
Chen Kho mendatangi kediaman para nona Li, ia belum bisa tenang ke kantor sebelum bertemu adiknya. Lingkungan dan suasana baru tentu berpengaruh pada Grace yang selama ini hidup serba bebas. Kini Grace malah tinggal terpisah dari ayah dan saudara laki-lakinya, aturan rumah ini memang mengharuskan hidup berjauhan
antara pria dan wanita walaupun masih sedarah.
Yue Xiao kebetulan sedang membawa kucing persianya menuju ke taman dan melihat Chen Kho terburu-buru datang. Gadis itu tahu maksud kedatangannya dan tak sabar menyampaikan sesuatu, ia penasaran seperti apa reaksi Chen Kho ketika tahu kelancangan adik kesayangannya.
“Koko Chen, tumben datang sepagi ini pasti mau menemui Grace kan?” ujar Yue Xiao sambil mengelus kepala kucing dalam gendongannya. Ia sengaja menghadang jalan Chen Kho dan menodong pertanyaan to the poin.
Chen Kho tersenyum paksa, tidak ada minat bertemu sepupunya yang manja itu namun justru dialah yang pertama kali ditemui. “Ah, adik memang paling tahu. Aku mampir sebentar mau memberitahu Grace agar menemani ayahku sewaktu aku ke kantor.” Chen Kho mengarang cerita asal-asalan yang penting terdengar masuk akal saja.
Yue Xiao tersenyum nyinyir, “Oh, sayang banget koko telat. Grace dari pagi sudah ke tempat tunangannya. Kayaknya udah nggak tahan rindu sampai harus samperin pria duluan.” Dan jelas perkataan Yue Xiao terdengar sangat menyindir.
Air muka Chen Kho otomatis berubah, ia tetap berusaha mempertahankan senyum terpaksa di depan Yue Xiao. “Terima kasih informasimu, kalau begitu aku menyusul Grace saja.” Chen Kho tak habis pikir adiknya bertingkah seagresif itu tanpa berpikir panjang tindakannya akan melukai harga dirinya. Chen Kho enggan berlama-lama di depan Yue Xiao, ia kesampingkan dulu nyinyiran sepupunya yang tertawa di atas kekonyolan Grace.
Grace dengan lunglai melangkah tanpa semangat memasuki gerbang kediamannya, untung saja ia punya alasan harus meminum rutin obat lambung sehingga bisa kabur sejenak dari pantauan bibi Gu. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa menjadi wanita terhormat dalam keluarga Li sangat ribet, menyaingi kehidupan
jaman kerajaan kuno. Terlebih lagi bibi Gu menyuruhnya mengganti pakaian yang lebih sopan sekembalinya dari sini.
“Adik? Kau baru kembali?” Chen Kho berpapasan dengan orang yang ia cari. Ketika melihat wajah lesu Grace, ia tak sampai hati memarahi tindakan sembrononya mencari Xiao Jun. Baru satu hari tinggal di istana Li saja sudah membuat Grace yang periang terlihat murung.
“Brother ….” Grace langsung menghambur ke pelukan Chen Kho dengan isak tangis yang pecah, tak peduli pelayan di belakangnya memandang risih dan tak mau tahu pandangan miring para pengawal dan pelayan yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
Chen Kho mengelus punggung Grace dengan lembut, hatinya seketika trenyuh mendapati tangisan pilu adiknya. “Sudah, sudah … kita ngobrol di taman saja. Jangan menangis lagi!” pinta Chen Kho lembut, sekeji-kejinya ia tetap luluh melihat kerapuhan adik perempuannya.
Grace menggelengkan kepala, ia tak bisa terlalu lama bersama Chen Kho. Jam belajarnya masih panjang hari ini dan bibi Gu masih menunggunya. “Tidak brother, eh Koko … aku tidak bisa lama-lama, pelajaranku belum selesai dan pengajarku masih menunggu.”
Chen Kho keherenan, “Pengajar? Apa yang kamu pelajari? Apa pria tak tahu diuntung itu yang menyusahkanmu? Akan ku beri pelajaran pada dia.” Chen Kho geram, tangannya mengepal keras mengira Xiao Jun yang membuat Grace menangis kesusahan.
Grace menggenggam tangan Chen Kho, ia tahu kakaknya tengah emosi dan salah sasaran. “Bukan, bukan dia. Tante yang meminta seorang pelayan mengajariku tata krama menjadi seorang wanita terhormat keluarga Li. Aku tak menyangka menjadi seorang istri saja harus belajar berjalan yang benar, makan yang benar, semua serba aturan. Koko … aku … apa aku seburuk itu?”
“Jadi nyonya Li yang menyusahkanmu? Adik, kau harus kuatkan diri. Kita sama-sama tahu keluarga ini bukan orang sembarangan, kamu tidak buruk tapi harus lebih baik lagi demi menyeimbangkan mereka. Apa pengajarmu keterlaluan? Dia membentakmu?” Chen Kho mulai mengamati Grace dari atas sampai bawah lalu terkejut melihat
lebam biru di lututnya.
“Kamu dipukul? Kenapa bisa lebam begini? Katakan mereka apain kamu? Akan kubalas setimpalnya biar tahu rasa!” Chen Kho berteriak cemas, seumur-umur ia tidak pernah memukul adiknya atau menyebabkan Grace terluka tapi kali ini ia melihat kaki adiknya tergores dan lebam.
