
“Nona Weini?” Fang Fang mengerutkan dahi melihat kedatangan tamu yang tak terduga itu.
Weini menatap tajam pada Fang Fang, sulit untuk menentukan siapa yang bisa dipercayai lagi. “Siapa….” Weini menahan isak tangisnya dengan susah payah kemudian melanjutkan perkataannya.
“Siapa Grace?” Pekik Weini mendesak Fang Fang menjawab pertanyaannya.
Fang Fang semakin heran, tiba-tiba Weini bertanya tentang nonanya dan ia tak mengerti apa maksud pertanyaan itu. “Bu… Bukankah nona sudah kenal nona Grace.” Jawab Fang Fang terbata, menatap keseriusan Weini
membuat ia gentar.
Weini menggeleng cepat, ia mengatur napasnya agar emosinya terkontrol. Weini enggan meneteskan air mata agar tak mengacaukan penyelidikannya. “Grace… Dia siapanya Li San Jing? Jawab!” Bentak Weini yang merasa Fang Fang mengulur waktu dan seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Fang Fang terkesiap, ia pun cukup terkejut mendapati sikap Weini yang tak sabaran dan marah padahal ia tidak tahu apa yang terjadi. “Nona Grace… Dia keponakan tuan besar Li.” Jawab Fang Fang agak takut, ia takut ternyata apa yang dilakukannya salah. Tetapi dia tidak diwanti-wanti oleh Grace maupun Lau agar berhati-hati menyampaikan informasi kepada Weini. Yang Fang Fang herankan, darimana Weini tahu tentang Li San?
Air mata Weini luruh sudah, ditelannya rasa sedih dan shock karena mengetahui banyak fakta mengejutkan sekaligus. “Mereka pulang untuk apa? Sebenarnya apa yang mereka rencanakan? Kenapa kamu masih di sini?
Bukankah seharusnya kamu mengawal Grace?” Tuding Weini, ia tak lagi mengontrol suaranya.
Fang Fang memucat seketika, ia memilih bungkam lantaran serba salah. Haruskan ia menjawab semua pertanyaan Weini?
“Aaarggghh! Sudahlah!” Pekik Weini yang enggan mendengar jawaban lagi. Ia segera angkat kaki dari hadapan Fang Fang, berlari sekencangnya menuju lift. Keinginan satu-satunya saat ini adalah segera pulang dan mempertanyakan semua pada Haris. Weini merasa perlu meminta penjelasan pada ayah angkat sekaligus pengawalnya itu. Apakah Haris sudah tahu tentang Xiao Jun dan Grace? Atau sama seperti dirinya yang baru tahu sekarang?
Ayah, Jun putra kandungmu. Apa ayah tahu? Apa ayah dengar suara hatiku?
***
“Akhirnya kita bertemu, pewaris sihir timur klan Wei.” Seringai Chen Kho sembari menyapa pria tua yang enggan menyambut kedatangannya.
Haris tersenyum sinis kemudian membalikkan badannya menghadap Chen Kho, senyum sinisnya berubah menjadi senyum yang tenang. “Ya, senang bertemu denganmu penyihir penguasa kegelapan.”
Chen Kho menatap lekat wajah Haris yang baru pertama kali dilihatnya, ia tak punya gambaran tentang wajah pengawal setia Liang Jia itu namun dilihat dari paras dan fisiknya, Chen Kho ragu sekaligus heran karena Haris tak terlihat seperti pria tua yang diperkirakan berusia enam puluhan tahun. Keraguan itu lekas ditepisnya lantaran ini bukan saatnya mengagumi musuh.
“Apakah aku harus merasa terhormat atau justru bangga bisa menguji kesaktikanmu?” Cibir Chen Kho sinis, ia masih senang mempermainkan mental lawannya sebelum beraksi sungguhan.
Haris tersenyum smirk, “Apa kau berniat duel di tengah tempat ramai? Ini daerahku, kau harusnya berpikir ulang untuk berbuat onar.”
