
Tak seorang pun yang sanggup mencegah dia yang akan pergi, sehebat apapun kamu....
***
Malaikat kematian terasa hadir dalam ruangan ini, tak terlihat namun nyatanya telah pergi satu nyawa yang begitu dicintai Weini. Ia tahu pria tua itu terlah pergi dalam pelukannya, ia hanya berusaha mengelak dari kenyataan, berusaha memperlakukan seakan pria itu masih hidup, masih mendengarkannya. Sulit menerima kenyataan
menyesakkan ini, antara harus senang karena mendapatkan kepercayaan untuk menjadi orang terakhir yang berada di sisi mendiang, ataukah harus kecewa karena tak mampu berbuat apa-apa dan membiarkannya pergi secepat ini.
“A... yaaahhh....” jeritan Weini yang melengking dan panjang, tangisannya meraung-raung setelah mencoba bersikap tenang, berbicara pada Li San yang sudah tak bernapas. Tubuh pria tua itu didekap sangat erat, Weini tak mau melepaskannya dan terus menjerit memanggilnya.
“Aaarrrgghhh... Ayaaaahh....” teriak Weini, hatinya hancur berantakan harus menyaksikan lagi kepergiaan seseorang yang berarti di depan matanya.
Haris terkesiap, ia mendengar jeritan Weini yang luar biasa lirih. Ruangan kamar di dalam memang kedap suara, bunyi apapun di dalam tak akan terdengar, namun batin Haris tidak bisa ditutupi, ia tahu betul Li San telah pergi. Haris berlari menuju pintu, spontan tindakannya mengundang penasaran yang lainnya.
“Nona berteriak.” Haris menjawab rasa penasaran mereka meskipun belum ada satupun yang buka suara
bertanya.
Xiao Jun berlari mengekori ayahnya yang lebih dulu meraih gagang pintu. Semua yang mengikuti pun tak lagi memerdulikan tanda tanya di pikirannya karena tidak ada satupun yang mendengar Weini menjerit.
“Hwa.... suamiku....” Pekik Liang Jia histeris saat melihat Weini meraung – raung dalam tangisan sembari memeluk tubuh Li San. Wanita tua itu segera menghambur ke sana, namun tangisannya sudah bereaksi dulu. Ia tahu sesuatu yang tak diharapkan itu telah terjadi.
Ke empat putri Li pun ikut mengerubungi, mereka saling berpengangan satu sama lain, cara Weini menangis, suara jeritannya begitu menyayat hati, membuat siapapun yang mendengarnya ikut sesenggukan.
Haris memastikan tanda kehidupan pada Li San yang masih dalam pelukan Weini, kemudian menggeleng lemah. Ia membungkuk hormat sebagai pengawal yang memberikan penghormatan terakhir, ai matanya luruh dalam sikap ini. Satu persatu menetes jatuh ke lantai.
Xiao Jun mencoba menenangkan Weini, bagaimanapun juga tubuh Li San yang tak bergerak itu harus segera diurus. Namun dekapan Weini bertambah erat, begitu pula dengan erangan tangisnya yang kian nyaring saat Haris dan Xiao Jun mencoba mengambil alih tubuh tuan besar. Liang Jia kini memeluk Weini dari belakang, ia pun merasakan kesedihan yang amat dalam karena kehilangan Li San tetapi tampaknya yang paling terpukul adalah Weini, dia yang belum dua puluh empat jam bersama Li San harus dipisahkan lagi. Dan kali ini jauh lebih lama, untuk selamanya.
“Hwa... sudahlah... lepaskan ayahmu pergi.” Isak Liang Jia berusaha menarik Weini agar melepaskan tubuh Li San yang masih didekapnya dengan sangat erat.
Weini menggeleng kencang, ia berang dan emosional ketika Xiao Jun meraih tangannya agar melepaskan Li San. “Tidak... minggirlah, aku masih mau bersama ayahku.” Pekik Weini histeris.
