
Kepergian semua anak, menantu dan cucunya sekaligus membuat suasana seketika sepi. Paviliun Xiao Jun yang biasanya ramai oleh suara anak-anak serta sesekali diselingi suara tangisan cucunya, kini hanya menyisakan sunyi. Xin Er berjalan beriringan dengan Haris setelah kembali dari mengantarkan kepergian anak-anak mereka. Tinggallah mereka berdua, orang yang sudah tua itu yang menghuni kediaman putra mereka.
Xin Er menghela napas tanpa ia sadari ketika melangkah masuk ke dalam kamar. Haris yang berjalan di sebelahnya pun menyadari keluhan spontan istrinya.
“Ada apa?” tanya Haris penuh perhatian.
Xin Er terkesiap mengetahui keluhan spontannya tak luput dari perhatian suaminya. Xin Er pun menggeleng pelan, menepis kecemasan Haris padanya. “Tidak ada apa apa, hanya belum terbiasa dengan suasana hening.” Ujar Xin Er tersenyum tipis.
Haris merangkul pundak wanita tua itu, menuntunnya agar duduk bersama dan bersantai sejenak. “Ini hanya sementara, nantinya kita akan melihat rumah ini ramai dan berisik dengan suara cucu kita.” Ujar Haris menyemangati Xin Er.
Xin Er bersemangat mendengarnya, sinar matanya pun sudah kembali menyorotkan binar. “Sungguh? Apa kau sudah melihat masa depan sejauh itu? Lalu bagaimana cucu kita? Ada berapa orang cucu dalam kita, berapa orang anak laki-laki dan anak perempuan?” Xin Er keceplosan bersemangat, semakin tua ia semakin ingin menikmati hari harinya dengan membantu mengasuh cucu. Ini juga pertanda bahwa ia sangat berharap putra satu-satunya segera menikah.
Haris tertawa mendengar kerakusan Xin Er yang terlalu bersemangat bertanya. Tawanya bahkan berhasil membuat Xin Er manyun karena merasa sedang ditertawakan. “Kamu sangat bersemangat rupanya, bahkan lebih tidak sabaran ketimbang anak muda. Putra kita saja masih kebingungan bagaimana cara menyampaikan permintaannya pada nona Yue Hwa. Melamar seorang gadis itu jauh lebih memusingkan ketimbang mengurus ritual pernikahannya. Menentukan hari baik itu bahkan lebih mudah daripada meminta kesediaan hati seorang wanita untuk menikah. Kita pernah muda juga, Xin Er. Biarkan saja mereka yang menyelesaikan sisanya, kita tinggal menunggu kabar baiknya.”
Xin Er terdiam, apa yang Haris katakan memang ada benarnya. Ketidak sabaran Xin Er hanya membuat ia terkesan seperti calon mertua yang menyebalkan, yang suka mencampuri urusan anak dan menantunya. Sungguh, Xin Er tidak ingin terlihat seperti itu, sekalipun ia perhatian namun ia tidak akan memposisikan dirinya terlalu jauh.
“Ya, kamu benar... aku tidak akan mendesak lagi, biarkan saja Li Jun yang mengaturnya. Tapi... benarkah kau sudah melihat masa depan mereka? Ayolah, aku hanya ingin tahu berapa jumlah anak mereka. Ah... aku ingin cucu perempuan yang cantik dan imut.” Membayangkannya saja sudah membuat Xin Er senyum senyum sendiri.
Haris menuangkan secangkir kecil teh lalu menyuguhkannya kepada Xin Er. Rutinitas baru mereka setelah beberapa hari hidup bersama lagi, pasangan tua itu sering menghabiskan waktu berdua dengan bertukar cerita serta minum teh bersama. Rasanya tidak ada yang lebih menyenangkan selain menghabiskan waktu berkualitas bersama. Hal yang bahkan sangat jarang mereka lakukan sekalipun pernah hidup bersama sewaktu muda, kini Haris sudah memasuki masa tuanya, tugasnya tetap menjadi pengawal nona penguasa, tetapi ia jauh lebih bersantai ketimbang masih di usia muda yang harus berjibaku dengan pekerjaannya sampai mengorbankan waktu bersama keluarga. Kini semua pengorbanannya terbayarkan dengan sebanding, ia kembali bersatu dengan belahan jiwanya, itu saja sudah cukup baginya.
