
Pernyataan Wen Ting yang membuat semua tegang terpaksa diakhiri tanpa komentar dari siapapun di sana. Xin Er yang sedari tadi mereka tunggu datang pada saat yang tepat, mereka berganti topik setelah melihat kedatangan wanita itu. Namun Liang Jia menyisakan sedikit kecemasan melihat keberanian Wen Ting, secara pribadi ia
sangat salut pada calon menantu Xin Er itu yang begitu tulus menyayangi keluarga istrinya. Hanya saja keberanian yang terlalu nekad dapat berujung membahayakan, Liang Jia sangat mengenal watak suaminya, bisa saja Li San bungkam lantaran ada keuntungan besar yang didapatnya dari sikap diam itu. Selagi menyangkut bisnis, Li San masih bisa tutup mata tetapi jika terus-terusan seperti ini, bagaikan menginjak ekor singa maka Li San sanggup menerkam balik rivalnya.
“Ibu ….” Li An memeluk Xin Er, mengekspresikan kerinduannya.
Xin Er tersenyum membalas pelukan Li An tak kalah hangat, dalam hati Xin Er berucap syukur atas kebahagiaan yang berpihak pada putrinya. Sungguh tidak terduga dan ia turut berbahagia melihat anak gadisnya mendapatkan Wen Ting.
Li An merenggangkan pelukan, tatapannya fokus pada calon suami yang tengah melihat kebersamaan hangat itu. “Ibu, perkenalkan ini Lo Wen Ting.” Ujar Li An malu-malu.
“Calon menantu ibu.” Timpal Xiao Jun mempertegas, ia tahu betul Li An kesulitan mengucapkan embel-embel itu saking malunya.
Wen Ting membungkuk hormat pada wanita yang lima hari lagi akan resmi menjadi ibu mertuanya. “Saya Lo Wen Ting, salam hormat kepada ibu.” Ujar Wen Ting sopan.
Xin Er mengangguk senang sembari membetulkan posisi tubuh Wen Ting agar berdiri tegap. “Ya, ibu sudah mendengar tentangmu dari nyonya Liang Jia. Ternyata benar, kamu anak muda yang baik dan tampan.” Xin Er menyanjung dengan tulus, naluri ibunya dapat berfirasat bahwa pria ini akan membahagiakan putrinya.
Wen Ting tersenyum mendengar pujian itu, “Terima kasih ibu, aku sudah melamar Li An kemarin dan putrimu menerimaku. Sekarang aku harus melalui satu tahap lagi, meminta restu dari ibu.” Ujar Wen Ting blak-blakan.
Pernyataan itu sebenarnya serius namun penyampaian Wen Ting yang santai, bahkan terdengar lucu sehingga tak elak semua yang mendengar tak bisa menahan tawa. Ketika mimik wajah Wen Ting berubah serius kemudian melontarkan pernyataan lanjutan, saat itulah semua pandangan tertuju padanya.
“Ibu, saya Lo Wen Ting menyatakan kesungguhan untuk melamar Wei Li An sebagai istri. Mohon ibu merestui hubungan kami, aku berjanji akan mencintainya seumur hidup.” Ujar Wen Ting sungguh-sungguh. Walau telah berulang kali ia menyatakan kesungguhan, tetapi baru kali ini berkesempatan langsung menyatakan di hadapan Xin Er, dan ini jauh berbeda dengan yang lainnya. Wen Ting tidak ingin menjanjikan yang muluk kepada wanita yang melahirkan Li An, yang penting ia tahu tanggung jawabnya sebagai suami kelak terhadap gadis yang telah ia minta dari ibunya.
“Ya, aku merestui kalian. Berbahagialah anak-anakku.” Ucap Xin Er penuh haru.
Wen Ting mengangguk mantap mempertontonkan rahang tegasnya. “Terima kasih ibu, mengenai upacara adat, saya bersedia mengikuti apapun yang ibu inginkan. Namun dari pihak saya tidak ada wali yang hadir, kedua orangtuaku tidak akan tergantikan dengan perwakilan. Saya hanya ingin memajang foto mereka saat upacara
penghormatan.”
Satu-satunya orang yang tersinggung mendengar kata-kata Wen Ting adalah Xiao Jun. Pernyataan itu memang biasa saja tetapi sedikit menyentil Xiao Jun yang seolah sanggup menggantikan sosok orangtuanya dengan yang lain. Wen Ting memang tidak menyindirnya, Xiao Jun sendiri yang sensi mendengar itu dan mengaitkan dengan
dirinya.
“Kalian atur saja, ibu ikut apapun yang kalian rencanakan. Jangan dibuat rumit, pernikahan dilaksanakan sederhana juga bagus yang penting maknanya.” Xin Er mengutarakan pendapatnya.
Lamaran itu berjalan lancar, mereka langsung menggelar Sangjit (seserahan lamaran) saat itu juga atas seijin Liang Jia sebagai nyonya rumah. Wen Ting sudah menyiapkan segalanya sejak kemarin, tak sulit bagi pengusaha itu untuk mengumpulkan syarat seserahan yang digotong menggunakan baki. Wen Ting menyerahkan angpao yang
disimbolkan sebagai uang susu untuk Xin Er. Nilainya sangat fantastis dan tentu masih mengikuti tradisi yang mengharuskan angka delapan dalam jumlahnya.
