OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 551 AKHIR YANG BAHAGIA



女 (perempuan): Yīzuò huā jiào tái dào lǐ jiā zhuāng (Sebuah kursi sedan dibawa ke kediaman Li)


男(Laki-laki): Máng máng lùlù yíng chū xīn jià niáng (Sibuk, sibuk, menyambut istri baru)


女 (perempuan): lǎ ba dī dā dī dī dā


男(Laki-laki): Kàn dàjiā wèi zhè xǐshì máng (Lihat semua orang sibuk dengan acara bahagia ini)


女 (perempuan): Yīzuò huā jiào tái dào lǐ jiā zhuāng (Sebuah kursi sedan dibawa ke kediaman Li)


男(Laki-laki): Máng máng lùlù yíng chū lǎo diē niáng (Ayah tua yang sibuk, sibuk, menyambut)


女 (perempuan): Hāhā xī xī xī xīhā


男(Laki-laki): Kàn dàjiā duō me lè yáng yang (Seberapa ingin Anda melihat?)


Dina terkagum-kagum mendengarkan nyanyian para pelayan dan pengawal yang membentuk dua barisan panjang di sisi jalan sepanjang halaman aula utama. Itu hanya sebagian gadis pelayan dan pengawal yang kebagian tugas menyanyikan lagu 上花轿 Shang Hua Jiao khusus untuk memeriahkan hari pernikahan sang nona penguasa klan Li. Belum dimulai saja suasana sudah semeriah dan sebahagia ini.


Dina yang hanya menjadi penonton saja sibuk bertepuk tangan memberikan andilnya. Walau tidak bisa bernyanyi, setidaknya dia bisa sedikit menggerakkan tubuhnya mengikuti irama musik yang merdu itu. Dimainkan langsung oleh pemain musik tradisional yang berjumlah lima puluhan personil, mereka termasuk grup paling tersohor di Beijing yang diundang Wen Ting khusus untuk pernikahan adik iparnya.


“Din, sini deh gabung.” Suara Fang Fang yang menyeluk Dina yang tengah menari tidak jelas di tengah halaman, seketika menghentikan gerak tangan dan kaki Dina. Untung saja, jika tidak semakin merusak pemandangan dengan tarian kakunya. Dina berlari menghampiri Grace, Fang Fang dan Stevan yang sudah rapi juga, siap menyambut datangnya sepasang pengantin baru.


“Kita boleh ngintip Gong Zhu nggak ya?” tanya Grace penasaran. Ia dan Stevan memilih tempat honeymoonnya ke Hongkong, sekalian untuk menghadiri resepsi ini. Meskipun harus menginap di hotel, tidak jadi masalah selama ia diperbolehkan menginjakkan kaki ke kediaman ini lagi demi Weini. Para tetua pun bisa memaklumi karena sesuai kesepakatan pengampunan, Kao Jing dan Grace boleh datang dalam kondisi khusus, salah satu kondisinya adalah saat ini.


“Ng... kayaknya nggak boleh deh, aku aja disuruh tunggu di luar. Tapi nonton di sini juga seru, lain dari pernikahan sebelumnya. Ini benar-benar meriah.” Celetuk Dina yang kembali menggerakkan tubuhnya namun dihentikan oleh Fang Fang.


“Kaku banget Din nggak enak dilihat.” Celetuk Fang Fang blak blakan. Namun Dina tidak peduli, ia tetap menari sesuka hati hingga membuat Fang Fang hanya geleng kepala, pasrah.


Untung saja kedatangan iring-iringan dari mempelai pria yang begitu ramai dan heboh itu mengalihkan perhatian setiap pasang mata. Musik pun berhenti dimainkan, memberi keleluasaan kepada salah satu orang penting yang telah tiba, menunjukkan pesonanya yang begitu gagah dalam balutan busana merah, khas pengantin tradisional dengan topi guan (冠) yang dikenakan sang pria, menambah kharismatiknya terlihat nyata. Ia berjalan di depan, memimpin rombongan yang di belakangnya persis terlihat empat orang pengawal yang mengangkat tandu kosong. Tandu yang nantinya akan dinaiki oleh pengantin wanitanya. Sang pria datang dengan penuh percaya diri, siap menjemput pulang wanita yang sebentar lagi sah menjadi istrinya.


“Wuaaah... aku tidak menyangka bisa melihat pernikahan jaman kuno di kehidupan modern begini. Bahkan pernikahan nona Yue Xiao tidak seribet ini loh.” Gumam Dina yang sepasang matanya berbinar saking bangga bisa berada di tengah pernikahan akbar tuan dan nonanya yang kentara terasa historis.


