
Pasca membiarkan Weini menggeledah seisi rumah sepuasnya, Chen Kho tampaknya tetap santai bahkan
terkesan menghindari gadis itu sementara waktu. Terbukti saat Weini yang kesal dan kebingungan kembali mendatanginya untuk meminta penjelasan, Chen Kho tetap tega membiarkan gadis itu menggedor pintu kamarnya lalu pergi dengan kesal karena tak berhasil disambut olehnya. Karena Chen Kho tahu, semarah apapun Weini, tetap saja tak akan bisa lolos dari cengkeramannya. Chen Kho lah penguasa pintu masuk dan keluar dari rumah di dalam laut itu, ia pun yakin Weini tak akan bertindak nekad kecuali ia sudah pesimis hidup.
Flashback....
Saat Weini berhasil menemukan pintu keluar lalu membukanya, ia tersenyum girang terlebih kondisi sangat mendukungnya untuk kabur. Di rumah yang besar ini nyaris tidak ada penghuni saking sepinya, namun ketika Weini membuka pintu itu, yang terlihat justru hamparan berbagai macam binatang laut yang mengerikan saking banyaknya. Weini meraba sekat transparan yang mirip kaca itu, lapisan itu cukup tebal dan menjadi pelindung dari air.
“Di mana aku?” Gumamnya kebingungan.
Weini tak berhenti mencoba, ia memukuli lapisan transparan itu namun sekuat apapun tenaganya, kaca itu masih tampak utuh. Weini masuk lagi dalam ruangan, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memecahkan kaca itu. Perhatiannya tertuju pada kursi kayu, tanpa banyak berpikir lagi, ia bergegas mengangkat kursi itu. Setidaknya itu
jauh lebih baik ketimbang ia memukul dengan tangan kosong.
Saat hendak menganyunkan kursi itu dan melemparkan ke arah kaca, Weini tampak ragu, ditatapnya sekali lagi sekeliling rumah ini lalu menatap pada lautan di luar sana. “Jika aku berada di bawah laut, bagaimana aku bisa bernapas lega di sini? Bukankah semakin dalam, makin tidak ada oksigen?” Weini tampak berpikir, sesuatu yang luput dari perhitungannya lantaran dikuasai rasa panik. Sedari tadi ia berlari hingga napas tersengal, namun ia tidak merasa sesak napas atau sulit bernapas. Semua terlihat normal, termasuk gadis pelayan serta pria yang
mengurungnya.
“Jika aku membobol kaca itu tanpa aku tahu medan di luar sana, bukankah itu sama saja bunuh diri? Kalau bukan mati tenggelam, mungkin aku akan jadi santapan makhluk di luar sana. Apa yang harus kulakukan?” Weini mulai goyah tekadnya, perlahan kursi yang ia angkat tinggi itu diturunkan pula.
Terbersit ide yang belum dicoba Weini sebelumnya, kendati ia ragu tapi tidak ada salahnya mencoba. Sihir apa yang harus kupakai? Tidak ada sihir mahir berenang yang diajarkan ayah, aku harus pakai cara apa? Gumam Weini bertanya sendiri dalam hatinya.
Beberapa detik berlalu dalam keadaan senyui, hingga Weini memutuskan melakukan sesuatu yang entah berfungsi atau tidak, yang pasti ia akan mencobanya. Weini memejamkan mata, bibirnya bergerak merapalkan mantera sihir dan tangan kanannya mulai terangkat. Ia mengumpulkan seluruh tenaganya agar sihir itu berjalan, bukan sihir yang menyulapnya menjadi perenang handal, namun ada sihir klan Wei yang ia ketahui namun belum pernah dicoba, sihir menembus ruangan dan sihir mengapung.
Langkah Weini bergerak maju dengan optimis, usai mantera itu dirapalkan dan kini saatnya pembuktian. Aku harus berhasil, kumohon kali ini loloskan aku! Gumam Weini garap-harap cemas dalam hatinya.
Ketika tubuh Weini menabrak kaca transparan yang ia yakini akan tembus, nyatanya tubuhnya terpental lalu jatuh tersungkur di lantai. Weini terkesiap, dipandanginya kaca itu serta dirinya yang baru saja gagal. “Kenapa? Apa mungkin energiku belum sepenuhnya pulih?” Desis Weini kecewa. Dua sihir yang digabungkannya tak ada
yang berhasil, ia justru merasa pusing dan tubuhnya bergetar.
