OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 413 PERHATIAN YANG BERSEMI LAGI



"Hanya itu yang saya ketahui tuan, saya bukan pengikut lama tuan Chen Kho, kalau bukan karena ancaman, saya juga tidak bersedia ikut dengannya."


Cukup lama Su Rong menceritakan segalanya tentang Chen Kho pada Haris, Xiao Jun dan Wen Ting. Pembahasan yang serius sekaligus mencengangkan bagi Haris, pasalnya separuh umurnya mengabdi pada Klan Li, namun ia tidak tahu sisi lain dari keluarga tuannya itu.


"Jadi meskipun tuan Kao Jing bukan pewaris klan Li, tetapi hanya dia yang tahu pangkalan rahasia di bawah laut yang masih termasuk aset klan Li?" Haris bertanya lagi demi mendapatkan sebuah penegasan dari apa yang ia dengar.


Su Rong mengangguk mantap namun tak berani menatap wajah para tuannya. "Betul, tuan."


Xiao Jun menatap tajam pada pengawal barunya, "Kau sudah pernah ke sana? Berarti kau bisa menunjukkan jalan untuk kami." Seru Xiao Jun antusias, setitik terang mulai muncul dalam kegelapan pikirannya dalam usaha pencarian Weini.


Su Rong masih menunduk dengan raut kecewa. "Saya ke sana baru pertama kali, saat mengantarkan mereka, begitu sampai di pangkalannya, jet yang mengantarkan kami langsung kembali ke Jakarta dengan misi baru. Maaf tuan, saya tidak terlalu ingat jalan ke sana." Sesal Su Rong.


Raut kecewa pun tampak dari wajah Xiao Jun dan Haris, petunjuk chip dari Weini serta kemampuan Haris yang belum pulih, semuanya menunjukkan bahwa mereka belum siap menyerang markas musuh. Jika tidak mau disebut mengantarkan nyawa dengan sia-sia.


Wen Ting tampaknya masih belum menyerah, ia serius memikirkan sesuatu sebelum mengatakannya. "Apa kau tahu di mana jet pribadi Chen Kho diparkiran? Kau ingat siapa pilotnya?" Tanya Wen Ting serius.


Xiao Jun langsung menatap penuh selidik pada kakak iparnya, tetapi ia tetap diam, membiarkan Wen Ting mengambil alih penyelidikan.


Su Rong mencoba mengingat, ia tak lantas menjawab pertanyaan rumit itu. "Saya masih ingat, tapi tidak yakin apakah dia masih di sana. Ku dengar setelah mengantarkan kami, jet itu kembali ke Hongkong untuk merekrut pelayan."


"Pelayan?" Haris bergumam pelan.


Xiao Jun dan Wen Ting mengerutkan dahi, dalam pikiran mereka tak habis pikir Chen Kho ternyata perlu pelayan ketimbang pengawal tambahan.


"Sepertinya dia memperlakukan nona dengan baik, syukurlah setidaknya dia tidak membunuhnya." Timpal Haris menghela napas lega.


Xiao Jun sepemikiran dengan ayahnya, tetapi fokusnya lebih mendetail lagi. Ia kembali melirik Su Rong dari atas hingga bawah.


"Keluarkan apa yang kau bawa, semuanya yang melekat di tubuhmu akan aku periksa. Aku yakin ada petunjuk yang mungkin tak kau sadari." Perintah Xiao Jun.


Su Rong dengan patuh melucuti pakaian luarnya, lalu ia menggeledah seragam tersebut yang sudah minus jas lantaran dipakai Haris untuk memalsukan kematiannya.


Dari luar celana panjang dan kemeja putih itu tampak biasa, namun sesuatu yang biasa itu masih bisa mencolok perhatian Xiao Jun.


"Su Rong, ikat pinggang itu milikmu?" Xiao Jun menatap jeli ikat pinggang yang bermotif kepala elang emas.


Haris pun menaruh perhatian pada benda yang dicurigai putranya itu kemudian mengambilnya. Ukiran dari benda itu terlalu sempurna hanya untuk dijadikan ikat pinggang.


Su Rong mengangguk, "Ya tuan, semua pengawal diberikan ikat pinggang itu."