Suka cita yang terasa singkat meskipun menghabiskan waktu berjam-jam. Mereka harus menikmati suasana bahagia itu kendati masih minus dua anggota keluarga yang tidak ada – Wei dan Li Mei. Setelah urusan lamaran kelar, Li An dan Wen Ting pamit untuk menjalani prosesi pingit.
“Eh Jun, bukan kamu yang anterin?” tanya Li An kecewa, seingatnya Xiao Jun berkata akan mengantarnya pulang. Ia bahkan berencana mengajak adiknya mampir ke rumah tua mereka.
“Maaf kak, ada sedikit masalah pekerjaan yang belum kutangani. Biar paman yang menemanimu dulu ya. Jangan bandel, kau sedang dipingit.” Ujar Xiao Jun beralasan saja.
Li An tetap menerima itu, ia berlalu setelah menatap lekat Wen Ting yang mulai hari ini harus dipisahkan sejenak darinya sampai hari H tiba. Pria itu melambaikan tangan pada Li An dan memberi kecupan dari jauh.
“Aku pulang dulu ke rumahmu, aku yakin kau masih betah diam di sini kan.” Seru Wen Ting, seolah bisa membaca pikiran Xiao Jun, ia bisa tahu bahwa Xiao Jun tetap ingin duduk di pendopo barang sesaat.
“Ng, pergilah. Jangan ganggu aku!” seru Xiao Jun menampakkan egonya. Wen Ting malah geleng kepala dan tersenyum sebelum beranjak dari sana.
Xin Er mendekati putranya yang duduk sendirian, ia tak mengira Xiao Jun belum beranjak dari sana. Dengan lembut ia menepuk pundak kekar Xiao Jun, saking lembutnya hingga tidak mengejutkan sama sekali. “Apa ada yang kau pikirkan?” tanya Xin Er perhatian.
Xiao Jun menatap ibunya yang kini duduk saling berhadapan. “Bu, aku ingin berhenti menjadi anak angkat tuan besar. Aku tidak mau memakai nama marganya lagi.” Ucap Xiao Jun serius.
Xin Er tidak terkejut sama sekali, air mukanya sangat tenang dan dengan bijak menjawab putranya. “Kenapa tiba-tiba berpikir begitu? Apa kau menyimpan dendam? Ibu paham perasaanmu, tapi yang tadi kau ucapkan itu bukan keputusan terbaik. Kita memang terpuruk, bukan salah siapa-siapa, ini semua atas seijin Yang Kuasa. Kamu
dianggap sebagai anak juga dibekali banyak ilmu yang tidak bisa ayah dan ibu berikan. Bersabarlah, akan datang hari di mana kamu bisa bahagia.”
Xiao Jun menggeleng, “Aku ingin bebas. Bebas mencintai gadis pilihanku, bebas mencintai orangtuaku, bebas dari segala kekuasaan yang hanya titipan. Ibu, aku belum setegas Wen Ting. Aku tak punya kekuasaan seperti dia yang bisa memberikan kalian kebahagiaan.” Sesal Xiao Jun.
“Bisa … Kamu pasti bisa! Jangan bandingkan dengan siapapun, kamu adalah kamu! Ibu sangat bahagia melihat anak-anakku pada akhirnya mendapatkan yang terbaik. Kamu hanya belum sampai waktunya saja, Jun. Percaya pada ibu!” Xin Er mengelus bahu Xiao Jun, memperlakukannya persis anak kecil namun sangat efektif menenangkan pikiran kusut putranya.
“Oya, Jun. Soal gadis yang kau cintai, sesampai di Jakarta segeralah bertindak. Pikirkan cara untuk mengakhiri pertunangan ini, kasihan gadis itu. Semakin lama akan tambah menyakitinya jika kau tidak berniat mencintainya.” Xin Er terpikir membahas masalah Grace, pertemuan singkat tadi siang masih membekas dalam pikirannya. Sebagai sesama wanita, Xin Er juga tidak tega bila Grace korban perasaan terlalu dalam karena putranya.
“Maksud ibu, Grace? Apa ibu kenal dia?” Xiao Jun penasaran, ibunya tiba-tiba beralih topik membahas posisi tunangan palsunya itu.
Xin Er mengangguk, “Ya … ibu mendukungmu dengan siapapun yang kau pilih. Tetapi jangan sakiti gadis yang
tidak terpilih itu, bersikap tegaslah. Cari cara terbaik menjelaskan padanya, ya.”
Xiao Jun belum sanggup memberi jawaban, bukan karena ia tidak bisa tegas namun cara meyakinkan Grace
tanpa menyakiti itulah yang merepotkan. Satu minggu lagi, Xiao Jun akan memboyongnya ke Jakarta. Gadis itu pastinya menjadi penghalang terbesar hubungannya dengan Weini. Xiao Jun sudah sangat merindukan kekasihnya, hal pertama yang ingin ia lakukan adalah bertemu Weini sesampai di sana. Tapi bagaimana dengan Grace?
***