OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 296 SETTINGAN DEMI MENDAPATKAN MAAF



Satu jam sebelum kejadian.


Sepasang kaki berjinjit menghampiri parkiran mobil, dengan wajah yang ditutupi masker serta topi kupluk, orang misterius itu mengintai sebuah mobil yang terparkir di pojok parkiran di lantai dasar gedung. Berbekal sebuah alat kecil, ia berjongkok lalu mengeksekusi salah satu ban mobil itu tanpa ampun. Hanya perlu waktu sesaat, misinya beres dengan lancar. Orang misterius itu menghela napas lega kemudian bergegas meninggalkan tempat parkir


dengan senyum menyeringai dari balik masker.


***


Weini berjalan cepat menuju parkiran, telpon dari Haris yang masih tersambung membuatnya semakin mempercepat diri. Gadis itu terlihat begitu cemas lantaran Haris mengabarinya bahwa ia tidak enak badan dan meminta Weini lekas pulang.


“Ayah tiduran dulu, jangan kemana-mana sampai aku pulang. Kita langsung ke rumah sakit nanti.” Ujar Weini sambil membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam.


Pembicaraan mereka berakhir, Weini berkonsentrasi penuh untuk segera menjalankan mobilnya. Ia menstarter lalu bersiap meluncur meninggalkan parkiran dengan kecepatan penuh, sayangnya laju mobil terasa aneh bahkan gadis itu terhentak lantaran pergerakan mobil yang tidak seimbang, seakan hendak oleng. Weini kesal, di saat darurat seperti ini masih dihadapkan dengan drama mobil mogok. Ia memukul setir satu kali sebelum turun memeriksa


apa yang terjadi pada mobilnya. Pengalamannya tentang mesin dan mobil sangat minim, ia hanya tahu memakai tapi tak mengerti perawatan apalagi kalau sudah rusak.


Dina yang kebetulan lewat mengernyitkan dahi melihat Weini berjongkok memeriksa mobilnya, ia berlari menghampiri artis itu. “Kenapa non?”


Weini mendongak, ia lega mendapati Dina yang muncul di saat tepat. “Bannya kempes kak, kamu bawa mobil kan? Aku nebeng pulang ya, ayah lagi sakit. Aku harus cepat bawa dia ke rumah sakit.”


Dina memasang raut menyesal, “Duh, aku pas nggak bawa mobil non lagi diservis. Atau balik pake taksi online saja? Aku pesankan, non.” Dina mencoba menawarkan opsi bantuan lain.


Weini hanya mengangguk, daripada tidak bisa pulang. Ia mencoba menelpon Haris untuk mengecek kondisinya sekalian mengabari bahwa ia akan sedikit lambat pulangnya gara-gara mobilnya bermasalah.


Dina sibuk mengutak-atik ponselnya, diam-diam ia mencuri senyum menatap layar ponsel. Tak lama kemudian ekspresi wajahnya berubah memprihatinkan, “Duh, lelet banget nih non. Lagi jam rame, muter-muter mulu nih nggak bisa order. Gimana dong non?”


Weini menggigit bawah bibirnya, ia berpikir keras lalu meraih ponselnya untuk mencoba memesan taksi online dari aplikasinya. Dina yang melihat itu mendadak panik, dalam hatinya mencecar Xiao Jun yang begitu lelet. Sampai


akhirnya senyuman lega terpajang dari wajah Dina begitu melihat mobil sport yang ia hapal siapa pemiliknya berhenti tak jauh dari mereka berdiri.


Weini mendengar suara mobil mendekatinya, begitu menoleh ke arah suara matanya seketika terbelalak. Ia berdiri mematung, ponsel yang sudah terbuka pada aplikasi taksi online pun tak digubrisnya. Ia tahu siapa yang datang, hanya saja Weini bingung apa maksud kedatangan Xiao Jun lagi? Apa untuk memarahinya babak kedua?


Dina menyikut lengan Weini ketika Xiao Jun keluar dari mobilnya lalu berdiri di samping pintu mobil. “Non, dia datang tuh. Kebetulan banget, suruh dia anter saja. Ini darurat kan non.” Bisik Dina.


Weini tak menjawab, ia menatap Xiao Jun tanpa berkedip. Tatapan yang lebih mengarah pada ketidak-senangannya melihat pria itu di sini. Weini berbalik badan hendak meninggalkan parkiran dan memilih mencegat taksi konvensional di luar sana.


Xiao Jun bergerak cepat, ia tak ingin kekasihnya kabur dari hadapannya. Langkahnya begitu gesit berlari setengah melompat hingga berhasil mencegat Weini tepat di hadapan gadis itu. Dina terpukau melihat kebolehan Xiao Jun, ia tak menyangka pria itu punya bakat meringankan tubuh dan hampir mirip jurus kungfu Weini yang diperagakan waktu syuting.


Weini terkejut lantaran Xiao Jun tiba-tiba berdiri dalam jarak dekat, ia berusaha menyingkir dengan mengambil langkah ke samping tetapi Xiao Jun justru menangkap tangannya.


“Weini, aku mohon maaf. Silahkan tampar aku, pukul aku, caci maki aku sepuasnya, asalkan kamu memaafkanku, apapun aku rela.” Xiao Jun bertekuk lutut di hadapan Weini, tangannya masih mencengkeram tangan gadis itu. Ia serius membuktikan kesungguhannya, penyesalan karena telah membentak Weini dengan kasar dan meninggalkannya tanpa penjelasan.