"Dugaanmu benar Jun, ini bukan ikat pinggang biasa. Aku bisa merasakan getaran magisnya walaupun lemah." Seru Haris, kini benda itu diambil alih olehnya.


Haris tersenyum tipis, "Aku tidak menyalahkanmu, tenanglah. Aku hanya berpikir benda ini pasti ada gunanya. Sebagai tuan pemilik ilmu sihir, sangat jarang menerima murid atau memberikan benda yang mengandung sihir kepada bawahan yang bukan penerusnya. Semua pengawal memakai benda ini, berarti kalian berguna untuk akses ke tempat dalam jangkauan sihirnya."


Gumam Haris, ia berfirasat baik tentang benda itu.


Xiao Jun mengangguk setuju, "Analisa ayah ada benarnya, sekalipun kita tahu di mana posisi mereka, tapi saat kita memaksa masuk dalam area yang ditandai sihirnya, dia pasti langsung menyadari serangan itu. Akan lebih baik jika ada sesuatu yang energinya sama memasuki daerah kekuasaannya, dia tidak akan curiga, kita bisa menyelinap masuk."


Wen Ting mulai paham, apalagi melihat ayah dan anak di hadapannya seperti berbahasa isyarat dengan senyuman. "Maksud ayah, benda ini seperti kunci masuk ke tempat rahasia Chen Kho? Maksud adik ipar, kita bisa mengecohkan perhatian musuh dengan masuk tanpa pemberontak menggunakan alat dari mereka?"


Xiao Jun dan Haris mengangguk bersamaan, "Benar kakak ipar." Jawab Xiao Jun.


Wen Ting ikut tersenyum senang tetapi sesaat kemudian senyum itu ditarik kembali. "Tapi di mana persisnya tempat itu? Lautan di dunia ini begitu luas, waktu kita akan habis hanya untuk mengitarinya. Aku takut kita datang terlambat...." Ujar Wen Ting pesimis.


Hening dan tegangnya Wen Ting ikut menyebar pada orang-orang dalam ruangan itu, masih ada teka-teki utama yang harus dipecahkan, di mana tempat persembunyian Chen Kho?


💟💟


Selepas kepergian Grace, kediaman Li benar-benar terasa sepi. Tersisa Liang Jia yang begitu sabar dan setia merawat Li San, selebihnya hanya pelayan dan pengawal yang formalitas menjaga mereka karena kepatuhan. Liang Jia merasakan kerinduan pada Xin Er, di saat-saat susah seperti ini, hanya Xin Er lah yang selalu di sampingnya untuk berbagi rasa.


Helaan napas kasar Liang Jia menarik perhatian Li San, ia melirik pada istrinya yang duduk di sampingnya. "Ada apa? Apa yang membebanimu lagi?"


Liang Jia terkesiap, ia tak menyangka desahan kasarnya kepergok suaminya. "Kamu sudah bangun? Apa aku membangunkanmu?" Tanya Liang Jia pelan seraya menatap suaminya.


Li San menggelengkan kepala pelan, "Aku sudah bangun sejak tadi, tidur terus membuat kepalaku pusing. Kau jangan memendam sendiri masalah, aku siap mendengarkanmu." Pinta Li San pada istrinya dengan lembut.


Perhatian kecil Li San tanpa dia sadari telah menyentuh perasaan Liang Jia. Mata wanita tua itu berkaca-kaca, tanpa kedipan menatap penuh binar pada suaminya.


Li San terkejut, ia menyeka air mata Liang Jia dengan penuh perhatian.


"Ai yoo... Ceritalah, apa yang terjadi sampai kau menangis?" Li San kembali bertanya.


Liang Jia menggeleng pelan, ini salahnya yang tak bisa menahan air mata haru karena tersentuh perhatian kecil suaminya yang sangat lama ia rindukan. Ketika Li San menyeka pipinya, Liang Jia meraih tangan itu hingga Li San menatap bingung padanya.


Mereka saling bertatapan dalam diam, bahasa isyarat dari mata tanda kedipan itu mewakili isi hati mereka.


"Terimakasih telah kembali menjadi suamiku seutuhnya...." Lirih Liang Jia, ia sungguh-sungguh dengan kata-katanya.


💟💟💟