OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 365 SELAMAT DATANG MUSUH



“Putra angkatmu tampan juga, kau pasti bahagia dia menikahi putriku.” Gumam Kao Jing dengan senyum sumingrah pada Liang Jia yang duduk di sampingnya.


Liang Jia tidak berniat melirik ke samping, mendengar suara Kao Jing saja membuatnya muak apalagi harus merusak pemandangan dengan melihatnya. Liang Jia tidak mengalihkan fokus pada Xiao Jun yang terlihat akan melangkah masuk ke dalam aula. “Bukankah yang paling bahagia adalah kamu? Jangan bicara seolah ini terjadi atas kehendak mereka, kau pria tua yang tak pernah dewasa. Apa kau tidak malu dengan ubanmu? Sepertinya itu


memutih dengan sia-sia.” Sindir Liang Jia menohok perasaan Kao Jing saat itu juga.


Kao Jing hanya mengepalkan tangannya, menahan amarah setelah terpancing kata-kata sinis wanita di sampingnya. Kondisi yang memang diharapkan Liang Jia agar tidak diusik dan leluasa menyaksikan pertunjukan yang ia yakin akan terjadi sesaat lagi. Ekor mata Liang Jia melihat Lau muncul di pojok aula, Liang Jia mengernyit heran menatap ke arah pengawal setia Xiao Jun itu. Seharusnya pengawal itu masuk setelah tuannya, namun Lau lebih dulu menempati aula seolah menyamar jadi salah satu pengawal di dalam aula. Tatapan Liang Jia bertubrukan dengan tatapan Lau dan pengawal itu langsung mengangguk hormat. Sejenak Liang Jia tersenyum, sepertinya dugaannya benar akan ada pertunjukan sesaat lagi.


“Pengantin tiba.” Teriakan keras pemuka adat yang dipercayakan memimpin upacara pernikahan langsung menarik perhatian semua pasang mata dan tertuju pada pasangan pengantin itu.


Xiao Jun berjalan tegap menggandeng Grace yang berjalan dengan wajah tertutup. Kao Jing menyaksikan kehadiran dua orang itu dengan mata yang berbinar, tak pernah dia sangka akan semudah itu menyiapkan


pernikahan dadakan dan semuanya berjalan lancar hingga saat ini.


Grace merasakan degup jantungnya berdebar lebih kencang, Xiao Jun sudah memberinya aba-aba lewat genggaman tangan yang diremas dalam beberapa hitungan sesuai kesepakatan. Semakin banyak jumlahnya menandakan semakin dekat waktu agar Grace mengambil sikap. Xiao Jun meremas empat kali yang langsung membuat napas Grace terasa sesak seketika, bahkan Xiao Jun pun tahu betapa takutnya gadis itu saat ini lantaran telapak tangan Grace yang sangat dingin sekalipun sudah digenggam.


“Kedua pengantin hormat kepada langit dan bumi.” Pekik pemuka adat mulai memimpin ritual.


“Hentikan! Atau aku mati di tempat ini!” Pekik Grace lantang setelah membuka penutup wajahnya lalu mengacungkan sebuah pisau yang mengarah pada lehernya.


Sontak seisi ruangan riuh karena teriakan para pelayan yang ketakutan. Grace berdiri menatap tajam pada ayahnya, ancaman itu memang dikhususkan untuk Kao Jing yang tak kalah terkejut melihat aksi nekad putrinya. Xiao Jun bergeming, pisau di tangan Grace adalah pemberiannya yang diselipkan lewat uluran tangan saat menyambut Grace turun dari tandu. Tidak ada yang menyadarinya karena alat tajam itu diselipkan di bawah lengan jubah Xiao Jun dan langsung disembunyikan Grace dalam kostum rumitnya.


“Pengawal rebut pisau itu! Kalian sangat picik hendak menjebakku, beraninya mempermainkan pernikahan di saat seperti ini! Bentak Kao Jing lantang karena merasa terjebak tanpa persiapan bahwa ini yang akan terjadi.


“Ayah yang menjebakku, ayah yang merusak sakralnya pernikahan! Ayah tak ingin melihatku bahagia tapi menjadikanku alat untuk mendapatkan kebahagiaannmu. Siapapun yang berani mendekat, aku tak segan menggorok leherku!” Ancam Grace lantang saat dua orang pengawal menghampirinya.


Xiao Jun tetap bergeming, ia hanya mengangguk pelan sebagai kode yang ditangkap oleh Lau. Pengawal itu beransur menggeser langkah tanpa membalikkan badan, perlahan tapi pasti mendekati singgasana sang penguasa. Pelayan wanita yang ditugaskan untuk menyelidiki di mana kotak itu diletakkan Kao Jing berhasil diselamatkan anak buah Lau. Sejak awal pelayan itu sudah dalam perlindungan Lau selama ditugaskan. Perhatian semua orang tersita


penuh oleh Grace hingga Lau cukup diuntungkan untuk bergerak. Sedikit lagi ia akan sampai ke atas panggung itu.