Melihat seorang pria berlutut dengan sorot mata sendu menatapnya, Weini jadi serba salah. Meskipun tak bisa membaca isi hati pria itu, tetapi bahasa mata tak bisa dibohongi, ia tahu betul bahwa Xiao Jun serius dengan pernyataan maafnya. Namun masih ada rasa yang berat untuk berurusan dengan pria itu. Ada sesak yang sulit diungkapkan.


hati, ia kagum pada usaha Xiao Jun.


“Weini, aku mohon. Beri aku satu kesempatan lagi memperbaiki kesalahanku. Jika terjadi ketiga kalinya, aku siap menerima konsekuensinya.” Desis Xiao Jun, ia masih bersujud dan memohon hati Weini.


Weini membuang muka, tak sanggup melihat seorang pria yang tengah merendahkan diri demi membujuknya berbaikan. “Bangunlah, aku nggak mau jadi bahan berita gossip besok.” Pinta Weini.


Xiao Jun beransur bangun, kini ia berdiri berhadapan dengan Weini tanpa melepas pegangan tangannya pada tangan gadis itu. Xiao Jun masih bisa tersenyum melihat Weini yang terlihat cantik dari samping, meskipun dengan tampang cemberut.


“Udah non, maafin aja trus buruan pulang. Paman Haris kasian kelamaan nunggunya, masa orang sakit disuruh nunggu!” Pekik Dina, ia harus mempercepat adegan gondok-gondokan ini, sebelum pembaca yang keburu gondok saking melihat Weini jual mahal, he he … Aslinya sih, karena Dina nggak tahan lama-lama jadi obat nyamuk di sana, darah jomblonya berdesir. Ia juga ingin mendapatkan perlakuan so sweet dari seorang pria.


Teriakan Dina menyadarkan Weini, ini bukan waktu yang tepat untuk mempertahankan egonya. Haris menunggu di rumah dan ia sendiri yang menjanjikan akan segera pulang membawanya berobat. Weini menepis tangan Xiao Jun dan hendak berlalu, tetapi apesnya perlawanan itu malah membuatnya jatuh dalam pelukan Xiao Jun dalam satu kali tarikan. Xiao Jun dengan mantap menarik Weini mendarat pada sebidang dada berototnya.


“Bahkan sepasang suami istri pun tak bisa menjanjikan selalu tertawa setiap hari, kadang pasti ada rasa marah, kesal namun pada akhirnya akan berbaikan. Aku nggak lagi cari pembenaran, aku salah kemarin. Salah tetap salah, setulus hati meminta maafmu. Weini, aku sangat tersiksa karena telah menyakitimu.” Desis Xiao Jun, matanya terpejam rapat ketika ia mengutarakan isi hatinya.


Weini tersenyum tipis, tangannya bergerak untuk membalas pelukan Xiao Jun. Kini kedua tangan gadis itu melingkar pada pinggang Xiao Jun. “Apa konsekuensinya kalau kamu sampai ingkar janji?” Tanya Weini pelan, tak lama kemudian senyumnya melebar.


“Kalau aku sampai mengulangi kesalahan itu lagi, aku siap menerima konsekuensi segera menikahimu.” Bisik Xiao Jun mesra, sayangnya bukan kecupan yang ia dapatkan melainkan cubitan ringan yang mendarat di pinggangnya.


Xiao Jun pura-pura kesakitan hingga Weini tertawa, pria itu tersenyum melihat tawa yang kembali merekah di wajah Weini. Weini terdiam sejenak, mereka beradu pandang namun tak lama kemudian tertawa bersama. Dan bayangkan saja nasib Dina di belakang ketika sepasang kekasih itu tertawa, ia meraih tisu lalu menangis dalam tawa.


“Boleh nggak sih aku terharu?” Ujar Dina pada dirinya sambil sesengukan.


***


Cerita tambahan :


Dina menghilangkan bukti kejahatannya berupa masker dan topi kupluk beserta sebuah alat untuk mengempeskan ban mobil Weini. Benda tersebut dimasukkan dalam kantong plastik hitam dan berakhir di tong sampah. “Ampun ya, non. Suwer ini pertama kali aku berbuat jahat. Kamu jangan marah ya, jangan masukin aku ke penjara. Toh, akhirnya kalian baikan trus ninggalin aku yang ngurusin mobil kempesmu.”


Dina bicara sendiri sambil menunggu mobil Weini selesai diperbaiki teknisi yang dipanggil Xiao Jun ke sana. Semua gara-gara Weini mengajaknya pulang bersama, lalu ia beralasan akan mengurus mobil mogok itu. Bahkan ketika Weini berjalan menuju parkiran, ia sudah mengirim pesan pada Xiao Jun bahwa target mereka tengah menuju tempat jebakan. Dan mereka beracting sangat natural ketika Xiao Jun datang sehingga semua berjalan sesuai harapan.


Jadi, hikmah dari pengalaman Dina barusan adalah :


Kadang kamu harus beracting, memakai cara tak lazim untuk berbuat kebaikan. Tidak selamanya kejahatan berakhir kejahatan, kadang masih ada sisi baiknya. Dan semoga Tuhan mengampuni dosaku, hiks ….


_Quote of Dina_


***


Kamu lebih sayang sama Dina, atau lebih sebel sama dia?


***