OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 42 DEMI SEBUAH RINDU



Weini tengah melakoni peran di bawah derasnya hujan. Sudah keempat kali ia mengulang adegan berlari yang begitu dramatisir, menyembunyikan tangisan di balik basahnya hujan buatan. Setidaknya itu tidak melelahkan dirinya untuk mengeluarkan air mata sesungguhnya.


“Oke CUT! Nice job Weini.” Bams memberi applause untuk kerja yang lancar hari ini.


Weini segera berlari keluar dari area syuting yang disetting menjadi halaman sepi. Ia mulai risih dengan baju yang basah menempel hingga menonjolkan lekuk tubuhnya. Seorang kru memberinya selendang, ia mengisyaratkan agar Weini segera berganti kostum.


“Ntar habis ganti ke ruang gue ya!” teriak Bams sebelum Weini menghilang dari pandangannya.


Weini memberi isyarat oke dengan mengacungkan jempol. Lebih baik tidak membuang waktu lagi daripada masuk angin. Ia membuka loker khususnya dan meraih tas ransel sekolah, di dalam sana sudah nyaris menyaingi kantong ajaib Doraemon. Mulai dari buku pelajaran, alat make up sekenanya, bekal makan, hingga baju ganti ada di dalamnya.


Ada sepasang mata yang mengawasinya sejak tadi, si pemiliknya bahkan membuntuti Weini memasuki ruang penyimpanan barang pribadi. Gadis itu mulai risih, kupingnya terasa panas disoroti dari belakang.


“Maaf Kak Stevan, aku harus ganti baju dulu.” Weini bergegas hendak meninggalkan ruangan menuju ruang kostum. Ia enggan dipelototi dalam kondisi pakaian basah meskipun sudah ditutupi sehelai kain. Stevan tidak


berkutit, pun tidak mencoba berkata apapun. Padahal maksud kedatangannya karena kuatir Weini kedinginan dan ingin menawari minuman hangat jika gadis itu mau.


***


Mendung menggelantung pekat di langit Jakarta sore. Xiao Jun memutar kursi direkturnya demi melihat pemandangan itu dari jendela kantor. Ketika siang panas begitu terik menyengat, namun sore angin dingin berembus ditambah gelapnya langit yang nampak berat memikul hujan yang akan turun. Cuaca ekstrim ini membuat Xiao Jun khawatir pada seseorang yang tentu akan pulang sebentar lagi.


“Paman tahu lokasi syuting Weini hari ini di mana?”


Lau menutup koran yang ia baca demi mengisi waktu luang. “Saya cari informasinya sekarang tuan.” Ia mengeluarkan ponsel, satu-satunya akses info yang bisa dihubungi hanyalah asisten produser Weini.


Xiao Jun menunggu dalam lamunan, ia baru menyadari sudah nyaris sebulan belum bertemu dengan Weini. Sejak malam tahun baru, gadis itupun tidak menghubunginya dulu. Apa mungkin dia enggan bertemu lagi? Atau mungkin


sejak diantar pulang tengah malam, ayah gadis itu melarangnya dekat dengan Xiao Jun?


“Tuan, saya sudah tahu lokasi syuting nona Weini. Haruskah saya menjemputnya?”  Lau berdiri tegak,siap menerima perintah.


Xiao Jun ikut berdiri, melepaskan jas hitamnya dan dipakaikan dengan rapi pada kursi. Ia menarik laci lemari di sudut dekat mejanya lalu mengambil sebuah baju casual berwarna hitam. Lau nyaris tak berkedip melihat sikap tak biasa majikannya, ia bahkan merasa gagal menjadi pengawal lantaran tidak tahu sejak kapan tuannya membawa baju ganti ke kantor.


“Ya, kita jemput sekarang.” Xiao Jun memimpin langkah tanpa peduli betapa terkejutnya Lau mendengar  perintahnya.


***


Bams mengundang Weini ke ruang pribadinya bukan tanpa alasan. Terakhir kali Weini menginjakkan kaki berdua di situ, saat ia dan Stevan diinterogasi soal kedekatan mereka. Weini merasa akan undangan kemari hanya untuk mendapat teguran lagi. Sembari menghela napas, ia mengetuk pintu kaca di depannya.


“Masuuuk!” Bams berteriak dari dalam tanpa membukakan pintu.


Weini melangkah masuk dan segera mengambil posisi duduk di depan Bams. Di dalam ruangan itu ternyata tidak hanya mereka berdua, ada seorang wanita muda yang sudah berada di dalam sebelumnya.


“Gue udah sering bilang ke lu buat punya manager, dan sekarang gue udah cariin yang pas. Mulai hari ini Ardina yang bakal urus jadwal, negosiasi tawaran dan nemenin lu selama waktu kerja. Kenalan dulu gih!” Bams mengkode lewat anggukan, seketika Dina mengambil inisiatif memperkenalkan diri.


Weini menerima tangan yang terjulur di hadapannya dengan ramah. Jika ia nilai dari pandangan pertama, wanita yang lebih tua darinya itu terlihat baik, cekatan, bisa dipercaya dan nampaknya tidak cerewet. Wajahnya memang tidak terlalu istimewa, ia berambut ikal panjang dan mengenakan pakaian yang sopan. Tidak ada salahnya mencoba menerima bantuan darinya, lagipula setelah ujian Weini memutuskan untuk fokus di karier dulu ketimbang


langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan.


