
Sudah cukup lama Haris berdiam diri di kamarnya, lapar dan lelahpun terabaikan lantaran suasana hatinya yang belum membaik pasca perdebatan dengan Weini. Keduanya mengunci diri di kamar, berusaha menjernihkan pikiran sebelum melontarkan kata kata lagi. Dalam keadaan yang masih panas hati, Haris takut setiap perkataan yang ia ucapkan akan disusupi emosi. Justru akan semakin melukai Weini dan dirinya. Di luar prediksi saat mereka sedang
menenangkan diri, Xiao Jun malah jadi tamu yang tidak diharapkan datang dalam kondisi ini. Apa boleh buat, Haris tetap diam dalam kamar dan menjadi pendengar setia dari tempatnya.
Haris kembali menelan rasa kecewa karena Weini masih keras pada pendiriannya, tak disangka gadis itu nekad menceritakan rahasia terbesar mereka kepada Xiao Jun. Meskipun Xiao Jun sudah tahu tetapi kekecewaan yang dirasakan Haris sebanding dengan menelan pil pahit yang hanya jadi racun.
Ayah, keluarlah … Apa yang terjadi dan aku harus bagaimana ini? Haris mengenyit saat mendengar panggilan batin dari putranya. Namun ia masih enggan ikut campur, dibiarkannya dan hanya dipantaunya apa yang akan dilakukan Xiao Jun. Meskipun getir terasa saat Weini mendesak Xiao Jun membawanya pulang, Haris tetap menguatkan diri untuk jadi pendengar.
“Weini … Sebenarnya aku ….”
Deg! Haris terkejut mengetahui hati Xiao Jun yang mulai goyah, ia bergegas berdiri dengan tangan mengepal kuat. Tidak bisa dibiarkan lagi. Batin Haris kemudian keluar tergesa.
***
Weini menatap bingung menantikan kelanjutan kata kata Xiao Jun. Dari sorot mata pria itu tampak bahwa ia pun tengah kebingungan. Xiao Jun menghela napas berat sebelum melanjutkan kata katanya.
“Aku juga ….”
“Nona, sepertinya jam bertamu sudah lewat. Tidak enak dengan tetangga jika ketahuan masih ada tamu di sini.” Suara Haris yang terdengar pelan dan tegas itu berhasil memotong pembicaraan Xiao Jun. Ia menatap tajam pada putranya yang kini kelabakan karena kepergok olehnya. Xiao Jun sampai menundukkan kepala untuk menenangkan diri, ia nyaris saja kebablasan andai ayahnya tidak keluar.
Weini menghela napas berat kemudian melihat ke arah Haris, “Ayah, kumohon berhentilah memanggilku nona.”
“Loh, kenapa? Bukankah dia sudah tahu semuanya? Nona baru saja menceritakan rahasia kita kan.” Ujar Haris sedikit menyentil perbuatan Weini.
Weini tak berkutik, ia hanya diam menggigiti bibir. Dan Xiao Jun yang bisa merasakan ketegangan dua orang di hadapannya, memilih tahu diri dan menarik diri dari mereka sejenak. “Ehem, ayah memang benar, malam sudah larut. Aku permisi dulu, Weini istirahatlah dan ayah juga.” Ujar Xiao Jun yang posisinya serba salah.
Haris hanya mengangguk pelan dan mengantar kepergian Xiao Jun dengan tatapan datar, begitupun dengan Weini yang memilih bungkam. Selepas kepergian Xiao Jun, Weini menatap Haris dengan tatapan sendu.
“Ayah, aku salah. Mohon maafkan aku dan kembalilah seperti dulu. Aku tidak mau hubungan formal seperti ini, sangat menyiksaku.” Pinta Weini sungguh-sungguh.
Haris menunduk tidak berani menatap Weini, sikapnya tegas selayaknya pengawal senior. “Istirahatlah, nona. Anda masih belum pulih, dan jangan coba untuk bertindak tanpa persetujuan saya.”
Weini menunduk kecewa, “Kalau ayah ingin seperti ini, bukankah seorang pengawal harus mendengar perintah majikannya? Aku berhak memerintahmu sebagai pengawal, aku tetap ingin kembali ke rumahku.” Tegas Weini,
dengan sangat terpaksa ia bersikeras namun ia hanya mengikuti alur yang diinginkan Haris. Kesenjangan status terlanjur Haris terapkan, dan bukan sepenuhnya salah Weini bersikap tak patuh padanya.
Haris tak memberikan jawaban, ia justru berjalan keluar dan mengunci rumah dari depan. Pria tua itu meninggalkan Weini seorang diri di rumah tanpa pesan apapun.
***
“Apa kau sadar apa yang kau perbuat?”
