OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 450 SAMBUTAN DALAM TANGISAN



Sorot mata teduh Weini tak berpaling dari pemandangan di luar jendela jet yang telah membawanya kembali. Rumput Jepang yang masih terawat dan terhampar penuh sepanjang pekarangan luas itu, mengingatkan masa kecil Weini dalam sesaat. Ia masih ingat betul ketika itu, ia suka menghabiskan waktu sorenya dengan berguling-guling di sana. Tidak ada beban, hari-hari penuh dengan tawa bahagia, sampai hari itu tiba menjungkir balikkan kehidupannya tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal pada kenangannya di sini.


Xiao Jun menyunggingkan senyuman pada Weini yang menoleh ke luar mengintip jendela. Gadis itu berbinar melihat pekarangan rumahnya yang luas.


“Selamat datang kembali ke istanamu, Yue Hwa.” Gumam Xiao Jun pelan.


Weini menoleh perlahan kemudian membalas senyuman Xiao Jun. Kini jet benar-benar sudah berhenti, mereka berdua serta penumpang lainnya pun mulai bersiap turun. Tanpa disadari yang lainnya, Weini sempat menghela napas sebelum melangkahkan kakinya keluar. Berat rasanya menyeret kaki untuk turun dan menginjakkan lagi di tempat kelahirannya. Masih ada sisa kenangan buruk di hari itu yang teringat walaupun sudah berusaha tidak ia ingat lagi.


Xiao Jun menggandeng tangan Weini, seakan tahu gundah yang dirasakan kekasihnya, ia sigap memberikan


perhatian serta menguatkannya. “Semua baik-baik saja, tidak perlu cemas apapun lagi.” Bisik Xiao Jun.


Weini mengangguk pelan, ia bersyukur di kelilingi orang-orang baik yang selalu ada di saat ia susah. Haris dan yang lainnya sudah lebih dulu turun, tersisa Xiao Jun dan Weini yang baru menginjakkan tangga pertama dari atas jet. Angin sore itu menerbangkan helaian rambut panjang Weini, ia menyeka rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Gadis itu terkejut ketika melihat di bawah sudah berjejer pengawal serta pelayan yang membentuk dua barisan di sisi kiri dan kanan di depan tangga yang bersiap menyambutnya.


Dahi Weini berkerut, semestinya kepulangannya yang dadakan ini belum tersebar luas. Tetapi saat melihat sambutan dari para pekerja di rumah Li San itu muncul, rasanya justru persiapannya sudah matang. Para pengawal dan pelayan langsung membungkuk hormat kepada Weini, saat nona muda itu menginjakkan kakinya di atas rumput hijau.


“Selamat datang nona muda, panjang umur... panjang umur!” Seru semuanya kompak, termasuk Haris, Xin Er yang merasa mereka masih pelayan dan pengawal di kediaman Li.


Weini tersenyum anggun, auranya begitu terpancar yang membuatnya terlihat sangat berwibawa. Meskipun ia seorang wanita, meskipun ditakdirkan tidak bisa meneruskan marga keluarganya dengan gender seorang wanita, tetapi jiwa kepemimpinan begitu jelas terlihat dari kepribadian serta pembawaan diri Weini. Dengan sebuah anggukan yang mantap, serta satu tangan yang diangkat ke atas, Weini membalas para pelayan dan pengawal itu seperti tata krama dalam klan Li. Tata krama serta aturan yang masih ia ingat, walau sudah sangat lama tidak ia terapkan. Dalam jiwanya dan raganya yang mengalir darah klan Li, tak perlu penyesuaian lagi bagi Weini untuk bersikap sebagai seorang putri terhormat.


“Kembalilah bekerja, terima kasih atas sambutannya.” Perintah Weini dengan lembut. Para pengawal dan pelayan pun secara bersamaan kembali membungkuk lalu bubar secara teratur.


Xiao Jun bangga melihat aura Weini yang cocok sebagai pemimpin, tidak hanya dalam dunia nyata namun kekuatan gadis itu dalam dimensi sihir pun tak diragukan lagi. Rasanya tidak akan masalah jika pemegang kekuasaan jatuh di tangan Weini, karena Xiao Jun yakin kekasihnya sangat mumpuni serta bisa membanggakan klan leluhurnya.


