OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 358 INTUISI WEINI



Puas berkumpul makan dan minum bersama, akhirnya pesta perpisahan itu usai sudah. Xiao Jun, Weini, Grace, Stevan berjalan keluar bar. Lau yang memilih menunggu di luar bersama Fang Fang pun melihat kedatangan


tuannya lalu sigap memperbaiki posisi tubuhnya. Dua pengawal itu berbincang di luar sambil bersandar di mobil, mereka memilih tempat itu agar leluasa berbicara dan menghirup udara segar.


“Ingat ya Fang, segera hubungi aku jika ada hal mencurigakan setelah kami pergi. Aku yakin masih mata-mata di sini meskipun kami tak ada.” Lau mengingatkan kembali misi yang ditugaskan pada Fang Fang, sebelum mereka berpisah sementara.


“Baik, tuan Lau.” Jawab Fang Fang mantap.


“Dan pastikan jangan terluka apalagi mati, kamu masih muda dan masih harus menikah.” Gumam Lau menambahkan humor dalam pembicaraan mereka agar tidak terlalu tegang. Spontan Fang Fang menarik seulas


senyuman mendengar kata-kata itu. Ia tak bisa membalas lagi lantaran nonanya serta Xiao Jun sudah berjalan mendekat.


Lau dan Fang Fang kompak membungkuk hormat pada majikan mereka. Weini tersenyum menatap sikap dua pengawal itu, mengingatkannya pada pelayan dan pengawal di rumahnya dulu. Selalu hormat dan patuh terhadap


siapapun yang ditunjuk menjadi majikannya.


“Jun, kalian duluan saja. Grace dan Fang Fang ikut mobil gue, sekalian ntar gue yang antarin balik. Thanks ya traktirannya malam ini, dan ingat jaga pacar gue ya. Gue percayakan keselamatannya ke lu, dan cewek lu bakal gue jagain juga di sini.” Ujar Stevan, cara berpamitannya anti mainstream kali ini.


Grace dan yang lainnya yang mendengar perkataan Stevan pun tertawa, ia menggelengkan kepala tak habis pikir Stevan bisa berpikir seperti itu. “Kamu yang harus jaga dirimu, tunggu aku pulang ya. Jangan nakal!” Ujar Grace dengan gaya manjanya.


Weini tersenyum senang, ia turut bahagia melihat kedekatan Grace dan Stevan. Sungguh pasangan yang serasi, semoga mereka dapat berjodoh hingga menikah. Gumam Weini dalam hati. Ia melirik Xiao Jun yang juga tertawa dan sedang membalas Stevan, senyuman dan raut wajah Xiao Jun begitu cerah dan tampan walau dilihat dari sisi samping. Dan semoga kita berjodoh tanpa banyak cobaan lagi, Jun. Lanjut Weini berdoa dalam hatinya.


“Baiklah, kita pencar ya pulangnya. Istirahat lebih awal, besok kita berangkat pagi.” Ujar Xiao Jun memberi pesan pada Grace sekaligus mengakhiri pertemuan mereka berempat.


Grace mengangguk kemudian melambaikan tangan dengan senyum lebar kepada Weini. “Tunggu aku kembali ya, titip Stevan juga ya!” Seru Grace semangat. Ia yakin Weini lebih bisa diandalkan melindungi Stevan ketimbang Stevan melindungi Weini. Jika ada Weini, Grace merasa lebih tenang dengan keselamatan Stevan. Ia tetap takut orang suruhan Chen Kho akan bertindak pada Stevan saat ia tidak ada di sini.


“Tenang saja, aku pastikan dia tidak akan macam-macam. Jaga kesehatanmu, besok hari kalian pasti melelahkan.” Jawab Weini seraya melambaikan tangan. Ia mengekori Grace yang sudah digandeng Stevan menuju mobil. Weini terkesiap saat merasakan sentuhan hangat melingkari pinggulnya, ia menoleh pada si pemilik tangan yang sudah memberinya senyuman manis.


“Ayo kita pulang.” Ajak Xiao Jun yang dengan lembut merangkul Weini masuk ke dalam mobil.


Lau sesekali mengintip kedua penumpang di belakangnya, ia berandai tuan dan nona di belakang itu hidup damai, bahagia dan berkeluarga. Ketika harapan itu menjadi kenyataan, Lau berharap masih diberi sisa umur untuk menjadi saksi kebahagiaan mereka serta siap mengabdikan sisa hidupnya untuk mereka. Seandainya ia berhasil menghilangkan racun dalam tubuhnya dan diberi kesempatan hidup lagi. Mengingat itu membuat Lau menghela


napas, sedih membayangkan harus berpisah dengan tuan sebaik Xiao Jun.


***


“Yakin tidak mau mampir dulu?” Weini mengulang tawaran itu sekali lagi, sebenarnya ia berat harus berpisah dengan Xiao Jun kali ini. Meskipun rencana kekasihnya kembali ke Hongkong untuk maksud yang baik, plus ia meminta ijin pada Weini, tidak seperti sebelumnya yang pulang tanpa pemberitahuan.


Xiao Jun tertawa kecil melihat tingkah Weini yang menggemaskan. Tampak betul gadis itu belum mengijinkan Xiao Jun berlalu dari hadapannya. “Baiklah, kita ngobrol di dalam saja.” Jawab Xiao Jun yang tak kuasa menolak permintaan kekasihnya.


