OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 185 TANGISAN YANG TERLALU BERHARGA



Li An berlari menuju lift, melewati puluhan pasang mata yang menyaksikan kesedihannya. Gadis itu menutupi separuh wajah dengan satu tangan sambil berlarian mendekati pintu yang akan membawanya pergi dari kenyataan pahit di sana. Ia berhasil meraih tombol lift dan memencet pintunya terbuka, ketika ia masuk dan hendak memencet turun ke lantai dasar, sebuah tangan kekar mencegat pintu dan ikut memenuhi ruang lift.


“Nona, kita datang bersama pulang juga harus bersama.” Ujar Lau lembut mengingatkan Li An bahwa masih ada satu orang yang belum lengkap di antara mereka.


“Ah, iya maaf paman. Di mana Xiao Jun?” suara Li An terdengar parau lantaran menahan tangis yang tak ia biarkan terjadi.


Lau tersenyum tenang, “Tuan muda masih di atas, mungkin urusannya belum selesai. Nona bersedia menunggu sebentar di bawah? Saya antarkan ke ruang tamu agar lebih santai menunggu.”


Li An mengangguk menuruti saran Lau. Gara-gara memergoki perselingkuhan kekasihnya hingga ia lupa tujuan awal Xiao Jun mengajaknya kemari demi urusan pekerjaan. Ia masih saja dikalahkan oleh sisi egois dari perasaannya. “Baiklah, asal tidak merepotkan.”


“Tentu tidak merepotkan, nona. Tuan Xiao Jun meminta saya menjaga anda, jika ada hal yang nona inginkan mohon jangan sungkan beritahu saya.” Ujar Lau.


Li An tersanjung mendengar perhatian Xiao Jun, betapa baiknya adik laki-laki itu memperlakukannya sebagai kakak dan sebagai seorang wanita. Ia belum pernah menerima kebaikan dari pria seperti ini, Li An merasa beruntung memiliki Xiao Jun.


***


Tendangan dengan kekuatan penuh amarah ditujukan pada punggung Xiao Jun. Posisi mereka kian dekat namun Xiao Jun tampak belum menyadari serangan mendadak itu. Ia terus berjalan mendekati pintu dan berhasil meraih gagang pintu. Ketika daun pintu bergeser, Xiao Jun dengan sigap mengelak ke samping hingga tendangan Chen


Kho mendarat mengenai pintu lalu ambruk. Pria itu ambruk kesakitan bersamaan dengan pintu yang roboh saking kuatnya tenaga yang ia pakai.


Xiao Jun melipat tangan kemudian dengan angkuh berjalan melewati Chen Kho yang berusaha bangkit dari posisi jatuh. “Hei, apa yang kau lakukan sampai pintu jadi pelampiasan?” ujar Xiao Jun menyindir habis-habisan pria itu. Ia berani bertaruh setelah ini Chen Kho akan kehilangan muka akibat perbuatannya. Andai ia tidak ngotot menyerang, tidak akan ada orang di luar ruangan direktur yang tahu masalah ini. Tetapi ia merobohkan pintu, membuka aibnya sendiri di depan seluruh staf.


Xiao Jun menyodorkan tangan dengan inisiatif baik hendak membantu Chen Kho berdiri, tentunya separuh pamrih karena ia masih harus memperingatkan Chen Kho untuk yang terakhir kali. Uluran tangan itu dianggurkan Chen Kho, walau tertatih dan harus mengandalkan meja di sekitar untuk menyanggah tubuhnya berdiri, ia lebih memilih menolak bantuan Xiao Jun.


“Aku sebenarnya bisa baik tapi juga bisa sangat kejam, tergantung gimana orang memperlakukanku. Anggap saja ini imbalan atas sakit hati kakakku. Oh ya, terima kasih sudah membantu menjaganya sebentar saat aku tak ada, ya walaupun itu palsu.” Bisik Xiao Jun dengan senyum kemenangan. Ia berlalu begitu saja, membiarkan puluhan staf yang jadi saksi menggunjingkan kejadian memalukan barusan dan sembari berbisik memuji Xiao Jun.


