
Ketukan pintu yang semula pelan kini berubah menjadi gedoran tak beraturan, Dina kian panik lantaran tak seorangpun di dalam yang meresponnya. Ia sangat yakin tuan tumah itu ada di rumah dan yang paling janggal adalah lampu teras dan halaman yang belum padam. Selama tinggal di rumah ini, Dina hapal kebiasaan penghuninya yang selalu teliti dan displin dengan hal simpel sekalipun.
“Om Haris? Non Weini? Buka pintu!” pekik Dina sembari terus menggedor pintu.
Suara nyaring Dina mengusik pendengaran Haris, pria itu mulai terbangun. Matanya baru sanggup terbuka sedikit, sembari memincingkan mata ia mencari Weini yang ternyata masih tertidur dengan posisi duduk di tempat semula – menyandar pada kursi. Haris mencoba menggerakkan tangannya, tubuhnya terasa lebih bertenaga sekarang meskipun masih belum sepenuhnya pulih total.
Haris meringkuk dengan susah payah mendekati Weini, gadis itu tampak pulas tertidur. “Weini, bangun.” Desis Haris pelan, enggan mengejutkan gadis itu.
Weini terkesiap, kepalanya sempat menggeleng secara reflek lantaran terkejut dan cemas padahal suara Haris sangat terkontrol volumenya. “Ng, ayah …” suara Weini parau, ia cukup kehausan dan masih ngantuk tetapi kesadarannya perlahan terkumpul ketika melihat Haris di depannya.
Haris tersenyum dengan bibir memutih pucat, “Dina di depan lagi ketuk pintu, kamu sudah kuat kembali ke kamarmu? Atau perlu aku papah?” tanya Haris memastikan kondisi gadis itu.
Weini menghirup udara lalu menghembuskannya perlahan, dari tarikan napas itu ia bisa merasakan bahwa tubuhnya cukup bertenaga. Tidur sejenaknya ternyata ada efek positif terhadap pemulihan energi. Ia mengangguk meyakinkan Haris bahwa ia sanggup berjalan kembali ke kamarnya.
“Aku bisa sendiri ayah, ayah sendiri gimana? Yang mana yang masih sakit?” tanya Weini dengan segudang rasa kuatir, terlebih melihat wajah Haris yang pucat dan bibir putih kebiruan. Weini tidak tahu bagaimana tampangnya sekarang, kondisinya kurang lebih sama dengan Haris.
“Sudah mendingan, ayo segera kembali ke kamarmu. Aku yang bukakan dia pintu.” Ujar Haris membantu Weini bangun kemudian mereka berjalan tertatih menjalankan peran masing-masing.
Senyum Dina merekah ketika pintu bergerak, bahkan sebelum melihat siapa yang menyambutnya, ia tahu bahwa yang datang adalah Haris. “Om, kemana aja … Ah …” Dina kaget dan spontan berteriak ketika mendapati Haris dengan tampang lemah, pucat seperti orang kehilangan banyak darah. Dina langsung masuk dan memapah
Haris yang sempat terhuyung ke belakang saking tak kuat menopang tubuhnya sendiri.
“Aku nggak apa-apa Dina, nggak apa-apa lepasin aja.” Ujar Haris lembut, ia segan harus dibantu oleh manager Weini itu.
“Apanya yang nggak apa, Om kayak drakula kekurangan darah.” Dina memapah Haris dan membantunya duduk di sofa. Pandangan gadis itu menerawang ke sekeliling mencari penghuni lain.
“Mana non Weini?” akhirnya bertanya lebih cepat ketimbang menyimpan tanda tanya dalam hati, Dina heran saja dengan kondisi Haris yang tengah sakit namun Weini justru tidak kelihatan.
“Di kamarnya.” Jawab Haris singkat dan lemah.
Dina menoleh pada Haris saat mendengar jawaban dari pria itu, meskipun bingung tetapi Dina pun berjalan menuju kamar artisnya untuk memastikan apa yang dilakukan Weini. Ia meraih gagang pintu lalu memutarnya terbuka. Di sana ada Weini yang duduk di atas kasur, hanya duduk tanpa melakukan apapun.
“Non? Itu om lagi sakit ya? Apa nggak dibawa ke dokter a … aaarrrgghhh!” teriak Dina kaget, jantungnya nyaris copot dari tempatnya gara-gara melihat wajah Weini yang persis Haris pucatnya. Dina merinding, bulu kuduknya berdiri membayangkan imajinasis horror yang ia ciptakan sendiri. Jangan-jangan penghuni rumah ini sudah jadi drakula dan ia bakal jadi korban yang dihisap darah.
“Kak Dina, kenapa?” tanya Weini lemah. Nada bicara gadis itu terdengar seperti orang yang terkuras tenaga karena kerjaan berat ditambah dalam kondisi kelaparan.
