
“Mari bersulang!” teriak Stevan yang girang memamerkan gelasnya yang berisi Wine. Tiga rekannya di sana pun ikut bersulang, merayakan malam para pria lajang yang penuh ebebasan. Begitulah Stevan melabeli pestanya malam ini, dalam sebuah kamar terpisah di apartemen Grace.
Xiao Jun, Su Rong serta Ming Ming cukup pasif dan hanya jadi pelengkap kegembiraan Stevan saja. “Bersulang.”
Ujar mereka bertiga bersamaan.
Malam yang terasa hangat berkat minuman beralkohol itu, dan juga persahabatan yang kian akrab dan
mengabaikan perbedaan status di antara mereka.
“Setelah aku dan Grace nikah, pokoknya kamu harus segera nyusul ya bos bro! Aku pikir malah kamu
yang duluan, ternyata kamu masih betah pacaran.” Celetuk Stevan yang kesadarannya sudah separuh terpengaruhi alkohol.
“Bro, kamu sudah mabuk loh.” Seru Ming Ming yang was was jika Stevan masih meneruskan minumnya. Ia
inisiatif menjauhkan botol yang masih berisi separuh itu agar tidak terjangkau oleh Stevan lagi.
“Ng, baru minum segini nggak mungkin bikin aku mabuk. Ke siniin lagi botolnya!” Ujar Stevan
mencoba merebut lagi minumannya namun ditahan oleh Xiao Jun.
“Sudahlah, kalau diteruskan lagi pestanya tidak asyik lagi. Yang ada malah lihatin kamu ngomong ngelantur.” Gumam Xiao Jun mencoba meyakinkan Stevan untuk berhenti minum. Ia meraih botol Wine itu dari tangan Ming Ming kemudian meneguknya langsung dari botol. Sontak tingkah Xiao Jun yang di luar perkiraan itu sukses membuat rekannya melongo kaget.
Stevan berdecak, tak habis pikir dengan isi pikiran bos muda itu. “Kamu yang suruh berhenti tapi kamu yang kasih contoh tak baik.” Gumam Stevan seraya mencibir.
Xiao Jun mengelap bibirnya dengan telapak tangan kemudian tersenyum puas, sekaligus menorehkan senyuman itu pada Stevan yang tampak sewot minumannya dikuasai olehnya. “Setidaknya aku lebih kuat minum daripada kamu.”
Stevan menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit sejenak ketimbang melihat senyum Xiao Jun yang seakan meledeknya. “Iya deh percaya yang kuat minum.” Seru Stevan dengan nada ketusnya.
Ming Ming dan Su Rong hanya mengangkat bahu, pasrah melihat tingkah dua pria yang mulai ngelantur.
Dua pengawal ganteng itu saling melirik kemudian Ming Ming yang berinisitiaf membuka pembicaraan. “Tuan muda, saya ingin menyampaikan pesan dari tuan Lo, tentang pemindahan tugas saya menjadi pengawal anda.” Seru Ming Ming yang baru berkesempatan bicara serius setelah menunggu sekian lama.
Xiao Jun menatap Ming Ming dengan ramah, jauh sebelum pengawal muda itu tahu rencana pemindahan tugasnya,
ia sudah lebih dulu tahu dari Wen Ting. Ini murni ide Wen Ting yang ingin mempersatukan pengawalnya dengan gadis yang ia cintai. Padahal Xiao Jun tahu bahwa Ming Ming adalah salah sat pengawal kesayangan kakak iparnya, namun demi masa depan yang lebih baik, ia merelakan pria muda itu mengejar dan memenangkan
cintanya.
Xiao Jun mengangguk pelan sebagai respon atas pernyataan resmi Ming Ming barusan. “Ya, aku dengan
senang hati menerimamu sebagai orangku. Kamu bisa minta Su Rong untuk membimbingmu jika ada yang perlu kau tanyakan.” Ujar Xiao Jun tegas.
“Ah tuan, sepertinya justru saya yang harus banyak berguru pada Ming Ming. Bahasa Indonesianya
sangat fasih, sedangkan saya baru hapal beberapa kata di sini.” Seru Su Rong yang mengingatkan kembali kelemahannya di depan tuannya.
Xiao Jun manggut-manggut, bisa bisanya ia lupa bahwa basic Su Rong memang dari tuan yang berbeda dan ia tidak dibekali kemampuan bahasa asing seperti pengawal Wen Ting. “Baiklah kalau gitu, kau bisa tanyakan pada paman Lau jika ada hal yang ingin kau tanyakan. Dan selebihnya kau akan tinggal di apartemenku, bersama Su Rong serta pengawal Lau.” Ujar Xiao Jun mantap.
Ming Ming membungkuk hormat, setidaknya ia tidak perlu seatap dulu dengan Dina. Ia merasa sangat
canggung lantaran mereka masih berstatus pacaran dan pasti kurang etis bila diketahui tetangga bahwa Dina membawa pria asing ke rumahnya. Ming Ming hanya tidak ingin kekasihnya terlibat masalah gara gara dia. “Baik Tuan, terima kasih.” Seru Ming Ming seraya masih dalam posisi hormat.
