
Berkat saran dari supir pribadi Li San, di sinilah akhirnya Grace berakhir. Sebuah butik ternama di jantung kota yang menjadi langganan para selebritis dan anak pejabat, Kao Jing mempercayakan pilihan tercocok bagi Grace pada seorang pramuniaga. Sudah lima belas menit Kao Jing sabar menunggu putrinya keluar dari ruang ganti. Empat model dress dibawa masuk oleh pelayan toko namun dibawa keluar beberapa saat kemudian, sampai selama ini Grace masih belum menentukan pilihan. Kao Jing pasrah dengan urusan seperti ini, ia awam soal trend fashion.
Lebih baik ia menjadi penunggu yang sabar agar hasilnya memuaskan.
Kesabaran Kao Jing berbuah baik, tirai ruang ganti terbuka dan menampilkan sosok putrinya yang seperti baru dititiskan kembali.
“How do I look, dad?” tanya Grace malu-malu, ia tak percaya diri dalam balutan dress Cheongsam warna silver yang membuat kulit putihnya makin terlihat bercahaya.
“Perfect” seru Kao Jing terkagum-kagum. Ia mengacungkan dua jempol sebagai nilai plus.
“Oke, ambil yang ini. Ah, sekalian beberap dress lagi untuk koleksimu. Bungkuskan yang terbaik dan cocok untuknya.” Kao Jing menyerahkan kredit card kepada pramuniaga.
Grace tak kuasa membantah, ia lebih baik diam daripada kehilangan muka jika ayahnya marah di depan umum. Gerak-gerik Kao Jing diekori dari belakang oleh Grace, ia heran hanya untuk sebuah acara perkenalan saja bisa membuat ayahnya begitu girang.
Kao Jing menenteng tiga kantong plastik besar, Grace tak lagi peduli dengan busana pilihan ayahnya. Memakai dress yang sekarang menempel di tubuhnya saja sudah sangat memuakkan, terasa tak sesuai kepribadiannya.
“Oke, sekarang kita mampir ke salon terbagus di sini.” Kao Jing memerintah supirnya sebagai penunjuk jalan, sekalian serah terima kantong belanjaan ke tangan si supir.
Air muka Grace berubah total, ayahnya belum juga puas memermak dirinya. Ganti busana tak cukup untuk menunjang penampilannya, sekarang ia akan disodorkan ke tim penata rias salon yang belum ia percayai. Grace sangat cerewet dengan urusan riasan wajah, susah menemukan MUA yang sesuai hatinya.
“Sorry, Daddy … perlukah sampai segitunya? Ini hanya acara perkenalan, bukan tunangan. Aku tidak perlu make up total, biarkan aku apa adanya. Ayo kita pergi, jangan biarkan tuan rumah lama menunggu.”
“Tenang saja, ayah sudah beri kabar pada pamanmu. Dia tak keberatan menunggu sebentar, lagipula kau jangan remehkan kesan pertama … ah, sudahlah nanti kau juga ngerti.”
Kao Jing berinisiatif melangkah keluar toko dan membiarkan Grace mengikutinya, segala yang ia aturkan untuk kedua anaknya adalah yang terbaik. Walaupun sekarang Grace belum mengerti, tapi kelak ketika semua sudah dalam genggamannya, anak gadisnya mungkin akan berterima kasih atas hasil yang juga akan ia nikmati.
***
Liang Jia mendekati Xiao Jun yang diam menepi, kesempatan yang begitu bagus saat Li San mengalihkan perhatian pada kedua putrinya.
“Akhirnya, kau mengambil keputusan ini. Ibu bangga padamu.” Liang Jia tersenyum menyemangati Xiao Jun.
“Berkat nasehat ibu, aku pikirkan berulang kali perkataanmu dan siap mengambil resiko atas keputusan ini.” Seru Xiao Jun yang baru sempat bertemu dengan Liang Jia pasca kunjungan saat itu. Nasehat Liang Jia banyak memberi sumbangsih pertimbangan bagi Xiao Jun, jika menuruti keegoisannya mungkin ia akan bersikukuh keras pada Li San.
“Setelah ini, aku akan lebih menjaga Xin Er. Kau boleh tenang dan pikirkan jalanmu. Oya, ini untukmu, simpan baik-baik jangan ketahuan siapapun.” Liang Jia menyodorkan sebuah sapu tangan hasil karyanya.
