OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 544 PERSIAPAN DUA PIHAK



“Wah, sepertinya aku ketinggalan momen berharga. Kenapa kalian berpelukan tanpa aku?” Li An baru muncul di depan pintu kamar Xiao Jun setelah menyelesaikan makeup-nya. Tentu saja kakak perempuan Xiao Jun yang satu ini tidak mau ketinggalan momen bersejarah dalam keluarganya. Adik laki-laki satu-satunya bahkan bisa dibilang ini menjadi acara pernikahan terakhir dalam keluarga intinya. Li An dan Wen Ting sudah datang sejak kemarin, dan tentu mudah bagi nyonya Wen yang kaya raya itu untuk datang kapanpun ia mau dengan pesawat pribadinya.


Xiao Jun melonggarkan pelukan kepada kedua orangtuanya, tersenyum lembut pada kakak perempuannya yang cantik, apalagi aura ibu hamil semakin menambah nilai cantik wanita itu. Xiao Jun berjalan, menghampiri Li An kemudian memeluknya. “Xie Xie ni, Li An cie cie.” Lirih Xiao Jun, terdengar tulus dan menyentuh hati.


Li An membalas ucapan terima kasih itu dengan anggukan, ia sangat bangga memiliki Xiao Jun sebagai adik kandungnya. “Jun, cie cie yang harusnya bilang terima kasih sama kamu. Kamu selalu menjaga keluarga ini sejak kecil, kamu banyak berkorban untuk kita hingga bisa bersatu kembali. Dan yang bikin cie cie bangga, kamu benar-benar punya prinsip. Tidak disangka kamu ternyata menyisihkan uang dari hasil bisnis pribadimu untuk melamar Yue Hwa. Kami sungguh tak mengira kamu punya pemikiran sampai sejauh itu Jun, kamu hebat.” Puji Li An yang terkagum-kagum pada Xiao Jun, andai ia adalah Weini, tentu ia juga akan trenyuh dengan sikap Xiao Jun.


Xiao Jun hanya tersenyum mendengar pujian dari kakaknya, tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Lau, ia memang membangun sebuah perusahaan kecil dari uang pribadinya. Ia tidak mau sepenuhnya bergantung pada kekayaan klan Li, meskipun amat disayang dan diberi segala fasilitas oleh Li San. Xiao Jun tetap menganggap dirinya bekerja untuk tuan besar dan menabungkan semua gajinya, dari uang itulah yang ia kerahkan sebagai modal membangun usahanya sendiri dan digunakan untuk membeli seserahan untuk meminang gadis yang ia cintai.


“Dia bahkan menolak pemberian ayah, padahal itu yang diwariskan oleh leluhur kita untuk keturunan selanjutnya. Tapi ya sudahlah, nanti akan ayah selipkan saja uangnya dalam angpao pas menikah, anggap saja dari leluhur kita. Kamu tidak harus memakai angpao itu tapi bisa disimpan sebagai pembawa berkah dan kebahagiaan kehidupan pernikahanmu nanti.” Ujar Haris yang juga ikut merasakan kemandirian Xiao Jun, ia ditolak putranya ketika hendak memberikan sejumlah uang yang dikumpulkannya selama ini untuk membantu kebutuhan pernikahan.


Xiao Jun tertawa mendengar usul ayahnya yang pantang menyerah, semakin tidak tega jika sampai mengecewakan orangtua yang sangat peduli kepadanya. “Baiklah ayah, Jun tidak akan menolak rejeki. Terima kasih ayah, ibu, kakak.”


“Sudah... sudah... ngobrolnya dilanjutkan nanti saja, kita harus keluar rumah sekarang. Waktunya berkunjung ke kediaman wanita.” Xin Er mengingatkan sekali lagi, takut jika semakin terlarut dalam suasana haru, meskipun ia sendiri sangat menikmati momen seperti ini tapi tidak tepat waktu untuk diungkit berlama-lama, masih ada keharuan yang siap menyusul sesaat lagi.


