OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 539 BERBAGI ILMU



“Silahkan nona, ini kamar anda.” Ujar pelayan yang telah mengantarkan Dina sampai di depan kamarnya.


Dina masih celingukan menatap Ming Ming, berharap pria itu segera menjadi penerjemah. Jika ada pria itu di sampingnya, Dina merasa cukup tenang. Rasa was was yang begitu menyiksa batin Dina, setiap kali berpapasan dengan pelayan yang menyapanya namun ia hanya bisa tersenyum gugup karena tidak mengerti apa yang mereka katakan.


“Dia bilang kamarmu di sini, silahkan masuk.” Ujar Ming Ming menerjemahkan pada Dina.


Dina sontak tersenyum dan mengatakan satu kata yang ia hapali, “Ah... Xie Xie (terima kasih).”


Pelayan itupun undur diri, meninggalkan Dina dan Ming Ming yang membawa koper besar gadis itu masuk ke dalam. Ketika masuk ke dalam, reflek Dina lunglai dan memeluk koper besarnya. Lelah batin dan tubuh yang begitu terasa, ia bisa melepaskan sejenak beban yang diembannya. “Ya ampun, sampai kapan aku harus tergagap seperti ini. Bisa ngomong tapi tetap mengandalkan kamu, atau malah pakai bahasa isyarat. Ming, kamu mau kan ngajarin aku bahasa kalian?” Pinta Dina dengan tampang melas.


Ming Ming mengambil posisi duduk di sebelahnya, menatap iba pada Dina yang harus berjuang keras. “Hemm... belajar bahasa Mandarin tidak semudah bahasa Inggris atau bahasa Indonesia loh. Kamu harus menguasai aksaranya juga, atau minimal bisa percakapan sehari hari dulu. Aku akan mengajarkanmu percakapan sehari-hari. Mulai sekarang bicaralah dengan bahasa Mandarin ya, aku terjemahkan dua kali buat kamu tiru.”


Dina manggut manggut, wajahnya tampak begitu lelah. “Ng, oke oke tapi belajarnya besok aja ya. Otakku belum sanggup menampung pelajaran apapun, semoga nona nggak keberatan menunggu aku belajar dulu. Hiks... aku jadi tidak enak padanya.”


Ming Ming mengelus rambut Dina dengan pelan, tersenyum lembut dan berharap perhatiannya dapat menghibur Dina. “Tenanglah, Gong Zhu itu penguasa yang berhati mulia. Dia pasti sabar menunggumu pandai, bahkan pasti membantumu belajar.”


Dina tidak meragukan apa yang Ming Ming katakan, ia pun mengenal Weini dengan cukup baik dan yakin bahwa gadis penguasa itu akan berlaku baik kepadanya. “Kamu juga ya, tolong sabar sedikit menghadapi aku.” Lirih Dina yang juga kasihan dengan Ming Ming yang begitu sabar mendampinginya.


Kehangatan dua sejoli itu menjadi penghiburan bagi Dina, lelah dan penatnya karena rasa tegang pun terbiaskan. Hingga tidak terasa mereka mengobrol selama dua jam, mungkin saja tidak berhenti andai tidak terganggu oleh kehadiran Weini. Suara pengawal yang berteriak menandakan Weini telah datang, langsung mengejutkna Dina dan Ming Ming. Mereka berdua pun berdiri dan membungkuk hormat saat nona penguasa itu masuk ke dalam.


“Apa aku mengganggu kalian?” Tanya Weini yang sungkan karena sepertinya kedatangannya mengganggu dua orang yang tengah pacaran.


Ming Ming menggeleng pelan, “Tidak sama sekali Gong Zhu. Hamba mohon undur diri, silahkan bersantai sejenak di sini.” Ming Ming cukup tahu diri kemudian memberi penghormatan sekali sebelum keluar dari kamar Dina. Tak lupa pula melirik ke arah kekasihnya lalu mengedipkan sebelah mata. Dina yang melihat itu malah mendelik, takut kalau sikap Ming Ming dianggap tidak sopan oleh Weini.


Weini tertawa melihat itu, “Sudahlah kak, tidak apa apa. Tidak ada orang lain selain kita di sini, jadi jangan terlalu kaku ya. Hmm... apa kakak sudah cukup istirahat?” Tanya Weini perhatian, padahal ia bisa melihat sendiri bahwa Dina belum juga berbuat apa-apa, bahkan untuk membersihkan diri pun belum.


Dina cengar cengir, ketahuan masih malas bergerak sedari tadi. “Belum, Gong Zhu he he... tadi malah keasyikan ngobrol sama Ming Ming. Gong Zhu sendiri apa tidak istirahat? Kok langsung datang ke kamarku? Hmm... Gong Zhu istirahat dulu, mandi makan dulu gitu.” Ujar Dina yang niatannya tulus memberi perhatian.


“Belum kak, nanti saja sehabis dari sini. Aku bentaran aja kok, kan kakak juga harus tidur awal biar besok seger lagi.” Ujar Weini, perlu sebentar berbasa basi sebelum memberi kabar mengejutkan pada Dina.


Dina mengerti, ia pun manggut manggut. “Baiklah, pasti ada hal penting sampai nona repot repot mampir kemari.” Tebakan Dina memang jitu, karena ia kenal betul bagaimana sikap Weini.


Weini tersenyum, ia pun mengambil tempat duduk di dalam ruangan itu. Dina mengikutinya duduk sambil merutuki diri sendiri yang lupa mempersilahkan nona itu duduk dulu, tapi malah asyik mengajaknya ngobrol sambil berdiri.