Stevan yang sejak tadi diam sebagai penonton tiba-tiba membuyarkan suasana dengan suara tepuk
tangannya. Sontak tiga pria itu melirik ke arah Stevan yang wajahnya tampak memerah. “Wow... Bos bro, kamu kok enak banget ya bisa punya banyak pengawal. Bagi satu dong, biar aku merasa jadi orang keren yang dilindungi dari beberapa sisi. Wusss... wuss....” Seru Stevan sembari mengibas tangannya, memeragakan
Ming Ming dan Su Rong mengulum senyumannya, ingin tertawa namun masih menjaga image Stevan yang
tampaknya mulai dipengaruhi alkohol. “Udahlah, tidur saja kau daripada terus berkoar nggak jelas.” Seru Su Rong yang langsung inisiatif membopong Stevan keluar dari sana. Untungnya pria itu tidak menolak, meskipun terus berceloteh sambil dibawa pergi.
“Jun, ingat ya jangan kecewakan adikku. Kami kakak beradik dari ayah Haris. Oh, dia juga ayahmu,
berarti kita saudara juga.” Gumam Stevan sambil terkekeh sendiri.
Xiao Jun mengangkat satu alisnya, heran dengan tingkah Stevan yang gampang mabuk sekarang. Padahal sebelumnya ia pernah mengajaknya pesta minum dan pria itu kuat minum juga. “Mungkin seiring usia kemampuan minum juga berkurang ya?” Gumam Xiao Jun pelan.
Ming Ming menganggukkan kepalanya, padahal Xiao Jun tidak meminta tanggapannya dan lebih terkesan bertanya pada diri sendiri, tapi pengawal muda itu malah menjawabnya. “Benar tuan, apalagi kalau tidak rutin minum maka kemampuan akan cepat turun.”
Mendengar pernyataan Ming Ming barusan malah membuat Xiao Jun menaikkan dua alisnya. “Hmm... begitu
ya, aku juga jarang minum, mungkin aku juga akan seperti dia suatu hari nanti.” Seru Xiao Jun. Ming Ming hanya menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyuman.
Xiao Jun melihat postur tegap pengawal muda itu, tampak gagah dan menarik. Pantas saja Dina terpikat
pesonanya, tapi yang tak Xiao Jun habis pikir, Ming Ming juga punya ketertarikan dengan gadis manager itu. “Ming, apa yang membuat kamu suka sama Dina?”
Pertanyaan yang dengan enteng tercetus dari Xiao Jun namun sulit untuk mengeluarkan jawabannya.
Ming Ming terdiam sejenak, berpikir sesaat dan serius tentang apa yang ia sukai dari seorang Dina. Alisnya ikut mengerut saat ia mengerutkan dahinya, ingin memilih tidak menjawab namun takut menyinggung tuannya.
“Tuan, maafkan saya, saya ingin menjawabnya tapi saya tidak menemukan alasan yang tepat. Saya tidak
tahu apa yang sata sukai dari Dina, tapi yang jelas saya serius mencintainya.” Seru Ming Ming dengan kemantapan hati yang membuat Xiao Jun terpukau.
Xiao Jun manggut-manggut, melihat kesungguhan Ming Ming malah membuatnya merasa termotivasi untuk segera mengakhiri penantian Weini.
“Baguslah, aku senang mendengarnya. Memang seharusnya begitu, tidak perlu ada alasan untuk saling
mencintai. Karena kalau pakai alasan, cinta itu mudah hilang seiring alasan yang lenyap itu. Aku, kak Wen Ting dan nona Yue Hwa mendukung kalian. Dan aku juga sudah memikirkannya, tentang kelanjutan nasib kalian.” Gumam Xiao Jun serius.
Ming Ming membungkukkan tubuhnya pertanda hormat, “Terima kasih atas dukungan tuan dan Gong Zhu. Saya akan patuh dan setia kepada anda dan Gong Zhu.”
“Tak perlu sungkan, aku tidak akan berlaku tegas pada bawahanku. Tidak ada batasan di antara kita,
jika perlu apa pun jangan segan menyampaikan pada paman Lau atau langsung padaku.” Seru Xiao Jun lagi.
“Baik Tuan muda.”
Xiao Jun tersenyum tipis, sudah waktunya ia menyampaikan sesuatu yang teramat penting untuk diketahui pengawal itu. Hal yang sudah ia pikirkan sendiri dan belum dikonsultasikan pada Weini, tapi ia yakin begitu gadis itu mengetahuinya, dia akan setuju dengan keputusannya.
“Dan juga nanti ikutlah Gong Zhu kembali ke Hongkong. Kamu ku tugaskan di sana sebagai pengawal
khusus Gong Zhu.” Seru Xiao Jun mantap.
Deg! Bukan main terkejutnya Ming Ming mendengar amanah itu, ia tak sanggup menolak dan pasti harus patuh, namun kenyataan itu begitu menyakitkan, itu artinya ia akan kembali menjalani hubungan arak jauh dengan Dina. “Siap Tuan.” Jawabnya tak selantang sebelumnya.
Xiao Jun memahami isi hati serta keresahan pria muda itu, senyumnya mengembang seiring sebuah
pernyataan yang menyusul untuk dilontarkan. “Dan bawa serta Dina ke sana.”
***