
Riuhnya suasana perjamuan di kediaman Li San dihadiri banyak tamu penting. Dalam satu tahun ini, Li San banyak mengadakan pesta mewah dan menghamburkan kekayaannya. Ia disibukkan dengan tamu-tamu yang silih berganti menghampiri untuk sekedar berbincang. Kesempatan saat ia lengah itu dimanfaatkan Lau untuk mendekati Xiao
Jun. Sejak prosesi pertunangan, Lau terus memperhatikan setiap gerak-gerik tuannya dan mencari celah untuk sekedar menyapa.
Xiao Jun tengah berbicara dengan rekan bisnisnya kala Lau mendekat, kehadiran pengawal tersetia itu menyelamatkan Xiao Jun dari perbincangan yang sekedar basa basi. Lau berdiri di belakang lawan bicara tuannya dan sedikit menunduk, ia tak melihat sunggingan senyum Xiao Jun yang reflek saking bahagianya. Xiao Jun menyudahi perbincangannya dan mulai mendekati Lau.
“Paman, senang melihatmu lagi.” Xiao Jun memberikan segelas wine yang ia ambil dari waiter saat berjalan menghampiri Lau.
“Saya lebih bahagia melihat anda lagi tuan. Terima kasih sudah menyelamatkan hidupku. Saya bersedia mengabdi seumur hidup untuk membalas budi baikmu.” Lau membungkuk sebelum menerima gelas yang disodorkan Xiao Jun.
“Jangan terlalu sungkan, aku harap paman kembali membantuku.” Ujar Xiao Jun
Lau menghela napas, “Tuan, sebaiknya jangan melawan kehendak tuan besar dulu. Yang penting anda dan keluarga selamat, saya akan tetap membantu anda dengan cara apapun. Tuan usahakan secepatnya kembali ke Jakarta, kasian nona Weini pasti sedih menunggu.”
Xiao Jun terpaku diam, mengungkit Weini sama saja mengoyak luka yang tak kunjung kering. Ia tak akan memungkiri kerinduan yang membuncah pada gadis itu, tapi kondisi tidak lagi sama … ia bukan Xiao Jun yang dulu.
“Jangan bahas dia dulu, paman. Aku belum tahu apa yang harus kulakukan.” Xiao Jun terdengar sangat pesimis.
Lau dapat melihat kegusaran dari raut wajah dan tatapan kosong Xiao Jun, pria tua itu tak begitu berpengalaman soal cinta namun ia cukup mengerti keraguan hati tuannya. “Maaf tuan, menghindar bukan jalan keluar. Jangan gantung perasaan orang atau bahagia di atas kesedihannya. Non Weini pasti tegar apapun keputusan anda.”
Sikap mengelaknya justru disalah artikan oleh Lau, ia bukan bermaksud menghindari Weini selamanya. Hanya saja hubungan yang rumit ini belum sanggup ia pikirkan jalan terbaiknya. Xiao Jun menatap Grace yang berdiri bersama ayahnya, wajah bahagia yang polos itu tidak tega ia sakiti. “Paman, ini bukan sekedar tentang perasaan, aku tidak bisa membuat orang menderita karena diriku. Rasa bersalah itu yang lebih membebani.”
Lau mengerti posisi tuannya, pria berhati lembut yang terbalut dalam tampilan fisik yang dingin dan tegas pada orang yang belum mengenalnya dengan baik. Pasti berat bagi Xiao Jun untuk menjelaskan pada Weini dan menyingkirkan Grace tanpa melukai. Masalahnya, apa semudah itu? Karena untuk cinta, pasti akan ada yang
tersakiti saat tersingkirkan.
***
Xin Er mencuri pandang pada Grace, saking seriusnya hingga ia lupa berkedip dan tak menyadari sedang diperhatikan oleh Liang Jia.
“Jadi bagaimana menurutmu? Apa kau menyukainya sebagai calon menantu?” Goda Liang Jia. Tentu ia tak serius dengan pertanyaan barusan.
Xin Er terkesiap, kepergok mengamati seseorang jelas membuatnya malu. Untung saja pelakunya nyonya besar yang sudah ia anggap seperti saudara, jika orang lain tentu ia serba salah menutupi rasa malu. “Maaf nyonya, saya tidak sopan melihat orang.”
Xin Er tertegun sejenak memikirkan apa yang ada di benaknya tentang gadis itu. Bukan kali pertama ia melihta Grace, hanya saja mengetahui bahwa gadis itu adalah pilihan untuk putranya maka ia lebih berminat memandangnya.
“Dia kelihatannya baik, cantik, dan pasti berpendidikan tinggi …” Xin Er tak punya penilaian lain lagi, lebih tepatnya ia enggan menjawab soal restu darinya.
