
Nyaris satu jam berlalu, sepasang suami istri yang terpisah belasan tahun itu masih serius bertukar cerita. Haris mempercepat pesan yang ingin disampaikan sebelum putranya menyusul. “Xin Er, kau harus menjaga kesehatan, jaga diri baik-baik. Aku mohon maaf belum bisa melindungimu, belum bisa berkumpul denganmu kembali. Dan jangan ceritakan pada Li Jun kebenaran ini, jika saatnya tiba biar aku yang mengatakannya. ”
Xin Er menatap Haris dengan sedih, ia baru saja mendapatkan suaminya kembali namun harus diikhlaskan pergi lagi? “Kapan kamu kembali lagi? Apakah keluarga kita bisa bersatu lagi?” nada pesimis yang dilontarkan Xin Er sangat menyayat hati. Haris menguatkan hatinya, pertemuan singkat yang harus berujung perpisahan hingga entah kapan.
“Aku belum tahu sampai kapan. Tapi tenangnya aku pasti cari cara lain untuk kembali.” Haris memeluk Xin Er, dekapan yang sangat erat seakan tak rela dilepas.
“Berjanjilah padaku, di bawah langit dan di atas bumi sebagai saksi. Kamu harus kembali padaku. Menghabiskan sisa umur bersama-sama, aku akan menunggumu…” Xin Er terisak.
Haris ikut menitikkan air mata, permainan nasib yang belum berpihak padanya sebagai pemenang masih mengharuskannya bersembunyi dari kenyataan. “Aku berjanji.”
Langit dan bumi, bulan dan bintang menjadi saksi terucapnya janji sepasang suami istri. Bukan tentang sehidup semati, tetapi mengharap yang pergi akan kembali dan tak akan pernah terpisah lagi.
***
Dua orang pelayan menarik kursi untuk diduduki Xiao Jun dan Weini. Nuansa remang-remang bertaburan cahaya lilin sebagai penerangan menciptakan kesan yang sangat romantis. Selama ini Weini mengira candle light
dinner hanya ada dalam sinetron atau novel romance, nyatanya ia tengah merasakannya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi mengekspresikan rasa senang dan terima kasihnya pada sang kekasih.
“Eh… di mana ayah dan tante?” Weini baru sadar personil makan malam belum lengkap, masih ada orangtua mereka yang belum hadir.
Xiao Jun juga heran, “Harusnya mereka sudah sampai duluan. Sebentar ya, aku cari tahu.”
Seorang manager restoran menghampiri Xiao Jun sebelum ia beranjak dari duduk, “Selamat datang tuan Li Xiao Jun. Ada titipan pesan untuk anda dari nyonya, dan beliau mempersilahkan tuan dan nona makan malam
duluan jika berkenan.” Sebuah kertas putih yang terlipat diserahkan pada Xiao Jun.
Tulisan tangan itu sangat dikenali Xiao Jun, ibunya yang menggoreskan tinta berisi pesan itu. Xiao Jun tersenyum kemudian melipat kembali kertas itu pada lipatan semula. Weini hanya memandanginya dengan cemas dan penuh tanda tanya.
“Ada apa? Mereka di mana sekarang?” tanya Weini gusar. Tatapan matanya mengharapkan sebuah jawaban.
Xiao Jun dengan kalem membalas tatapan gadisnya, “Sepertinya mereka lebih tertarik menghabiskan waktu berdua. Gimana kalau kita beri mereka sedikit privasi? Ibuku bilang akan menyusul setelah bincang-bincang
dengan ayahmu selesai. Mereka keluar mencari udara segar sebentar.”
Ternyata bukan kondisi yang menakutkan, Weini bisa sedikit tenang lantaran Haris ternyata bisa mengambil hati ibu Xiao Jun secepat itu. “Sepertinya ibumu sangat ramah sampai ayahku bisa cepat akrab dengannya.”
“Kurasa justru ayahmu yang lebih hebat bersosialisasi. Hmm… kita mulai makan malam ya, kamu pasti sudah lapar.” Xiao Jun menginstruksi pelayan membawakan menu yang sudah ia pesan jauh hari.
Weini tidak menolak ajakan Xiao Jun, perutnya memang sudah menuntut jatah perhatian. Berbagai menu yang terlihat lezat mulai memenuhi meja, Xiao Jun memberikan sepotong kecil stick yang sudah ia potong ke dalam piring Weini.
“Coba ini, pasti kamu suka.” Senyum yang menawan hingga kedua mata Xiao Jun menyipit oleh senyumnya, terlihat begitu manis di mata Weini. Hanya dengan perhatian sekecil itu saja sudah bisa meluluhkan hatinya.
Dalam keremangan malam bertemankan alunan lagu cinta, dunia terasa disetting untuk sepasang kekasih ini. Segelas kecil wine non alkohol dituangkan Xiao Jun untuk Weini. Ia mengangkat gelasnya mengajak Weini bersulang, “Untuk kebahagiaan, kesuksesan kariermu dan kelanggengan kita.”
Ketika Xiao Jun menuangkan Wine untuk Weini lagi, Haris tiba-tiba muncul di belakangnya. “Wah, kalian tidak menyisakan untukku?” goda Haris.
Suara baritone itu mengundang perhatian Xiao Jun dan Weini, mereka mengira Haris datang bersama ibu Xiao Jun. Setelah melihat hanya ada Haris sendiri, ada rasa penasaran sekaligus kecewa.