“Lancang! Beraninya kau menggertak ayahmu! Pengawal, rebut pisaunya!” Pekik Kao Jing yang kini berdiri tegang karena sedang bertaruh dengan nyawa putrinya.


Xiao Jun menghadang pengawal itu saat hendak mendekati Grace yang masih mengarahkan pisau di lehernya. Grace tak punya nyali sekuat itu, ia benar-benar memaksakan diri untuk kuat meskipun tangannya gemetaran karena percobaan bunuh diri untuk kedua kali. Ini memang hanya sebuah trik namun tetap membebani pikiran Grace.


“Jangan ikut campur, mundur!” Ujar Xiao Jun lantang menghadang pengawal itu.


“Pengawal, tangkap penyusup itu!” Pekik Kao Jing lantang. Sontak pengawal rahasia yang disiapkan Chen Kho melompat keluar dan langsung menyerang Lau yang sendirian.


Xiao Jun terperanjat, ia tak menyangka ada pengawal susupan yang tak mungkin segan pada perintahnya. Bergegas ia merebut pisau dari tangan Grace lalu mendorong tubuh gadis itu ke pinggir hingga menabrak pelayan


yang berdiri di sana. “Lindungi dia!” Ujar Xiao Jun pada para pelayan itu.


Suasana semakin riuh karena perkelahian sengit Lau melawan beberapa pengawal yang tidak berimbang. “Kalian… Para pengawal yang setia pada tuan besar Li San dengarkan perintahku! Aku memimpin kalian melawan penindas di rumah ini dan selamatkan tuan besar. Serang mereka dan rebut kotak di atas meja!” Pekik Xiao Jun lantang memberi aba-aba.


“Ha ha ha… Kau terlalu percaya diri, mereka bukan lagi anak buahmu! Pengawal tangkap tuan muda itu hidup-hidup!” Pekik Kao Jing penuh kesungguhan, ia bersyukur Chen Kho sudah menyiapkan strategi ini lantaran tahu


bahwa Xiao Jun pasti merencanakan perlawanan.


Di sisi lain, Liang Jia mengendap-endap pergi dari sisi Kao Jing demi mendekati Grace yang masih dibawa para pelayan agar menjauhi titik kericuhan. Akhirnya Liang Jia menyadari bahwa Grace yang sekarang berbeda dengan Grace yang ambisius saat tinggal di kediamannya. Banyak yang telah berubah semenjak gadis itu dibawa pergi ke Jakarta, dan Liang Jia yakin bahwa gadis itu telah menghapus Xiao Jun dari hatinya.


Pertarungan Lau semakin memanas lantaran ia kesulitan menghadapi lawan dengan tangan kosong sementara penyerangnya menggunakan pedang. Fokusnya terpecah antara mempertahankan diri dan mengawasi keberadaan kotak itu, di saat lengah itulah seorang penyerang berhasil mengarahkan pedang padanya. Dan….


***


Chen Kho menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Jakarta. Beberapa pengawal sekaligus mata-mata yang ia tugaskan mengawasi Weini dan Haris selama inipun tampak menyambutnya di bandara. Pria-pria bertubuh tegap itu membungkuk hormat begitu bertemu dengan Chen Kho yang keluar dari ruang kedatangan.


“Selamat datang tuan muda.”


“Ayo, jemput kemenangan kita!” Seru Chen Kho dengan seringai penuh optimis.


Bersambung….


***


Kamu tegang bacanya? Ini belum apa-apa karena mulai episode ini bersiaplah menahan napas saat membacanya. Akhirnya kita sampai di konflik utama dan author minta maaf jika alur dalam cerita ini tidak mudah ditebak. Semua komentar dan saran kalian telah author pertimbangkan, ada sebagaian alur yang akan author kabulkan agar kita sama-sama senang ya. Tetapi tidak semuanya, tetap akan ada yang harus terjadi agar alur masih berkesinambungan dan nyambung. Kalau kalian menantikan update hari ini, silahkan tinggalkan komentar dan like untuk mendukung author. Saya tidak perlu tip koin dari kalian, yang saya perlukan hanya komentar positif, like serta vote poin (jika ada) agar level karya ini tetap konsisten. Mengertilah bahwa untuk mengarang sebuah karya, kami perlu apresiasi agar semangat ^^. Ada performa yang harus kami jaga untuk tetap bertahan di sini, untuk itu dukunglah para author, siapapun itu yang kalian ikuti karyanya. karena kami juga punya bebannya sendiri yang tidak layak kami utarakan semua. Anda terhibur, dan kamipun perlu suntikan semangat.


thanks.