***


“Ibu sampai tak mengenalimu, nak. Kamu benar benar sangat cantik.” Pujian tulus itu terlontar dari bibir Liang Jia yang masuk ke dalam kamar dan mendapati Weini berdiri dengan anggun, tersenyum melihat kedatangannya.


“Terima kasih atas bantuan kalian semua, boleh tinggalkan kami sekarang.” Ujar Weini kepada semua pelayan, penata rias serta Dina yang masih menemaninya di dalam kamar. Serentak semua orang yang diperintahkannya menjawab kemudian satu persatu meninggalkan kamar itu.


Liang Jia mendekati Weini, meraih tangannya kemudian menggenggamnya lembut. Wanita tua itu memperhatikan dengan seksama riasan wajah Weini yang membuat penampilan gadis itu berbeda dari biasanya. “Hwa, kamu sudah siap kan?” Tanya Liang Jia penuh perhatian.


Weini mengangguk pelan dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya. “Sudah ibu.”


“Ibu sepertinya yang belum siap melepas kamu, tapi untunglah setelah ini pun kita masih tinggal berdekatan. Ibu jadi sedikit lega.” Gumam Liang Jia yang mengutarakan maksud hati yang sesungguhnya, perasaan yang wajar dimiliki seorang ibu.


“Ibu, kan masih ada tiga minggu setelah prosesi pertunangan ini. Aku masih tinggal dengan ibu sampai hari pernikahan, kita saja masih perlu ke Jakarta bersama. Ibu jangan banyak pikiran ya, Hwa tetap bersama ibu seterusnya.” Uajr Weini mengingatkan kembali pada ibunya bahwa hari ini hanyalah pertunangan dan belum hari pernikahan, jadi wanita tua itu belum perlu secemas yang sekarang Weini perhatikan.


Liang Jia menggelengkan kepala sambil tersenyum, “Ah iya ya, ibu malah mengira ini hari pernikahanmu. Maafkan ibu, mungkin saking bahagianya mau melepas satu lagi putri ibu untuk menjadi wanita dewasa.”


Weini yang sudah tahu dari membaca pikiran ibunya pun hanya tersenyum, “Ibu tenang saja, pokoknya Hwa janji akan selalu ada untuk ibu.”


“Tidak perlu Hwa, seorang wanita yang sudah menikah harus memprioritaskan rumah tangganya. Jadilah istri dan ibu yang baik nantinya, itu saja sudah membuat ibu sangat senang dan lega. Tidak ada keharusan juga bagimu untuk berada di dekat ibu terus. Ibu sudah pernah mengalami lebih dulu, menjadi istri, menjadi ibu dan ya... tidak bisa sepenuhnya mengurus orangtua. Jadi kamu jangan merasa terbebani, selama ibu masih kuat, sehat, mendengar anak-anak ibu hidup bahagia saja sudah menjadi berkah bagi ibu.” Ungkap Liang Jia, memberitahu Weini tentang kebesaran hatinya sebagai seorang ibu.


Pembicaraan ibu dan anak itu terhenti ketika mendengar teriakan dari pengawal yang berjaga di depan bahwa rombongan Xiao Jun sudah mendekati paviliun Liang Jia. Sontak membuat Weini merasakan debaran jantung yang hebat, padahal sebelumnya ia cukup yakin bahwa dirinya akan tenang melewati prosesi yang sarat ritual ini. Ternyata setelah waktunya tiba, ketenangan yang ia kumpulkan menciut sepenuhnya.


“Hwa, sudah waktunya. Kamu tegang ya? Tidak apa-apa, itu sangat wajar dialami pengantin manapun. Mari, ibu antar menemui pasanganmu.” Ujar Liang Jia dengan binar penuh kebahagiaan. Tangannya bersiap menggandeng Weini keluar, menyerahkan secara simbolis putrinya untuk diikat status oleh pria pilihan hatinya.


