OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 402 MENGHILANGKAN JEJAK SAKSI



Media lokal berseliweran memberitakan kabar terbaru tentang Weini, pengakuan Stevan mendapat sorotan paling banyak karena plakat yang ditunjukkannya. Konferensi pers sudah berakhir, tetapi masih banyak wartawan yang bertahan dalam ballroom, mencoba mencari celah mendekati nara sumber yang masih tertahan dalam ruangan itu.


Bams menyenggol lengan Stevan, sengaja untuk menarik perhatiannya. Pak sutradara itu masih tak percaya dengan alibi Stevan. "Stev, yang bener aja pengakuan lu? Perasaan lu nggak dekat banget sama Weini, kok bisa dapat barang berharga dia?" Selidik Bams.


Stevan nyengir, kemampuan aktingnya memang harus dikuras di hadapan sang sutradara yang lihay membedakan akting dan sungguhan. "Ya gitulah, lu aja yang nggak peka sama persahabatan kami." Ujar Stevan tetap tenang dan cuek.


Bams mengernyitkan dahi, ia tampak belum puas dengan jawaban itu. "Hei, kalau Weini sudah ketemu, kalau masalah ini udah kelar, kita angkat jadi drama saja cerita ini. Gue jamin ratingnya pasti bludak deh." Celetuk Bams yang masih bisa berpikir sekreatif itu.


Stevan balik badan dan hanya menanggapi celotehan Bams dengan lambaian tangan dari belakang. Ia menghampiri Lau untuk menyelesaikan tanggung jawabnya menyerahkan kembali benda penting Weini. "Om, ini disuruh titipkan ke om." Seru Stevan.


Lau membungkuk hormat sekilas sebagai penghormatan sebelum menerima benda itu. Didikannya yang kental dengan aturan klan Li, otomatis membuatnya patuh di manapun berada. "Terimakasih sudah membantu kami, Stevan."


Stevan mengangguk senang, "Kapan-kapan ajak aku ke rumah Weini, aku ingin melihat tempat bersejarah itu secara langsung. Ini sangat menakjubkan, aku kenal orang-orang hebat seperti kalian."


Lau hanya tersenyum tipis, ia kembali mengangguk pelan lalu menarik diri dari hadapan Stevan. Di saat itu pula Fang Fang menghampiri Stevan dengan raut tenang.


"Kamu tidak membungkuk hormat padaku? Tadi aku pegang plakat penguasa loh." Seru Stevan ketagihan mendapat hormat.


"Itu kan tadi, sekarang kau tidak memilikinya lagi." Jawab Fang Fang cuek.


"Efeknya masih berlaku, yang penting aku pernah memegangnya kan." Pekik Stevan tak mau kalah.


Fang Fang memutar bola matanya, "Terserah kamu lah, ayo cepatan tinggalkan tempat ini." Ajak Fang Fang yang lebih dulu berjalan meninggalkan Stevan.


Bams melihat Stevan dan Fang Fang beriringan pergi, ia pun berlari mengejar mereka. "Tunggu, Stev...."


Stevan berhenti ketika mendengar namanya dipanggil, begitupun dengan Fang Fang yang ikut gerak Stevan. Bams berhasil menyusul dengan napas sedikit terengah-engah.


"Ada apa bro?" Tanya Stevan heran.


"Lu bawa mobil kan? Gue nebeng balik ya, tadi gue naik taksi ke sini. Gara-gara nggak bisa tidur jadi gue nggak berani nyetir sendiri." Keluh Bams. Ucapannya memang terbukti dari mata pandanya, pria itu tampak lelah dari tampangnya.


Stevan mengangguk pelan, "Oke, tapi gue balikin cewek ini dulu ya, baru ke tempat lu." Seru Stevan.


Fang Fang melirik tajam pada Stevan, bisa-bisanya pria itu berencana kabur dari jangkauannya. "Tidak perlu, antarkan pak sutradara saja dulu. Aku nggak masalah belakangan." Tolak Fang Fang tegas.


Stevan tak merespon lagi, mereka berjalan meninggalkan ruang itu dalam diam masing-masing. Ketika sampai di tempat parkir, Fang Fang merasa ada yang janggal. Firasatnya mengatakan ada seseorang yang sedang mengamati gerak-gerik mereka.


"Bro duduk di depan aja, biar cewek di belakang." Seru Stevan mencegah Bams membuka pintu mobil di belakang. Bams pun tak keberatan duduk di mana saja, ia beranjak membuka pintu mobil di samping kemudi.


Stevan nyaris masuk ke dalam mobil, namun saat melihat Fang Fang berdiri dengan sorot mata tajam ke sekitar, membuat Stevan mengangkat satu alisnya. "Fang, nunggu apa lagi? Ayo masuk, keburu macet jalanan." Teriak Stevan.


Fang Fang diam saja, ia memilih menurut pada Stevan. Meskipun hatinya masih was-was, begitu masuk ke dalam mobil, ia memeriksa perlengkapan beladirinya. Hanya ada pisau lipat yang tajam yang dibawanya, selebihnya ia mengandalkan kemampuan diri untuk mengalahkan musuh, andai benar mereka sedang diintai.