Liang Jia tak berkutik lagi, ia menangis sejadi-jadinya sambil terus memeluk Weini dari belakang. Anak gadisnya itu bukan lagi anak usia enam tahun, meskipun dia sadar apa yang dilakukannya tapi perasaannya belum bisa menerima untuk melepaskan ayahnya begitu saja.
“Iya, aku tahu... Aku tidak akan mengganggumu, tapi biarkan kami mengurus jenasahnya dulu. Kita akan
melakukan penghormatan terakhir dan tempat terbaik untuknya. Yue Hwa... sebentar saja, biarkan kami mengurusnya.” Pinta Xiao Jun dengan sabar membujuk Weini hingga gadis itu mulai tenang.
Di saat agak lengah itulah, Xiao Jun sedikit menarik tangan Weini agar terlepas dari tubuh Li San. Haris dengan sigap memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil alih tubuh Li San yang jatuh begitu terlepas dari tangan Weini.
Pada siapa aku harus bertanya, mengapa... kenapa... percuma aku bisa menakhlukkan dunia, memiliki kemampuan yang tidak bisa orang lain punya, tapi aku tetap tak bisa berbuat apa-apa pada orang-orang yang kucintai. Untuk apa semua kehebatan ini? Aku tahu banyak namun masih terbatas melakukan apa yang ingin kulakukan. Ayah... apakah ini yang kau inginkan? Kau tak mau lebih lama lagi bersamaku?
Dalam pelukan Xiao Jun yang erat, Weini bergeming menyaksikan tubuh ayahnya diangkut keluar oleh Haris dan beberapa pengawal. Inilah terakhir kalinya sang penguasa, sang pemilik istana ini menikmati kekayaan dunianya. Segalanya pun akhirnya harus ditinggalkan, dia pergi membawa perasaan lega karena maaf yang telah
tersampaikan.
***
kini ia tak punya semangat lagi untuk menjerit dalam tangisan. Tatapannya kosong memandangi yang lainnya mengekspresikan rasa duka, Weini mengatup mulutnya dengan rapat, membiarkan bulir air mata yang masih aktif membasahi pipinya sebagai bentuk duka yang terdalam.
Pakaian mereka telah berganti cheongsam putih polos tanda berkabung. Serangkaian ritual untuk mendoakan tuan besar yang telah pergi itu berlangsung lancar namun berisikan tangisan dari banyak orang. Weini sendiri tak sanggup lagi menangis, rasanya air matanya sungguhan kering. Dalam sepekan terakhir, banyak hal berat yang
menguras air matanya. Ia seolah patung hidup yang menurut saja tanpa mampu bicara maupun berpikir lebih keras lagi.
Aula utama yang begitu dibanggakan Li San semasa hidupnya, kini dihiasi dengan dekorasi serba putih tanda berkabung. Baru beberapa hari yang lalu, tempat ini dihiasi ornamen dan dekorasi serba merah, lambang kebahagiaan. Tapi sekarang, tubuh kaku Li San terbaring dalam pengistiratan terakhirnya. Banyak tamu kehormatan yang mulai berdatangan untuk memberi penghormatan terakhir, atas persetujuan Liang Jia pula kediaman Li dibuka bagi kalangan umum yang ingin melayat. Tetapi tidak satupun yang dipedulikan Weini, meskipun ucapan bela sungkawa berdatangan ramai dan Liang Jia, Xiao Jun serta Yue Yan kewalahan mengurus pelayat. Weini justru menepikan diri dari sana, bukan karena tak siap jadi sorotan tetapi ia ingin menenggelamkan dirinya, membiarkan rasa sedih itu tidak jadi tontonan orang.
Haris melihat Weini menyingkir dari aula, tubuh ramping gadis muda itu tampak menghilang dari koridor penghubung aula dengan ruangan kecil di sebelahnya. Sebagai orang yang paling dekat dan mengerti Weini, Haris pun segera menyusulnya. Hati Haris ikut remuk melihat Weini menahan diri untuk tidak menangis namun saat sendirian, justru tangisan itu pecah lagi. Weini sesenggukan menangis dengan wajah yang tertutupi oleh kedua tangannya.
