
Seorang pria melangkah ringan keluar dari aula utama, senyumnya mengembang penuh membayangkan promosi jabatan yang pasti akan ia dapatkan setelah memberikan informasi ekslusif kepada kantornya. Penyamarannya berhasil, meskipun pemeriksaan dari keamanan kediaman Li sangat ketat untuk menghindari awak media,
nyatanya ia berhasil memanupulasi identitas hingga bisa masuk dengan mudah.
“Anak muda, tunggu dulu!” Suara Haris dengan santai membuyarkan senyuman puas pria itu. Haris berdiri sambil melipat tangan dan melirik pria itu hingga membuatnya serba salah.
“Ada apa tuan?” Tanya pria itu sok polos.
Haris tersenyum santai, “Aku kehilangan ponselku di aula, jadi setiap tamu yang akan meninggalkan tempat ini terpaksa harus kuperiksa.” Ujar Haris dengan tenang sambil memperlihatkan lencana pengawalnya.
Pria itu tak bisa berkutik, dipertunjukkan lencana seperti itu berarti tidak bisa mengelak dari perintah. Meskipun ia hanya orang biasa, tetapi selama berada dalam lingkungan klan Li, siapapun harus mengikuti aturan di sana. Dengan terpaksa pria itu menurut untuk digeledah tubuhnya, Haris sengaja menjalankan prosedur itu dengan
pemeriksaan sekujur tubuh tetapi sasarannya adalah ponsel dalam saku celana si pria. Haris mengeluarkan ponsel dari saku celana itu, ia melihat pria itu mendelik dan wajahnya memucat.
Haris melihat bolak-balik ponsel itu, bibirnya pun berdecak. “Hmm... Bukan punyaku. Sudahlah, kau boleh pergi sekarang.” Ujar Haris kemudian mengembalikan ponsel itu.
Pria itu tersenyum lega, nyaris saja ia pingsan andai ponselnya diminta untuk diperiksa. Segala usahanya mengambil foto diam diam akan sia-sia. “Terima kasih, pak.” Jawab Pria itu
kemudian bergegas pergi lantaran takut pengawal itu berubah pikiran dan mempersulitnya.
Haris tersenyum misterius dan mengantar kepergian pria itu dengan tatapan tenang. “Ya, semoga harimu menyenangkan.” Ucap Haris masih memasang senyum misterius. Ia membalikkan badan lalu berjalan masuk ke dalam bergabung dengan yang lainnya. Beberapa langkah mendekati pintu, senyum Haris mengembang penuh, sesuatu di luar telah terjadi dan itu membuatnya puas.
Saat keluar dari gerbang klan Li, pria itu sudah tidak sabar untuk laporan pada kantornya. Ia mengeluarkan
ponselnya lalu membuka galeri foto dengan senyum puas, detik selanjutnya senyum itu buyar berganti kepanikan. Ia tak percaya hingga terus memeriksa galerinya tapi tetap tidak menemukan foto yang diambilnya diam-diam.
Pekikan kesal pria itulah yang membuat Haris tersenyum lebar, ia telah melakukan sedikit sentuhan sihir saat memegang ponsel itu. Tanpa membuatnya curiga atau terang-terangan menghardiknya. Haris tahu gerak-gerik mencurigakan pria itu dan mencegahnya di luar, ia telah berhasil mengamankan Weini dari sorotan massa di tengah suasana duka.
***
Dina berlari kencang menuju apartemen Xiao Jun, setelah ngebut pulang ke rumahnya untuk mengemasi baju ke dalam koper dan datang kemari buru-buru. Setelah mengkonfirmasi pada Lau tentang berita duka itu, Lau memang menawarkan pada Dina untuk ikut melayat. Kesempatan itu tentu tidak dilewatkan oleh Dina. Selain sudah sangat
merindukan Weini, ia pun penasaran tentang jati diri Weini yang sesungguhnya. Ia tak mungkin melewatkan ajakan ini meskipun harus tertatih karena serba tergesa-gesa.
Lau membukakan pintu saat Dina membunyikan bel, “Silahkan masuk, Dina.”
Dina mengangguk dengan napas ngos-ngosan, diseretnya koper kecilnya masuk dan berjalan di belakang Lau. “Yang lain belum siap kah?” Tanya Dina yang heran melihat kondisi di dalam yang sepi, hanya ada ia dan Lau saja.
“Nona Grace dan yang lainnya sedang persiapan juga, mereka sudah ada di apartemen mereka. Kita tunggu
sebentar lagi ya.” Jawab Lau santai.
Bel depan berbunyi persis ketika Lau selesai bicara, keduanya saling pandang sejenak kemudian Lau pun inisiatif membukakan pintu. “Itu pasti mereka, sebentar ya.”
“Eh, paman biar aku saja.” Dina inisiatif mengambil alih kerjaan tuan rumah. Jika memang Grace yang datang, Dina ingin melihatnya duluan dan bertanya tentang kabar Stevan.
Begitu pintu dibuka, rasa penasaran Dina malah berubah menjadi terkejut. Baru saja ia khawatir tentang Stevan yang akan ditinggal Grace, rupanya pria itu malah hadir di hadapannya. “Lu ikut juga?” celetuk Dina kaget, ia tak menyangka sambutan pertamanya justru pertanyaan yang menyelidik.
