
Sebaiknya jangan banyak berharap!
Harapan yang tercapai bisa melenakan, jika tidak tercapai pasti akan menyakitkan.
Aku hanya cukup membiarkan semua terjadi sesuai scenario semesta
Mainkan peran yang ditunjukkan padaku, mengikuti takdir itu.
__ Quote of Yue Hwa aka Weini__
***
Dua pria beda generasi berjalan menghampiri Weini. Mungkin seperti inilah rasanya terjebak dalam kepanikan. Maju salah, mundur salah, diam semakin salah. Weini berpikir keras, ia masih punya kesempatan memilih jalan keluar.
“Ayah, driver onlineku udah sampe. Aku keluar bentar beli terompet. Kau yang merusaknya tadi siang!” Weini mencegat Haris melangkah keluar rumah. Setengah memaksa, ia menarik tangan Haris kembali ke dalam.
“Temani paman dan tante dulu. Nggak seru tahun baru tanpa terompet. Aku akan segera kembali, ayah!” Weini bergegas kabur setelah mengantar Haris kembali dalam kumpulan teman sebayanya. Masih ada satu tugas di
depan mata.
Xiao Jun menunggu di depan pagar. Ia cukup tahu diri untuk tidak berteriak di depan rumah orang. Gadis yang ia tunggu muncul, berlari kencang dan memperlihatkan kecemasan.
“Ayo masuk ke mobil cepat!” Weini meraih lengan Xiao Jun kemudian menyeretnya lari bersama. Mereka lebih mirip pasangan kawin lari yang menghindari pengejaran mertua.
“Cepat jalan! Cepetan!” Weini kian tidak sabaran padahal Xiao Jun menuruti instruksinya tanpa protes.
Weini baru bernapas lega saat mobil melaju kencang dan keluar dari area rumahnya. Namun jalan besar kini macet total, ia terjebak dalam suasana canggung bersama pria ini lagi.
“Segitu nggak pantaskah aku?” pertanyaan bernada pesimis itu terlontar dari Xiao Jun. Keheningan dalam mobil bersuhu dingin itu buyar.
“Maksudmu?” Weini mengeryitkan dahi. Ia tak mengerti kenapa disodori pertanyaan membingungkan.
“Untuk bertemu keluargamu. Kau sampai mati-matian mencegahku.” Jawab Xiao Jun datar.
Hening kembali sejenak. Weini perlu waktu berpikir apa yang harus ia katakan. Tak pernah terlintas di benak bahwa ia akan ditodong pertanyaan seperti itu. Mungkin ia sudah keterlaluan, lagipula ia hanya teman, kenapa mesti takut diperkenalkan pada Haris.
Tapi ini memalukan! Aku nggak pernah bawa teman cowok ke rumah. Kalau ayah marah gimana? Batin Weini membela diri. Ia tidak sepenuhnya salah, bahkan Sisi saja tidak ia ijinkan datang, apalagi seorang pria yang belum setahun dikenal.
“Maaf, aku kebangetan. Nggak ada maksud nyinggung perasaanmu, tapi aku belum terbiasa dikunjungi teman.” Jujur lebih baik, Weini merasa plong.
Xiao Jun diam saja mendengar jawaban itu hingga Weini kian merasa bersalah. Ia harus inisiatif mencari bahan obrolan daripada berada dalam situasi serba salah.
“O, ya kita mau kemana? Kau lapar? Bagusnya kita makan di mana? Malam ini sangat ramai dan macet. Ah kau mau jagung bakar? Beli yuk! Kau bisa berhenti di depan, aku akan turun beli!” Weini berceloteh terus, bicaranya lebih cepat dari biasa. Terlihat betul ia tengah grogi namun gengsi mengakuinya.
Xiao Jun menginjak rem dan menepikan mobilnya sesuai instruksi Weini.
“Hehehe… tunggu bentar ya.” Dengan girang Weini melepas seatbelt, ia sudah siap keluar dari mobil hingga ia sadar keadaan di sekitar tidak meyakinkan untuk dihadapi. Jika ia turun, pasti beritanya muncul di infotainment lagi besok.
