OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 503 PENGAGUM RAHASIA



“Wah Gong Zhu, anda luar biasa ternyata. Hanya perlu lima menit istirahat tadi, sekarang anda sudah bisa memahami semuanya.” Seru asisten itu terlihat sangat senang dengan kemajuan pesat Weini yang tak masuk akal. Meski masih heran dari mana putri itu bisa menangkap penjelasannya dengan cepat, yang pasti asisten itu sangat senang karena tugasnya berhasil.


Weini hanya tersenyum simpul saja saat mendengar pujian itu. Andai orang itu tahu, Weini menggunakan cara licik untuk menguasai ilmu bisnis secara singkat, entah pujian itu akan terdengar lagi atau justru sebaliknya. Tak diduga, Weini berhasil menirukan semua pengetahuan dari asisten itu. Kepintarannya tidak berkurang sedikitpun, namun semuanya tercopy pada Weini. Tanpa perlu berpayah mempelajarinya, Weini sudah mampu menguasai apa yang akan ia kerjakan sekarang.


“Apa masih ada lagi yang perlu aku pelajari?” Tanya Weini basa basi, biar bagaimanapun ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.


“Untuk saat ini cukup, Gong Zhu. Kalau begitu saya undur diri dulu.” Ujar asisten itu berpamitan pada Weini.


Weini hanya memberikan anggukan pelan dan sedikit kata pengantar yang sangat basa basi. “Terima kasih, maaf sudah merepotkanmu.”


Ah, lebih tepatnya maaf karena aku sudah mencuri ilmumu. Gumam Weini dalam hatinya.


Weini merenggangkan ototnya yang terasa pegal, ia berharap mulai hari ini pekerjaannya tidak akan sesulit hari hari sebelumnya. Namun yang tidak habis ia pikirkan, mengapa kekuatan sihirnya menjadi aneh? Apa yang ia pikirkan bisa menjadi kenyataan, dan itu sangat menakutkan baginya.


“Bukan hanya kali ini, waktu itu juga saat aku mikir orang-orang harus percaya apapun yang aku katakan, dalam sekejap itu menjadi kenyataan.” Gumam Weini heran.


“Jika memang benar kenyataannya kemampuanku semenakutkan itu, berarti aku haru berhati-hati dengan pikiranku sekarang.” Timpal Weini melanjutkan bicara sendiri.


Fokus Weini berubah, ia tak lagi mempersoalkan keanehan dirinya itu. Setelah semua kelar, rasanya hal yang ingin ia ketahui adalah Xiao Jun. “Kamu lagi apa? Ah, dia pasti mencariku dari tadi.” Ujar Weini girang.


Sayangnya ketika melihat notifikasi ponselnya yang bersih dari kontak Xiao Jun, keyakinan Weini pun menciut. “Dia bahkan sudah lima jam tidak membalas pesanku. Sesibuk itukah kamu, Jun?” Gumam Weini cemberut.


❤️❤️❤️


Xiao Jun tidak merasa bersalah telah sengaja mendiamkan Weini berjam-jam. Ia malah bersantai menikmati perjalanannya di atas udara yang kira-kira satu jam lagi akan mendarat. Senyumnya sedari tadi terus mengukir, ditambah dengan memejamkan matanya dan mengkhayal tentang Weini. Hanya dengan cara itulah, ia tidak akan merasa bosan di atas udara selama penerbangan. Kepulangannya secara mendadak pasti akan menjadi kejutan yang dinantikan Weini. Ia yakin begitu Weini melihatnya nanti, kesalnya akan otomatis hilang. Itulah sebabnya Xiao Jun sengaja ingin membuat gadis itu jengkel, agar bisa melihat bibir manyunnya yang imut.


“Tuan....” Sapa Su Rong yang diajak Xiao Jun dalam perjalanan kali ini.


Xiao Jun menoleh pada pengawal mudanya yang tengah membungkuk hormat. “Ada apa?”


“Siu Fong tampaknya gelisah sejak tadi, saya sudah memberinya obat penenang. Ya, semoga saja setelah tiba nanti, ia tidak membuat kekacauan.” Gumam Su Rong.


Xiao Jun mengangguk, “Ng... aku percayakan dia padamu. Mungkin setelah melihat tempat asalnya, dia akan beransur pulih.”


“Baik tuan.” Ujar Su Rong kemudian tidak menganggu Xiao Jun lagi.


❤️❤️❤️


“Nonaaa... apa kau tahu aku datang membawa kabar bahagia?” Teriak Dina girang setelah melihat wajah Weini yang sumingrah juga.


Weini menyipitkan matanya, mencoba menebak kabar bahagia yang dimaksud Dina. “Hmmm... kamu dilamar ya kak? Wah selamat ya kak.” Pekik Weini girang.


Dina malah manyun, tebakan Weini tak sepenuhnya salah tapi kurang tepat sasaran. “Lamarannya sih benar, tapi orangnya yang salah nona. Bukan aku yang lagi beruntung, tapi ini loh orangnya yang lagi berbunga-bunga....” Dina mengarahkan kamera ponselnya pada Grace.


“Grace?” Seru Weini tersenyum girang.