Grace pun merasakan hal yang sama, berdecak kagum melihat prosesi formal itu. “Bedalah Din, inikan pernikahan penerus keturunan, yang nikah sang penguasa loh. Jadi wajib sesuai dengan adat lengkap, klan Li kan masih memegang penuh tradisi jaman dinasti. Keren ya, aku nggak sabar lihat pertemuan dua pengantin.”


Dina manggut-manggut, selebihnya ia memilih diam menonton jalannya acara yang menurutnya sangat menarik dan tidak akan terlupakan. Acara yang juga diliput oleh media pilihan yang telah melewati penyeleksian ketat demi keamanan.


Xiao Jun melangkah dengan mantap, ia tak pernah sebahagia saat ini. Dan di hari yang tak terlupakan dalam hidupnya, ia akhirnya bisa mengikat cinta secara resmi kepada Weini.


Hwa... aku datang. Lirih Xiao Jun dalam hatinya, penuh optimis.


***


“Hwa, kamu sudah siap? Pengantinmu sudah datang loh.” Tanya Liang Jia yang kali ini tampak cantik dengan busana hanfunya. Pernikahan yang mengusung tradisi itu mengharuskan keluarga Li memakai atribut lengkapnya sesuai status mereka masing-masing. Ia menatap Weini dengan sorot kagum serta pancaran kebahagiaan yang terlihat nyata. Mendekati gadis itu yang berdiri dalam pose anggun, menunggu untuk dijemput.


“Sudah ibu.” Jawab Weini singkat namun senyumnya terus terlihat jelas.


Liang Jia mengangguk senang, “Ibu juga sudah melihat kesiapanmu, akhirnya ibu juga harus menyerahkan secara resmi kepadamu. Setelah sekian lama menyimpannya, kini tiba saatnya melengserkan posisi kepadanya. Terima ini, mulai saat ini kamu akan mengemban tanggung jawab sebagai penerus klan Li. Semoga pernikahanmu diberkati langit dan leluhur, semoga dikaruniai banyak keturunan.” Liang Jia menyodorkan sebuah cincin kuno yang sudah turun temurun diberikan kepada menantu utama klan Li yang dipercayakan untuk melanjutkan keturunan.


Weini menatap barang pemberian ibunya, mengerti dengan jelas apa yang ibunya harapkan kepadanya. Pernikahan klan Li dan klan Wei ini memberi dua posisi kepada Weini, ia bisa dianggap anak sekaligus menantu oleh ibunya.


“Baik ibu, terima kasih.” Ucap Weini dengan mantap.


Xiao Jun yang melihat itu seketika gugup, merasa debaran jantungnya kian kencang saking senangnya. Ia telah berdiri sejajar dengan Weini, belum saatnya melihat wajah cantik istrinya sebelum mereka melakukan penghormatan. Makcomblang yang dipimpin oleh tetua mulai bersiap memimpin jalannya ritual pernikahan. Dan Weini sedikit mengepalkan tangannya yang dingin, tak dipungkiri bahwa ia merasa gugup dan matanya hanya bisa melirik ujung sepatu merahnya serta sepatu Xiao Jun.


“Hormat kepada langit dan bumi.” Teriak sang tetua. Xiao Jun dan Weini secara bersamaan menganggukkan kepalanya tiga kali.


“Hormat kepada leluhur.” Sepasang pengantin itu berbalik badan, menghormat kepada altar leluhur mereka.


“Hormat kepada orangtua.” Dina yang bertugas sebagai pengiring pengantin wanita pun membantu Weini bergeser agar sampai di hadapan Liang Jia yang sudah duduk di kursinya, dan di samping ada satu kursi kosong yang diwakili dengan foto Li San. Sepasang pengantin itu kembali memberikan penghormatannya. Setelah itu berlanjut menghormat kepada Haris dan Xin Er yang juga duduk di sisi seberang kursi Liang Jia.


“Kedua mempelai saling menghormati, saling menghargai.” Kini Xiao Jun dan Weini saling berhadapan, memberikan penghormatan sebanyak tiga kali anggukan kepala. Sekaligus menjadi simbol bahwa pernikahan mereka telah direstui langit dan bumi, serta keluarga dan semua yang hadir menjadi saksi.


“Nah sekarang mempelai pria silahkan membuka kain penutup mempelai wanita. Selamat ya.” Ujar tetua itu lebih rileks karena sudah di penghujung prosesi.


Tangan Xiao Jun bergetar, saking terharunya telah sah sebagai suami Weini. Ia menyentuh kain merah penutup wajah Weini, perlahan menyibaknya ke atas kepala hingga menampakkan wajah cantik yang tersembunyi di sana. Weini tersipu malu hingga wajahnya bersemu merah saat tatapannya beradu dengan Xiao Jun, begitupula sebaliknya. Momen romantis itu tidak luput dari perhatian semua yang ada di dalam ruangan, dengan kompak memberikan tepuk tangan dan sorakan bahagia.


