
Segelas penuh Whisky diteguk tanpa jeda oleh Stevan, gelas ke lima yang ia habiskan tanpa ragu. Ia tak peduli akan mabuk atau bahkan tidur sepanjang hari karena efek alkohol, yang ia tahu hanyalah menghabiskan stok setengah lusin minuman itu sampai tumbang.
Ingatan Stevan diputar…
Dina baru saja pamit dari hadapan mereka setelah makan, Xiao Jun pun berniat kembali menjenguk Weini namun tangan Stevan lebih cepat mencegatnya.
“Gue belum selesai ama lu!” tatapan Stevan seperti menantang. Sejak tadi ia menunggu kesempatan bicara empat mata dengan pria yang baru saja memenangkan cinta gadis yang ia sukai.
Xiao Jun menerima tawaran untuk tinggal sejenak lagi, ia melirik tangan Stevan yang mencengkeramnya dengan kuat. Stevan menyadari lirikan itu lalu melepaskan genggamannya. Ia menyodorkan ponsel setelah i unlock.
“Minta no Wa mu.”
Antara lucu dan kesal, Xiao Jun nyengir sembari mengambil ponsel itu dan memasukkan nomor sesuai permintaan Stevan. Kalau hanya meminta nomor, kenapa lagaknya seperti menantang berantem? Kira-kira itulah yang terlintas di pikiran Xiao Jun.
“Ada hal penting yang akan gue kirim ke lu. Gue percayakan kasus Weini di tangan lu.” Sergah Stevan.
Xiao Jun masih terdiam, meskipun masih bingung namun ia memilih tidak berkomentar apapun sebelum Stevan puas mengeluarkan uneg-uneg.
“Satu lagi!” benar dugaan Xiao Jun, ucapan Stevan seperti drama bersambung. Nggak afdol bila langsung diutarakan sekaligus.
“Jangan seneng dulu, gue cuman hargai keputusan Weini milih lu. Sekali lu nyakitin dia, gue bakal masuk dan rebut dia!”
Ingatan ditutup…
Mungkin ini yang disebut netizen ‘sakit tapi nggak berdarah’, kalau nurutin sisi egoisnya sudah pasti Stevan tidak akan membiarkan mereka berpacaran dengan tenang. Namun cara itu pasti semakin membuat ia terlihat tidak bermoral di mata Weini.
Botol terakhir begitu menggoda, Stevan meraih dan langsung meneguk dari sumbernya. Berharap lukanya larut bersama air memabukkan itu, berharap esok saat terbangun perasaan yang terlanjur disebut cinta itu lenyap dari ruang hatinya.
***
Li San menjamu kakaknya menikmati makan siang bersama di taman bunga dalam lingkungan rumahnya. Bukan karena mereka penikmat bunga yang tengah bermekaran, namun Kao Jing sengaja meminta waktu privat yang
jauh dari jangkauan siapapun. Usai makan, mereka lanjut memainkan Xiangqi (catur China) dengan santai tanpa ditemani pengawal.
“Kakak, waktu kecil kita sering menikmati teh krisan di sini. Rasanya kenangan itu baru terjadi kemarin sore, kita masih berlarian mengejar layangan. Dalam sekejab mata rambut sudah mensalju, dan kita kembali menikmati secangkir teh di tempat ini.” Li San bernostalgia tentang masa kecil yang indah bersama saudara laki-lakinya. Di mana tidak ada intrik, tidak ada beban kehidupan orang dewasa.
Kao Jing mengambil cangkir tehnya dan bersulang dengan Li San. “Hahaha… kau ingat, dulu kita sering berbohong tersesat di taman demi lolos dari kemarahan ibu saat pulang kemalaman.”
“Adik, kuakui kau memang pantas menjadi penerus keluarga Li. Di tanganmu kekayaan leluhur kita berlipat ganda dan semua asset yang ditinggalkan masih terawat seperti taman ini.” Timpal Kao Jing.
Li San tertawa kecil sembari menggeleng kepala, “Kakak terlalu memuji, adik tidak berarti apa-apa tanpa dukungan kakak.”
Kao Jing mengelak dari pujian itu, ia lebih senang masuk ke pokok pembicaraan. “Kita sudah menua, semua kejayaan ini kelak bergantung pada tangan penerusnya.”
Kata-kata menohok itu seperti pisau bermata dua yang menohok, Li San mulai was-was dengan lanjutan pembicaraan ini. “Haha… kakak benar, itulah sebabnya adik bekerja keras mempersiapkan semua itu. Tentu tidak
akan mengecewakan kakak.”
Kao Jing menghela napas, diletakkannya gelas separuh kosong yang sedari tadi dipegang. Digerakkan bidak putihnya, sebuah peluang menuju kemenangan di saat Li San lengah. “Adik, kau sangat mengenal aku yang tidak
berambisi soal tahta. Ketika Ayah memilihmu sebagai pewaris, aku pun berdiri di belakang mendukungmu. Tapi kini aku sangat khawatir, apa kau yakin menunjuk penerus dari marga lain untuk menjaga seluruh asset leluhur kita?