Haris mengintip dari ruang tamu sejak tadi, ia segera merubah posisi dan duduk tenang di sofa seolah tidak melakukan apa-apa sebelumnya. Ketika Xiao Jun masuk, ia menyambutnya seperti biasa, dengan senyuman yang tenang dan penuh wibawa.


“Ayah mau ke mana?” Tanya Weini yang heran melihat penampilan rapi Haris.


Haris berdehem, “Nona, aku keluar sebentar. Mau cari angin di luar, jangan menungguku pulng ya. Tidurlah kalau sudah malam.” Jawab Haris yang mulai latah kembali memanggil Weini dengan sebutan ‘nona’. Ia segera berlalu dari hadapan sepasang kekasih itu sembari bersiul riang.


Weini geleng-geleng kepala, Haris tak lagi mempan jika di depan Xiao Jun. Hanya Dina yang masih bisa diandalkan agar Haris bersikap seperti sedia kala pada Weini.


“Seperti itulah, dia memang keras … Sama kerasnya denganku.” Gumam Weini. Ia mempersilahkan Xiao Jun duduk di sofa lalu berbalik badan hendak mengambilkan minuman untuk tamunya. Xiao Jun dengan cekatan meraih tangan Weini, membuat gadis itu menoleh heran padanya.


“Duduklah, aku tidak perlu minum. Aku hanya perlu kamu di sisiku.” Gumam Xiao Jun yang melambungkan perasaan Weini seketika.


Weini mengangguk lalu mengambil tempat di samping Xiao Jun. Ia meremas jemarinya yang diletakkan di atas lututnya, waktu mereka terbuang beberapa menit hanya untuk diam. “Kamu merencanakan semuanya dengan


rapi, sampai menunda syuting demi membawa Grace pulang. Tapi semua terkesan mendadak Jun, apa sungguh tidak ada hal buruk yang terjadi?” Weini akhirnya menanyakan hal yang mengganjal pikirannya sejak tadi siang.


Xiao Jun tersentak kaget, namun ia mencoba tetap tenang. Weini memang peka hingga makin sulit menutupi sesuatu darinya. Mungkin ini pengaruh sihir yang semakin kuat pada dirinya, seperti Haris yang sanggup


mengetahui apapun isi pikiran orang di sekitarnya.


“Jun, apa aku boleh ikut pulang dengan kalian? Aku janji tidak akan merepotkanmu dan akan jaga jarak. Kita bisa bertingkah seolah tak saling mengenal, aku hanya ingin memastikan tidak terjadi sesuatu yang buruk pada kalian.” Tatapan Weini yang memelas itu mengacaukan hati Xiao Jun.


Tidak! Weini tidak boleh tahu apa yang sebenarnya akan aku lakukan di sana. Hatinya akan hancur begitu tahu aku dan Grace merencanakan pernikahan. Jerit Xiao Jun dalam hatinya.


***


Lau menunggu di luar bersama Haris, mereka menjauhkan diri dari rumah agar tidak terpantau Weini. Baru kali ini Lau berkesempatan bicara empat mata dengan ayah kandung tuannya itu, sesuatu yang membuatnya takjub.


"Kamu sudah mengabari mereka?" Tanya Haris selagi ada kesempatan.


Lau Mengangguk, "Kemarin malam tuan Xiao Jun menyuruhku menelpon ke sana. Mereka sepertinya terperdaya, mereka bilang kerjaku bagus karena berhasil meyakinkan tuan Xiao Jun dengan cepat.


Haris menyeringai, "Bagus. Beri mereka angin segar dulu."


Lau mengangguk setuju, lalu ia terpikir satu hal yang ingin diungkapkan pada Haris. “Saya tidak menyangka anda begitu awet muda, Da Ge. Bangga sekali rasanya bisa bicara dengan senior seperti anda.” Lau mengungkapkan rasa kagumnya pada sosok Haris yang dianggap panutan.


Haris tertawa, ia tak terbuai akan pujian. “Apa yang kamu lihat ini hanya sebuah topeng kulit, aslinya aku pasti sudah keriputan.” Jawab Haris santai.


Lau mengernyit heran, “Maksud Da Ge? Saya tidak mengerti ….” Ucap Lau kecewa lantaran gagal paham.


Haris tersenyum simpul, “Sebenarnya kerumitan hidup tiap orang itu berbeda, kamu sekarang terpaksa hidup berdampingan dengan racun dalam tubuhmu. Sebelum mendapatkan penawar, satu-satunya cara bertahan hidup


hanya mencoba berdamai dengan masalah itu. Lakukan hal yang bisa memperlambat proses kerja racun itu. Sama halnya dengan masalahku dan nona Yue Hwa, untuk kabur dan selamat dari maut, kami terpaksa hidup memakai wajah palsu ini.”


Lau tersentak kaget, ia memperhatikan dengan jeli paras Haris yang kurang jelas karena remangnya pencahayaan. “Topeng? Bagaimana mungkin ada topeng yang begitu natural?”


Haris hanya tersenyum sebagai jawabannya.


“Sampai kapan anda akan memakainya, Da ge?” Lau bertanya lagi meski ekspresi takut belum pudar dari wajahnya.


“Sampai ada orang hebat yang bisa membukanya.” Jawab Haris tegas.