OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 309 AKU MENYERAH, AKU LELAH!



Xiao Jun membawa Grace mengunjungi sebuah bar privat yang pernah ia jadikan tempat negosiasi bersama Bams dan Stevan. Setidaknya ia bisa memastikan jaminan keamana privasi di tempat ini, berhubung statusnya yang


bukan orang biasa dan Grace juga yang baru merintis karier keartisannya. Mereka belum memulai pembicaraan serius seperti yang dikoarkan Grace, gadis itu justru lebih antusias meneguk Wine, gelas demi gelas.


Xiao Jun melirik jam tangannya, pukul dua dini hari dan ia masih duduk menemani seorang gadis yang berpotensi mabuk jika tidak segera berhenti mencekoki dirinya dari alkohol itu. Belum lagi Xiao Jun dijadwalkan berangkat ke Beijing pukul sepuluh pagi, jika terus duduk diam seperti ini, mungkin ia tidak perlu tidur hingga keberangkatan besok. Namun untuk memulai pembicaraan, sepertinya Xiao Jun tak berniat. Ia akan tetap mengikuti alur Grace, melihat sejauh mana gadis itu menyiapkan diri untuk bicara.


Grace menggoyangkan isi gelas slokinya yang sisa seteguk, ia menyeringai menatap minuman berwarna merah itu. “Kamu tahu nggak susahnya memenangkan cinta yang nggak ada harapan sama sekali dari awal?” Grace mulai buka suara, ia bersikap seolah tengah bicara dengan gelas. Saat melontarkan pertanyaan itu, tatapannya terfokus sepenuhnya pada gelas.


Xiao Jun mengernyit dan tetap diam, ia merasa Grace mulai dipengaruhi alkohol.


“Aku sudah kalah bertaruh, aku sudah menginjak harga diriku sendiri, aku sudah melakukan apapun tapi tetap kalah.” Grace mulai tertawa, ia masih terlihat bicara pada gelas.


Xiao Jun mulai gusar, ia lebih cemas jika Grace sungguh mabuk maka akan sangat merepotkan tim yang bekerja dengannya besok. “Grace, kamu masih syuting besok. Jangan minum lagi.” Xiao Jun bergeser mendekati Grace


kemudian merebut gelas dalam pegangan gadis itu.


Grace memincingkan mata tak senang ketika gelasnya direbut, ia menatap tajam pada Xiao Jun yang juga menatapnya lalu tak lama kemudian tawa gadis itu pecah. “Kamu … Gara-gara kamu, aku kehilangan seluruh


kebahagiaan hidupku. Gara-gara mengejar cintamu yang ternyata hanya buat gadis itu. Aku sangat terlambat buat menyadari kalau aku harus segera berhenti mengejar sesuatu yang tak pasti. Sayangnya baru sekarang aku sadari, aku menyerah. Aku lelah!”


Tubuh Grace langsung bersandar pada sofa yang ia duduki, satu tangannya memegang kening.iaa mulai merasa dunia berputar kencang, namun kesadarannya masih terkendali dan ia tahu betul apa yang diucapkannya. Ia perlu memaksakan diri meneguk bergelas-gelas Wine demi mengumpulkan keberanian saja, ia perlu nyali lebih untuk mengumumkan keputusannya.


“Grace, sudah … Kamu mulai mabuk. Sebaiknya kita pulang, kamu perlu istirahat buat kerja besok.” Xiao Jun mulai menarik tangan Grace, ia hendak memapah gadis itu pergi dari ruangan itu. Namun Grace mengelak, sekuat tenaga ia menepis tangan Xiao Jun hingga membuat pria itu mengernyit bingung.


“Aku nggak mabuk, aku seratus persen sadar apa yang aku katakan. Kamu diam saja, duduk dan dengarkan aku sampai selesai!” Pekik Grace, ia bersikeras meyakinkan dirinya tidak mabuk padahal kondisinya sekarang


menunjukkan sebaliknya.


Xiao Jun menghela napas dalam-dalam, ia kembali menempatkan diri di sofa. “Oke, lanjutkan.” Ujarnya pelan, jujur ia prihatin melihat kondisi Grace. Kenyataannya bahwa dia punya andil membuat kehidupan gadis itu berantakan, sikap tidak tegas dan tak berani mengambil resiko itulah yang menjadikan Grace sebagai korban perasaan.


“Jun, aku sudah berpikir panjang ….” Grace menjeda pembicaraan lalu mengambil napas panjang. Ia kembali menatap Xiao Jun yang juga menatapnya lekat, pria itu pasti penasaran dengan kelanjutan omongannya yang


terputus.


“Aku menyerah mencintaimu, Jun. Kita sudahi saja pertunangan palsu ini.” Grace menyuarakan dengan lantang, tatapannya tajam tak berkedip melihat Xiao Jun yang terkejut.