Grace tersenyum pada Dina serta Lau yang berdiri di belakang Dina. Fang Fang membawa koper nonanya dan
hanya diam menyimak pembicaraan mereka. Sementara Stevan tampak tersenyum nyengir sebagai respon pertanyaan Dina.
Dina malah pasang wajah serius dan khawatir, “Emangnya lu udah boleh keluar rumah sakit? Lu udah pulih beneran? Yakin nggak apa-apa?” Tanya Dina dengan sederet pertanyaan.
Stevan mengangguk mantap, “Demi Weini, demi Grace, pokoknya gue pasti kuatin. Udah nggak apa-apa kok,
nyatanya gue masih hidup kan.” Canda Stevan.
“Dia keras kepala, padahal udah ku larang tapi tetap aja banyak alasannya.” Ujar Grace ikut tersenyum pada
Dina.
Dina geleng-geleng kepala, “Yang sabar ya Grace, emang gitu sikap dia. Tapi kali ini gue bisa maklumi lah, Weini lagi berkabung dan kita semua nggak bisa tinggal diam. Kasian dia, setelah ayah Haris meninggal, eh ayah kandungnya juga di waktu yang berdekatan.” Gumam Dina sedih.
“Ayah Haris meninggal? Kapan?” Pekik Stevan kaget.
Dina melirik Stevan dengan heran, “Lu nggak tahu? Oh ya emang sih waktu itu mendadak banget, gue tahunya juga pas insiden malam itu Weini yang cerita. Nggak sempat bilang ke yang lainnya, keadaan udah kacau. Gue juga nggak tahu di mana makamnya, belum sempat ditanyain. Sabarlah, kita doakan saja om Haris dari sini, semoga tenang di alam sana.” Lirih Dina.
Stevan menunduk sedih, ia melewatkan banyak hal pada malam itu. Membayangkan kehilangan Haris yang sudah ia anggap ayah tentunya sangat menyakitkan Stevan, ia bungkam seketika dan tetap menyembunyikan wajah sedihnya dalam posisi menunduk.
Lau yang tahu kebenaran itu hanya diam saja, serba salah dan memang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan fakta. Agar suasana yang tidak enak ini lenyap, ia pun mengingatkan pada fokus utama mereka berkumpul di sini. “Semua sudah komplit kan, kita berangkat sekarang ya.”
Stevan dan yang lainnya mengikuti Lau menuju lantai teratas yang menjadi pangkalan jet pribadi Xiao Jun. Dalam beberapa jam ke depan, mereka akan sampai di tempat asal Weini. Dina sudah tak sabar menanti, ia ingin segera memeluk nonanya, banyak hal yang ingin ia ceritakan namun harus ia tahan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Jet akhirnya terbang dengan berisikan lima orang penumpang, di tengah perjalanan pun Stevan masih banyak diam. Grace mengerti bahwa kekasihnya merasa sedih karena kehilangan Haris. Ia pun tak ingin mengganggunya, membiarkan Stevan menenangkan diri.
“Om Lau, kami harus gimana kalau sudah sampai di sana?” tanya Dina yang gusar memikirkan kesan
pertama yang harus ia berikan saat menginjak kediaman Weini.
Lau tampak berpikir sejenak, “Hmm... yang pasti kalian akan diperiksa dulu karena bukan anggota keluarga. Kediaman klan Li banyak aturan yang mengikat, kau tidak boleh sembarangan bertindak jika bertamu ke sana. Mereka punya aturan hukum yang tidak bisa diganggu gugat oleh negara.” Jelas Lau singkat.
“Bisa dihukum mati gitu?” Tanya Dina shock.
Lau tersenyum geli, “Ya... dulunya begitu, sekarang setelah tuan besar meninggal, kita tidak tahu apakah
peraturan itu akan berubah atau tetap dipertahankan.”
Dina makin tegang namun penasarannya berlanjut, “Siapa penerusnya? Jangan-jangan malah sama kejamnya?”
Lau tersenyum lagi namun lebih serius karena apa yang disampaikannya juga serius. “Nona Yue Hwa adalah
penerus yang ditunjuk langsung oleh tuan besar. Mulai saat ini hingga keturunan Li generasi mendatang ditunjuk, nona Yue Hwa yang akan mengurus kekuasaan klannya.”
Jawaban Lau berhasil membuat Dina terkagum-kagum, dalam benaknya terbayang Weini yang memakai jubah
kebesaran layaknya seorang kaisar wanita. Tiba-tiba ia merasa bangga pada dirinya yang bisa mengenal Weini dan menjadi managernya.
“Aku benar benar tak menyangka, nona Weini rupanya orang hebat. Wah, aku akan melamar menjadi asistennya, asisten seorang penguasa. Ha ha ha....” Tawa Dina melengking seiring khayalannya yang makin menjadi-jadi, dan Lau hanya diam saja tak merespon lagi. Dalam benak pria itu, asisten seorang penguasa adalah sebutan
keren bagi seorang pelayan. Mana mungkin Dina bersedia jadi pelayan jika tahu kenyataan tak seindah khayalannya.