“Weini....” Lirih Haris, ia tahu betul nama apa yang dipanggil pada nonanya. Haris hanya ingin menunjukkan bahwa dalam keadaan tersulit sekalipun, Weini masih punya satu sosok yang bisa diandalkan, bisa jadi tempat mencurahkan kesedihan dan yang paling bisa mengerti kesulitan yang dihadapinya. Haris adalah sosok ayah
pengganti yang memberinya nama sebagus itu, dan itulah sebabnya saat ini Haris sengaja memanggil gadis itu dengan nama pemberiannya.
Weini terkesiap saat nama itu terdengar dari Haris, ia menyingkirkan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Sesaat membiarkan sepasang mata yang telah senja karena usia itu melihat kerapuhannya.
“Ayah... Aku hancur....” Lirih Weini, mimik wajahnya menunjukkan betapa rapuhnya ia saat ini.
Haris perlahan mendekati Weini lalu menepuk ringan pundak gadis itu, sejenak saja ia menepiskan status di antara mereka. “Menangislah, kali ini keluarkan saja semuanya.” Pinta Haris penuh perhatian.
Wajah Weini mulai mengkerut, bibirnya pun bergetar karena ucapan Haris melemahkan pertahanannya. Ia mulai menangis lagi, ditemani Haris yang berdiri di depannya dan terdiam.
“Ayah, apa tidak ada cara lagi? Waktu itu bagaimana caranya kau bangkit? Sihir apa yang dipakai?” Lirih Weini mulai keras kepala tak menerima kenyataan.
Haris tersenyum getir, wajar bagi Weini jika masih sulit menerima kenyataan yang bagaikan mimpi buruk. “Tidak ada sihir untuk menghidupkan yang sudah meninggal, jika ada... leluhurku pasti hidup abadi. Weini, sehebat apapun ilmu kita pasti ada batasannya. Ikhlaskan tuan besar pergi, jika kau terus berkeras hati, berat
untuk dia melangkah di alamnya.”
Weini melihat Haris dengan mata berkaca-kaca, ia mengusap sisa genangan di sana. Tatapannya berbinar penuh arti menatap Haris, keinginannya hanya satu saat ini... Berbagi rasa dengan sosok ayah keduanya. “Ayaaah....”
Weini menghambur memeluk Haris, mengharap akan jauh lebih kuat dengan meleburkan rasa sedihnya dalam pelukan itu. Haris hanya tersenyum tulus, setulus perasaannya mengasihi gadis itu. Dan sepasang mata teduh Xiao Jun ikut terharu melihat eratnya ikatan batin ayah dan kekasihnya itu. Ia terdiam di samping pilar besar ruangan itu,
membiarkan gadisnya tenang dalam pelukan ayahnya.
***
Kehadiran Weini di tengah keluarga Li San yang tengah berkabung, rupanya menarik perhatian para pelayat. Sosok keluarga Li San yang amat dikenal publik jelas tak bisa menutupi fakta tentang penambahan seseorang yang turut berdiri di barisan keluarga inti yang berduka. Weini dan Xiao Jun yang berdiri di barisan anak dari mendiang pun mendengar bisik-bisik dari beberapa tamu yang duduk di dekat mereka.
Siapa gadis itu? Apa mungkin dia nona ke lima yang hilang itu? Dia sudah kembali?
Suara hati seorang pers yang menyusup pun mulai menyadari bahan berita yang lebih menggemparkan di balik berita duka nasional itu. Dan jepretan kameranya diam-diam tertuju pada Weini, senyum puasnya mengembang, ia penyamarannya berhasil dan ia pastikan akan mendapatkan keuntungan besar dari postingan berita ekslusif yang ia dapatkan.
***
Like, komen dan vote ya readers setia. Terima kasih....