Chen Kho tertawa keras dan tatapannya terlihat menyepelekan Haris. “Kau sedang mengujiku? Aku tahu kemampuanmu, kau bisa saja mengerahkan sihirmu seperti ini kan?” Chen Kho memainkan jemari lentiknya, dalam
beberapa gerakan saja ia bisa melakukan perpindahan dimensi. Hanya ada dia dan Haris yang masih berdiri di tempat sama namun masuk dalam dimensi kegelapan yang diciptakan Chen Kho. Pengawal yang berdiri di samping Chen Kho bahkan tersentak kaget mendapati tuannya tiba-tiba menghilang bersama Haris.
Haris merasa tubuhnya sedikit limbung lantaran perpindahan tubuh dalam kekuatan yang dikontrol Chen Kho, namun ia tidak terkejut karena ia pernah diwanti-wanti dalam mimpinya. Dan ini baru salah satu cuplikan dalam penglihatan gaibnya tentang apa yang akan terjadi. “Ha ha ha…. Anak muda, kau terlalu cepat berprasangka. Aku hanya mencegahmu tidak melanggar hukum di negara orang sebelum semuanya terlambat. Tapi kau tampak tak sabaran dan mulai menunjukkan kemampuanmu.”
Chen Kho menyeringai, “Aku sebenarnya suka berbasa-basi, pengawal tua. Sayangnya waktuku terbatas, jangan terus mengelak dariku. Aku hargai usahamu menjauhkan dia dariku, tapi cepat atau lambat sepupuku yang malang itu pasti jatuh ke tanganku.” Gertak Chen Kho seraya tertawa tak kalah keras dari Haris.
Chen Kho sadar dengan gerak diam Haris yang tengah mengumpulkan energi, namun ia tak perlu lagi melakukan pemanasan dan langsung menyerang Haris secara brutal. “Maka matilah sekarang agar aku bisa menyentuhnya!”
Tubuh Chen Kho hilang timbul dalam kegelapan yang dikontrolnya, Haris agak kewalahan merasakan tanda kehadiran lawannya lantaran tak ada sedikitpun bayangan dalam gelap tanpa batas itu. Haris bersiaga menajamkan
mata batinnya merasakan di mana Chen Kho berada, namun ketikan ia berhasil mendeteksi justru ketika Chen Kho berdiri tepat di depannya dan melayangkan tinju ke bagian dada Haris.
Tanpa ada kesempatan mengelak, tubuh Haris terpental oleh serangan frontal Chen Kho yang jatuh menghantam dasar dengan keras. Ia berupaya keras untuk bangkit kembali, sementara Chen Kho berdiri tenang dengan senyum seringainya dan tatapan meremehkan.
“Jadi ini kemampuan pewaris sihir klan Wei? Hah, mengecewakan! Aku sering mendengar kehebatanmu dielu-elukan namun ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan aku.” Sindir Chen Kho yang begitu menyombongkan diri hingga membuang muka enggan menatap Haris.
Dalam kondisi lengah dan arogan itulah, Haris mengerahkan kemampuannya untuk menyalakan api sihir. Kegelapan akan terkalahkan oleh cahaya, begitu cahaya mendominasi maka kegelapan akan menciut menjadi bayangan semata. Api sihir yang membentuk bola api berukuran seperti bola basket itu dilemparkan pada Chen Kho yang masih lengah.
Chen Kho terperanjat mendapatkan serangan balik yang panas menyengat tubuhnya. Ia menghembuskan kekuatan air sihir untuk memadamkan tetapi sedikit terlambat karena api menjalari lengannya. Chen Kho menunduk
melindungi lengannya yang terluka dan tetap mempertahankan serangannya dengan satu tangan. Kekuatan api dan air seimbang hingga melebur menjadi asap lalu lenyap. Chen Kho sedikit tergopoh memegangi luka di lengannya, sementara Haris berdiri tegap meskipun sekuat tenaga menahan sakit dalam dadanya.