Dina prihatin mendengar suara majikannya yang lain dari biasa, imajinasi konyolnya pun enyah dari pikiran dan ia kembali iba melihat kondisi Weini. “Non juga sakit?” Dina meraba kening Weini, semula ia mengira gadis itu demam namun yang ia dapati justru sebaliknya, suhu tubuh Weini pasti rendah saking dinginnya kening itu.
“Non, ini kening apa es batu? Aduuh … kalian kenapa sih kok kompakan sakit? Kita ke dokter ya non.” Dina inisiatif mencarikan baju ganti untuk Weini, tidak mungkin juga membawa gadis itu keluar dengan baju tidur.
Dina mengernyitkan kening, bingung harus berbuat apalagi. “Trus maunya gimana? Penyakit jangan dipelihara non, ketimbang nanti makin parah.” Cecar Dina dengan tampang kusut saking bingung.
Weini malah dengan enteng tersenyum dan meraih tangan Dina, membuat manager itu merinding merasakan dinginnya tangan yang menyentuhnya. “Kak Dina mau bantu? Tolong bikinkan sarapan boleh? Aku lapar.” Pinta Weini dengan tampang polos.
Bukannya langsung menurut, Dina malah bingung dengan permintaan Weini. Keseriusan serta kepanikannya malah ditanggapi terlalu santai, hanya dengan makan apakah kondisi Weini bisa membaik? “Yang benar lah non, kondisimu itu loh kayak orang sakit berat. Nggak percaya?” Dina berjalan mengambil cermin kecil yang mengantung di samping lemari baju lalu menghadapkannya persis di depan Weini agar bisa melihat pantulan wajanya.
“Nih, kayak mayat hidup.” Ujar Dina mulai jutek.
Weini sangat terkejut, ia tak menyangka bibirnya memucat hingga kebiruan, wajahnya pucat pasi tanpa ada rona kehidupan. Sekarang ia paham mengapa Dina begitu cemas, karena ia juga merasakannya ketika melihat wajah pucat Haris, ternyata wajahnya pun sama saja.
Cermin kecil itu didorong menjauhi wajahnya, Weini enggan melihat pantulan wajahnya lagi. Sembari menghela napas, ia tetap berusaha meyakinkan Dina. “Aku nggak apa-apa kak, percayalah. Boleh tolong belikan sarapan untuk kami, plis?” pintanya sekali lagi, ia mulai merasa lapar dan yakin akan semakin membaik jika ada
asupan yang masuk.
Dina tak punya pilihan lain lagi, rengekan kedua Weini menggetarkan hatinya. Ia tahu Weini gadis keras kepala, membujuknya melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan adalah pekerjaan sia-sia. “Aku buatin bubur aja, tunggu bentar ya non.” Dina melirik Weini sekali lagi sebelum ia beranjak dari kamar, memastikan bahwa gadis itu tidak masalah ditinggalkan begitu saja.
“Ayah dan anak aneh, sekali sakit bisa barengan gitu!” celetuk Dina ketika mengintip Haris yang masih duduk di sofa. Ia harus mengerahkan tenaga mengasuh dua orang sakit yang ngeyel enggan dibawa berobat.
***
HI, readers ^^
Apa? Kalian protes episode ini kurang panjang? It’s okay masih ada episode berikutnya sesaat lagi. Thor mau tayangin iklan dulu ya, perkenalkan karya kedua Thor di MangaToon, novel genre romantic komedi yang berjudul ‘COWOK KOREAKU NYASAR DI JAKARTA’.
Dari judulnya sih pasti sudah ketebak alurnya tentu saja ada seorang oppa yang lagi liburan ke Jakarta. Ah, itu mainstream banget ^^ uniknya kisah ini tentang Lee Seo Jun yang liburannya berantakan gara-gara guidenya bernama Devi telat menjemput hingga ia harus dengan sengaja ditabrak Sofie sampai ponselnya rusak. Gara-gara alat komunikasi satu-satunya yang ia bawa rusak, Seo Jun kehilangan kontak dengan sepupunya bahkan dengan guidenya.
Oh, kalian penasaran siapa sih tokoh utama wanitanya? Apa itu Devi? Sofie? No … No …
bukan mereka berdua. Nanti bakalan muncul seorang gadis bernama Amanda Salim yang bakal jadi tokoh utama wanita. Gadis malang yang barusan ditinggal bangkrut ayahnya hingga tidak punya tempat tinggal dan harus tinggal di satu-satunya harta peninggalan ayahnya – mobil mewah.
Gimana ceritanya Seo Jun yang lagi nyasar bisa ketemu dengan Amanda – si gadis nomaden alias nggak punya rumah? Yuk, langsung aja klik profil author untuk baca kisahnya.
Pssssstttttt! Ceritanya sudah up sampai 20 episode loh, buruan baca dan tinggalkan jejak Like, Komen, dan Favorit di sana.
Sampai jumpa di novel “COWOK KOREAKU NYASAR DI JAKARTA’ ^^ thank you!
Salam sayang dari Thor ^^