Flashback off....
***
Seorang pria yang menjadi salah satu tangan kanan Chen Kho datang menghadap padanya secara rahasia. Pembicaraan serius masih berlangsung di dalam kamar Chen Kho, saat mendengar laporan yang disampaikan langsung itu, senyum seringai Chen Kho pun terbit. Gelas sloki yang masih separuh berisi Wine pun ditaruhnya di atas meja.
“Jadi si tua bangka itu dilarikan ke rumah sakit?” Ujar Chen Kho mempertegas lagi informasi yang didengarnya.
Chen Kho berdecak kemudian tersenyum menyeringai lagi. “Gadis itu bukan penghalang besar, biarkan saja! Kau sudah tahu kondisi si tua bangka itu? Sakit apa dia?”
Pengawal itu sedikit menunduk, “Hasil pemeriksaannya belum keluar tuan, tapi yang saya dengar sebelum dilarikan ke rumah sakit, dia batuk darah lalu tidak sadarkan diri.”
Tawa Chen Kho yang melengking lagi-lagi terdengar, kali ini lebih lama dan lebih panjang lengkingannya. “Bagus... Bagus... rupanya langit pun merestui kita. Tak perlu keluar banyak tenaga untuk menyingkirkannya, dia akan mati dengan sendirinya.” Gumam Chen Kho puas, tabiatnya sudah kembali seperti biasa, bengis dan tak berperasaan.
“Saya menunggu perintah selanjutnya, apa yang harus saya lakukan tuan?” Tanya pengawal itu yang bersiap menerima titah.
Chen Kho menyeringai lalu melirik sinis pada pengawalnya, “Kerahkan anak buah terbaik ke sana, selagi tuan rumahnya sedang lengah, ini kesempatan kita untuk membebaskan tuan besar.” Ujar Chen Kho dengan tegas. Ia melambaikan tangannya agar pengawal itu mendekatinya lalu ia membisikkan rencananya.
Pengawal itu mengangguk paham, “Baik tuan, saya mengerti.”
Pembicaraan penting mereka selesai tepat waktu, bersamaan dengan suara ketukan pintu yang terburu-buru. Chen Kho menoleh kesal, dalam hari ini pintu kamarnya berkali-kali diteror, jika bukan karena fondasi yang kuat, mungkin pintu itu sudah roboh.
“Ah, kurang ajar! Siapa lagi yang datang menggangguku!” Kesal Chen Kho, ia menyuruh pengawalnya membukakan pintu dengan isyarat tangan.
Begitu pintu terbuka, Chen Kho ternganga melihat gadis pelayan itu datang lagi dengan napas tersengal. Lagi-lagi gadis pelayan itu datang membawa berita masalah untuknya. Chen Kho menggertakkan gigi, menahan kesal dan tetap berusaha tenang.
“Kau lagi! Apa tidak bosan menggangguku terus? Kau sudah ingin mati?” Bentak Chen Kho tak senang.
Gadis pelayan itu tersentak lalu gemetaran ketakutan. Ia segera bersujud memohon belas kasih Chen Kho. “Ampun tuan, mohon ampuni nyawa saya. Ada hal penting yang harus saya beritahu tuan....” Ujar gadis pelayan itu terbata-bata.
“Katakan seberapa penting itu! Jika tidak penting dan kau hanya membuang waktuku, jangan salahkan aku menghabisi nyawamu yang tidak berguna ini.” Bentak Chen Kho.
Gadis pelayan itu menelan ludahnya saking takut mendengar acaman itu. “Tu... tuan, gawat! Nona itu mengamuk di kamarnya, dia memecahkan mangkuk makanannya. Dia tidak mau makan sama sekali dan... dan....”
Chen Kho yang tadinya hendak membentak pelayan itu menahan diri demi mendengar semua tentang Weini. “Dan
apa? Cepat katakan!” Desak Chen Kho tidak sabaran.
Gadis pelayan ini menenangkan diri sebelum berkata-kata dengan jelas. Dalam hatinya bersorak senang karena sepertinya Chen Kho mulai masuk perangkap.
***