“Kita berangkat sekarang, mobil sudah siap.” Gumam Xiao Jun pelan.


Haris mendekati Weini, ia paham perasaan Weini yang sedikit goyah oleh kenangan buruk. “Yue Hwa, aku baik-baik saja jadi kamu juga harus bisa kondisikan hidupmu di masa sekarang. Jika aku bisa, kamu juga harus bisa.” Bisik Haris.


Weini tersenyum menatap ayah angkatnya, senyuman tulus Haris dan raut wajah yang selalu bisa tenang di segala situasi itu adalah penyemangatnya. Pria tua itu benar, ia sungguh ikhlas kembali seolah tak pernah ada kenangan buruk yang terjadi di sini. “Baiklah, ayah. Aku akan mencobanya.” Gumam Weini semangat.


Dua mobil sudah menunggu mereka di parkiran rumah besar itu, Weini menjadi pengamat jeli yang mencoba mencocokkan ingatan masa kecilnya. Nyaris tidak ada yang berubah dari setiap tempat yang ia langkahi, semua masih sama dan begitu terawat. Li San memang pecinta hal kuno dan menganggungkan prinsip kolotnya. Namun penguasa itu tetap fleksibel dan bisa menerima perubahan jaman, nyatanya mobil serta banyak fasilitas mewah yang menjadi asetnya tetap mengikuti perkembangan jaman. Mobil yang ditumpangi Weini pun tergolong mobil mewah yang nilainya fantastis.


“Aku sudah bilang ke ibu Liang Jia bahwa kita sudah sampai dan dalam perjalanan. Di sana sudah berkumpul empat nona, tinggal menunggu Yue Hwa tiba, maka keluarga tuan besar akan lengkap.” Ujar Xiao Jun yang duduk di belakang bersama Weini.


Di barisan tengah diduduki Haris dan Xin Er, sedangkan yang lainnya ada di mobil yang satunya. Yang muda mengalah pada yang tua lantaran Xin Er mulai merasa lemah karena perjalanan jauh.


“Kira-kira lima belas menit lagi kita akan sampai, semoga semuanya kembali membaik setelah kamu pulang, nak.” Ucap Haris menyemangati Weini yang lebih pasif.


Weini paham semua mencoba menghiburnya, ia pun tak ingin membebani pikiran mereka. Apa yang akan ia hadapi nantinya murni masalah keluarga, sudah saatnya pula menyelesaikan konflik panjang yang dalam internal keluarganya.


“Ayah, ibu, Jun, makasih atas perhatian kalian. Aku baik-baik saja, jangan cemas lagi.” Lirih Weini yang bisa menampilkan senyum terbaiknya walau masih terasa kegetiran dalam hatinya.


***


hari tidak melihat Li San namun keadaan sudah berubah drastis. Wajah Li San tampak lebih menua karena penyakitnya yang belum diketahui pasti penyebabnya. Dokter hanya mendiagnosa bahwa pria tua itu terlalu shock hingga syarafnya melemah dan menyebabkan ia koma. Selebihnya belum ada perkembangan positif yang melegakan pikiran pihak keluarga.


“Ayah, Yue Xin dan Yue Xiao datang menjenguk ayah. Dan ini... Suamiku juga ikut datang.” Lirih Yue Xin, ia melirik suaminya yang sudah mengikuti jejaknya untuk berlutut.


“Terima kasih telah menemukan aku dengan jodoh yang baik. Yue Xin bahagia dengan pernikahan ini, ayah. Ayah lihatlah, kami sangat serasi kan? Dia sangat menyayangiku, aku sungguh beruntung berjodoh dengannya. Ayah....” Yue Xin menangis, tak mampu meneruskan kata-katanya. Suaminya pun dengan perhatian langsung erangkulnya,


membiarkan ia menangis dalam dekapan.


