OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 152 MENCAPAI KESEPAKATAN BERSAMA LI SAN



Semakin Xiao Jun menolak setiap perhatiannya, Li San kian kebingungan mencari akal agar Xiao Jun menerima perhatiannya. “Apa yang kau inginkan?” untuk pertama kalinya Li San menawarkan keinginan pada anaknya.


Xiao Jun bahkan terkesima sejenak mendengar kebaikan Li San yang mulai melunakkan hati. “Aku ingin bicara empat mata dengan ayah.”


Penasehat He yang tahu bersikap langsung undur diri sebelum Li San memerintahkan secara resmi. Hanya ada Xiao Jun dan ayahnya yang saling berhadapan.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Li San tenang.


Xiao Jun membungkuk sejenak sebagai formalitas meminta ijin bicara, “Aku ingin merundingkan kesepakatan dengan ayah. Keputusanku tetap sama dan aku menanti jawaban ayah.”


Li San terdiam, keras kepala dan prinsip Xiao Jun memang tak diragukan. “Kau ingin aku menyetujui semuanya? Tapi permintaanmu terlalu banyak sedangkan permintaanku hanya satu. Bisa saja kukabulkan semuanya dengan beberapa persyaratan. Apa kau sanggup?”


“Mohon ayah perjelas syaratnya.” Ujar Xiao Jun dengan menundukkan kepala.


Li San berbalik badan dan dengan suara lantang mengumumkan syarat yang ia ajukan. “Aku bersedia mengampuni ibumu, tapi tidak bisa sepenuhnya membebaskan dia. Ia tetap akan mengabdi pada Liang Jia dan tidak diperbolehkan berhubungan denganmu.”


Xiao Jun menundukkan kepala, syarat ini masih wajar dan sanggup ia terima. “Aku mengerti, ayah.”


“Yang kedua, aku akan membatalkan hukuman mati Lau tapi dia tak bisa kembali menjadi pengawalmu. Dia akan diturunkan pangkat paling rendah dan menjaga gerbang luar.” Seru Li San tegas, menyebut nama Lau masih menyisakan sedikit amarah hanya saja ia bisa meredamnya.


Xiao Jun mendongakkan kepala, syarat yang kedua terdengar berat ia jalankan. “Maafkan aku, ayah. Aku terbiasa dengan pengawal Lau, sama seperti ayah yang mempercayai penasehat He. Mohon kembalikan posisi Lau sebagai pengawalku, aku bersedia memberi jaminan dengan nyawaku bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahan yang


sama.” Xiao Jun berlutut memohon kemurahan hati Li San lagi.


Li San menoleh ke Xiao Jun yang sedang bersujud beberapa kali padanya, ia mencoba untuk tidak tergugah dan memalingkan wajah enggan menatapnya. “Kau masih mau menawar? Aku paling benci memberikan kesempatan berulang pada orang tak berguna.”


“Dia berguna ayah, dia sangat cerdas dan kuat. Aku sangat mengandalkannya membantuku mengembangkan bisnis kita. Ayah lihat kan hasilnya belum sampai dua tahun perusahaan itu sudah diakui kancah internasional.” Xiao Jun terus mencoba meyakinkan Li San.


Li San tersenyum sinis sembari menatap Xiao Jun, “Kau pikir hanya dia yang bisa mengurus bisnis? Sekembalinya kalian, bisnis sudah dipegang tim professional dan segalanya berjalan lancar meski tanpa kalian. Itu artinya, alasan itu tidak cukup meyakinkan arti penting seorang Lau di mataku.”


Xiao Jun membalas senyum Li San tak kalah sinis, “Seyakin itukah ayah bahwa perusahaanku tetap baik di tangan orang yang baru muncul beberapa hari? Bahkan pengamat ekonomi saja perlu waktu untuk memutuskan sebuah perusahaan layak disebut maju atau surut, ayah sudah begitu percaya mereka pantas menggantikan kami. Mereka hanya menjalankan yang sudah ada, atau mungkin akan mengacaukan segalanya jika dibiarkan makin lama di sana.”


Analisa yang masuk akal, Li San mengakui kejelian Xiao Jun mengambil kesempatan menyanggah argumennya. “Jika kuijinkan kalian kembali tanpa pengawasan dari orang kepercayaanku, kalian hanya akan mengulang cerita lama dan kau tetap berhubungan dengan gadis itu.”