"Kacau parah gara-gara kejadian ini, proyek kita ketunda sampai waktu yang nggak jelas. Padahal kantor itu baru berapa hari diresmikan, apes banget ya. Apa karena nggak pake selamatan, jadinya banyak masalah." Celetuk Bams, ia merasa dapat teman curhat yang pas.


Bams tampak berpikir sebelum menjawab, "Parah sih nggak, cuma lagi ditutup buat penyelidikan. Gimana gue bisa mulai produksi kalau gini terus. Film baru kalian aja belum tayang, kacau udahan kalau kayak gini. Hanya ada dua kemungkinan, tuh film bakal laris gara-gara orang pada kepo, atau malah terancam batal tayang kalau citra Weini nggak kunjung baik."


Stevan menghela napas kasar, "Gue ama Weini sih nggak masalah kalau pensiun dari dunia hiburan, palingan konsekuensi terberat ya kami bakal redup kariernya." Jawab Stevan santai, meskipun ia mencintai dunia peran tetapi ia tetap bisa bertahan hidup dengan cara lainnya. Ia tidak menggantungkan hidup dari penghasilan sebagai aktor, dan ia tak menyesal jika kariernya ikuy hancur karena masalah Weini.


Dua pria itu asyik berkeluh-kesah soal kerjaan, namun tak sedikitpun yang diperhatikan Fang Fang. Konsentrasinya penuh ia kerahkan untuk memastikan sesuatu, terutama sebuah mobil hitam yang mencurigakan di belakang. Fang Fang mengambil ponselnya lalu mengetikkan pesan pada seseorang.


"Grace kapan balik? Lu berdua udah jadian ya?" Bams dan Stevan masih asyik membahas apapun hingga tak menyadari kepanikan Fang Fang.


"Ng...." Stevan hendak berucap namun ia merasakan tangan Fang Fang mendarat di pundaknya.


"Kita sedang dibuntuti, bisa dipercepat jalannya?" Seru Fang Fang serius.


Bams spontan panik, ia menoleh ke belakang untuk memastikan laporan Fang Fang, begitupun dengan Stevan yang langsung melirik ke spion depan dan melihat sebuah mobil yang melaju cepat di belakangnya terlihat mencurigakan.


"OMG, gimana ini? Kenapa kita diincar?" Pekik Bams panik, detak jantungnya tak karuan apalagi Stevan mulai ngebut-ngebutan.


Perhatian Stevan sepenuhnya pada jalanan dan mobil di belakang yang hendak menyelipnya. "Fang, kalian cari bantuan. Hubungi Xiao Jun!" Teriak Stevan.


Fang Fang mengeluarkan pisau lipatnya, sementara Bams dengan tangan gemetaran mencoba menghubungi Xiao Jun. Stevan sudah mengerahkan kemampuan menyetirnya dengan maksimal, kondisi jalanan pun masih memungkinkan mereka untuk kebut-kebutan. Namun tetap saja, mobil di belakang berhasil menyamai laju mobil Stevan, dan mobil itu mulai menabrak sisi samping mobil Stevan hingga Stevan dan yang lainnya terguncang.


Bama berteriak panik ketakutan, sementara Stevan yang juga takut tapi tetap berusaha mengendalikan mobilnya. Fang Fang memperkuat pegangannya, matanya awas melihat jarak mobil musuh yang dekat itu. Ia bisa memprediksi bahwa kemungkinan lolos dari jangkauan musuh tampaknya kecil harapan, apalagi Stevan mulai kewalahan menyetir.


"Stev, dalam hitungan ketiga tabrakkan ke samping mobil mereka!" Pekik Fang Fang memberi aba-aba.


Bams tersentak kaget, "Apa? Jangan! Ini namanya bunuh diri!" Tolak Bams yang tak yakin dengan strategi seorang gadis yang tidak ia ketahui kemampuannya.


Stevan tak menjawab, namun dalam hati ia mematuhi perintah Fang Fang.


"Tiga... Dua..." Fang Fang menghitung mundur, tangannya sudah menggenggam erat pisaunya, matanya pun sudah mengintai musuh yang terlihat dari kaca mobil.


Stevan menarik napas dalam, ia pasrahkan hidup matinya pada keputusan Fang Fang.


"Satu...."


Dan mobil Stevan langsung menyenggol mobil di sampingnya, diiringi suara teriakan Bams yang kencang. Fang Fang langsung membuka kaca mobilnya dan melesatkan senjata khususnya hingga menembus kaca mobil musuh.


Di luar prediksi, target yang diintai Fang Fang memang kena sasaran pisaunya. Supir mobil musuh yang terluka itu oleng, namun personil yang lain pun tidak menyerang dengan tangan kosong. Sebuah peluru pun melesat ke arah mobil Stevan secara brutal, tanpa membidik target lagi. Menyusul mobil musuh yang lepas kendali karena supir yang terluka itu menyenggolkan mobilnya pada mobil Stevan.


Bruk... Duaaar....


Bersambung....


🚗🚗🚗