
Samar-samar suara seorang pria memanggil nama Xiao Jun, berkali-kali pengulangan panggilan itu hingga terasa menggusarkan. Xiao Jun mengeliat, peluh keringat membasahi punggung dan dahinya meskipun pendingin ruangan sudah maksimal.
“Wei Li Jun… Li Jun…” suara pria itu lagi yang terus menyerukan nama asli Xiao Jun. kencangnya suara bagaikan berteriak di gendang telinga hingga Xiao Jun memekikkan balasan.
“Siapa?” pekik Xiao Jun antara nyata atau mimpi. Ia berdiri di dalam sebuah ruangan tanpa sekat dan pekat. Tidak ada siapapun di sekeliling, hanya ada dirinya dan seberkas cahaya yang terpantul dari tubuhnya.
Setelah Xiao Jun merespon panggilan itu, suara yang entah berasal dari mana itu menggemakan tawa seakan mengejeknya.
“Li Jun, kau lupa pada ayahmu?” ujar suara pria tanpa sumber itu begitu nyata namun menggema.
Xiao Jun menoleh ke sekeliling kemudian berlari tanpa arah tujuan mencari sumber suara. “Ayah? Ayaaah… di mana?” Jika benar suara itu datang dari ayah yang selama ini dicarinya, Xiao Jun kian antusias menemukan di mana tempat persembunyian sang ayah.
“Jangan berlari terus, diamlah di sana. Ayah hanya bisa mengirimimu pesan suara. Dengarkan baik-baik anakku.” Ujar suara misterius itu.
Tidak ada pilihan lain kecuali mematuhi perintah itu, Xiao Jun berdiam di tempat yang tak berbatas dan gelap gulita itu menantikan pesan yang dimaksud. Walau banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan namun bibirnya kelu dan tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
“Li Jun, seorang pria sejati selalu pasang badan di tengah badai demi orang yang ia cintai. Menghalau angin besar yang meniupnya, menjadi payung saat hujan deras menerpa, meskipun berkorban setengah mati bukan berarti orang yang dilindungi akan sepenuhnya aman, resiko tersakiti pasti ada. Sebagai penerus klan Wei, ayah
minta kamu bisa mengambil keputusan yang tepat, meskipun bukan yang terbaik saat ini.”
Pesan yang panjang dan penuh teka teki, Xiao Jun termenung memikirkannya. “Keputusan tepat namun bukan yang terbaik? Aku tidak mengerti…”
Suara misterius itu tertawa, “Hahaha… sebagai penerus klan Wei, kau pasti bisa menebaknya. Logika dan perasaan dimainkan, kau pasti paham jawabannya.”
Xiao Jun tak kuasa memikirkannya lagi terlalu rumit untuk dicerna pikirannya yang kacau. Dikesampingkannya pesan terselubung itu dan menggunakan kesempatan ini untuk mempertanyakan hal yang lebih serius pada suara yang mengaku sebagai ayahnya. “Jika kau benar ayahku, tolong jawab di mana ayah sekarang? Ayah masih
hidup kan? Kenapa tidak kembali mencari kami? Kenapa malah bersembunyi sekian lama? Kau tidak merindukan kami seperti kami yang selalu berharap kau kembali?”
Emosional Xiao Jun terpancing, jawaban dari segudang pertanyaan itu lebih berarti baginya daripada pesan terselubung itu. sekian tahun mencari jawaban, nekad mengembara ke Jakarta hanya demi mengikuti petunjuk yang masih bias itu dan tidak menemukan hasil, justru ia menemukan cinta seorang gadis yang akhirnya
menjeratnya pada belenggu ini.
Suasana mencekam dan hening, tidak terdengar lagi suara itu baritone pria yang memgaku sebagai ayah Xiao Jun. “Ayah? Jawab aku! Kenapa diam? Ayah?” Xiao Jun tidak sabaran, ia akhirnya memanggil pria itu ayah. Rasa rindu menggebu, walau hanya orang yang ngaku-ngaku pun rasanya begitu membangkitkan emosinya.
“Jika kamu sudah tahu jawaban dari pesanku, kamu pasti mengerti kenapa ayah melakukan semua itu. Li Jun… ayah menyayangimu. Jadilah putra kebanggan klan Wei.” Suara itu menghilang bersamaan dengan kegelapan dalam ruang tanpa sekat yang kian memudar.
Xiao Jun menatap sekeliling yang mulai terang disinari cahaya keemasan, kesempatan itu ia gunakan untuk mencari sosok ayahnya. Dalam terang, segalanya akan diperlihatkan. “Ayah? Ayah?”
Ia berlari tanpa tujuan, meneriakkan panggilan untuk orang tersayang hingga seluruh ruangan berguncang dan Xiao Jun terjerembab ke dalam jurang.
“Ayaaaaaaah…” pekik Xiao Jun kencang sehingga penjaga di depan kamarnya berbondong-bondong menghampiri. Napas Xiao Jun tak beraturan dengan peluh keringat bercucuran dari dahi. Seorang penjaga mengambilkan segelas air putih untuknya tetapi Xiao Jun tidak berniat menyentuh itu.
“Aku tidak apa-apa, keluarlah. Oh ya, istirahat lah aku tidak perlu dijaga 24 jam.” Perintah Xiao Jun, ia lebih nyaman sendirian.