“Kalau begitu, silahkan ayah kirim satu tangan kanan ayah untuk mengawasi kami secara netral.” Xiao Jun begitu cepat melontarkan saran tanpa mempertimbangkan dampak dari ucapan itu.


syarat mutlak dariku. Bawa Grace bersamamu, beri ia jabatan di perusahaan dan jaga dia. Kalian harus selalu bersama setiap waktu. Kau sanggup?”


Xiao Jun nyaris berteriak pada Li San andai ia gagal mengontrol diri, membawa seorang wanita yang bentuk rupanya belum ia ketahui bahkan kemampuannya bekerja juga tak jelas, mau dibawa kemana nasib perusahaan di tangan orang kurang berkompeten. “Ayah, perusahaan bukan tempat bermain, untuk apa mencampurkan


urusan pribadi dan pekerjaan? Kita belum tahu kemampuannya, mna boleh sembarang memberinya posisi. Aku keberatan dengan usul ini, silahkan ayah ganti dengan orang lain yang memang handal di bidang bisnis.”


“Xiao Jun, aku sudah bilang ini keputusan mutlak. Terserah kau terima atau tidak. Kalau menolak pun tak ada masalah, kau bisa kembali ke perusahaan di sini bersama Grace juga.” Ujar Li San dengan strategi barunya, Xiao Jun pasti tidak punya alasan menolak, di manapun ia berada Grace akan tetap dikirim menemaninya.


Perlu waktu berpikir yang cukup lama bagi Xiao Jun, bagaimanapun ia mencari kesepakatan yang adil tetap saja ia merasa diposisikan yang paling dirugikan. Li San tetap pemenang dengan kekuasaan mutlaknya. Xiao Jun sadar diri bahwa diam terlalu lama hanya membuang waktu, dua pilihan itu sedang dipikirkannya. Berada di sini memungkinkan ia menjaga Xin Er secara tersembunyi, tapi ia akan kehilangan kesempatan bersama Weini. Kembali ke Jakarta dengan seorang wanita juga bukan hal mudah, Weini mungkin akan salah paham atau bahkan menjauhinya. Xiao Jun tak menjamin bila Grace akan bersikap baik andai ia tahu siapa Weini.


“Baik, ayah. Aku akan kembali ke Jakarta bersama Lau dan wanita itu.” ucap Xiao Jun serius. Ia sudah memikirkan resikonya, dibenci Weini, diacuhkan Weini atau bahkan diputuskan. Setidaknya ia masih diijinkan berada sekota dengan gadis kecintaannya, sembari menunggu kesempatan untuk memperbaiki keretakan jauh lebih baik ketimbang kehilangan kesempatan untuk bertemu lagi.


Maaf ibu, aku belum bisa mendampingimu di sini. Ibu tetap aman bersama ibu Liang Jia, sementara sampai aku menemukan cara selanjutnya. Ujar Xiao Jun dalam hati, permohonan maaf yang tak bisa diutarakan lisan pada Xin Er, hanya sanggup ia gumamkan lewat suara hati.


Li San terlihat takjub pada Xiao Jun atas keputusan yang diambil. Senyumnya merekah, ia baru menyadari diskusi tanpa melibatkan amarah terasa lebih ringan dan menenangkan. Xiao Jun bahkan mudah diajak berunding dengan perlakuan seperti ini ketimbang pengalaman sebelumnya yang hampir menelan korban.


“Aku pegang kata-katamu, anak muda.” Ujar Li San dengan sunggingan senyum.


“Terima kasih ayah, dan tolong kembalikan ponselku.” Xiao Jun mengingatkan kembali permintaan terakhirnya.


Li San tertawa kecil, ia tak mengira pembicaraan dengan putranya sudah sampai pada kesepakatan yang satu itu. Ia enggan membuatnya terlalu mudah untuk dikabulkan, “Itu tergantung sikapmu kepada Grace nanti. Akan kukembalikan jika kau bisa memberi kesan pertama yang baik padanya. Siapkan dirimu sekarang, mereka dalam


perjalanan kemari.”


Xiao Jun menunduk lagi dan lagi, Li San tak pernah membuat sesuatu lebih simpel. Sekarang Li San hendak menguji kemampuan acting Xiao Jun? Apa mungkin Xiao Jun yang bersifat tertutup pada orang belum dikenal itu bisa memberikan kesan baik di awal perkenalan?


“Baik ayah.” Jawab Xiao Jun lemah.


Li San tersenyum sangat puas, “Dan temani aku makan di luar sebelum mereka sampai.”


***