reflek.


memaksa Dina yang tidak tahu apa-apa itu untuk merobek kulit punggungku. Dia bahkan mengira aku yang membunuh ayah hingga ia taku padaku. Tapi kondisiku semakin terdesak, aku merasakan sinyal sihir yang begitu kuat semakin mendekatiku. Aku memaksa Dina melakukannya, itu sungguh malam yang mengerikan untuk kami berdua. Aku menyuruhnya pergi membawa chip yang satunya. Dia melihat topengku luruh, walau sulit dipercaya tapi dia menurutiku. Setelah dia pergi, aku meledakkan chip itu. Tapi setelah tenagaku habis, aku tidak tahu apapun lagi sampai aku terbangun di kamar itu. Rumah bawah laut yang ternyata milik leluhurku, mewah, luar biasa


canggih namun tidak ada satupun cermin di sana. Aku hanya tahu wajahku cantik dari mulut ke mulut yang sudah melihatku, termasuk kalian.”


Xiao Jun manggut-manggut, kini ia paham mengapa Weini belum sempat melihat wajah aslinya. Pria itu berdiri lalu berjalan menghampiri Weini. Haris yang tahu diri itu langsung menyingkir, memberikan kesempatan bagi dua sejoli itu. Tugasnya sudah selesai, ia hanya berniat menghapus rasa canggung di antara keduanya dan membiarkan mereka menyelesaikan lanjutannya.


“Aku memang bukan orang pertama yang melihat wajahmu, tapi aku akan menjadi orang pertama yang menunjukkan padamu seperti apa paras aslimu.” Gumam Xiao Jun dengan senyumannya.


Weini menatap penuh antusias, ia menanti pembuktian kata-kata kekasihnya. Dan benar, Xiao Jun meronggoh saku jasnya lalu mengeluarkan ponsel. Memang tidak ada cermin di dalam jet, tapi setidaknya ponsel canggih bisa mewujudkan impian Weini sesaat lagi.


“Hmm... Tuan putri, tolong diperbaiki sedikit posisi duduknya. Kita akan lakukan sesi pemotretan.” Ujar Xiao Jun setelah sengaja berdehem dan memberatkan suaranya.


Weini tertawa kecil melihat gaya Xiao Jun yang sok-sokan menjadi kameramen. Gadis cantik itupun membetulkan posisi duduknya dan menyilangkannya, ia berpose bak model dan memang ia seorang bintang yang paling bersinar. Xiao Jun mengambil beberapa pose foto dan Weini pun bersedia mengikuti instruksinya.


Xiao Jun tersenyum puas melihat hasil jepretannya yang bagus. Ia yakin bukan karena kameranya yang bagus tetapi karena foto modelnya memang tampak sempurna. Weini masih mengenakan dress cantik yan dikenakan Xiu Fung sebelum ia pergi. Chen Kho memang memperlakukannya bak putri dan kini dengan tampilan seanggun itu, Weini sungguh terlihat sempuna.


“Yup, aku yakin setelah kau melihatnya, kau akan setuju dengan pujian kami. Kamu sangat-sangat cantik, Weini. Ah tidak... Li yue Hwa.” Gumam Xiao Jun seraya menyodorkan ponselnya pada Weini.


Weini tak menjawab lagi, ia menerima uluran ponsel itu kemudian melihatnya. Bibir seksi Weini sedikit ternganga melihat hasil jepretan itu. Wajahnya terlihat teduh, cantik, lembut namun tegas, meskipun tidak tersenyum tetapi wajahnya tidak terkesan jutek. Weini meraba wajahnya, lalu menyalakan kamera depan dari ponsel Xiao Jun. Ia


belum terbiasa dengan wajah cantik ini, wajah Weini yang selama ini melekat padanya benar-benar telah hilang.


Inilah aku yang asli, mulai saat ini aku kembali menjalankan hidup dan takdirku sebagai Li Yue Hwa. Terima


kasih Weini, kamu telah menyembunyikan aku hingga muncul di saat yang tepat. Kini aku tidak akan bersembunyi lagi, akan kuhadapi takdirku dan akan kubalaskan dendam kematianmu, Sepupu.


Weini masih tak bisa membiarkan ‘dia’ yang merusak semuanya tetap merajarela. Kini ia tahu semua penyebab kehancuran keluarganya adalah ‘dia’. Siapapun ‘dia’, Weini akan menemukan dan menghadapinya.


***