
Dengarkan perintahku... siapapun yang mendengar ini akan percaya sepenuhnya padaku!
Haris terkesiap melihat semua orang yang di ruangan itu menatap dengan tatapan kosong, mendengarkan Weini dengan kepatuhan dan hanya Haris yang tidak terpengaruh sihir Weini yang masih bekerja. Kerja bagus, nona... aku tidak menyangka kamu bisa mengendalikan pikiran orang sebanyak itu secara bersamaan. Gumam Haris merasa bangga pada Weini.
“Aku harap kalian mengerti bahwa menjadi kuat dan memiliki kemampuan ini, bukan aku yang mencari dan mengharapkannya. Tapi semua yang datang begitu saja, tentu tidak bisa aku elakkan. Aku bisa pastikan kekuatanku ini tidak akan membahayakan siapapun, dan tak perlu dikhawatirkan.” Tegas Weini lantang, suaranya merasuk hingga ke benak siapa saja yang mendengarnya, tanpa bantahan dan tanpa celaan.
❤️❤️❤️
Di saat bersamaan ketika sedang serius menonton, ucapan Weini menggema dan membekas dalam ingatan siapapun yang mendengar suaranya.
“Hah?” Xiao Jun terkesiap, ia bisa merasakan jelas tanda-tanda gelombang sihir dalam ruangan itu. Sontak Xiao Jun berdiri dari posisi duduknya, kemudian mengamati orang orang di sekelilingnya yang tampak terdiam dengan tatapan kosong. Pandangan Xiao Jun beralih lagi ke proyektor, memperhatikan raut wajah Weini yang serius. Dan saat itu pula ia tahu bahwa kekuatan sihir yang ia rasakan berasal dari Weini.
“Kamu hebat, Hwa... sihirmu bahkan menembus jarak dan dimensi. Aku sungguh salut padamu, gadisku.” Gumam Xiao Jun, senyumannya mengambang jelas untuk gadis dalam layar itu. Ada rasa bangga bisa memiliki cinta gadis sehebat itu. Weini bukan hanya memesona lewat keanggunan parasnya, namun mempunyai kekuatan yang dasyat dan mengungguli ayahnya.
Sesaat setelah Weini selesai mengutarakan maksudnya, keadaan seketika kembali normal. Xiao Jun masih berdiri dan mengamati orang-orang yang ada di dalam ruangan itu. Ia cemas pengaruh sihir Weini tidak akan bertahan lama, dan orang-orang itu tidak bisa dibungkam lagi. Sementara ini yang bisa ia lakukan hanyalah mengamati mereka, menunggu waktu apakah perlu ia turun tangan atau tidak.
Bams dan Dina saling pandang, mereka takjub dengan apa yang diungkapkan Weini. “Wow... sebuah pengakuan yang luar biasa, keren ya Weini, kayak Elsa hidup.” Celetuk Bams.
“Elsa? Ha ha ha... tapi kan dia gadis bertopeng, yang satunya lagi nggak. Ah beda deh, jangan bilang mau dibikin film juga pak!” Seru Dina menanggapi Bams yang tampak antusias.
“Tapi gue nggak nyangka, di dunia ini masih ada yang begituan ya. Sihir atau apalah itu, gue kira hanya fiktif belaka. Ternyata Weini buktinya, dia bener-bener keren.” Gumam Bams dengan sorot mata antusias.
Stevan hanya senyam senyum mendengar apa yang dikomentari dua sahabatnya. Bisa jadi ia lah yang pertama tahu tentang kekuatan tersembunyi Weini, dan ia bersyukur karena gadis itu telah membuat pengakuan mencengangkan.
“Sepertinya hanya dia dan kakakku yang mewarisi sihir. Aku benar benar hanya orang biasa, hmm... sepertinya keren juga ya punya kekuatan super.” Gumam Grace yang duduk di sebelah Stevan.
Stevan menatap lembut pada gadisnya, ia pun reflek menggelengkan kepala sebagai respon terhadap apa yang Grace ucapkan. “Bagiku tidak perlu punya kekuatan super apapun, cukup jadi manusia biasa yang dipenuhi cinta. Itu saja sudah sangat istimewa... Weini memang sepertinya ditakdirkan untuk menjadi orang yang luar biasa. Aku sudah tahu sejak dulu, kalau dia punya kemampuan yang lain dari orang pada umumnya. Dan dia juga yang membantumu selamat saat keadaanmu kritis, ah... jika mengingat itu, aku jadi merasa sangat bersalah. Dia membantumu tapi aku malah salah menilainya.” Lirih Stevan, mengenang sejenak masa masa buruk itu.
Grace meraih tangan Stevan menatapnya lekat denga pancaran dua pasang bola mata yang saling beradu. “Jangan diungkit lagi... apapun yang menyakitkan jangan dibahas lagi. Aku tahu Weini yang menyelamatkan aku waktu itu. Dan aku setuju, tidak perlu jadi orang sehebat dia, cukup punya satu orang yang tulus mencintaiku saja sudah membuat hidupku terasa istimewa. Makasih ya, Stevan.” Lirih Grace. Ajang preskon itu malah menjadi ajang unjuk perasaan bagi sepasang sejoli itu, membuat mereka mengabaikan sekitarnya dan saling mabuk asmara.
