
Xiu Fung duduk dengan canggung di dalam jet yang ditumpanginya, baru beberapa hari ia dipaksa kemari oleh salah satu pengawal Chen Kho. Jika bukan karena ancaman yang membahayakan nyawanya, ia tidak akan sudi bekerja untuk Chen Kho sekalipun bayarannya mahal.
Gadis pelayan itu melirik sekilas, melihat pengawal yang terus mengawasinya kita tertidur pulas di sampingnya. Tangannya mengepal geram, Xiu Fung menyimpan dendam pribadi pada para pengawal yang telah memaksanya itu. Ia memalingkan pandangannya ke arah luar, melihat tempat ia berada yang tak juga menguntungkan. Setelah keluar dari jebakan rumah dalam air, kita ia duduk pasrah di atas udara, mengantarnya ke daratan yang juga belum pernah ia kunjungi.
Xiu Fung teringat beberapa saat lalu ketika Chen Kho memeriksanya, ia nyaris ketahuan menyelendupkan kertas rahasia dari Weini.
"Mana catatan yang dia pesankan untukmu?" Tanya Chen Kho menatap curiga pada Xiu Fung.
Gadis pelayan itu menyerahkan dengan kepala menunduk. "Ini tuan."
Chen Kho membaca semuanya, permintaan yang cukup jelas dalam bahasa Mandarin. Pria itu hanya mengernyit lalu menatap tajam pada Xiu Fung.
"Yang satu lagi mana?" Desak Chen Kho, senyum seringainya tampak sangat menakutkan.
Xiu Fung memucat, air mukanya sangat jelas terbaca bahwa ia menyimpan rahasia dan tidak tenang. "Mak... Maksud tuan?" Tanyanya berpura-pura, padahal ia tidak pandai dalam hal itu.
Chen Kho berjalan mendekati gadis pelayan itu, lekuk bibirnya seperti menyindir kemampuan gadis itu yang tidak profesional beracting.
"Kenapa kamu terlihat gugup? Aku hanya bertanya, siapa tahu masih ada catatan yang tertinggal padamu." Bisik Chen Kho persis di telinga gadis itu.
Desisan ringan itu menimbulkan desiran napas yang menyentil daun telinga Xiu Fung, membuat gadis itu bergidik ngeri. Ia sedikit menggelinjang lalu mundur beberapa langkah menjauhi majikannya.
"Ha... Hanya itu saja yang nona itu berikan, tuan."
Xiu Fung tetap berusaha berkelit, meski ia tidak pandai berpura-pura, namun ia sudah terlanjur berbohong, Chen Kho pasti akan menghukimnya walaupun ia mengakuinya sekarang.
Chen Kho menyeringai, pertahanan gadis pelayan itu terasa menguji kesabarannya.
"Aku bukan orang yang murah hati memberi pengampunan, tapi kalau kamu mau jujur sekarang, belum terlambat untuk mendapatkan maafku."
Xiu Fung tetap pada pertahanannya, ia menghindari tatapan Chen Kho dengan menundukkan kepala. Habis sudah kesabaran Chen Kho, ia merasa dipermainkan oleh para gadis di belakangnya. Tanpa menunggu respon gadis pelayan itu lagi, Chen Kho dengan kasar menarik tangan gadis itu.
Xiu Fung terkesiap, ia tak menyangka akan mendapatkan serangan mendadak. Sulit baginya mengalahkan kekuatan seorang pria, terlebih Chen Kho yang dibutakan emosi serta energinya yang sangat besar. Tubuh Xiu Fung ditarik lalu dihempaskan hingga menubruk meja.
"Tuan... Ampuni aku." Xiu Fung memelas dalam tangisannya, perutnya terasa nyeri karena benturan keras saat menabrak meja.
Ia bergegas menghindari Chen Kho yang tampak mendekatinya lagi. Tetapi percuma saja, Chen Kho lebih gesit sampai di dekat gadis itu lalu memeluk tubuhnya dari belakang.
Xiu Fung berteriak kencang, hatinya terguncang serta raganya terancam mendapatkan pelecehan. Tangan Chen Kho mulai memegang pinggangnya, teriakan gadis itu terdengar menggemaskan. Bukannya iba, Chen Kho malah semakin bergairah mendapatkan penolakan.
"Kamu meremehkanku? Kalau begitu aku akan mengajakkmu bermain-main dulu sebelum kau pergi." Bisik Chen Kho di telinga gadis itu.
Xiu Fung menangis ketakutan, suaranya sudah parau berteriak namun Chen Kho justru mulai menggerakkan tangannya menuju bagian atas tubuhnya.
