
“Duh, gimana sih kamu Ming Ming. Kok baru sadar sekarang sih? Kemarin ngapain aja sampai bisa lupa kalau masih ada barang yang belum diambil di bagasi?” gerutu Dina yang tak habis pikir pada kekasihnya, bisa secuek itu padahal barangnya masih tertinggal dan mungkin saja tidak terselamatkan.
Semua yang berada semobil dengan pasangan ini hanya bisa diam mendengar ceramah Dina yang berbabak-babak, hebatnya Ming Ming masih santai saja menanggapinya. Tidak ada beban ataupun merasa pusing mendengar gerutuan Dina yang sudah cocok jadi emak-emak bawel. Stevan tiba-tiba merasa beruntung karena semanja-manjanya Grace namun tidak sebawel Dina ketika lagi marah. Wajar saja Dina marah, pasalnya bukan bandara tempat tujuan mereka selanjutnya. Gara-gara mengurus ini, banyak tempat kencan yang tertunda sejenak untuk mengurus hal yang sebenarnya tidak perlu lagi.
“Ya kemarin kan seharian sama kamu.” Jawab Ming Ming dengan enteng, tapi Dina yang mendengarnya justru sukses dibuat ternganga. Benar saja kemarin ia memang seharian bersama pria itu, tapi tidak menyangka bahwa ada yang ketinggalan.
“Iya sih.” Jawab Dina melunak, sadar diri bahwa dia juga ceroboh tidak mengingatkan pria itu apakah masih ada sesuatu yang ketinggalan.
Sesaat kemudian suasana kembali bungkam, tidak ada lagi kicauan berisik Dina yang kesal itu. Gadis itu akhirnya diam karena sadar ini pun salahnya. Weini yang melihat suasana canggung pun mulai angkat topik lainnya. “Memangnya kita mau ke mana?” Tanya Weini seraya melirik ke Dina.
Dina sadar ia yang jadi sasaran pertanyaan Weini, ia pun segera meresponnya. “Oh, sebenarnya tadi aku ngatur jadwal kita nongkrong di cafe sebentar non.” Jawab Dina kurang bersemangat, mengingat hal itu tertunda lagi membuat ia merasa lemes.
Weini mengernyitkan dahi, ia bukannya enggan untuk nongkrong namun mungkin Dina belum sadar kalau kehadirannya rentan membuat heboh publik. “Ng, yakin kah kalau mau ajak aku nongkrong di tempat umum?” tanya Weini ragu-ragu.
Dina melirik Weini yang duduk di sampingnya, kemudian melirik Xiao Jun yang duduk di kursi depan. Agak bingung harus menjawab apa dan ia perlu kode dari Xiao Jun. “Ng, semua udah diatur sama bos Jun, begitu tahu kalau kita akan nongkrong di sana, bos Jun udah ngatur semuanya.” Ujar Dina seraya tersenyum menandakan ia aman mengatakannya.
Weini menatap Xiao Jun dengan heran, tumben rasanya pria itu menyetujui untuk keluar ramai-ramai di tempat terbuka. “Baiklah, kalau memang yakin bakal aman, aku ngikut aja ke mana pun kalian pergi.”
Xiao Jun hanya tersenyum tipis, ia lebih banyak pasif dan membiarkan para gadis bersuara. Namun hatinya sempat berdebar ketika Weini bertanya soal rencana Dina, rasanya seperti tengah diinterogasi saja.
Setengah jam kemudian mereka sampai di bandara, Dina langsung menarik Ming Ming untuk bergegas mengurus barangnya. Namun sebelum benar benar angkat kaki, ia teringat Weini dan menoleh lagi ke belakang. “Non, maaf ya, tunggu bentar ya, biar kami selesaikan segera.” Pamitnya pada Weini, setelah itu ia kembali menyeret Ming Ming menuju bagian informasi.
Stevan dan Grace saling pandang, wajah Grace tampak gelisah kemudian membisikkan sesuatu pada kekasihnya. Stevan mengangguk kemudian melirik ke arah Weini. “Ng, aku dan Grace turun bentar ya, mau ke toilet nih.” Ujar Stevan kemudian turun dari mobil.
“Bentar ya Hwa.” Ujar Grace yang ikut turun disusul Fang Fang dan Su Rong.
“Eh?” Weini ternganga saat menyadari nyaris semua penumpang telah turun, yang tersisa hanya ia dan Xiao Jun yang saling canggung karena ditinggal berduaan. Mobil yang tadi diisi 8 orang itu hanya tersisa satu pasangan. Weini menundukkan kepalanya, bingung harus memikirkan bahan omongan.