“Ih yang lagi bahagia gini masa ditutupi sih wajahnya.” Seru Dina yang berusaha merebut bantal dari tangan Grace.


Weini senyam senyum saja melihat tingkah mereka, berkhayal seumpama ia bisa berada di sana pasti rasanya seru. Satu persatu dari kalian sudah mulai menemukan kebahagiaan kalian, aku sungguh turut berbahagia meskipun hanya sebagai saksi kebahagiaan kalian. Semoga seteruskan kehidupan kita dijauhkan dari masalah yang berat, cukup sudah itu semua terjadi di masa lalu.


❤️❤️❤️


Jet yang membawa Xiao Jun sudah mendarat di kediaman Li. Semula ada pengawal yang hendak melaporkan kedatangan itu kepada sang tuan rumah, untung saja Xiao Jun segera mencegat mereka dan meminta semua untuk menutup mulut.


“Biar aku sendiri yang melaporkan kepada Gong Zhu.” Ujar Xiao Jun lantang.


“Baik Tuan.” Pekik para pengawal itu serentak.


Weini menatap gusar pada ponselnya, perasaan yang dulu sangat familiar ketika ia ditinggal Xiao Jun dan kesulitan menghubunginya. “Lihat saja nanti, kalau dia cari aku... gantian aku yang jual mahal!” Seru Weini menggebu-gebu, saking kesalnya menahan rindu sampai ia pun punya niat untuk balas dendam.


Baru saja dibicarakan, ponsel Weini yang ada dalam genggamannya pun berbunyi. Weini segera melirik layarnya kemudian senyumnya terukir secara otomatis. Tanpa menunggu lama, ia pun menerima panggilan itu. “Kamu masih ingat menghubungiku rupanya.” Sindir Weini dengan gaya marahnya yang dirindukan Xiao Jun.


Terdengar suara tawa Xiao Jun yang direspon mengesalkan bagi Weini. Di saat dia marah, justru Xiao Jun tengah menertawakannya. “Mana mungkin aku lupa, aku hanya sibuk saja tadi. Uhuk... uhuk....” Seru Xiao Jun beracting batuk pelan.


Weini mengerutkan dahinya, “Kamu sakit, Jun?” Tanya Weini cemas luar biasa. Ia berdiri di luar aula utama dan hendak meninggalkan tempat itu, namun keburu Xiao Jun yang menelponnya.


“Ng tidak, aku hanya sedikit panas saja.” Jawab Xiao Jun lirih.


“Kamu demam? Apa sudah ke dokter? Duh... kamu jangan keasyikan kerja sampai lupa jaga kesehatan. Apa paman Lau bersamamu? Apa sudah dipanggilkan dokter?” Weini menyodorkan sederet pertanyaan yang bingung harus mulai dijawab dari mana.


Xiao Jun menahan tawa, ia menggigit jari telunjuknya saking gemasnya berhasil mengerjai Weini. Langkahnya mulai mendekati tempat Weini berada, dan sepertinya gadis itu masih belum menyadari keberadaannya.


“Ng... aku nggak apa apa, hanya sedikit panas saja di bagian sini.” Lirih Xiao Jun terus bersandiwara.


Weini kelabakan, ia pun segera meminta panggilan berubah menjadi mode panggilan video namun Xiao Jun menolaknya. “Di bagian mana? Kenapa tidak nyalakan kameramu? Aku mau melihat kondisimu Jun.” Pinta Weini sedikit tak sabaran.


Langkah Xiao Jun sudah sampai di dekat Weini, dari gerbang tempat ia berdiri itu, ia leluasa melihat Weini yang berdiri menghadap belakang. Dari posisi itu saja, mata Xiao Jun sudah tak berkedip menatapnya. Seakan waktu berhenti berputar dan ia menjadi pemuja gadis itu dalam diam.


“Jun? kamu masih di sana? Kamu dengerin aku?” Weini terus mencoba menanyakan Xiao Jun yang masih diam. Ia bingung harus bagaimana jika Xiao Jun beneran sakit dan jauh darinya.


Kamu adalah hal terindah yang pernah aku lihat di dunia ini. Sekuntum bunga yang tumbuh di bulan yang tumbuh bersama seekor kelinci di sana. Jika memang mitos itu ada, aku bersedia menjadi kelincinya agar terus mengagumimu dari dekat. Aku mencintaimu gadis bulanku, Yue Hwa.


Weini terus memanggil nama Xiao Jun namun tak kunjung digubris. Diambang keputus asaannya, akhirnya sebuah kata terucap dari seberang.


"Berbaliklah, Hwa... aku melihatmu."


Weini terkesiap, seakan tak percaya apa yang ia dengar namun itulah yang diminta oleh kekasihnya. Perlahan ia menoleh ke belakang dan sepasang mata indahnya berbinar-binar. Seulas senyum dari sosok yang sangat ia rindukan tengah tersungging untuknya. Begitu jelas dan nyata meskipun terkontaminasi oleh air mata yang menggenang di kelopak matanya. Dia yang membuat hatinya resah, Dia yang selalu ia pikirkan saat terbangun dari tidurnya, pun sangat ia rindukan sebelum terlelap dalam alam mimpinya. Dan dia begitu nyata telah berdiri di sini untuknya.


❤️❤️❤️