Liang Jia tersenyum dan mengangguk, “Ketika sendiri buka dan lihatlah. Siapa tahu bisa mengobati rindumu. Aku sengaja merajut tiga buah, satu untukku, untuk Xin Er dan untukmu.”
Xiao Jun tersenyum, ia sudah bisa menduga sapu tangan apa yang segitu spesialnya. “Aku sangat terharu, ibu begitu menyayanginya walau belum pernah bertemu. Terima kasih sudah repot membuatkan jatahku.”
“Gadismu itu, entah mengapa aku sangat menyukainya. Tidak sia-sia aku mencuri sebuah fotonya, setiap aku sedih lalu kutatap senyum polosnya dan hatiku merasa tenang. Kelak kau harus membawanya padaku.” Bisik Liang Jia, ia masih takut kedengaran Li San atau kedua putrinya.
“Aku tak berani janjikan, tapi pasti kuusahakan ibu. Itupun kalau dia masih mau menerimaku, setelah tahu apa yang terjadi apa dia bersedia mengerti?” ujar Xiao Jun pesimis.
Liang Jia menepuk pundak Xiao Jun, “Menurut firasatku sebagai seorang ibu, dia pasti mengerti.” Anggukan dan senyuman Liang Jia yang tulus terasa sangat menyejukkan hati Xiao Jun. Ia beruntung memiliki dua orang ibu yang sangat menyayanginya.
Suara petasan mulai nyaring memekikkan kuping, disusul dengan suara tambur dan music pengiring barongsai memeriahkan suasana. Liang Jia dan Xiao Jun memandang ke sumber suara yakni gerbang utama rumah, tamu yang ditunggu telah tiba disusul dengan teriakan para pengawal yang memberikan tarian sambutan.
Jantung Xiao Jun berdegub sedikit kencang, ia merasa tak nyaman dengan suasana itu. Belum pernah ia menyambut kehadiran seseorang yang begitu merepotkan, yang terngiang saat ini justru nostalgia pertemuannya dengan Weini yang kontras dengan sekarang.
“Ayo sambut calon istrimu!” suara Li San mengembalikan pikiran Xiao Jun pada kenyataan di hadapan. Ia berjalan di belakang Li San dan Liang Jia, semakin ke depan dan mendekati wanita yang enggan ia tebak bentuk rupanya.
***
Alunan musik barongsai yang semarak tak menyurutkan niat Grace untuk berbisik pada ayahnya. “Daddy, kalau orangnya jelek, gendut, pendek, ah pokoknya jelek, jangan salahkan aku kalau langsung pergi. Aku nggak mau korbankan masa depan menikahi pria dengan fisik buruk.”
Kao Jing terbahak, “Putriku, sepertinya tebakanmu salah. Ayah sudah melihat wajah calonmu.” Ujar Kao Jing penuh percaya diri. Sekilas ia sudah mengintip wajah tampan di belakang Li San, namun ia yakin Grace kesulitan melihat lantaran terhalangi tarian para pengawal yang belum kelar.
Grace menjinjit di atas heel 10 centinya, ia celingukan melihat ke depan namun sayang hanya mendapati pemandangan sekelompok penari pria. “Dad pasti asal tebak. Mubajir banget sampe belain dandan dan beli dress hanya buat terlihat cantik di mata cowok jelek. Huft.” Keluh Grace, aslinya ia sungguh tak menyenangi suasana
berisik ini.
Tarian gagah dari para pengawal telah sampai di penghujung, formasinya seketika bubar teratur dengan menampilkan pertemuan dua keluarga yang kini saling berhadapan. Li San langsung memeluk erat Kao Jing dan meluapkan kebahagiaan. Sementara itu, Grace berdiri mematung melihat pria di samping Li San yang tengah diperkenalkan pada ayahnya. Rasa terkejut yang demikian hebat membuatnya ingin menghilang dari hadapan semua orang, satu menit lalu ia masih berpersepsi pria yang dijodohkan padanya bersosok mengerikan, kini ketika ia tepat berdiri di hadapannya seketika ia kalah telak.
Dia begitu sempurna, guman Grace dengan kedua lutut yang kian lemas.
***