
“Benarkan Jun? Kamu dan ayah kerjasama untuk menahanku.” Desak Weini pada Xiao Jun yang masih terdiam setelah mendengar penuturan Weini.
Xiao jun tertawa kecil, ia tak perlu sepolos itu mengaku meskipun ketahuan salah namun ia punya hak untuk berkelit. “Kamu memang punya perasaan yang peka, sayang. Seperti yang kau bilang bahwa aku ini bisa mengerjakan banyak hal sekaligus, dan aku punya kekuasaan untuk melakukan apa yang ingin kulakukan, tentu aku tidak kesulitan membantumu. Benar aku memang sengaja menahanmu, tapi bukan karena ayah Haris yang memintaku. Itu karena aku terlalu mencintaimu dan tak mau menempatkanmu di posisi bahaya.”
Weini tertegun mendengar pengakuan Xiao Jun, ia kehabisan kata-kata untuk membantah pria itu. Xiao Jun memanfaatkan kesempatan diam Weini untuk terus bicara, menyuarakan isi hatinya.
“Seandainya benar keluargamu dalam bahaya, jika jadi kamu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Tapi tidak secara gegabah, harus ada strateginya atau kamu akan terjebak perangkap musuh. Sabarlah sebentar sayang, aku sudah mengutus paman Lau kembali mencari informasi tentang keluargamu. Sekembalinya paman dari sana, aku pasti segera mengabarimu. Semoga semua baik-baik saja dan kekhawatiranmu hanya karena terlalu rindu.” Ujar Xiao Jun lembut dan menenangkan hati Weini.
Weini terkesima mengetahui perhatian Xiao Jun padanya, tanpa sadar senyuman lebar pun merekah dari bibirnya. “Jun, makasih.” Lirih Weini. Hanya itu yang sanggup ia ucapkan sekarang.
“Beri aku segelas lagi ….” Teriakan Dina membuyarkan suasana hangat yang tercipta dari perbincangan telpon. Seketika Weini tertawa kecil lalu menoleh ke Dina yang mabuk berat.
“Apa Dina mabuk?” Tanya Xiao Jun seraya tertawa kecil. Weini hanya tertawa sebagai jawaban karena setelah ini ia pasti kerepotan mengurus rekannya yang mabuk.
***
“Nyonya, makanlah sedikit. Anda jangan sampai sakit, kondisi masih sangat kacau, hamba mohon nyonya jangan menyiksa diri lagi.” Seorang pelayan wanita yang usianya lebih muda dari Xin Er, memohon pada Liang Jia lantaran tak tega melihat nyonya itu tak makan berhari-hari dan hanya duduk dengan tatapan kosong.
“Seperti ini lebih baik, aku bisa menebus rasa bersalahku pada anak-anakku.” Lirih Liang Jia lemah, ia nyaris kehabisan tenaga.
Pelayan wanita itu menitikkan air mata, tak seorang pun yang mengira bahwa nasib keluarga Li yang tersohor itu berubah drastis menuju kehancuran. “Nyonya, hamba akan ceritakan satu rahasia, tapi setelah ini mohon nyonya bersedia menghabiskan makanan.” Ujar pelayan itu mencoba melakukan penawaran.
Liang Jia meliriknya antusias, “Kabar baik atau buruk? Kalau buruk, lupakan saja aku tidak mau dengar.” Ujar Liang Jia sembari menatap serius pada pelayan itu.
Pelayan itu sedikit menunduk, tak berani bertatapan langsung dengan nyonya besarnya. “Kabar baik, nyonya.” Jawabnya singkat.
Liang Jia menarik seulas senyum, “Katakanlah, aku akan habiskan makanan ini setelah mendengarnya.” Ujar Liang Jia bersemangat.
Pelayan itu pun tersenyum kemudian mengangkat wajahnya, menatap sejenak Liang Jia sebelum bercerita. “Hamba dengar dari pelayan yang mendekorasi aula utama, tadi pagi pengawal tuan muda Xiao Jun sudah kembali. Sepertinya tuan muda Xiao Jun sudah tahu masalah ini dan akan menolong anda, nyonya.” Gumam pelayan itu dengan asumsi pribadinya.
Kedua mata Liang Jia seketika membesar, sinar matanya menandakan ada semangat yang kembali dalam jiwanya. “Sungguh? Ah, di mana pengawal Lau sekarang? Bisakah kau memintanya menghadapku?” Pinta Liang Jia penuh harap.
Pelayan itu menunduk ketakutan, “Hamba tidak berani nyonya ….” Jawabnya sedikit ragu dengan suara bergetar.