“Selamat berbahagia Gong Zhu dan tuan Li Jun.” sorak semua yang ada di sana, serentak.


***


Ritual pernikahan yang digelar siang hari berjalan lancar dan membahagiakan semua pihak, namun pesta masih terus berlanjut dengan resepsi pernikahan yang digelar dengan tema modern dan terbuka untuk umum. Meski demikian, demi alasan keamanan maka para pengawal pun bekerja keras memeriksa tamu yang akan masuk ke dalam kawasan kediaman Li. Pesta yang mengusung konsep out door dan in door, saking luasnya kediaman Li dan banyaknya tamu yang diundang.


Impian Liang Jia terkabul, ia ingin sekali mengenakan gaun pesta yang glamor dan modern, dan kini ia tampil sangat menawan dengan balutan gaun berwarna merah maroon. Terlihat kompak dengan Xin Er yang juga mengenakan gaun dengan warna yang sama, sedangkan Haris tampak gagah dengan setelah jas formalnya.


“Ya ampun, keren banget sih Weini.” Gumam Bams yang sedari tadi keceplosan terus saking terkesima dengan kediaman Li serta suasana pesta yang menurutnya sangat mewah. Benar-benar menunjukkan kelas dari pihak yang mengadakannya bahwa mereka mempunyai martabat, status sosial yang sangat tinggi.


“Sssttt kak Bams mulai deh, kan udah dibilang kalau di sini jaga sikap. Panggil beliau dengan sebutan Gong Zhu.” Bawel Dina, yang ditugaskan untuk menemani Bams sepanjang pesta agar tidak seperti orang hilang di keramaian.


Bams cengar cengir, ia sadar melakukan kesalahan dan menggerutui dirinya sendiri yang kerap keceplosan. Sedangkan Stevan dan Grace lebih sibuk untuk berswafoto, mengabadikan momen malam istimewa di kediaman Li yang disulap bak istana modern dengan dekorasi penuh sepanjang pelataran. Adapun Su Rong dan Fang Fang yang sedang mojok dan masih malu-malu, di tempat itu pula Su Rong menyatakan perasaannya dan disambut hangat oleh Fang Fang.


Pengantin belum muncul, antusias para tamu lebih tinggi dan tiba di tempat resepsi satu jam sebelum acara. Perhelatan akbar dari sang nona penguasa tentu membuat orang-orang rela datang lebih awal untuk mendapatkan posisi yang aman agar bisa mengikuti acara dari awal sampai akhir. Tamu yang hadir pun dari berbagai kalangan, semua diberi kesempatan untuk menikmati pesta tanpa terbatas perbedaan kasta. Begitulah yang Weini inginkan dan ia ajukan kepada para tetua saat membahas pernikahannya.


“Sang mempelai datang....” Pekik Dina girang, mendengar pembawa acara yang berkoar-koar dengan ceria. Sontak semua tamu langsung bungkam, memberi apresiasi tertinggi mereka pada pasangan tersohor itu untuk bergabung di dalam pestanya.


Xiao Jun menggandeng tangan Weini, menuntunnya berjalan pelan dan anggun dengan gaun putihnya. “Kamu siap Hwa?” tanya Xiao Jun berbisik di telinga Weini sambil berjalan.


“Siap apa Jun?” Tanya Weini tidak mengerti, namun ia tetap menjaga ketenangannya serta ramah menyebarkan senyuman.


Xiao Jun pun demikian, berjalan dengan gagah dan wajah penuh senyum. Namun ia kembali berbisik kepada istrinya. “Siap menjadi ibu untuk anak-anak kita. Aku tidak akan menunda malam pertama kita, Hwa.”


Dan kata-kata terakhir Xiao Jun yang dibisikkan itu sukses membuat Weini kehilangan senyum. Ia sempat tertunduk menyembunyikan rasa malunya. Tak menyangka bahwa Xiao Jun berani blak-blakan mengutarakan maksudnya. Kata-kata yang singkat namun sanggup menggetarkan jiwanya – malam pertama. Itu artinya Weini harus bersiap melebur jadi satu dengan Xiao Jun malam ini, dan ini sungguh pengalaman pertama mereka.


Dengan malu-malu Weini pun membisikkan jawabannya, “Siapa takut.”


Keduanya saling bertatapan dan tertawa bersama, berjalan dengan pasti menuju singgasana mereka malam ini. Menyongsong masa depan bersama, melalui malam pertama, kedua, hingga berjuta malam bersama.


❤️❤️❤️