“Kau tunggu di sini!” Xiao Jun bergegas turun tanpa melihat reaksi terkejut Weini. Ia paham situasi ini sama ketika mereka tidak jadi makan di tempat umum beberapa bulan lalu. Pria tampan itu menggantikan Weini membeli jagung bakar.
Dari balik kaca hitam anti transparan, Weini menatap lekat sosok pria itu. Mengingat saat pertama melihatnya, pertemuan pertama yang menjengkelkan dan sekarang ia bersamanya. Hanya berdua.
Xiao Jun menghampiri lalu mengetuk kaca. Kenangan indah Weini terhenti otomatis. “Mau rasa apa? Pedas nggak?”
“Original aja. Nggak pedas.” Weini hanya berani membukakaca sejengkal. Tiba-tiba ia menggerutu, menjadi terkenal ternyata nyaris seperti buronan. Ia menatap punggung kekar itu begitu mengesankan. Weini yakin pria itu tidak sadar sudah menjadi pusat perhatian di sekitar.
Ah terompet. Weini teringat alasannya keluar demi membeli barang itu setelah melihat aneka terompet terpajang di display kaki lima. Ia terpaksa harus mengandalkan Xiao Jun lagi. Kini pembicaraan mereka pindah ke ruang chat.
Boleh sekalian belikan terompet? Lapaknya ada di belakangmu, plisssss.
Xiao Jun menyadari getaran notifikasi pesan masuk. Ia hanya membaca lalu kembali memasukkan ponsel dalam kantong celana. Sementara Weini tak berkedip memperhatikan gerak-gerik Xiao Jun yang masih berdiri melihat
jagung dibakar.
Plisssssss.
Pesan kedua yang hanya diread Xiao Jun. Akhirnya ia menyeret langkah mendekati penjual terompet. Saat ia memilih di antara sekian jenis dan warna, ponselnya bergetar lagi.
Warna merah ya, hehehe…
Walau hanya diread tapi Weini begitu kegirangan melihat pria yang biasanya dilayani pengawal itu justru sedang melayaninya. Ups… gawat jangan sampe aku ketagihan kayak diktator.
selera. Ia harus menahan untuk menyantap itu, tidak sopan bila makan di dalam mobil apalagi mobil semahal ini.
“Thanks. Kita mau kemana?” Tanya Weini polos.
“Bisa kemana lagi kita?” Xiao Jun seperti menyindiri. Membawa seorang artis terkenal memang merepotkan. Ia ikutan kucing-kucingan di muka umum.
“Maaf, bikin kamu terseret.” Weini menunduk penuh penyesalan. Orang biasa yang berteman dengannya pun tak luput dari efek popularitasnya.
“Resiko pekerjaan. Jangan menyalahkan diri.” Xiao Jun masih punya perasaan untuk menguatkan gadis di sampingnya.
“Hmm… aku suka berada di keramaian, menikmati suasana di tengah hiruk pikuk orang. Melihat pesta kembang api di tempat tinggi dan meniupkan terompet tepat di pergantian hari. Tapi, kurasa semua itu hanya impian belaka.” Jelas Weini tidak bisa melakukan itu secara bebas lagi. Rumahnya hanya berlantai satu, ia juga selalu menghabiskan waktu pergantian tahun di rumah dengan Haris. Apalagi sekarang ditunjang status selebriti, ia akan
mencuri perhatian massa saat menginjakkan kaki di pusat keramaian.
“Kenyataan itu seringkali berawal dari impian.” Ujar Xiao Jun singkat. Kini ia tahu di mana tempat untuk mewujudkan impian Weini.
***
Haris sesekali kepergok gelisah menatap pintu masuk oleh kedua tamunya. Jiwanya sedang di rumah, namun hatinya terbang dibawa Weini entah kemana.
“Weini pasti baik-baik saja. Namanya juga anak muda. Biarkan saja.” Felix menyatakan pendapatnya dalam balutan tawa.