***


Dina sudah berdiri di depan aula paviliun Liang Jia, mengikuti rombongan lain yang berjejer rapi menyambut rombongan Xiao Jun tiba. Dari ekor matanya, ia mengintip Xiao Jun yang tampak gagah dengan busana merah yang mencolok. Baru kali ini Dina melihat bos muda itu dalam tampilan begini, sontak mulut Dina ternganga saking kagumnya. Sayang sekali posisi berdirinya agak di belakang sehingga ia kurang leluasa mengambil gambar. Padahal Grace sudah menitip pesan untuk mengambil sebanyak mungkin foto Weini dan Xiao Jun saat prosesi, dan kalau bisa lebih bagus lagi mengambil rekaman video saat momen sakral itu berlangsung. Tapi ternyata, Dina menempati posisi yang kurang strategis, ia berkecil hati bisa mengabulkan permintaan Grace.


Li An celingukan di barisan belakang orangtuanya, matanya menangkap sosok Dina yang juga celingukan melihat dari posisi pojok. Senyum Li An mengembang, setidaknya ada orang yang ia kenali di ruangan ini dari pihak Weini. Dari raut wajah Dina saja sudah ketahuan kalau ia tak nyaman berdiri di sana.


“Awww... perutku.” Tiba-tiba Li An mengeluh seperti menahan rasa nyeri di bagian perutnya, sontak Wen Ting yang berdiri di sebelahnya serta Xin Er yang di depannya langsung memegangi tangan Li An.


“Kamu kenapa sayang?” Tanya Wen Ting sangat cemas, ia hendak membopong Li An keluar barisan namun ditolak dengan gelengan kepala dan Li An bersikukuh tetap di situ.


“Wen Ting, bawa Li An istirahat dulu, mungkin ia tidak kuat berdiri.” Pinta Xin Er yang tampak sangat mencemaskan kondisi Li An. Sedangkan Haris dan Xiao Jun yang berhasil menguping isi hati Li An, tetap diam saja, tidak terpancing menunjukkan kecemasan seperti ibu dan suami Li An.


“Ng tidak perlu ibu, tenang saja Li An nggak apa-apa. Li An masih mau di sini mengikuti ritual sampai selesai, tapi... sepertinya Li An perlu satu pelayan untuk mendampingi.” Ujar Li An agak tertatih, masih menunjukkan ekspresi wajah yang menahan sakit.


Wen Ting mengangkat satu alisnya, mendengar permintaan Li An yang aneh-aneh padahal lebih baik mereka menyingkir sejenak dari barisan agar wanita itu bisa istirahat. “Hmm... ya sudah, dayang di belakang yang bawa iring-iringan akan aku panggil satu untukmu.”


“Eh tidak, jangan ganggu mereka yang sedang bertugas. Di sini kan masih banyak pelayan yang nganggur, Gong Zhu pasti tidak keberatan meminjamkan satu pelayannya untukku. Hmm... biar aku yang pilih saja siapa orang yang aku mau.” Gumam Li An buru-buru mencegah Wen Ting mencarikan orang lain.


Dina yang mendengar kemauan Li An pun belum mengerti maksud hati Li An, ia malah tampak bengong melihati kakak Xiao Jun itu.


“Kamu!” Tunjuk Li An yang mengarahkan pada Dina.


Dina terkejut kemudian menunjuk diri sendiri dengan telunjuknya, bertanya ulang apakah yang Li An maksud adalah dirinya.


“Iya, kamu. Ke sini ya, jagain aku.” Ujar Li An meyakinkan pilihannya memang Dina.


Senyum lebar di bibir Dina langsung terlihat, kesempatan emas untuk membebaskan diri dari barisan yang sulit mendapatkan spot bagus untuk mengambil gambar. “Baik nona.” Jawab Dina bersemangat. Ia bergegas menghampiri Li An setelah pelayan lain membukakan jalan untuknya lewat.


“Nona, makasih ya.” Bisik Dina ketika sampai di samping Li An dan membantu Wen Ting menopang tubuh Li An.


Li An tersenyum simpul kemudian mengerdipkan sebelah matanya, tanpa dijelaskan pun mereka saling tahu kalau ini hanya akal-akalan Li An agar bisa mendekatkan Dina ke sampingnya.


❤️❤️❤️