“Bukan gitu koko, ini karena aku tidak hati-hati waktu latihan jalan dan tersungkur jatuh. Ini nggak seberapa sakitnya, aku hanya capek hati… apa dia akan baik padaku ketika aku sudah menguasai semua tata krama? Dia pasti mencintaiku kan ko? Aku pantas bersanding jadi istrinya kan?” Grace sesungukan, andai ada kepastian tentu ia tak akan mengeluh sesulit apapun yang ia hadapi ke depannya. Ia hanya menginginkan cinta Xiao Jun utuh untuk dirinya.
Chen Kho baru menyadari perasaan Grace pada pria yang tak ia sukai itu ternyata tumbuh secepat itu. Belum apa-apa saja Grace rela berkorban perasaan untuk menerima sesuatu yang tidak ia sukai. Ia tidak akan membiarkan Grace tahu bahwa Xiao Jun mencintai gadis lain dan kecil harapan bagi pria itu membuka hati padanya. Ia tak mampu melihat hancurnya hati Grace saat tahu hanya menjadi penghalang cinta orang lain.
“Kamu sangat pantas untuk dia, tapi mungkin dia yang tak cukup pantas buat kamu. Sekarang jujur padaku, tadi kamu ke tempatnya lalu dia mengusirmu kan?” Chen Kho menekankan pertanyaan itu untuk mendapatkan pengakuan jujur Grace. Ia paham betul sifat Grace yang harus dikecam baru berani mengakui kebenaran.
Hanya anggukan yang mewakili jawaban Grace, ia bahkan enggan menatap Chen Kho. Roda hidup berputar drastis ke bawah tanpa mengijinkannya menyiapkan hati. Kemarin ia bak tuan putri, disambut dan dielu-elukan kecantikannya, diperlakukan spesial oleh sang pangeran hati, dan hari ini ia tersisihkan, tak diharapkan seperti mutiara yang kehilangan kilaunya.
***
di tempatnya berdiri ini, sembari membayangkan bisa memencet jidat Stevan untuk balas dendam. “Ha ha ha …. Rasain lu.” Dina tertawa sendiri membayangkan bel itu sebagai jidat Stevan.
“Rasain apanya?” Stevan muncul di balik pintu, tampangnya kusut meskipun sudah berpakaian rapi dan tampak siap berangkat kerja.
Dina sewot saat khayalannya buyar dan disuguhi penampakan Stevan. “Nggak ada apanya.” Dina menghambur masuk tanpa menunggu dipersilahkan, toh kedatangannya pasti sudah ditunggu.
“Wow, bersih juga sarang lu. Ada pembantu yang rapiin ya? Kirain lu yang anti sosial bisa kerjain sendiri.” Celoteh Dina mengomentari hunian mewah Stevan yang sangat kinclong.
“Udah ngomongnya? Buruan kerjain kerjaan lu.” Stevan dengan nada ketus memerintah Dina, ia tanpa segan membuka kancing kemejanya dan mempertontonkan dada six pack yang berbulu tipis.
Dina langsung menutup mulutnya, “OMG … langsung aja nih? Nggak pake pemanasan dulu?” ujarnya ngelantur hingga Stevan melemparkan bantal sofa persis mengenai kepalanya.
“Lu masih waras nggak? Cepetan, gue harus ke kantor lebih awal nih.” Stevan memberikan punggung mulusnya di hadapan Dina, sayangnya kemulusan itu sedikit ternodai oleh luka yang sudah banyak mengering.
Dina mulai serius melepaskan perban lama yang mengering, lalu mengambil arak obat dan perban baru. Ditatapnya Stevan dari belakang, tiba-tiba ia merasa kasian dengan pria tampan itu. Dari luar kehidupannya seakan sempurna, hampir semua wanita menyukainya – kecuali Weini dan Dina – ia kaya, mapan, sukses, tapi sayang selalu kesepian. Dina merasakan dinginnya hunian mewah ini ditinggali seorang diri, ia yakin Stevan pasti sangat kesepian.
“Gimana kabar dia?” tanya Stevan pelan dan begitu lirih.
Dina menggelengkan kepala, ketika berhadapan langsung dengan Weini justru sikap Stevan sangat dingin. Di belakangnya malah begitu perhatian dan cemas, “Biasa aja. Dia orang yang tegarlah. Kayak nggak kenal dia aja. Yang perlu dicemaskan itu elu, di depan sok cool tapi di belakangnya lembek. Jujur itu susah ya?”
“Bukan susah, tapi jujur gue itu nyakitin dia. Mending gini aja, dia nggak terlalu beban karena gue.” Seru Stevan blak-blakan, ia main percaya saja pada Dina padahal Dina adalah tangan kanan Weini.
Dina Prihatin melihat cinta bertepuk sebelah tangan di antara dua sahabatnya, “Mau saran gratis? Lu mending move on secepatnya, Weini udah nggak ada harapan. Hatinya udah mentok buat satu orang.”
Stevan diam, mungkin tengah memikirkan jawaban. Ia tak memungkiri saran Dina memang ada benarnya, yang terkasihani adalah dirinya sendiri yang masih buta akan cinta. Masih mengharapkan secuil perasaan Weini yang tercurah untuknya suatu saat nanti, namun ia terus sakit hati melihat Weini tersakiti oleh pria lain. Ia tidak membenci Xiao Jun, pun tak bisa membiarkan pria itu menyia-nyiakan perasaan Weini.
“Let it flow ….” Ujar Stevan lirih.
***
Hi readers, setujukah kamu kalau kita ngeship Stevan sama Dina? Atau kita pasangkan Stevan dengan Grace saja? Tulis pendapatmu ya di kolom komentar, jangan lupa likenya. He he he…
Sincerely,
Author
Chantie Lee ^^