OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 177 KUPASRAHKAN JODOHKU



Kupasrahkan jodohku di pada suratan takdir sebagai penentu


Bukan karena aku enggan berjuang lebih keras lagi


Tapi sebenarnya apa yang sedang kuperjuangkan?


Mungkin justru aku salah memperjuangkan yang bukan milikku …


Ah, sudahlah! Menghadap saja ke depan, berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Aku punya hak bahagia, walau tanpa balas cintamu!


_Quote of Weini aka Yue Hwa_


***


Haris sengaja duduk di teras membaca Koran dengan pembawaan tenang, padahal ia sedang menguping pembicaraan dua gadis di dalam kamar. Ia melipat Koran lalu meletakkan di atas meja, senyum simpulnya menyungging saat firasatnya berkata bahwa suasana hati Weini sudah membaik. Gadisnya yang kuat dan tegar tengah terpuruk oleh perasaan yang membingungkan. Weini dibesarkan oleh Haris dengan segala didikan dan aturan fleksibel yang membuatnya tumbuh menjadi gadis mandiri, keras dan tegar. Tetapi soal cinta yang dapat membutakan logika, sulit diberi aturan untuk mengekangnya. Siapa yang mampu melarang cinta jatuh pada


hati yang mana? Siapa yang bisa memaksakan kehendak untuk tetap dicintai jika yang satu sudah berpaling? Maka Haris memilih diam seakan acuh, ia tak akan mencampuri proses pendewasaan anak-anaknya selama masih dalam jalur yang wajar.


Indera pendengaran gaib Haris menangkap suara yang mencurigakan di sekitar rumahnya, ia menajamkan telinga dan konsentrasi. Sepasang kaki menyelinap di antara celah mobil yang terparkir di seberang jalan, mencuri potret rumah Haris beserta pemiliknya yang sedang bersantai di muka. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, orang misterius itu kabur dengan mobil yang sudah disiapkan di arah berlawanan dengan rumah Weini. Haris dapat merasakan firasat buruk namun tidak tahu bahwa seseorang telah berhasil mencuri potretnya.


Weini mulai tenang dan menguasai diri, ia sendiri merasa konyol harus menangisi seorang pria  yang belum tentu


menangisinya. “Kak, apa aku prescon aja lurusin semuanya. Mau sembunyi sampai kapan kayak orang bersalah.”


Dina yang khusyuk menonton berita infotainment dari ponselnya langsung berpaling dari layar kecil itu. “Ng … menurutku sih percuma non selama tuan Xiao Jun belum kembali. Nanti malah pernyataan non di prescon bakal dimainkan narasi yang provokatif loh buat pihak sana. Takutnya pas tuan Xiao Jun balik ntar mereka bakal ngejar lagi dari versi dia. Intinya bakal panjang urusan sih non.”


“Trus aku harus gimana kak?” tanya Weini setelah dirasa ini tak boleh, itu tak boleh.


Dina menggeleng bingung dan tak tahu harus menjawab apa, “Aneh juga sih nggak ada hujan nggak ada angin kok media yang udah redup berita tentang non tiba-tiba ngungkit lagi. Lucunya mereka giring opini baru yang mengkaitkan masalah percintaan dengan bisnis. Lagian, tahu darimana sih mereka secara tuan Xiao Jun itu tertutup banget privasinya dari publik. Non merasa ada yang janggal nggak?”


Weini paham kecurigaan Dina, semestinya yang tahu masalah pribadi mereka hanya segelintir orang. Lau sudah menyusul Xiao Jun, Haris tak mungkin melakukannya, apalagi Dina dan Stevan yang anti banget diliput media. “Pasti ada orang terdekat yang bocorin ke media. Kita nggak tahu urusan bisnis Xiao Jun, aku malah tahunya dari wartawan. Apa menurutmu benar kak perusahaan Xiao Jun terancam kolaps?”


Dina mengangkat bahu sama halnya dengan Weini, ia sudah lepas kontak dengan bos muda dan pengawalnya sejak hari di mana mereka kembali ke Negara asalnya. “Nggak tahulah non, kita mana pernah tahu urusan mereka. Aku ngertinya cuman bantuin dia pedekate ama Non, udah itu aja!” ujar Dina polos.


mungkin Xiao Jun yang menyebar rumor itu? tapi buat apa?” ujar Weini heran.