“Senang mengenalmu. Mohon bantuannya kak Dina.” Sapa Weini ramah.


“Saya juga, non Weini. Senang bisa menjadi managermu.” Dina tulus melontarkan kata itu. Ia memang menyukai peringai Weini, masih sangat polos untuk seorang bintang pendatang baru yang sukses.


“Okeee. Untuk perkenalannya bisa dilanjut sambil jalan saja. Dina, lu bisa mulai kerja secara resmi besok. Tapi gue minta tolong anterin Weini pulang, sekalian biar tahu rumahnya di mana. Bawa mobil kan lu?” Ujar Bams.


“Ng… nggak perlu repot deh Kak. Aku bisa pulang sendiri, kan besok kak Dina baru resmi kerja.” Weini belum terbiasa diperlakukan spesial.


“Nggak repotin non, inikan termasuk salah satu tanggung jawab saya. Mari kita pulang.” Dina lebih dulu menyelamatkan Weini dari ocehan Bams yang nyaris keluar. Untung saja mereka segera berlalu sebelum


pria gondrong itu naik pitam.


“Non, parkiran mobil saya di belakang gedung. Non tunggu di depan saja ya, biar nggak ikut jalan kejauhan.” Dina berjalan tergesa-gesa, ia enggan membuat Weini menunggu lama.


“Oke, santai aja Kak Dina.” Weini tersenyum kemudian berjalan pelan menuju luar gedung. Ditendangnya kerikil kecil sembari mengayunkan langkah.


Belum lima menit berdiri, klakson panjang terdengar mengejutkan. Weini mengira Dina sudah menghampirinya, namun ketika menengadah, mobil di depannya tidak asing lagi adalah milik pria itu.


Lau keluar dari mobil, membungkukkan setengah tubuh di hadapan Weini. “Selamat malam nona, bagaimana kabarmu?”


Weini balas membungkuk hormat, setidaknya itulah aturan dalam keluarga Li di mana yang tua harus dihormati dengan cara ini. Namun ia tidak pernah melakukannya karena posisinya sebagai nona muda yang terhormat,


kini ia hanya gadis biasa, tidak ada alasan untuk mangkir dari tradisi ini.


“Paman Lau, senang melihatmu lagi. Saya sangat baik. O iya terima kasih atas masakanmu sangat enak.”


“Saya sangat senang nona menyukainya. kedatangan  kami kemari untuk mengajak nona makan malam bersama. Tuan muda ada di dalam mobil, nona silahkan ikut, nanti kami antarkan pulang sekalian.” Sepanjang perjalanan


tadi, Xiao Jun sudah memberi tugas pada Lau untuk membujuk Weini pulang bersama mereka dengan alasan makan malam. Gadis itu enggan menerima bantuan secara terang-terangan, harus ada alasan terselubung untuk membujuknya.


“Lalu kenapa ia di dalam?” Weini sedikit jual mahal. Sudah sekian lama tidak menghubunginya, lalu kini menggunakan perantara untuk komunikasi.


“Ah..” Lau berpikir sejenak apa yang harus ia jawab. Namun sebelum jawaban itu keluar, sebuah mobil silver berhenti di belakang mobilnya. Ia mengamati siapa yang keluar dari sana.


Dina berlari menghampiri Weini yang sedang didekati seorang pria berusia senja. Ia pikir Weini sedang dirayu pria hidung belang. “Non, sorry lama banget ya. Yuk kita pulang.” Dina menarik tangan Weini pergi dari hadapan Lau tanpa membiarkan Weini menjelaskan apapun. Lau hanya berdiri mematung saat gadis milik tuannya berlalu.


“Tunggu! Kita masih harus makan malam bersama. Ikut pulang denganku, nona Weini.” Xiao Jun turun dari mobil dan berteriak mencegat Weini masuk ke mobil lain.


Weini berhenti, ia tersenyum mendengar suara itu. Namun Weini sengaja membiarkan Xiao Jun menatap punggungnya, ia masih enggan membalik tubuh agar senyum bahagianya tdak dilihat pria itu.


“Kak Dina, aku pulang ikut mereka. Tenang saja mereka sahabatku.” Weini melepaskan tangan Dina yang menggenggamnya sembari masih tersenyum.


Binar bahagia itu sangat tersirat hingga Dina bisa memahami bahwa pria itu spesial bagi Weini. “Baiklah, sampai ketemu besok Non.”


“See you…” Weini melambai kemudian berjalan menuju mobil Xiao Jun.


Lau berjalan mendekati Dina sebelum ia masuk ke dalam mobil. “Nona, terima kasih. Semoga anda selamat sampai di rumah.” Lau menyodorkan tangan menanti sebuah salaman.


Dina menyambut hangat uluran tangan Lau, “Saya titip Non Weini ya pak. Eh…” Dina kaget, pria itu menyodorkan secarik kertas padanya lewat salaman. Sebelum ia bertanya lebih lanjut, Lau sudah beranjak masuk ke dalam mobilnya. Gerakan yang sangat cepat dan tak disangka Dina, namun ia tak mau melihat ke arah pria itu lagi, kertas yang di tangannya ini lebih menarik.


Sebuah kartu nama CEO yang di belakangnya dibubuhi tulisan tangan.


“Ditunggu kedatangannya besok jam 1 siang, Nona Dina.”


***