Haris tersenyum lega, sepertinya kekhawatirannya tentang penglihatan dalam mimpi tidak menjadi kenyataan. Sejauh ini ia melihat Chen Kho tak bereaksi, menyusul gelap yang semula sangat pekat perlahan mulai memudar dan disusupi cahaya. Haris yakin pertarungan ini sudah berakhir, hanya menunggu waktu untuk menyirnakan sisa kegelapan dan kembali pada dimensi nyata. Haris berjalan penuh hati-hati mendekati Chen Kho yang berjongkok sembari memegang tangannya yang terluka. Pria muda itu menunduk kesakitan hingga membuat Haris iba.
“Kalian bersaudara, untuk apa saling menaklukkan? Apalagi ternyata klan Li mempunyai aliran sihir yang menakjubkan, jika kalian akur maka hasilnya akan lebih baik.” Gumam Haris mencoba menawarkan perdamaian pada Chen Kho.
Chen Kho meringis lalu mendongak menatap Haris yang tersenyum tenang. “Oh, kalau begitu tolong aku sebelum lenganku putus.” Pinta Chen Kho mengiba merasakan tangannya yang panas terbakar hingga mati rasa.
Haris mengangguk, bagaimanapun pria itu berdarah keturunan Li yang sangat ia hormati. “Setelah kegelapan ini lenyap, akan kuobati lukamu. Sini, biar kubantu berdiri.” Ujar Haris kemudian menyentuh pundak Chen Kho, bersiap memapah pria itu.
Kebaikan hati Haris adalah saat yang ditunggu Chen Kho, pancingannya berhasil membuat Haris menyentuhnya. Ketika Haris berhasil memapah Chen Kho berdiri, saat itu pula ia merasakan energi yang sangat kuat menyedot energinya. Haris seketika kaku, ia tak bisa bergerak bahkan bersuara.
“Ng… Ng….” Haris sekuat tenaga mencoba bicara tetapi hanya suara itu yang keluar.
Chen Kho menghirup aroma energi yang diserap dari Haris, menikmatinya seakan energi itu adalah makanan lezat. Perlahan lengannya yang terluka parah itu mulai memperbaiki sel rusak berkat serapan energi dari Haris. “Ha ha ha… Kau memang luar biasa kuat pengawal tua, tapi kebaikan hatimu justru membuatmu bodoh! Aku tidak menyerangmu, kau yang sukarela menyentuhku dan menyodorkan energimu. Jika kau mati, jangan pernah salahkan aku! Kau yang mengantarkan nyawamu di tanganku!”
Tawa Chen Kho kian melengking seiring tubuh Haris yang kian melemah dan dingin. Energi Yang dalam tubuhnya terserap nyaris seluruhnya, Chen Kho tentu sangat diuntungkan lantaran mendapatkan serapan energi Yang dari seorang penyihir sakti. Sudah dipastikan kekuatannya semakin besar dan menakutkan.
Di sisa kekuatannya, Haris masih memikirkan nasib Weini. Ia salah perhitungan mengira langkahnya menghindari takdir sudah tepat. Tak pernah disangka bahwa Chen Kho juga memiliki kemampuan menyerap energi seperti yang terjadi pada Weini. Kini Haris mengerti darimana kekuatan tak terkontrol Weini itu muncul, namun saat ini percuma mengetahuinya, Haris telah ceroboh membiarkan musuh menyerap kekuatannya. Semuanya sudah terlambat!
Nona Yue Hwa… Maafkan aku….
***
Dan maafkan author karena konflik ini harus terjadi. Ini bukan akhir yang menyakitkan, percayalah apapun yang terjadi dalam konflik utama yang bertubi-tubi ini pasti berujung bahagia. Sip, tetap semangat membaca karena author juga lumayan meras imajinasi untuk menuliskan adegan hajar-hajaran ini.