Xiao Jun hanya nyengir melihat pasangan yang duduk tepat di sampingnya, suasana ini membuatnya seperti terjepit rasa canggung. Meski demikian, ia turut bahagia melihat Grace sudah menemukan kebahagiaannya. Setelah apa yang mereka lewati di masa lalu, dan banyaknya kepedihan serta air mata yang Grace torehkan akibat dirinya. Semua terbayarkan dengan manis, pada akhirnya semua mendapatkan kebahagiaan yang memang layak untuknya.
❤️❤️❤️
Beransur-ansur kondisi aula utama mulai tampak sepi, sebagaian wartawan masih tertinggal di dalam sana, berharap mendapatkan sesi ekslusif dari Weini. Namun sayangnya, Weini tetap tegas menolak dan menyudahi jatah tampilnya. Ia mohon undur diri dari hadapan mereka lalu berjalan masuk ke lorong samping yang menghubungkan ruangan lain di aula utama. Liang Jia serta dua kakaknya pun mengikuti langkah Weini, berpamitan dari semua yang ada di sana.
Liang Jia tersenyum kecil, di satu sisi ia merasa kejujuran Yue Xiao sangat imut, dan di sisi lainnya ia sangat bersyukur melihat anak-anaknya bisa akur. Weini pun ikut tersenyum kecil, ia mengambil sapu tangan kakaknya kemudian menukarkannya dengan miliknya. “Ya sudah, kakak pakai punyaku saja. Biar aku yang simpankan sapu tangan basahmu.” Gumam Weini.
Yue Xiao tersenyum girang, bukan karena mendapatkan sapu tangan yang lebih bagus, namun karena Weini tampak sangat memperhatikannya. Ia terharu, sungguh terharu melihat kepedulian adiknya. “Makasih ya adik, hmmm... aku pasti akan sangat merindukanmu ketika aku sudah menikah nanti.” Celetuk Yue Xiao masih dengan senyuman di wajahnya.
Weini terkesiap, ia memandangi wajah ibunya untuk mendapatkan penjelasan. “Apa calon suami kak Yue Xiao sudah ada?” Tanya Weini yang ditujukan pada ibu dan kakaknya.
Yue Xiao tersenyum malu-malu, senyum yang menulari Yue Fang yang sejak tadi diam di sampingnya. Liang Jia melihat tingkah ketiga anak gadisnya dan ikut tersenyum pula. “Penasehat He baru mengabari ibu, ada dua kandidat yang cocok untuk Xiao. Sementara ini belum diputuskan yang mana, karena ibu menyerahkan pada Xiao untuk menentukan pilihannya. Biarkan mereka berkenalan dulu, atau bagaimana terserah anak muda saja.” Gumam Liang Jia.
“Ibu, menurutku pria pengusaha dari Beijing itu boleh juga. Orangnya terlihat baik dan wajahnya imut.” Ujar Yue Xiao malu-malu, tapi jelas ia menunjukkan ketertarikan yang lebih pada pria yang ia maksud itu.
Liang Jia menatap seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Benarkah? Secepat itu kamu sudah yakin dengan pilihanmu?” Tanya Liang Jia meyakinkan sekali lagi apa yang pilihan yang dijatuhkan putrinya.
Weini hanya menyimak dengan senyum yang terus terukir di lekuk bibirnya. Siapapun yang kakaknya pilih, selama mereka bisa saling mencintai, maka ia akan merasa lega dengan perjodohan ini.
“Ng... tentu saja, ibu. Aku lihat dari fotonya saja, hatiku sudah yakin dia yang terbaik.” Jawab Yue Xiao mantap.
“Wah... kalau begitu apa yang ditunggu lagi, baguslah kita akan merayakannya segera. Betulkan ibu, adik?” tanya Yue Fang antusias.
Yue Xiao mengangguk setuju, “Ya... setidaknya aku tidak dilangkahi oleh adik Yue Hwa. Tapi tetap saja aku melangkahimu, kakak Yue Fang. Maafkan aku kak.” Lirih Yue Xiao menundukkan kepalanya pada kakaknya.
“Tidak masalah, aku pun belum terburu-buru memikirkan hal itu. Kalau kamu sudah siap dan menungguku, aku takut kamu keburu tak sabaran. Ha ha ha....” Canda Yue Fang tampak sangat bahagia.
“Terima kasih, kakak.” Gumam Yue Xiao senang.
Yue Fang menatap lekat pada adik bungsunya yang belum berkomentar apapun, “Adik, aku sangat bangga padamu. Apa yang kamu lakukan hari ini menunjukkan kesiapan dan kelayakanmu menjadi pemimpin kami. Ada yang ingin ku sampaikan... sama halnya dengan Yue Xiao, akupun tidak keberatan kamu segera menikah. Berbahagialah adik-adikku, dan aku akan di sini merawat ibu, sampai hatiku siap untuk menjalani hidup baru seperti kalian.”
Weini terharu mendengar perhatian dan kelapangan hati Yue Fang. Tanpa kata-kata yang dilontarkan sebagai jawaban, Weini justru memberikan reaksi yang di luar perkiraan. Diraihnya tangan Yue Fang dan ditariknya ke dalam dekapan, membuat kakaknya terkejut sesaat lalu tersenyum dan ikut larut dalam suasana dan memeluknya kembali. Tak ketinggalan, Weini merenggangkan pelukannya kemudian menarik Yue Xiao dalam pelukan.
Biarlah sesaat kita menikmati keakraban ini, aku tidak sempat memeluk kalian semasa kita kecil, namun tidak ada kata terlambat kan, sekalipun kita sama-sama sudah dewasa, pelukan ini tetaplah hangat.
❤️❤️❤️