“Hanya itu? Hmmm … aku yakin pikiran kita sama, aku lebih suka kekasih Xiao Jun yang di foto itu. Entahlah, aku rasa dia lebih cocok dengan Xiao Jun. Restuku hanya untuk gadis itu sebenarnya, tapi tergantung bagaimana Xiao Jun memperjuangkannya kelak.” Seru Liang Jia pelan.
Isi hati Xin Er sudah diwakili oleh Liang Jia, tebakan nyonya besar itu sepenuhnya tepat. “Sebagai ibu yang melahirkannya, saya merestui siapapun yang dicintai dan dipilih anak-anakku.”
Pernyataan Xin Er yang begitu mantap mengundang rasa iri Liang Jia, “Andai aku bisa mengambil sikap seperti kamu, putri-putriku pasti senang bisa memilih pasangan sesuai kehendak hatinya.”
Perbincangan dua wanita itu terhenti otomatis saat sesi games yang dikoarkan oleh MC. Xin Er merasa terselamatkan berkat momen ini, ia terhindar memberi komentar atas curhat colongan sang nyonya. Ketika sang penguasa menundukkan segalanya, tak akan ada yang bisa mereka lakukan selain mengikuti nasib yang diaturkan untuknya.
***
Tiada pesta yang tak usai, semeriah apapun itu pasti bubar ketika waktunya tiba. Xiao Jun menyudahi senyum palsunya, ia kembali sendiri dalam bilik pribadi. Kepura-puraan sungguh menguras tenaga ekstra, lebih lelah daripada menghadapi kenyataan buruk tapi nyata. Pintunya diketuk dari luar, suara pengawal itu membuat Xiao Jun
menoleh ke pintu. Urusan apalagi hingga harus mengganggunya saat ini?
“Hormat untuk tuan muda. Tuan besar mengembalikan ponsel anda.” Pengawal itu menyodorkan sebuah peti beserta kunci gembok.
Xiao Jun menerima kembali barangnya seakan mendapat harta pusaka. Ponsel penghubung dengan dunia luar, dengan orang yang ia rindukan sekarang ada dalam genggaman. Ia mengaktifkan alat komunikasi yang non aktif dua minggu lebih itu. Semestinya tidak ada notif masuk pada ponsel pribadi yang hanya diketahui oleh orang terdekat. Ia tak membawa pulang ponsel kerja lantaran memercayakan urusan bisnis pada Lau. Di luar dugaan, ketika ponsel itu mendapatkan sinyal, bunyi pesan masuk mengejutkan Xiao Jun.
Tanpa membuka pesan, ia bisa membaca apa yang dituliskan si pengirim. Xiao Jun mencoba jujur pada diri sendiri, di saat kesunyian menjadi saksi, ia dengan sadar merasakan kebahagiaan ketika melihat orang pertama yang menghubunginya adalah gadis yang setiap hari ada dalam benaknya. Namun ada satu ganjalan besar di hati, pesan singkat itu belum siap ia terima. Xiao Jun belum sanggup membalasnya, meskipun chat Weini hanya menanyakan kabar. Waktu pengiriman pesan ternyata pagi tadi, ketika Xiao Jun disibukkan dengan acara pertunangan. Xiao Jun menghela napas, kenapa harus di saat itu Weini menghubunginya? Seolah mereka bisa kontak batin dan Weini punya firasat buruk akan terjadi hal ini.
Ia memilih mengalihkan pesan itu, biarlah belum terbuka seolah belum dibaca. Xiao Jun memilih menelurusi internet untuk mencari tahu kabar terbaru Weini, apa saja yang telah kekasihnya lalui tanpa dirinya? Betapa terkejutnya Xiao Jun membaca berita entertainment terpopuler di sana tengah dipanaskan dengan rumor cinta settingan Weini yang mengaku kekasih pengusaha sukses. Bahkan ada yang tega menulis bahwa cinta settingan itu menjadi skandal serius yang mengakibatkan hilangnya Xiao Jun secara misterius dan anjloknya saham perusahaan yang sedang naik daun itu.
Xiao Jun menggertakkan gigi, siapa yang sok tahu dan menyebarkan privasi sebagai konsumsi publik? Dan lagi hanya ditinggal dua minggu lantas bisnis yang ia bangun hingga nyaris di puncak teratas kini merosot dan terancam bangkrut? Sefatal itu akibat melepaskan perusahaan ke tim professional yang diutus Li San?
"Ini tidak bisa dibiarkan!" ujar Xiao Jun geram. Ia merasakan adanya ketidak beresan dari seseorang yang menyalah gunakan kepercayaan.
***