“Anak itu sudah beranjak dewasa. Ia bukan anak di bawah umur lagi. Hanya saja, aku belum terbiasa dengan perubahan sikapnya. Ia lebih tertutup sekarang.” Keluh Haris penuh kecewa. Ia hanya ingin memastikan
Weini mendapat pacar yang tepat.
“Gadis baru puber ya begitulah, apalagi kau seorang pria. Ia akan merasa malu untuk terbuka soal perasaan. Sudahlah biarkan dulu ia menikmati masa remajanya.” Timpal Lina yang lebih paham perasaan sesama perempuan.
Haris mulai tenang. Pendapat Lina ada benarnya, Weini pasti masih malu untuk mengakui ia telah jatuh cinta. Lebih baik ia tidak mengekangnya atau gadis itu akan semakin ragu berterus terang.
***
Xiao Jun membawa Weini ke apartemennya. Tempat yang teraman dan bisa mewujudkan impian Weini jelas ada di sini. Namun sebelum ia mempersilahkan Weini masuk, ia menoleh untuk memberi penjelasan.
“Ini kediamanku. Kau jangan berpikir buruk dulu, aku membawamu kemari bukan untuk memakanmu.” Xiao Jun mulai memasukkan password di system pengaman pintunya.
Mendengar ucapan itu membuat Weini tersipu malu. Apa maksudnya ‘memakan’? Ah…
Pikiran Weini menerawang jauh, seorang gadis datang ke tempat seorang pria di tengah malam? Apa kata dunia?
“Masuklah. Mau berdiri di situ sampe kapan.”
Lutut Weini terasa gemetar, ia terus bertanya apa di dalam ada orangtua Xiao Jun? Bagaimana ia harus menghadapi mereka?
“Aaaarrrghhh…” Weini terpekik ketika melihat ruangan yang begitu luas itu penuh dengan dekorasi pesta.
Xiao Jun ikut terkejut, ia tidak tahu Lau sempat menghias seisi ruangan dengan dekorasi ulangtahun sebelum ia berangkat ke Hongkong. Seketika ia merasa menyesal telah membawa Weini datang.
“Wow… keren bangeet. Kamu menyewa jasa dekor dimana? Amazing bangeet.” Weini berkeliaran mengagumi ruangan yang dipenuhi balon, lentera elektrik yang disusun membentuk kata ucapan selamat ulang tahun.
“Matikan lampunya, pasti lebih keren!” pinta Weini.
“Ini kerjaan paman Lau.” Xiao Jun menjatuhkan diri ke sofa. Akhirnya bisa terlepas dari jebakan macet berjam-jam.
“Semua ini paman yang kerjakan? Wow…. Oh ya, di mana paman?” Weini tertarik dengan gantungan bertuliskan aksara keberuntungan yang dipajang di dekat balon.
“Masih di pesawat, dalam perjalanan ke Hongkong.”
“Eh? Jadi cuman kita berdua?” Weini kikuk. Ia bersama seorang pria dalam suasana remang-remang yang ia minta.
“Nggak usah mikir kejauhan. Aku nggak makan orang.” Timpal Xiao Jun sembari memijit ringan kepalanya.
“Kau tidak ikut pulang? Ini hari ulangtahunmu kan? Kenapa malah sendirian?”
Xiao Jun tidak bersedia menjawab. Ia malah pura-pura memejamkan mata demi menghindari pertanyaan itu. Weini menatap wajah Xiao Jun, pria itu tetap terlihat tampan meski dalam posisi mata tertutup. Ia merasa mempunyai kesamaan dengan Xiao Jun, ia pernah merasakan kesepian di hari ulangtahun. Ingin bersama orang-orang tercinta dan merayakannya, namun hanya sanggup menabahkan hati untuk menerima kenyataan bahwa ia melewati pertambahan usia dengan seorang pengawal. Tapi dia malah sendiri.
Aku mungkin lebih beruntung daripada dia. Ujar Weini dalam hati. Tapi ia tidak sendiri, jelas Weini sedang bersamanya. *J*adi dia yang lebih beruntung atau aku?
***