“Kak, aku sudah berbincang dengan ibuku. Dan menurut kami, untuk kebaikan kakak nantinya tinggal di sini, mulai lusa nanti Kakak akan mendalami pelajaran tata krama dari Bibi Gu.” Ungkap Weini to the point.


Dina terbelalak, tanpa perlu perkenalan pun ia langsung tahu sejarah tentang Bibi Gu. Dina merinding lalu mengusap kedua tangannya yang berdiri bulu kuduknya. Suara Grace spontan menggema, masih segar di ingatan Dina tentang cerita Grace tentang pengalaman mengesalkan sepanjang menjadi murid Bibi Gu di kediaman Li. Dina bahkan masih ingat bagaimana ia ikutan merutuki orang yang belum ia kenali itu, hanya karena dianggap sudah menyusahkan Grace dengan segala ajaran ketatnya. Kini keapesan Grace bergulir padanya, Dina akan menjadi Grace selanjutnya. “Bibi Gu? Ng... nona... apa tidak ada guru yang lain? Paman Haris misalnya, atau istrinya saja he he... yang penting jangan Bibi Gu ya nona.” Ceplos Dina, mulai mengajukan penawaran pada gadis penguasa yang lupa ia panggil dengan sebutan khanya.


Dina manyun, aslinya ia cukup ketakutan. “Baik apanya? Kalau baik kan Grace nggak mungkin kabur sebelum pelajarannya selesai. Nona... berikan keadalian padaku ya, kalau dia menggalaki aku, hiks.” Rengek Dina dengan tampang yang sangat memprihatinkan.


Weini tak berdaya dibuatnya, raut melas Dina yang tak terhindarkan itu membuat Weini berpikir keras, bagaimana cara menolong Dina. “Hmm... kak, sebenarnya aku punya satu cara tapi aku masih ragu berhasil atau tidak. Hmm... tapi tidak ada salahnya kita coba sih. Kakak siap?” Tanya Weini, tanpa menjelaskan cara apa yang ia maksudkan.


Dina langsung mengangguk antusias, “Apapun deh asalkan tidak berurusan dengan bibi Gu. Dina siap kapan dan di mana saja non.” Jawab Dina mantap.


Aku dulu berhasil menyerap kekuatan dari asisten perusahaan, bukan tidak mungkin kalau aku juga bisa menyalurkan apa yang aku serap darinya ke orang lain. Belum pernah aku coba sih, tapi siapa tahu berhasil maka kak Dina otomatis akan menguasai apa yang gadis itu miliki, termasuk bahasa. Hmm... aku harus optimis, bisa menggunakan sihir pemindah ilmu ini kepada kak Dina. Gumam Weini mempertimbangkan segala hal dalam hatinya.


“Baiklah, kakak siap ya. Kalau begitu sini kak, kita duduk bersila di lanta.” Pinta Weini.


Dina langsung mengambil posisi duduk seperti yang Weini tunjukkan, walaupun agak dingin karena mereka duduk di lantai tanpa beralas matras. “Gini non? Trus gimana lagi?”


“Sekarang ulurkan tangan kakak.” Perintah Weini, ia pun sudah mengulurkan tangannya.


Dina mengerutkan dahinya, tapi ia tahu bahwa Weini akan memainkan kekuatan sihirnya. Tidak ada rasa takut, yang ada hanyalah rasa percaya dan penasaran. Apa yang akan Weini lakukan kepadanya. Dina pun menjulurkan tangannya, membiarkan Weini menggenggam tangannya dengan erat dan mulai merasakan kehangatan yang mendesir masuk lewat sentuhan tangan mereka.


“Rileks ya kak, jangan takut... ini tidak akan menyakitkan sama sekali.” Ujar Weini menenangkan batin Dina. Kini kedua gadis itu terdiam, Weini mengerahkan konsentrasinya untuk melepaskan apa yang ia serap dari orang lain, semua itu dikumpulkan dari pikirannya kemudian ia salurkan kepada Dina. Tangan mereka bergetar, hanya Weini yang bisa melihat pancaran sinar dari magis yang sedang tersalurkan. Sementara Dina yang memang tidak peka apapun soal sihir, hanya bisa merasakan getaran hangat di sekujur tangan yang disentuh Weini.


Weini tersenyum lega, perlahan ia mengendurkan tenaganya. Apa yang ingin ia berikan sudah ia salurkan kepada Dina. Ia melepaskan pegangan dari tangan Dina, “Sudah kak.”


Dina mengibas tangannya yang kesemutan. Masih belum paham apa yang Weini lakukan kepadanya dan apa efeknya. Ia hanya melihat Weini menatapnya dengan senyuman yang mengembang.


“你 叫 什 么 名 字 ni jiao shen me ming ji (namamu siapa?)” Ujar Weini mengetes Dina.


“我 叫 Dina. Wo Jiao Dina. (aku dipanggil Dina)” Celetuk Dina dengan lancar dan tak ia sadari bahwa ia mengerti dan membalas Weini dengan bahasa Mandari.


“Eh?” Barulah Dina sadar dan membungkam mulutnya yang ternganga nyaris tak percaya bahwa ia barusan menjawab Weini dengan mulus dalam bahasa yang ingin ia pelajari. “Sungguh aku bisa ngomong?” Dina terkesiap, lagi lagi ia bisa melontarkan bahasa itu.


Weini tersenyum senang melihatnya. “真 的 是 你 Zhen de shi ni (sungguh).”


Dan bisa ditebak akhirnya seperti apa, Dina berjingkrak ria saking bahagianya bisa menguasai bahasa yang sulit dipelajari itu dalam sekejab.


❤️❤️❤️