Chen Kho berdiri termenung sejenak, tiba-tiba ia merasa iba dengan gadis itu. Nalurinya berkata agar ia berhenti mengintimidasinya. Tapi di sisi lain, ada bisikan yang memprovokasi pikirannya agar jangan memberi ampun. Ia hanya terpaku diam, dilema menentukan sikap.
"Aku bersumpah hanya itu yang nona itu berikan. Aku berani mati jika berbohong." Teriak Xiu Fung sambil sesenggukan, ia jelas tahu dirinya sedang berbohong tapi ia mempertaruhkan nyawanya mengatas-namakan sumpah. Ia tetap akan celaka sekalipun ia berkata benar saat ini, lebih baik bertaruh dalam ketidak-jujuran dari awal hingga akhir.
Meskipun akhirnya Xiu Fung berhasil selamat, karena entah mengapa tiba-tiba Chen Kho berbalik dan meninggalkan begitu saja hingga ia bisa lari kabur secepatnya dari kamar itu. Tetapi Xiu Fung tetap tidak bisa bebas, ia masih terikat pekerjaan yang memperbudaknya ini.
"Kau mau ke mana?" Pengawal di sebelah Xiu Fung terbangun dan tahu kalau gadis itu beranjak dari tempat duduknya.
Xiu Fung terkesiap, bola matanya berputar ke kira lalu ke kanan, ia tampak berpikir keras.
"Aku mau ke kamar kecil." Jawabnya segera saat mendapat akal.
Ia berhasil lolos lalu segera mengunci pintu kamar kecil. Ini hanya alasannya saja, karena sebenarnya ia penasaran apa yang Weini tuliskan dan perintahkan padanya. Dikeluarkannya secarik kertas yang ia selipkan dalam pakaian dalamnya itu, matanya menyipit begitu membaca tulisan tangan Weini yang rapi namun tidak bisa ia pahami sama sekali. Weini menuliskan dalam bahasa Indonesia.
"Kau sama gilanya nona, kau menyuruhku mencari cara tapi kau tidak peduli keselamatanku. Apa imbalanmu jika aku berhasil menolongmu?" Gumum Xiu Fung merasa konyol karena harus terlibat masalah ini. Masalah yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengannya tapi ia justru terjebak di dalamnya.
πππ
Chen Kho berdiri di depan kamar Weini, setelah ia jenuh minum sendirian di kamarnya. Tangannya membawa satu botol Whisky yang baru setengah ia habiskan. Agak lama ia berpikir, antara ragu harus mengganggu Weini atau membiarkan gadis itu istirahat. Cukup lama berpikir, akhirnya ia menghela napas kasar lalu menggedor pintu itu.
Weini tengah duduk bersemedi namun konsentrasinya pecah saat mendengar ketukan yang nyaring itu. Sudah ia duga, Chen Kho tidak akan memberikan ketenangan baginya. Si pembuat masalah itu kini datang mencari masalah baru dengan Weini.
"Buka... Aku tahu kamu tidak tidur!" Teriak Chen Kho kesal sambil terus menggedor.
Weini membuka matanya, percuma mengindari masalah jika ia terus datang mengancam, lebih baik secara berani ia hadapi saja. Weini beranjak dari ranjang kemudian berjalan membukakan pintu.
Chen Kho baru saja hendak mengulangi ketukannya, tangannya masih diangkat dalam posisi mengepal, namun pintu sudah terbuka dan gadis yang hendak ia temui pun berdiri di hadapannya.
Weini melipat tangannya, ia tak bersedia menatap Chen Kho, pun enggan melontarkan sepatah katapun. Ironisnya Chen Kho justru terbahak-bahak, ia cukup sadar apa yang ia lakukan dan bukan dalam pengaruh alkohol tapi ia tak bisa menahan ketawanya.
"Kau juga menatapku seperti itu? Kau juga membenciku? Ha Ha Ha... Aku sudah kebal dengan perlakuan seperti itu. Tidak ada yang bisa menerima keberadaanku di dunia, aku selalu salah, aku tidak berguna!"
Tawa Chen Kho kembali terdengar, dan Weini masih tak bersedia menatapnya, hanya saja ia terkejut mendengar keputus-asaan pria itu. Weini tak menyangka pria beringas itu juga punya sisi kelam yang menyedihkan, hati kecil Weini tersentuh, perlahan ia memalingkan wajahnya menghadap Chen Kho. Weini terkesiap melihat pria itu menangis dalam tawa yang kencang.
Dia terluka, hatinya terluka.
Gumam Weini dalam hatinya yang mulai mengasihani Chen Kho.
πππ
Hi all, sertakan komen dan like ya. plis dukung author ya. π makasih.