“No! no! nggak mungkin non, aku berani taruhan lah. Tuan Xiao Jun bukan tipe cowok cemen, mending sekarang diam non. Diam itu emas!” kilah Dina, sebagai manager ia punya hak memberi masukan pada artisnya.


“Diam sampai kapan kak? Kalau dia nggak balik-balik, aku tetap harus menghadapi kenyataan. Ini tentang hidupku, karierku kak!” seru Weini, logikanya mulai berjalan. Ia tak bisa terus-terusan merana seakan hidup hanya sampai di saat Xiao Jun meninggalkannya tanpa kepastian.


“Yaa … ng …” Dina tak bisa berkata lagi, ia sendiri bingung dengan keadaan. Andai ia yang berada di posisi Weini pun mungkin ia lebih parah dari yang Weini lakukan.


“Kuberi batas waktu hingga satu bulan lagi, jika ia tetap tak berkabar dan tidak kembali maka aku buka lembaran baru.” Ujar Weini mantap sambil menatap ke depan, menghiraukan betapa menganganya mulut Dina yang terkejut mendengar tekadnya.


“Yakin tuh non?” tanya Dina yang malah seperti penggoda kemantapan hati Weini, ia ragu kalau ucapan itu sesuai dengan suara hati Weini.


Diragukan seperti itu malah membuat Weini kembali memikirkan ulang keputusannya, seyakin itukah dia? Bagaimana kalau penantiannya berujung manis dengan kembalinya Xiao Jun dan semua kembali baik-baik saja? Atau mungkin hatinya yang terlanjur beku sekembalinya Xiao Jun nantinya dan semua tak lagi sama? Satu bulan apakah terlalu cepat untuk memutuskan move on dari segalanya?


Weini memikirkannya, ia berkata dengan mudah dan kini ragu dengan tekadnya. Jemari tangan kanannya memainkan cincin di jari manis tangan kiri, masih ada ikatan yang tersemat di sana dan entah masih berlaku sampai kapan di jarinya.


***


Libur syuting hari ini tanpa agenda apapun bagi Stevan. Setelah mencoba merelakasasikan pikiran dengan bermalas-malasan di tempat tidur sejak pagi, aktor ganteng itu akhirnya merasa bosan. Pikirannya menerawang lagi memikirkan Weini dan kejadian semalam. Ia flashback perjalanan cinta Weini dan Xiao Jun yang baru seumur jagung. Betapa singkat romansa di antara mereka yang baru saja memutuskan bersama dan menyisihkan dirinya, lalu kini dipisahkan oleh konflik yang belum ketahuan ujungnya.


Stevan menempelkan tangan di atas kening, membayangkan seandainya Weini memilih ersamanya, apakah ada jaminan bahwa hubungan mereka lebih baik dibanding bersama bos muda itu? “Seenggaknya gue nggak bakal ninggalin elu tanpa kabar. Seenggaknya nyokap gue pasti sayang banget sama elu dan restuin hubungan kita. Mending ama gue aja Weini …” gumam Stevan memberikan penilaian dari sudut pandangnya.


Mencintai seseorang yang latar belakang bahkan Negara yang berbeda jelas terbentang tantangan yang melelahkan. Stevan meyakini bahwa profesi yang sama dan intensitas kerja bersama lebih menjamin kecocokan di antara ia dan Weini. “Lu pacaran ama dia, ketemu aja belum tentu udah seratus kali. Lu main sinetron ama gue, udah ratusan episode yang artinya udah hampir tiga ratus hari lu ketemu mulu ama gue. Gue lebih mengenal lu daripada si bos resek itu!”


Pikiran jahat Stevan muncul, memikirkan jalan merebut hati Weini kembali. “Gue ikhlasin lu sama dia dengan catatan dia nggak bakal nyakitin lu. Sekarang udah kejadian, berarti bukan salah gue dong kalau gue mulai deketin lu lagi. Selama lu nggak tersakiti, gue rela … nggak perlu sekarang kita jadian yang penting gue nggak


mau lihat lu sedih lagi!”


Ada semangat baru yang lahir dari hati Stevan, jangan salahkan ia yang hanya tahu mencintai satu gadis. Memperlakukan cintanya sedemikian spesial, seolah hanya ada satu gadis di dunia ini yang bisa dicintai. Stevan bergegas keluar dari zona nyaman, ia sudah tahu kemana tujuan menghabiskan waktu kosongnya.


“Otw hatimu.”


***