“Ini hanya prediksi, tidak selalu tepat apa yang terlihat saat ini. Jadi jangan terlalu dianggap serius ya. Nona mempunyai jatah anak empat, tiga laki-laki dan satu perempuan.” Jawab Haris yang akhirnya bersuara. Ia meneguk tehnya setelah menyampaikan prediksi yang dilihatnya.
Wajah Xin Er terlihat sangat bersemangat, tak bisa ditutupi lagi kegirangannya mendengar cucunya sebanyak itu. “Wah... kita punya banyak cucu dalam, berkah bagi klan Wei. Semoga ini sungguh menjadi kenyataan, aku akan menjaga kesehatanku agar bisa membantu menjaga cucu cucu kita.” Gumam Xin Er sangat bersemangat dengan ambisinya.
Haris tersenyum tipis, tidak sesederhana yang Xin Er pikirkan. Pernikahan Xiao Jun dan Weini kelak pasti akan menuai pro dan kontra dari para tetua, dan semua itu karena perkara garis keturunan yang akan jadi perdebatan.
Xin Er manggut-manggut, ia pun setuju dengan pemikiran panjang Haris. “Menurutmu bagaimana bijaknya menanggapi masalah ini? Sekarang mungkin belum jadi masalah, tapi kemudian hari pasti akan jadi perdebatan. Keturunan itu masalah yang serius, dan klan Wei pun harus tetap ada penerusnya.”
“Jika benar nona bisa melahirkan lebih dari satu anak laki-laki, tidak akan masalah bagi nasib kedua klan. Akan ada salah satu anak laki-laki yang akan mengikuti garis keturunan Wei. Hanya itu solusi terbaiknya yang bisa membungkam protes tetua.” Gumam Haris, itulah hasil yang diterawangnya.
Xin Er mengangguk setuju, pemikiran yang bijak dari Haris memang selalu bisa diandalkan. “Aku setuju, ini satu satunya jalan tengah yang bijak. Kamu paling bisa memikirkan hal sekecil apapun dengan baik. Itulah kehebatanmu sejak dulu, suamiku.”
Haris tersenyum tipis mendapatkan pujian dari istrinya, tidak membuat ia besar kepala ataupun merasa bangga dengan kemampuan spesialnya. “Aku sudah tua, kita sebaiknya lebih hidup tenang saja. Duduk santai menyimak apa yang mereka kerjakan, kita hanya perlu memantau ari belakang.”
Xin Er mengangguk setuju, “Aku lega, akhirnya tidak ada lagi yang membelenggu keluarga kita dan juga keluarga Li. Aku harap ini benar benar sudah berakhir, ke depannya tidak ada masalah besar lagi.”
Haris ikut mengangguk setuju, “Ya, aku harap juga begitu. Tapi aku harus mendampingi nona sekali lagi, masih ada satu masalah yang harus ia selesaikan. Dan tidak bisa ditunda lama lagi.” Ujar Haris serius.
Sepasang mata Xin Er menyipit, ia tak paham apa yang dimaksud Haris dan dari raut wajahnya terlihat jelas masalah yang dimaksud memang tak bisa diremehkan. “Ada apa lagi? Apa ada yang menentang nona?”
Haris menggeleng, “Tidak seserius itu, tapi ini sebuah kesempatan untuk pembuktian pada mereka yang masih meragukan kemampuan nona sebagai penguasa. Bagaimanapun statusnya sebagai seorang wanita dan memegang peranan besar tetap disoroti, dan harus ada klarifikasi satu kali tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin memang sudah waktunya bagi dunia untuk tahu apa yang telah klan Wei sembunyikan.”
“Maksudmu?” tanya Xin Er singkat dan penasaran.
Haris terdiam sejenak sebelum mengeluarkan jawabannya, namun ia sangat yakin keputusannya tidak akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari. “Sudah waktunya dunia tahu klan Wei adalah penguasa sihir timur di dunia. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi, mereka tidak akan meremehkan nona jika tahu bahwa gadis penguasa itu bukan gadis biasa. Nona adalah satu satunya penyihir yang sanggup menguasai dua aliran sihir yang bertentangan. Dulu orang yang berkemampuan seperti itu hanyalah legenda, saking mustahilnya hal itu terjadi. Tapi sekarang, nona membuktikan bahwa dia adalah sang legenda hidup. Hanya dia yang sanggup mengontrol sihir timur dan sihir barat secara bersamaan.”
Dan Haris menaruh harapan besar bagi Weini yang ia yakini akan membawa perubahan besar bagi dunia sihir andai kemampuan gadis itu mendapatkan pengakuan.
***