Hanya mimpi? Semua yang barusan ia alami hanya bunga tidur? Xiao Jun merasa kepalanya sakit hanya karena terguncang dalam mimpi. Suara serta pesan dari ayahnya masih terngiang jelas, “Tidak, ini bukan mimpi biasa. Ayah… pasti ayah yang mengirimiku pesan. Ayah tahu kesusahanku, ia mencemaskanku.” Memikirkan diperhatikan
ayahnya saja sangat menyenangkan Xiao Jun. Rasa pesimisnya mencari sang ayah pun mulai terkikis oleh mimpi barusan, ada harapan untuk menemukan ayahnya atau bahkan ia yang ditemukan oleh pria yang ia kasihi itu.
***
Abu jimat bertebaran ditiup angin malam hingga menerpa wajah Haris. Ia membuka mata kala segala ritual yang ia jalankan selesai dengan lancar. Kesempatan di rumah sendirian dimanfaatkannya untuk melakukan sesuatu yang harus ia rahasiakan dari Weini. Ia memperkirakan Weini masih punya urusan lain sebelum pulang ke rumah,
dan Haris punya waktu sebelum anak gadisnya tiba.
“Semoga dia menemukan jawabannya.” Ujar Haris penuh harap. Memaksakan diri masuk ke dalam mimpi seseorang, melepaskan sukmanya menembus dimensi ruang seperti yang baru saja ia lakukan sangat beresiko besar. Jika naas, mungkin saja sukmanya akan tersangkut di dimensi lain dan tidak kembali ke raga. Haris berani
mengambil resiko besar itu demi menyemangati putranya. Ayah mana yang sanggup berpangku tangan melihat darah dagingnya tengah mengalami penderitaan.
Kini ia hanya berharap Xiao Jun memahami pesan yang ia sampaikan, sebagai seorang pria yang sudah mengerti arti cinta dan pengorbanan, harusnya Xiao Jun paham mana jalan yang terbaik dan mana yang tepat. Haris tidak akan secara terbuka menyodorkan jawaban, cara ia mencintai anaknya adalah dengan memberinya kesempatan berpikir dan belajar mengambil keputusan. Setelah Haris menemukan putranya yang terpisah belasan tahun, sejak itulah ia diam-diam memperhatikan dan melindunginya meskipun masih harus merahasiakan kebenaran. Keputusan yang tepat saat ini ia ambil adalah merahasiakan demi kebaikan bersama semua pihak sembari menunggu keputusan yang terbaik muncul pada waktunya.
***
Weini menerobos masuk ke dalam ruang makan, tempat di mana ia bersama Xiao Jun dan Lau sering makan bersama. Apartemen Xiao Jun tidak dalam keadaan kosong, ada penghuni yang tertinggal di sana dan Weini bergegas mencari tahu siapa yang menimbulkan suara gemericik air. Ia mendapati sesosok punggung kekar yang
membelakanginya, pria dengan potongan rambut pendek seperti Lau tengah mencuci piring dari wastafel. Setengah ragu dan was-was, Weini memberanikan diri memanggil pria itu.
“Paman Lau?”
Suara Weini memancing pria yang ia panggil itu menoleh dan terkejut. Weini tak kalah terkejut lantaran salah memanggil orang, pria yang ia kira Lau itu terlihat lebih muda dan berwajah galak. Dina dan Stevan yang menyusul Weini pun tak kalah terkejut, Dina bahkan berteriak histeris melihat orang asing di depannya.
“你是谁(ni shi shei) kamu siapa?” bentak pria itu tak bersahabat.
Dina dan Stevan bengong mendengar bahasa yang tidak mereka mengerti, “Dia ngomong apa?”
tanya Dina bengong. Stevan menggeleng tak mengerti kemudian langsung maju ke depan melindungi Weini setelah melihat raut pria itu seakan hendak menyerang.
“Aku nggak apa apa kak, mundurlah.” Weini meminta Stevan beranjak dari hadapannya, ia perlu bertatap muka dengan pria itu. Stevan enggan menuruti, ia justru berdiri di samping Weini agar bisa leluasa berjaga-jaga.
“我们是小军的朋友。他现在哪里 Wo men shi xiao jun de peng you. Ta xian zai na li? Kami teman Xiao Jun, di mana dia sekarang?” Weini dengan fasih menjawab pria tak dikenal itu.
Dina menjadi orang yang paling shock mendengar jawaban Weini, “Non, kamu bisa bahasa mereka? OMG keren banget.” Rasa takjub Dina yang tak tepat sikon itu malah mendapat lirikan sinis dari Stevan. Ini bukan saatnya saling memuji, ada resiko besar perkelahian di depan mata.
Pertanyaan Weini justru direspon dengan cara yang sangat kasar, pria itu enggan menjawab namun malah melemparkan piring di tangannya ke Weini.
“Awaaasss” Stevan reflek membalikkan punggungnya sebagai perisai melindungi Weini. Piring itu tepat mengenai punggung Stevan dan jatuh pecah di lantai.
Dina menjerit histeris melihat kekerasan di hadapannya apalagi Stevan meringis kesakitan. Weini yang sempat lengah kembali siaga, didorongnya tubuh Stevan pada Dina hingga kedua tubuh itu berbenturan. “Kalian lari!”
Pria asing itu melompat dengan sebuah jurus yang tertuju pada Weini yang membelakanginya. Gadis itu masih berusaha meyakinkan kedua rekannya agar lari sejauh mungkin, “Jangan hiraukan aku, lariii!”
Dan tinju dari kepalan tangan si pria asing kian mendekati sasaran yakni kepala Weini…
***