Dan di sinilah Haris berakhir, di tepi jalanan sepi di tengah malam, berdiri menyandarkan tubuh pada mobil putranya. Ia memang sudah mengirimkan pesan terlebih dulu pada Xiao Jun sebelum mengusirnya pulang secara halus.
“Maaf ayah, aku memang salah.” Jawab Xiao Jun tak menampik kesalahannya.
Xiao Jun mengangguk setuju, ia tahu Weini mendesaknya lantaran tergesa-gesa menentukan sikap. “Aku akan lebih
berhati-hati kelak, maafkan aku ayah.”
“Yang sudah ya sudahlah. Sekarang daripada bawa dia pulang, lebih baik kirim aku kembali ke kediaman Li. Aku perlu memastikan apa yang terjadi sebenarnya. Weini sudah bermimpi tentang tuan Li San, dan mimpi nona itu adalah pertanda buruk yang mungkin saja kenyataan saat ini.” Ujar Haris penuh tekad.
Xiao Jun menggelengkan kepalanya pelan, “Tidak ada satupun di antara kalian berdua yang boleh ke sana. Hanya aku yang punya alasan tepat untuk kembali, besok aku akan kirim Lau pulang, dia pasti bisa diandalkan dan tak mengundang curiga. Jika ayah yang datang dan ketahuan justru akan jadi masalah baru.”
Haris terdiam, yang disampaikan putranya memang masuk akal.
“Dan lagi, Grace bilang bahwa kakaknya punya kekuatan lain. Dia tidak tahu jelasnya kekuatan apa, namun aku rasa Chen Kho punya kemampuan sihir. Ayah, kita tidak bisa meremehkan pihak mereka. Ini sungguh di luar dugaan, jika mereka sungguh mengandalkan sihir, sama seperti kita, hanya yang paling kuat yang akan menang.” Xiao Jun menatap ayahnya dengan lirikan khawatir.
Haris pun menyorotkan tatapan yang sangat terkejut, “Dia bisa sihir? Kekuatan dari mana itu? Setahuku klan Li hanya punya kalangan terpelajar dan piawai berbisnis, tidak ada yang memiliki bakat bawaan sihir.”
“Entahlah ayah, yang pasti kita harus berhati-hati. Ubah strategi lagi, yang pertama aku akan kirim Lau kembali. Selanjutnya kita bincangkan lagi.”
Haris menyetujui usul Xiao Jun, kini yang mengusik benaknya adalah sihir yang belum ia tahu dari klan Li. Saat itu juga, mimpi-mimpi buruk yang belakangan menghantuinya pun terngiang, tentang musuh yang berkekuatan besar dan aneh. Akankah itu dari klan Li yang jadi tempat pengabdian nyaris sepanjang hidupnya?
"Oya, apa kau sudah pikirkan cara menahan Weini? Tanya Haris. Ia membahas masalah yang dimintanya lewat pesan tadi siang. Saat itu, ia tahu Xiao Jun tengah bersama Grace.
Xiao Jun mengangguk mantap seraya memberikan senyum tipis. "Tenang saja ayah, mulai besok kita bisa sedikit menahan geraknya."
***
“Tuan, istirahatlah. Anda terlalu banyak bekerja hari ini.” Lau masuk ke dalam ruang kerja Xiao Jun lantaran khawatir. Xiao Jun membawa pulang kerjaannya dan langsung memeriksa berkas penting ketika ia sampai di apartemen.
Lau meminta Xiao Jun istirahat namun ia justru menyodorkan minuman hangat pada tuannya. Xiao Jun tersenyum dan lebih tertarik mencicipi kudapan di hadapannya.
“Terima kasih paman. Aku belum lelah, menumpuk pekerjaan hari ini sama saja menumpuk beban lebih banyak keesokan hari.” Ujar Xiao Jun tenang, terlihat ia puas dengan suguhan manis Lau.
Lau hanya menunduk pelan, tak bisa membantah tuannya.
“Oya paman, besok pulanglah sebentar ke Hongkong. Gunakan jet pribadiku, ada urusan penting yang harus kau selidiki.” Perintah Xiao Jun dengan tenang.
Lau membungkuk patuh, “Baik tuan.”
“Jangan terlalu mencolok, bawalah ini dan katakan saja bahwa aku memerintahmu untuk menyampaikan ini pada tuan besar. Jika mereka menghadangmu, berkelitlah sedikit dan segera kembali jika kondisi sudah tidak memungkinkan. Jangan sampai mereka menyekapmu.” Lanjut Xiao Jun tegas.
Lau menyanggupi semuanya tanpa bertanya. “Tuan, istirahatlah. Hari anda sangat panjang, jangan sampai anda sakit.” Namun ia tetap bersikukuh memaksa tuannya untuk mengakhiri kerja beratnya seharian. Begitulah Lau, si pengawal patuh dan setia yang sangat menyayangi tuannya.
***