“Silahkan bergabung paman. Oya, di mana ibuku?” akhirnya Xiao Jun mewakili suara hati Weini yang juga ingin bertanya namun sungkan.
Haris terlihat sedikit kecewa, disodorkannya lagi secarik kertas dan sebuah cincin berlian. “Ibumu ada urusan mendadak jadi terpaksa tidak bisa bertemu kalian, tapi dia menitipkan ini untukmu.”
Weini auto sedih, ia sudah maksimal menyiapkan diri tetapi malah gagal berkenalan dengan calon mertuanya. Xiao Jun membaca surat kedua dari ibunya, hari ini Xin Er membuat dua orang menjadi tukang pos. Jaman seakan kembali ke masa jadul, di mana surat kertas lebih berlaku ketimbang komunikasi via ponsel. Sangat disayangkan Xin Er memang tidak mempunyai ponsel, selama ini Xiao Jun mengandalkan Liang Jia untuk berkomunikasi dengannya.
Li Jun, ibu minta maaf belum bisa menemui kalian sekarang. Nyonya besar mengatur janji dengan dokter yang memeriksa ibu. Ibu sudah melihat kekasihmu lewat ponsel ayahnya, dia sangat cantik dan terlihat baik. Sampaikan padanya bahwa ibu sangat menyukainya, maafkan ibu yang belum bisa menyampaikan langsung padanya. Sebagai restu dari ibu, lamarlah dia dengan cincin peninggalan nenekmu. Secara turun temurun keluarga Wei mewariskan cincin ini kepada istri penerus keturunan, dan sudah saatnya ibu serahkan padamu. Kamu
punya hak penuh menentukan siapapun pasangan hidupmu, berbahagialah dan perjuangkan cinta kalian.
Haris diam-diam menatap cincin yang dipegang Xiao Jun, begitu banyak kenangan dari perhiasan sacral itu. Ketika ibunya memberikan cincin itu pada Xin Er, tidak disangka seterusnya Weini akan menjadi pemilik cincin itu. Meskipun masih harus menyembunyikan kebenaran, Haris secara penuh merestui hubungan putranya dan sang majikan yang sudah dianggap seperti anak juga.
Weini masih penasaran, dalam hatinya terbaca kegalauan dan banyak pertanyaan. Ia takut ibu Xiao Jun tidak bersedia menemuinya, tidak menyukainya, bahkan tidak mau merestuinya.
“Xiao Jun, apa isi suratnya? Kenapa tante tidak datang?” tanya Weini.
Xiao Jun meletakkan kertas itu kemudian menatap Weini begitu lekat. Gadis itu tidak menyadari cincin dalam genggaman tangan Xiao Jun. Mereka saling beradu tatap, seakan bisa berkomunikasi tanpa kata yang terucap.
***
Xin Er pulang lebih cepat dari yang diperkirakan, kakinya mulai lelah berjalan namun ia tetap bersemangat kembali ke hotel tempat ia dan Liang Jia menginap. Bak bermimpi, ia tidak menyangka orang yang akan ditemuinya mala mini adalah suaminya. Hati kecilnya tak henti mengucapkan terima kasih kepada Liang Jia yang telah mendandaninya, ini sangat berkesan dalam hidup Xin Er. Semasa muda dan berkeluarga, ia tidak pernah menikmati romansa seperti ini dengan Haris. Tidak disangka momen yang seharusnya mempertemukan ia dengan calon menantu justru menjebaknya pada kencan bersama suami. Walau hanya sebentar, rasa bahagianya pasti akan membekas lama dalam ingatan Xin Er.
“Kamu sudah pulang? Apa makan malamnya lancar?” Liang Jia terkejut, ia tak mengira Xin Er akan pulang secepat itu. Dalam ekspektasinya, Xin Er pasti pulang larut malam demi melepas rindu pada Xiao Jun serta berkenalan dengan gadis pilihan putranya.
“Ah, iya Nyonya. Xiao Jun sudah harus kembali ke Jakarta, ada urusan mendadak dari kantor yang harus ia tangani.” Xin Er menjelma sebagai pembohong, demi menutupi kebohongan lainnya ia mau tak mau harus terjebak kebohongan lagi. Ia bahkan belum sempat makan namun harus berpura-pura kenyang agar tidak mencurigakan.
Liang Jia tertegun, “Oh begitu… sayang sekali, sudah jauh hari diatur tetap saja ada kendala. Jadi gimana calon menantumu? Apa dia sangat cantik? Apa dia baik? Apa kerjaannya? Apa dia menyukaimu?” serombongan
pertanyaan ditodong sekaligus oleh Liang Jia. Tanpa ia sadari sifatnya menurun pada Weini yang juga suka bertanya banyak hal sekaligus.
“Sangat cantik, dia baik, ceria, ramah dan sukses. Dia artis terkenal di negaranya, mereka saling mencintai. Aku sangat menyukainya begitu pula dia.”
Semua penilaian itu bukanlah fiktif, meskipun hanya melihat Weini dari foto dan cerita Haris namun firasat Xin Er sebagai seorang ibu sangat peka. Ia yakin cinta Xiao Jun dan Weini sangat tepat, takdir yang mengikat mereka. Terlebih lagi, siapa yang mengira kelak jika mereka menikah maka Liang Jia dan Xin Er pasti semakin akrab.
Nyonya, putrimu masih hidup, ia sangat cantik, ia tumbuh jadi gadis yang mandiri, baik dan mewarisi kharismamu. Maafkan aku yang belum bisa menceritakan kebenaran ini padamu…
***