“Hei, kamu nggak apa-apa? Bukankah seharusnya kamu senang? Inikan yang kamu harapkan dariku, kenapa malah tampangmu seperti orang tidak mau kehilangan?” Ketus Grace, ia melihat ekspresi bingung Xiao Jun yang sekejab menyulap tampang pria itu seperti orang yang sedang frustasi.


kan?” Tanya Xiao Jun.


Grace mendelik sejenak, “Kalau kamu merasa ini candaan ya sudah aku tarik kembali ucapanku.” Gertak Grace, yang jelas ia hanya bercanda karena tekadnya sudah bulat untuk menyampaikan hal itu.


Xiao Jun menggelengkan kepala dengan cepat, takut Grace berubah pikiran lagi.


“Kalau hanya buat bercanda, ngapain aku maksa kamu keluar sampai cari tempat privat begini. Jun, selamat ya mulai saat ini kamu bebas. Aku juga sudah membebaskan hatiku dari rasa sakit yang kuciptakan sendiri.” Ujar Grace lirih.


Xiao Jun tersenyum tulus, untuk pertama kalinya ia menaruh simpati pada gadis yang dikenalnya sangat manja dan egois itu. “Grace, terima kasih atas pengertian dan kebesaran hatimu. Maaf, aku memang pria jahat yang tahunya hanya membuatmu terluka.”


“Trus bentuk pertanggung-jawabanmu apa?” Seru Grace, kali ini ia bisa menyunggingkan senyum lebar yang terlihat seperti senyuman intimidasi.


Xiao Jun membisu dibuatnya, ia takut salah memberikan jawaban di saat hati Grace yang dirasanya masih labil.


“Please deh, aku hanya bercanda. Segitunya kamu takut aku berubah pikiran. Huft, setelah mengungkapkan itu rasanya bebanku hilang semua. Plong banget hatiku sekarang.” Grace tertawa kecil, ia menertawaka dirinya sendiri.


Xiao Jun mengangguk paham, ia tahu betul bagaimana rasa plong itu karena ia pun pernah merasakannya. “Grace, aku harap kita bisa berteman. Aku, kamu dan Weini, ah … Weini sangat berharap bisa berteman denganmu.” Ungkap Xiao Jun.


Grace tersenyum simpul, “Gimana ya, berteman sama mantan tunangan itu sesuatu banget loh, Jun. Kamu nggak tahu suatu waktu perasaanku tumbuh lagi?” Grace melirik Xiao Jun, pria itu sungguh tidak bisa diajak bercanda. Grace terbahak melihat ekspresi bingung Xiao Jun yang percaya bahwa Grace akan seperti itu.


“Memungut kembali sesuatu yang sudah dibuang itu bukan prinsipku, so … Aku nggak mungkin punya perasaan lagi sama kamu. Next baik-baik ya sama Weini, jangan sakiti dia! Aku mundur agar kamu totalitas mencintai dia, jangan bikin pengorbananku sia-sia.” Ujar Grace lirih, ia menatap langit-langit dengan tatapan sendu saat mengungkapkan permintaan itu.


Xiao Jun terus menatap Grace meskipun gadis itu tidak meresponnya. “Kita harus segera kembali ke Hongkong, keluarga kita perlu tahu keputusan ini. Mereka harus dengar langsung dari kita, atau mereka akan berpersepsi kalau aku yang memaksamu. Besok aku akan ke Beijing, setelah aku kembali, segera kujadwalkan keberangkatan kita.” Seru Xiao Jun dengan mantap.


Grace hanya tersenyum, tidak menyanggupi pun tidak menolak. “Sampaikan salamku pada kak Li An. Aku turut berbahagia untuknya, dan juga semoga dia memaafkan kesalahan kakakku di masa lalu.” Ungkap Grace lirih,


ia menyeka air mata yang sedikit merembes dari ujung matanya. Penyesalannya begitu dalam pada Li An, meskipun bukan ia yang menyakitinya namun Grace tahu betul bagaimana sakitnya Li An saat itu karena ulah kakaknya.


“Pasti kusampaikan, dia pasti sudah baik-baik saja sekarang. Sekali lagi terima kasih, Grace.” Desis Xiao Jun, ia memang harus berterima kasih atas kebesaran hati gadis itu untuk menyerah sebelum dia semakin lelah di kemudian hari. Lelah mengejar cinta yang bukan untuknya, lelah mencintai yang bukan jodohnya.


Grace tersenyum lirih, ia percayakan seluruhnya pada Xiao Jun. Pria itu tidak perlu tahu alasan sebenarnya ia mengangkat bendera putih. Cukup Grace simpan dalam hati ketakutan terbesar yang mengusiknya hingga segera menyerah dan mengakhiri semua ini, meskipun tetap dialah yang akan tersakiti nantinya, ia benar-benar sudah pasrah.


***