Apa yang tak ingin didengar Li San ternyata terlontar begitu saja. Ketakutan yang selama ini ia jauhi nyatanya tak bisa dihindari. “Ah… haha… Kakak, mengenai itu dia sudah menjadi putraku. Seluruh Hongkong mengetahuinya. Aku pun tidak sembarang memilih orang, dia bisa diandalkan.”
“Darah tetap darah, tidak bisa dibandingkan dengan air. Kau hanya memaksa semua orang untuk menerimanya, tanpa sadar bahwa dia tetap orang lain. Sekarang kau beri dia kebebasan berbisnis, mana tahu besok ketika dia sudah menguasai semuanya maka dia balas dendam. Anak mana yang bisa tenang melihat ibunya menjadi pelayan?”
Li San tertohok, yang diucapkan Kao Jing ada benarnya. Mungkin ia yang belum sepenuhnya mengenal Xiao Jun. Pertanyaan pertama yang Xiao Jun ucapkan pada Lau waktu itu justru menanyakan ibunya, ia bahkan
“Lalu… menurut kakak bagaimana baiknya?” Li San mulai tak bersemangat, dalam hatinya terjadi perang kepercayaan. Di sisi lain ia merasa Xiao Jun tidak akan mengkhianatinya, di satu sisi pula pendapat Kao Jing
cukup masuk akal.
“Jadikan ia bidak catur untuk melindungi raja yang sesungguhnya.” Kao Jing tersenyum licik, umpannya berhasil menggoyahkan sedikit keyakinan Li San.
“Maksud kakak?”
“Keluarga Li tetap menjadi raja. Dia sudah kau karuniai nama marga leluhur kita. Hanya dengan membuktikan dia pantas atau tidak menerima warisan yang tiada duanya. Saranku, masukkan orang kepercayaan kita untuk mengawasinya.”
Li San mengusap kumis, ia paham maksud kakaknya. “Siapa orang itu?”
“Putraku , Li Chen Kho.”
“Chen Kho… dia lulusan bisnis terbaik dari luar negri, ah… kenapa baru terpikir. Dia sudah lama bermain-main di sini. Kakak benar, aku akan mengangkatnya sebagai kepala pengawas perusahaan di Hongkong.” Li San
terlihat sangat antusias, ia mengangkat gelas untuk mengajak Kao Jing bersulang.
Kao Jing merengut, apa yang diinginkannya bukan seperti itu. “Kenapa di Hongkong? Bukankah lebih baik mengirimnya ke Jakarta untuk mengawasi Xiao Jun?”
“Sejak dia keluar negri, kondisi perusahaan dipegang oleh wakil direktur. Daripada diberikan pada orang lain, lebih baik orang dalam yang menempati. Dengan begitu, bisnis segala cabang bisa terkendali haha.”
Li San tertawa senang, setidaknya ia masih sanggup menekan pergerakan kakaknya agar tidak mencampuri urusan lebih dalam. Meskipun tersisa kecemasan, sampai kapan ia mampu melindungi apa yang semestinya diberikan pada putranya. Semua itu karena ia terlanjur sayang, tak peduli dari mana ia berasal, tak peduli kelak Xiao Jun akan membencinya.
***
Weini baru saja tertidur lagi ketika Xiao Jun kembali. Wajahnya terlihat pulas dan tenang, ia tidur bagaikan putri yang tersenyum dikawal dayang.
“Kamu tidak pulang?” suara Haris membuyarkan perhatian Xiao Jun pada wajah Weini.
“Maaf, aku tidak sadar paman di sini. Aku ingin menjaga Weini, paman bisa beristirahat dulu.” Xiao Jun terlihat cemas melihat Haris terjaga sepanjang malam. Secara fisik, Xiao Jun merasa lebih tahan begadang dibandingkan
pria yang ditaksirnya berusia kepala 5 akhir.
“Heh? Apa orangtuamu tidak marah kalau kau semalaman di luar? Anak muda… eh, bagaimana aku memanggilmu?” Haris tampak kebingungan dengan panggilan Xiao Jun.
“Panggil Xiao Jun, paman. Aku tinggal dengan pamanku dan dia sedang pulang ke Hongkong.”
Haris mengangguk, “Baiklah. Aku tidak akan menghalangi niatmu asal kau tidak keberatan berbagi tempat tidur.” Haris menunjuk sofa di ruang VIP yang hanya muat ditempati satu orang dewasa.
“Aku tidak ngantuk, paman saja yang tidur. Aku duduk di samping Weini saja.”
Mendengar tawaran itu, Haris segera merebahkan diri. “Baiklah. Jangan menyesal ya anak muda.” Haris belum terbiasa mengucapkan nama itu, terlalu berat baginya.
Xiao Jun tersenyum, ia teringat pembicaraannya dengan Stevan barusan. Weini sedang terlelap, kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk membahas hal yang lebih serius.
“Paman, soal gugatan itu... percayakan padaku! Akan kubereskan semuanya tanpa perlu mempersulit Weini.”
Haris tersenyum simpul, kata-kata itulah yang ia tunggu. Cinta tak hanya diapresiasikan lewat kalimat, tapi dinilai dari seberapa mau ia berkorban.
“Lakukanlah!”
***