Liang Jia menghela napas kecewa, “Sudahlah, aku tidak akan menyalahkanmu. Akan kumakan ini semua sesuai janjiku.” Liang Jia pun menyentuh sumpit dan mendekatkan mangkuk berisi nasi dan sayur ke hadapannya. Ia
mulai memakan dengan lahap, perutnya sudah dibiarkan kosong berhari-hari dan ketika mendengar berita baik itu, rasa laparnya baru terasa.
Ketika di suapan terakhirnya, terdengar suara pintu dibuka menyusul tawa dari suara yang paling tidak ingin didengar Liang Jia.
“Hamba mohon undur diri.” Pamit pelayan itu tahu diri dan merasa merinding dengan lirikan mata Chen Kho.
“Tunggu sebentar, kau datang membawa nampan lalu mau pulang dengan tangan kosong? Sekalian bereskan ini semua lalu pergi ke aula utama, tunggu aku di sana untuk membuat perhitungan padamu.” Ujar Chen Kho dengan sorot mata dingin pada pelayan itu.
Liang Jia tersedak makanannya hingga terbatuk dan segera meneguk minuman untuk mengatasinya. Pelayan itu langsung berlutut memohon ampun pada Chen Kho, ia tahu bahwa perintah Chen Kho membawa pertanda
buruk baginya. “Ampun tuan, saya mohon ampuni saya.”
“Harusnya kau berpikir panjang sebelum mencoba mengkhianatiku.” Ujar Chen Kho yang bengis dan menarik rambut pelayan itu hingga berteriak kesakitan.
Liang Jia menangis, ia pun sama takutnya lantaran pernah merasakan pukulan fisik dari Chen Kho saat mencoba kabur dari kamarnya.
“Bibi ingin bertemu pengawal tua itu? Untuk apa repot menyuruh pembantu, aku dengan senang hati akan membawakan dia padamu.” Ujar Chen Kho dengan senyum seringai yang menakutkan.
Liang Jia meremas ujung bajunya, ia sangat tertekan dengan keadaan ini namun tidak berani bersuara. Wanita terhormat itu hanya memilih diam dan membuang muka, tak sudi melihat wajah keji pria muda di depannya. Kendati berusaha tenang namun suara tawa Chen Kho yang menyebalkan itu membuat emosi terpendam Liang Jia bergejolak, seketika itu pula ia mendongak dengan tatapan sinis pada pria itu.
“Di mana kau sembunyikan suamiku?” Pekik Liang Jia melupakan rasa takutnya, ia menatap sinis pada Chen Kho yang malah menertawakannya.
“Orang mati untuk apa dicari terus?” Jawab Chen Kho sekenanya.
“Jika mati tunjukkan jasadnya, jika masih hidup lebih baik kurung aku bersamanya.” Tegas Liang Jia.
Chen Kho menyeringai, “Perkataan bibi seakan sangat mencintai paman, nyatanya kalian tidak seakur itu. Kenapa harus repot bersama saat hidup sudah di ujung tanduk? Apa bibi baru menyadari mencintai pria itu?”
Liang Jia tertawa, “Kami hidup bersama, akur tidak akur bukan urusanmu, kalau harus mati seperti ini lebih baik mati bersama saja. Jadi cepat, bawa aku menemuinya! Aku yakin dia masih hidup.” Tegas Liang Jia.
Chen Kho tersenyum licik, “Tidak perlu buru-buru bibi, aku masih punya hadiah kecil untukmu.” Chen Kho menepuk tangannya dua kali kemudian dua orang pengawal masuk menyeret tubuh Lau yang masih diborgol. Lau dilempar begitu saja ke hadapan Liang Jia yang luar biasa terkejut melihat kondisi Lau. Pupus sudah harapan Liang Jia untuk meminta pertolongan pada Xiao Jun jika pengawalnya saja sudah babak belur begitu.
“Nikmati waktu kalian selagi aku berbaik hati. Hanya setengah jam saja, setelah itu seret dia keluar.” Perintah Chen Kho dengan lantang.
“Dan seret pelayan itu ke aula utama, aku perlu hiburan dengannya.” Seru Chen Kho yang berjalan pergi sambil tertawa diiringi isak tangis pelayan bernasib malang itu.
***
Hi, akhirnya bisa update tiga episode di akhir pekan ini. Jika kamu sudah membaca episode ini, mohon untuk tinggalkan jejak like dan komentar ya karena itu sangat berarti bagi author. Dengan like dan komentar dari kalian saja sudah sangat membantu author untuk menaikkan popularitas karya ini agar semakin dikenal pembaca lainnya. mohon support dari kalian ya, karena dukungan kalian adalah semangat bagi author untuk terus menulis. Thanks, have a nice weekend all.