Chen Kho menatap punggung Xiao Jun yang kian menjauh, bara dendamnya membara. Ia tertawa dalam hati, menertawakan kekalahannya sekarang sekaligus tawa girang karena punya lawan yang seimbang. “Menarik!”


***


kosong. Lau menggelengkan kepala, ia prihatin dan paham perasaan Li An sekarang. Beberapa kali melihat Xiao Jun merana, plus mendengar tangisan Weini membuat Lau makin berpengalaman menangani orang patah hati. Yang harus ia lakukan dalam kondisi ini hanyalah diam dan jadi pendengar yang baik jika diperlukan.


Xiao Jun menyusul dalam ruangan berfasilitas mewah itu lalu mendapati Li An asyik melamun. “Maaf membuat kalian lama menunggu.” Xiao Jun berkata dengan lembut, takut mengejutkan kakaknya.


Li An menyudahi lamunannya, ia menatap Xiao Jun dan memaksakan diri untuk tersenyum. “Jun, sudah selesai? Ini minumlah dulu.” Minuman yang seharusnya jatah Li An malah diberikan pada Xiao Jun yang baru bergabung. Lau diam saja, dalam hati ia bertanya apa minuman yang ia buat kurang meyakinkan sehingga Li An enggan meminumnya.


Xiao Jun menerima gelas dari tangan Li An dan meminumnya habis, bukan karena ia haus tapi lebih menjaga perasaan dua orang di hadapannya. “Ayo pergi, kita makan siang di luar kak.”


Li An dan Lau mengikuti Xiao Jun tanpa komentar, kehadiran mereka di lobby masih mendapat sambutan hormat dari setiap staf yang dijumpai. Hingga Xiao Jun dan Li An masuk ke dalam mobil, Lau akhirnya undur diri. Pengawal itu datang seorang diri dan masih harus melakukan tugas lain yang belum selesai.


Li An masih diam dan Xiao Jun tahu kakaknya sedang memendam kesedihan untuk diledakkan saat sendirian. “Kalo mau nangis, nangis aja kak. Anggap saja aku nggak ada.”


Li An kaget lalu menoleh ke Xiao Jun yang kebetulan sedang menatapnya. Tawa Li An pecah, “Menangis buat dia? Air mataku terlalu berharga untuk pria tidak baik itu. Jun, aku sebenarnya tahu dia nakal, dia punya cewek lain, tapi selama ini aku bohongi diriku untuk memaklumi dan memaafkannya. Tetapi melihat dengan mata sendiri, dia melakukan itu … Aku nggak mau lagi membohongi diriku, membiarkan hatiku terluka demi terus bersama dia.”


Xiao Jun memasang telinga sebagai pendengar yang baik, orang patah hati lebih ingin didengar sehingga nasehat apapun hanya akan jadi suara mubajir. Ia membawa Li An ke restoran sebuah hotel elit, tentu setelah ia mengosongkan tamu di sana. Antusias Li An tidak seheboh saat dirinya dipermak cantik, ia lebih pasrah dan


mencoba menikmati suasana.


Beragam makanan mewah yang belum pernah dilihatnya pun tersajikan. Xiao Jun mempersilahkan kakaknya mencicipi terlebih dulu. “Aku nggak tahu kakak tipe cewek yang gimana, ada yang kalau patah hati trus lampiaskan ke makanan enak, ada juga yang mogok makan. Tapi semoga kamu nggak bikin makanan enak ini nganggur kak.”


Candaan Xiao Jun berhasil membuat Li An tertawa lepas, ia tak menyadari ketika berhadapan dengan saudaranya secara otomatis sisi humorisnya keluar.


“Jun, kau ada ada saja. Bicaramu seperti pakar cinta, beruntunglah wanita yang mendapatkan hatimu.” Ujar Li An tertawa kemudian tergugah mencicipi godaan berat yang disuguhkan untuknya.


Tawa Li An mengorek luka Xiao Jun, penilaian itu terlalu sempit karena sebenarnya Xiao Jun merasa gagal menjaga perasaan gadis yang ia cintai. “Nggak juga kak, aku malah menyakiti dia dan tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi.”


***