Yue Xiao terbawa suasana, ia menangis sesenggukan dalam posisi berlutut. Semasa ayahnya masih kuat, ia jarang punya waktu berkumpul dengan pria yang selalu sibuk itu. Tetapi saat bisa berkumpul, kondisi ayahnya dalam keadaan tak bisa berbuat apa-apa. Itulah yang membuatnya merasa sangat sedih dan menyesal, mengapa di saat ia tinggal seatap dengan ayahnya, mengapa ia tidak sedikit lebih nekad untuk memperhatikan ayahnya.


“Ayaah... Yue Xiao juga ingin dijodohkan, ayah bangunlah... Aku janji akan nurut apapun yang ayah inginkan, asalkan ayah bangun segera.” Rengek Yue Xiao yang sebenarnya hanya beralasan dengan harapan bisa membangunkan Li San.


Liang Jia, Yue Yan dan Yue Fang hanya bisa menyeka air mata mereka. Firasat Liang Jia sudah tak enak sejak tadi, ia merasa sudah harus mempersiapkan hati menerima kenyataan terburuk. Itulah sebabnya ia membiarkan anak-anaknya merengek kepada ayahnya, ia tak lagi melarang seperti sebelumnya.


Suasana haru yang berderai air mata itu terjeda saat suara pintu yang dibuka dari luar terdengar. Liang Jia dan semua yang ada di sana spontan menoleh ke arah itu, senyum Liang Jia mengembang seketika, menyusul gerakannya yang tak bisa ditahan lagi untuk berlari ke sana. Sebuah tangan terbuka untuk menyambutnya dalam pelukan.


***


“Tuan Xiao Jun berpesan pada saya, jika anda perlu sesuatu jangan sungkan memberitahu saya. Selama Fang Fang masih belum bisa bertugas, saya yang akan menggantikan tugasnya mengawal anda, nona.” Gumam Lau di hadapan Grace yang kini menenteng satu tas besar berisi pakaian bersihnya.


Grace baru saja kembali dari rumah sakit, gara-gara lupa menyiapkan perlengkapan pribadinya hingga terpaksa membuatnya bolak balik ke apartemen. Kini saat ia hendak berangkat, justru Lau yang mencegatnya di depan pintu apartemen.


“Paman, aku tidak apa-apa, tidak perlu sampai merepotkanmu. Aku mulai hapal jalanan kota ini dan bisa menyetir, paman juga pasti punya banyak kerjaan, aku tidak mau dikit-dikit harus mengganggumu. Setelah ini, aku akan nginap di rumah sakit menjaga mereka sampai diperbolehkan pulang.” Ujar Grace penuh keyakinan.


Lau tersenyum tipis lalu mengangguk, “Baiklah, nona. Tapi anda tidak punya surat ijin mengemudi di sini, akan lebih merepotkan jika anda terjaring razia. Saya akan menyiapkan supir untuk mengantar anda ke manapun.” Ujar Lau yang mencoba negosiasi dengan Grace.


Grace nyengir, ia membuka resleting tasnya lalu mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya. “Apa SIM internasional tidak berlaku di sini? Aku punya ini buat jaga-jaga sejak dulu.” Ujar Grace tersenyum penuh kemenangan.


Lau tampak tersenyum tipis, ia tak menyangka akan kalah telak dengan gadis itu. “Tetap saja, perintah tuan Xiao Jun tidak bisa saya langgar. Nona tetap akan dalam pengawasan saya, hubungi saja jika perlu bantuan.” Ucap Lau tak mau kalah begitu saja.


Grace berdecak, “Tuanmu itu sangat protektif, merepotkan sekali. Baiklah, asal kalian senang saja. Aku akan


berusaha sebisa mungkin untuk tidak menghubungimu sampai aku kembali.” Tawa Grace.


Lau membungkuk hormat dan hendak pamit dari hadapan Grace, namun pertanyaan Grace kembali mencegatnya. “Apa mereka sudah sampai?” Tanya Grace hati hati.


Lau tersenyum, “Sudah nona, mungkin sekarang mereka sudah berkumpul.”


Grace tersenyum getir, membayangkan reuni keluarga yang didominasi tangisan dan kecemasan akan kondisi sang tuan penguasa, jelas bukan situasi yang menyenangkan. “Syukurlah, aku harap sepupuku tegar menghadapi takdirnya.” Gumam Grace pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.


***