“Hwa, apa kamu menguasai sihir yang membuat orang lain tidak bisa melihatmu?” tanya Xiao Jun memecah keheningan.
Weini terkesiap, rasanya ia familiar dengan sihir itu. Ingatannya berputar sejenak ke masa lalu, tak lama kemudian ia menganggukkan kepalanya. “Ng, aku pernah mencobanya waktu kabur dari kerumunan wartawan di depan rumah. Kenapa Jun? Apa kau sudah bisa menguasainya? Itu kan sihir klan Wei.” Gumam Weini yang heran karena tiba-tiba Xiao Jun menanyakan hal itu.
Xiao Jun menoleh ke belakang, memperlihatkan senyumannya pada Weini. “Secara teori sih bisa, tapi belum pernah aku coba. Gimana kalau kita coba sekarang?” tanya Xiao Jun, sepasang matanya menatap lekat dan serius.
❤️❤️❤️
Kerumunan orang yang lalu lalang, sangat padat dengan orang-orang yang berburu waktu, berpisah dengan orang yang dicintai, ataupun kembali berjumpa dengan mereka. Di tempat inilah Xiao Jun dan Weini menjadi dua orang yang tak kasat mata. Hanya mereka berdua yang bisa saling melihat satu sama lainnya.
“Sepertinya kamu berhasil Jun, tidak ada yang melihat ke arahmu.” Bisik Weini berjalan di sebelah Xiao Jun.
Xiao Jun menghentikan langkahnya, memperhatikan sekelilingnya, bahkan seseorang yang berjalan menarik koper sembari menelpon pun tembus saat menabraknya. Di saat itulah Xiao Jun yakin sihirnya bekerja dengan maksimal. Ia pun dengan hati girang langsung menggandeng tangan Weini, satu satunya teman transparan yang ia miliki sekarang. “Kalau begitu baguslah, sekarang dunia benar benar menjadi milik kita.” Gumam Xiao Jun senang.
Weini terkesiap, tidak siap ketika Xiao Jun menggandengnya, pun tidak menunjukkan penolakan. Ia malah tersenyum dan hatinya sedikit berdebar, sensasi perasaan yang sekarang berkecamuk di hati, membuat ia merasa menjadi gadis paling bahagia. “Kita mau ke mana?” Tanya Weini.
“Hmm... entahlah, jalan jalan saja sampai mereka kembali ke mobil.” Gumam Xiao Jun.
“Tapi bagaimana kita bisa tahu kalau mereka sudah kembali?” Tanya Weini.
Xiao Jun menghentikan langkahnya, ia pun melepaskan gandengan tangannya kepada Weini. “Hmm kalau begitu kamu tunggu di sini sebentar ya, aku mau mengintip Ming Ming dan Dina dulu. Siapa tahu kamu di sini juga melihat Grace dan Stev.” Gumam Xiao Jun yang tanpa menunggu persetujuan dari Weini, kemudian melepaskan pegangan tangannya.
Weini termenung, bisa bisanya pria itu menyuruhnya menunggu padahal tadi sedang asyik bergandengan tangan. “Kalau hanya untuk menunggu mereka kembali, ngapain repot pakai sihir dan keluar dari mobil? Cukup tunggu saja di sana biar mereka balik sendiri.” Gerutu Weini yang pasrah menatap punggung Xiao Jun di depannya.
Pria itu berjalan santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya, dan Weini hanya menatap heran, sepertinya ada adegan yang mirip dengan ini, pernah terjadi di sini dan dialami dengan Xiao Jun pula.
“Eh? Jun....” Weini spontan berteriak saat melihat Xiao Jun tanpa sadar menjatuhkan ponsel dari saku celananya. Pria itu tetap berjalan padahal ponselnya jatuh.
“Gawat ini, hapenya pasti masih bisa dilihat dengan mata biasa.” Gumam Weini cemas kemudian berlari memunguti ponsel itu. Setelah berada di tangannya, ia mendongak dan melirik Xiao Jun yang masih asyik berjalan, tak menghiraukannya.
“Jun! ponselmu!” Teriak Weini, yang entah didengar atau tidak oleh orang yang ia panggil itu.
Eh? Kenapa rasanya pernah? Ketemu di bandara, memungut ponselnya dan gagal memanggilnya. Jun, kau membuat aku bernostalgia lagi? Gumam Weini dalam hatinya. Ia tak lagi berteriak memanggil Xiao Jun, hanya berdiri mengamatinya seraya mendekap ponsel itu di depan dadanya.
❤️❤️❤️
Hayooo tes ingatan kalian dulu, ada yang masih ingat adegan ini nggak? Yuk Dejavu dulu bareng Weini, he he....